
Penampilan Ruhi berhasil membuat kaum Adam terpesona. Wajahnya begitu ayu dengan lipstik merah menggoda dan riasan tipis. Yang menjadi daya tarik adalah manik mata Ruhi yang berwarna cokelat terang khas orang India.
Bagas tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Ruhi. Ia terpesona. Sangat terpesona.
Tito yang melihat ekspresi Bagas langsung mengambil jaketnya lalu ia pakaikan pada Ruhi agar sedikit menutupi keindahan ciptaan Tuhan itu. Ruhi yang mengerti dengan sikap posesif Tito, lantas mengenakan jaket bomber cokelat milik Tito.
"Ngapain ditutupi sih? Kan bagus kek tadi," protes Caca yang langsung mendapat delikan tajam dari Tito dan Indra. Sepertinya Indra seirama dengan Tito. Sama-sama tidak suka dengan Bagas.
Caca meringis mendapat tatapan tajam dari Tito dan Indra.
"Udah udah. Sekarang kan udah liat kostum masing-masing, untuk selanjutnya ayo kita make up. Yang udah mandi, langsung make up di ruang make up," ucap Arina. Semua lantas melaksanakan ucapan Arina.
***
Para penonton memasuki gedung kemudian duduk beralaskan tikar yang sudah di sediakan. Ruang penonton pun nampak penuh sesak baik dari undangan delegasi, ALB dan orang-orang yang membeli tiket pentas tunggal teater Langit.
Nampak juga kehadiran keluarga besar Kurana, kerabat keluarga Khan yang sama-sama berdomisili di Surabaya. Terlihat Hassan Rouhani Kurana diikuti oleh Abhishek Aryyan Kurana, kemudian dibelakangnya lagi ada Alfarin Manish Kurana tengah menggandeng seorang gadis bernama Sonarika Tanuja Kurana.
__ADS_1
Pukul 19.30 wib, lampu gedung dimatikan. Kasak kusuk penonton mulai reda lalu hening. Tiba-tiba lampu menyorot pada dua orang yang didapuk sebagai MC pada pementasan kali ini. Keduanya kompak berjalan memasuki panggung.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu!" Sapa Nada juga Indra, orang yang didapuk menjadi MC.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatu!" Sahut penonton.
"Salam budaya!"
"Selamat datang di gedung serbaguna Artamulya dalam rangka pentas tunggal teater Langit produksi ke dua puluh lima Universitas PGRI Diponegoro, Surabaya," ucap Nada dan Indra bersamaan.
"Yang terhormat, Bapak Dr. Rajendra Hayyat Khan, M.Hum. selaku rektor Universitas PGRI Diponegoro."
"Dan Yang kami hormati Bapak/Ibu dosen serta para penonton yang berbahagia."
"Kami ucapkan terimakasih atas kehadiran para tamu undangan serta hadirin sekalian dalam pementasan teater Langit malam hari ini dan kamipun mengucapkan permohonan maaf atas segala kekurangan.
Marilah kita buka acara ini dengan mengucap basmallah."
__ADS_1
Semua orang melafalkan bacaan basmalah bersama-sama.
"Selanjutnya izinkan kami untuk membacakan tata tertib penonton yang harus ditaati saat pementasan berlangsung. Yang pertama, selama pementasan berlangsung dilarang mengambil gambar menggunakan blitz."
"Yang kedua, penonton harap menjaga ketenangan dan tidak berbincang selama permentasan berlangsung. Dan yang terakhir adalah penonton tidak diperkenankan mengaktifkan HP atau HP dapat disetting dalam mode diam."
Nada dan Indra saling menatap kemudian tersenyum.
"Sepertinya, para penonton sudah tidak sabar lagi untuk menonton pementasan drama kali ini mas Indra," ujar Nada.
"Kamu benar juga Nad. Lebih baik segera kita mulai saja pertunjukan pada malam ini."
"Inilah persembahan dari teater Langit dengan judul Luruh Tak Embuh. Selamat menyaksikan!" Seru Nada dan Indra yang kemudian keduanya keluar dari area panggung.
Lampu kembali meredup dan pementasan dimulai....
•••
__ADS_1
TBC♥️