
Bagas POV
Ibarat bunga, cintaku pada gadis berdarah India itu mulai mekar. Sebelumnya, aku membiarkan kuncup cintaku tak pernah mekar karena tertutup dengan sempurna oleh egoku.
Aku pun sadar jika penyesalan datang terakhir. Dan aku kini menyadari dan berusaha memperbaiki kesalahanku dengan tidak menyia-nyiakan kuncup cinta yang perlahan mekar setelah beberapa waktu mengering.
Setelah kedatanganku di rumah sakit, aku tau kalau Ruhi sedang mengidap penyakit radang. Ah aku lupa radang apa. Aku juga tidak tau namanya. Intinya dia sakit dan membuat dia bolak-balik rumah sakit.
Gadis manis bermarga Khan ini sudah membuatku seperti orang gila. Aku selalu tersenyum ketika mengingat senyumnya yang menyejukkan hatiku. Tatapan matanya yang tajam, mampu menghipnotisku dan berhasil membuatku enggan untuk mengalihkan tatapanku padanya.
Astaga! Kenapa mengingat namanya saja membuat wajahku memanas. Rasanya seperti ada yang menggelitik otot-otot wajahku. Ditambah lagi dengan senyuman manis itu. Ah sudahlah! Bisa-bisa aku tidak tahan untuk mencium bibir Ruhi. Hei apa yang aku pikirkan ini! Bodo amat lah!
Diantara gadis-gadis yang pernah aku temui, Ruhi memiliki keistimewaan yang membuat aku tidak mampu berpaling darinya. Jika gadis seumuran Ruhi rata-rata cantik karena polesan barang berbahan merkuri, berbeda dengan Ruhi. Wajahnya begitu natural dengan mata yang meneduhkan hati orang yang ditatapnya. Dia nampak sangat natural ditambah lagi dia sangat baik dan naif.
Aku merasa sangat menyesal telah menyakiti perasaannya. Maka dari itu, aku bersumpah pada diriku sendiri kalau aku tidak akan membuat Ruhi menangis lagi. Aku berjanji.
Author POV
"Mau es krim lagi Ru?" Tanya Bagas.
Ruhi menggeleng.
"Astaga anak ini." Bagas menyeka sisa es krim yang belepotan di ujung bibir Ruhi.
Ruhi tersipu mendapatkan perlakuan Bagas yang begitu manis.
Bagas dan Ruhi saat ini sedang menikmati waktu Car Free Day di taman kota. Banyak pasang mata yang melihat mereka berdua dengan iri. Sangat serasi dan membuat iri pasangan yang lain. Bagas selalu menggenggam tangan Ruhi di sepanjang perjalanan mereka mengelilingi taman kota.
Pandangan mereka terhenti pada seorang anak perempuan yang duduk termenung di kursi rodanya.
"Hai adik manis," sapa Ruhi sembari tersenyum kepada anak perempuan itu. Bagas terpesona dengan keindahan senyum Ruhi.
Anak perempuan itu menatap Ruhi.
"Namamu siapa?"
"Sheila kak. Nama kakak siapa?"
"Nama kakak, Ruhi dan ini mas Bagas."
Bagas tersenyum.
"Sheila sama siapa disini?" Tanya Bagas.
"Sama mama. Tadi mama pamit beli minum di stand es dawet di sana."
"Oh." Bagas mengangguk.
"Apa kakak berdua sepasang kekasih?"
'Astaga! Anak seumur dia sudah mengerti mengenai kekasih. Kebanyakan nonton sinetron ini bocah,' batin Bagas. Ruhi malah terkekeh.
"Apa yang sedang Sheila lakukan disini?" Tanya Ruhi mengalihkan pembicaraan.
"Sheila lagi menikmati sisa umur Sheila yang tinggal satu minggu lagi."
Deg!
"Kakak berdua gausah terkejut. Sheila ini memang akan meninggal. Sheila mengidap kanker otak stadium akhir katanya mama."
"A-apa?" Tanya Ruhi dengan air mata yang sudah menetes tanpa diduga.
"Kakak cantik kenapa menangis? Apa Sheila menyakiti kakak?"
"Bukan sayang. Kakak hanya kelilipan."
"Oh... Sheila kira kakak nangis gara-gara Sheila."
"Mengenai kanker-"
"Kakak tidak salah dengar kok. Sheila memang pengidap kanker otak. Tapi, Sheila tidak sedih karena akan kembali kepangkuan Allah di surga bersama Rosulullah Saw di surga fidaus nanti. Yang membuat Sheila sedih adalah mama sama papa bakal sedih pas Sheila kembali sama Allah."
"Sheila jangan bicara seperti itu ya. Kakak percaya kok, Sheila bakal sembuh. Berjuanglah demi mama sama papa Sheila ya?"
Sheila mengangguk.
"Ngomong-ngomong, kak Ruhi tadi belum menjawab pertanyaan Sheila."
Ruhi mengernyitkan dahinya, "Pertanyaan? Pertanyaan yang mana?"
"Pertanyaan Sheila soal kakak berdua. Apa kakak berdua itu pacaran?"
"Kami-"
"Bukan. Dia itu kakaknya kakak," potong Ruhi saat Bagas akan menjawab.
Bagas merasa terluka atas jawaban Ruhi. Hatinya mencelos mendengarnya.
"Oh, ku kira."
"Sheila... Maaf mama lama ya? Eh? Kalian siapa?" Tanya seorang wanita yang tengah membawa dua bungkus es dawet.
"Saya Ruhi dan ini Bagas kakak saya tante. Tadi saya melihat Sheila sendiri di tepi kolam. Makanya saya menyapanya."
__ADS_1
"Oh."
"Berhubung mamanya Sheila sudah kembali, kakak pamit dulu ya."
"Hati-hati ya kak."
Ruhi tersenyum tulus.
Bagas menggenggam tangan Ruhi pergi dari sana.
"Ayo! Katanya mau makan cumi-cumi goreng."
"Kita pulang saja."
"Eh? Kenapa Ru? Kamu baik-baik saja kan?"
"Ruhi sehat. Hanya saja Ruhi sedang malas. Ayo pulang saja mas."
"Baiklah. Ayo," ajak Bagas menuruti permintaan Ruhi.
Sepanjang perjalanan ke rumah Ruhi, wajah Ruhi nampak murung dan itu membuat Bagas gelisah.
"Kalau ada masalah, cerita sama aku Ru. Insyaallah aku bisa membantu."
"Tidak mas. Ruhi baik-baik saja," ucap Ruhi sembari melepas sabuk pengaman. "Terima kasih untuk hari ini mas." Ruhi turun dari mobil Bagas.
Ruhi berlari masuk sembari menyeka air matanya.
"Ruhi tunggu! Ruhi!" Teriak Bagas yang ikut keluar dari mobil.
"Lo apain adek gue?" Sengit Indra melihat adiknya datang-datang dalam keadaan menangis.
"Gue juga gak tau... sejak bertemu dengan seorang anak pengidap kanker otak, dia jadi murung."
"Kanker? Emm lo pulang aja. Gue yang tangani Ruhi."
"Tapi, Ruhi?"
"Biar gue yang urus."
Dengan terpaksa, Bagas meninggalkan mansion Rajendra kembali ke rumahnya sendiri.
Setelah mobil Bagas melintasi gerbang, Indra langsung berlari masuk mengejar Ruhi.
"Ruhi? Udah pulang sayang?"
Ruhi terus berlari menaiki tangga menuju kamarnya tanpa menghiraukan Rendi yang memanggilnya.
"Indra juga gak tau bang. Makanya ini mau Indra kejar."
"Abang ikut!" Rendi beranjak mengikuti Indra menuju kamar Ruhi.
#
"Sheila lagi menikmati sisa umur Sheila yang tinggal satu minggu lagi."
Ucapan Sheila terus terngiang di telinga Ruhi. Tubuh Ruhi merosot dibalik pintu kamar mandinya. Tangisannya terdengar begitu pilu. Sesak di dadanya semakin menekan ritme napasnya dan menimbulkan perasaan yang sangat menyakitkan untuk Ruhi.
Ruhi menangis tersedu-sedu sembari terus memukul-mukul dadanya karena rasa sakit yang tiba-tiba saja menyeruak.
"Adek, kamu baik-baik saja kan!" Teriak Indra sembari menggedor pintu kamar Ruhi.
"Buka pintunya Ru!" Kini giliran Rendi yang menggedor pintu.
"Hentikan dulu bang. Apa bang Rendi dengar?"
Meskipun samar, mereka bisa mendengar suara tangisan Ruhi.
"Dobrak aja Ndra!"
"Satu... Dua... Tiga..."
Brak!
Pintu terbuka, Indra dan Rendi langsung berlari ke sumber suara.
"Buka pintunya Ru!"
"Ruhi!"
"BUKA PINTUNYA RUHI!"
"Dobrak lagi aja bang," usul Indra.
"Satu... Dua... Ti-"
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Ruhi dengan mata sembabnya.
Indra langsung meraih tubuh adiknya ke dalam pelukannya.
"Bilang ke bang Indra, siapa yang menyakitimu! Abang akan memberinya pelajaran yang setimpal!"
__ADS_1
Ruhi masih saja bungkam dengan tangis yang semakin terdengar sangat menyayat hari Rendi dan Indra.
'Aku akan memberikan pelajaran berharga padamu, Bagas,' batin Indra.
#
"Baiklah. Mata kuliah saya untuk minggu ini segitu saja. Minggu depan siapkan materi untuk periode sastra daring."
"Baik Bu."
Arumi meninggalkan kelas. Semua mahasiswa PBSI 2A satu persatu keluar dari kelas, kembali ke rumah dan kos masing-masing.
"Hei." Tito berjongkok di depan Ruhi.
"Apa kau sakit Ru?" Tanya Tito sembari mendongakkan wajah Ruhi. Tito dapat melihat mata Ruhi yang memerah disertai dengan air mata yang mengalir ke wajah cantiknya.
"Hei, kenapa nangis? Siapa yang melukaimu Ru?" Tanya Tito dengan panik.
Lidah Ruhi terasa kelu, ia tidak mampu mengatakan kalau ia dari kemarin menangis karena mengingat umurnya yang tinggal 4 bulan lagi.
"Hentikan air mata ini. Baiklah, baiklah aku tidak akan bertanya kenapa kau menangis. Tapi aku mohon hentikan tangisanmu Ru," ucap Tito kemudian menarik Ruhi ke dalam pelukannya. Ruhi semakin terisak di dalam dekapan Tito.
"Maaf," lirih Ruhi.
Tito melepas pelukannya kemudian menangkup wajah Ruhi, "Kau tidak bersalah Ru. Stop nangisnya. Aku tidak menyukai tangisanmu."
Ruhi mengangguk.
"That's my girl," ucap Tito.
"GAWAT!" Seru beberapa mahasiswi sekelas Ruhi yang tadi sudah beranjak pulang tapi malah berada di kelas lagi.
"Ada apa?"
"Ruhi gawat!"
"Apanya yang gawat?"
"Mas Indra dan Bagas sedang berkelahi di lapangan utama!"
"APA!"
Ruhi dan Tito bergegas keluar kelas kemudian menuju lapangan utama kampus tanpa menghiraukan tas mereka.
Di lapangan utama.
Sudah banyak mahasiswa yang menonton gulat tak seimbang antara Indra dan Bagas. Mulai dari lantai kedua sampai keempat, penuh sesak dengan penonton gulat. Mereka enggan mendekat karena mereka takut dengan kekuasaan seorang Indrasena Galuh Hayyat Khan.
"Abang stop! Bang Indra stop! Hentikan!" Teriakan Ruhi tidak digubris oleh Indra.
"ABANG!"
*Tap!
Tap*!
Tinjuan Indra dan Bagas ditahan oleh tangan seseorang yang tidak asing bagi Indra maupun semua orang.
"Hentikan Indra."
"Tapi bang dia yang sudah menyakiti Ruhi! Dia yang membuat adikku menangis!"
"Harus berapa kali aku mengatakannya! Bukan aku penyebab Ruhi menangis!"
"APA YANG KALIAN TONTON? KEMBALI KE AKTIVITAS KALIAN MASING-MASING. BUBAR!"
Para mahasiswa membubarkan diri mereka.
Ruhi berlari, menerjang tubuh Indra. Ia memeluk Indra dengan erat.
"Abang jangan begitu lagi. Lihat? Wajahmu lebam! Ruhi tidak suka itu!"
"Hei jangan nangis sayang."
"Kalau abang sayang Ruhi, berjanjilah untuk tidak melukai siapapun itu apapun alasannya."
"Tapi Ru...."
"Berjanjilah bang."
"Fine!"
Rendi membantu Bagas untuk mengobati lukanya sedangkan Ruhi membantu Indra.
"Maafin gue Gas," ucap Indra sembari mengulurkan tangannya.
Bagas menjabat tangan Indra, "Gue maafin. Tapi lain kali tanya dulu jangan main tonjok aja."
"Hehe maaf."
•••
TBC♥️
__ADS_1