Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | EMPAT PULUH DUA


__ADS_3

Seminggu kemudian....


     Ruhi dan teman-teman disibukkan dengan persiapan ujian akhir semester genap. Banyak dosen yang ujiannya take home alias dibawa pulang. Dan kini Ruhi, Tito, Vanya, Eka, Aziz dan Adi tengah berada di perpustakaan kota untuk mencari bahan membuat makalah dan beberapa tugas lainnya.


     Meja keenam orang itu penuh dengan laptop dan dibawahnya ada tumpukan buku yang sudah mereka pilih. Mereka nampak serius mengerjakan tugas UAS dari salah satu dosen kegemaran mereka. Memang program studi PBSI terbilang cukup longgar dalam mata kuliah. Mereka jarang diberi tugas harian seperti mahasiswa prodi lainnya. Hanya saja, mereka akan bermobal-mobal ria ketika UTS dan UAS seperti saat ini. Tugas mereka sama seperti menyusun skripsi itupun lebih tebal tugas mereka.


     Tapi apapun itu, mereka mengerjakan semua tepat waktu meski semua dikumpulkan di hari yang sama. Kebiasaan buruk mahasiswa PBSI adalah mengerjakan tugas H-1. Alasannya, kalau mengerjakan jauh-jauh hari, idenya selalu mentok.


     "Aku nyerah!" pekik Aziz yang langsung dibungkam oleh Vanya. Semua mata tertuju pada meja keenam mahasiswa itu. Tito meminta maaf sembari tersenyum tidak enak. Tito lantas menjitak kepala Aziz.


     "****** banget sih."


     "Ish! Main sentil-sentil aja! Loro cik!" sungut Aziz mengomeli Tito.


     "Ya makanya diem! Cangkemu i lho jis! Iki perpustakaan blok!" sungut Tito balik.


     "Abis ini ke plaza yuk! Refreshing," ajak Ruhi yang diiyakan oleh yang lain.


     "Kepalaku rasanya mau pecah! Dari dua belas mata kuliah, cuma satu yang gak take home. Itupun susah semua. Eh, gimana kalau pas di plaza kita bikin video tugasnya pak Huda?" Eka nampak antusias mengutarakan pendapatnya.


     "Nah! Bener tuh! Mumpung personil kita lengkap. Abis itu ke tempat karaokenya Inul Daratista kan endolita," sahut Adi.


     "Endolita matamu wi!" Dengus Vanya. "Eh, gini-gini, timbang karaokean, mending kita selesaikan dulu tugas ini. Paham?" Lanjut Vanya.


      "Iya Vanya." Ujar Tito dkk.


***


     Satu jam berlalu....


     Keenam mahasiswa itu selesai mengerjakan dua tugas UAS. Kini mereka sedang ngadem di salah satu mall di Surabaya. Sepanjang jalan Tito selalu menggenggam tangan Ruhi. Ruhi menyambut genggaman tangan Tito dengan juga menggenggamnya. Benih cinta itu semakin subur dan menancapkan akar-akarnya di hati Tito. Ia semakin tidak rela jika Ruhi diambil oleh orang lain.


     "Kalian pesen apa?" Tanya Vanya ketika mereka memutuskan untuk beristirahat disalah satu food court di mall itu.


     "Samain aja. Aku mau ke Gramedia dulu."

__ADS_1


     "Tak temenin Ru," ujar Tito mengajukan diri. Ruhi mengangguk. Mereka lantas pergi ke Gramedia yang berada di lantai tiga mall ini.


     Gramedia.


     Ruhi bisa sangat kalap jika berhubungan dengan buku. Ia sudah meraih tiga novel karya sastrawan kesukaannya yaitu Sujiwo Tejo. Ia juga mengambil komik Naruto vol 71. Tito menggelengkan kepalanya melihat Ruhi yang seperti anak kecil jika sudah melihat buku. Tak berhenti disitu saja, Ruhi juga meraih beberapa buku karya Tere Liye. Total yang ia ambil ada 8 buku dan satu komik.


     Semangat yang menyala dalam mata Ruhi tadi tiba-tiba padam. Ketika dia melihat Bagas dan Maura di sebelah rak buku antologi puisi. Buru-buru Ruhi menarik tangan Tito untuk ke kasir dan membayar semuanya. Tapi terlambat! Mereka malah berpapasan di kasir.


     Bagas nampak tercekat melihat Ruhi. Pandangannya beralih pada tangan Ruhi yang digenggam oleh Tito. Rasa panas menjalar di hatinya melihat tangan gadisnya digenggam oleh Tito. Maura merasa bahwa ia salah karena mengajak Bagas ke mall ini. Mereka malah bertemu Ruhi. Padahal, sudah seminggu sejak pementasan Ruhi dan Bagas tidak bertemu sama sekali.


     Tito membayar semua buku Ruhi kemudian membawa buku-buku yang telah dibungkus oleh sang kasir. Tangan kanannya untuk menenteng kantong plastik berlogo Gramedia berisi buku-buku Ruhi sedangkan tangan kirinya untuk menarik tangan Ruhi. Bagas mengejar Tito dan Ruhi. Ia meninggalkan Maura yang sedang membayar buku yang ia beli.


     "Ruhi!"


     Ruhi berhenti yang otomatis Tito juga berhenti. Tanpa aba-aba, Bagas menarik Ruhi ke dalam pelukannya. Pengunjung mall seperti mendapat tontonan gratis; karena mereka berhenti untuk menonton Bagas memeluk Ruhi. Bagas memeluk Ruhi dengan erat seolah Ruhi akan pergi lagi darinya. Sudah seminggu ini dia menahan diri untuk tidak bertemu dengan Ruhi. Padahal dia sudah rindu setengah mati kepada gadis pemilik mata cokelat terang itu. Tito lantas menarik Bagas lalu melayangkan bogem mentahnya ke wajah Bagas.


     "She is mine!" ujar Tito. Bagas yang mendengar Tito mengatakan kalau Ruhi adalah miliknya menjadi naik pitam. Dia bangkit lalu membalas Tito tepat diwajahnya. Dua orang pengunjung mall berusaha melerai Tito dan Bagas.


     "Makasih mas," ujar Ruhi kepada dua orang yang melerai Tito dan Bagas barusan. Bagas sudah ditangani Maura. Ruhi lantas menarik Tito kembali ke food court tempat Vanya dkk nya sedang beristirahat.


     "Raimu ngopo To?" Tanya Aziz.


     "Tadi dia berantem sama mas Bagas."


     "What!" Pekik Aziz dkk yang menarik perhatian pengunjung lain.


     "Kok iso i lho!"


     "Ajur wajahmu To."


     "****** banget, sumpah!"


     "Ngerti ngono aku mau melu. Ben iso ngewangi kon!" ujar Aziz mengompori.


     Ruhi menyentil dahi Aziz, "Abang gausah ngomporin deh!" sungutnya.

__ADS_1


     "Sek, sek! Awakmu kok iso gelud kambek mas Bagas Ki piye ceritane?" tanya Eka.


     "Tadi aku sama Ruhi ketemu mas Bagas sama Maura di gramed. Trus, aku narik Ruhi. Eh tiba-tiba mas Bagas meluk Ruhi."


     "APA! BAGAS MELUK RUHI? *******!" umpat Indra.


     Semua tercekat karena mendengar suara Indra. Padahal tidak ada wujudnya. Ah, rupanya Indra sedang telfonan dengan Adi, baru saja. Adi me-loud speaker panggilannya.


     "******!" bisik Ruhi dengan takut. Bagaimana Ruhi tidak takut? Baru kemarin Indra mewanti-wanti dia agar jauh-jauh dari Bagas. Ruhi mengiyakan, toh dia juga sudah tidak ada urusan dengan Bagas. Hatinya sudah mati untuk Bagas.


     "KOK PADA DIAM! ADI!"


     "I-iya mas."


     "Share lokasi kalian! Aku otw!"


     Ruhi lantas menyahut, "Gak usah bang. Kita udah mau pulang kok."


     "Beneran?"


     "I-iya bang."


     "Ya sudah. Adi, urusan kita yang tadi di bahas ntar aja. Assalamualaikum."


     "Wa'alaikumsalam."


     Indra mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ruhi, Tito, Aziz, Adi, Vanya, dan Eka menghela napas dengan lega.


     "****** banget! Gak omong lek lagi telponan kambek mas Indra!" omel Aziz pada adiknya.


     "Ya, sorry... Tadi lagi bahas bisnis sama mas Indra. Eh kalian bahas Bagas. Udah tau mas Indra kalo denger nama mas Bagas itu sensi banget juga," ujar Adi membela diri.


     "Udah-udah... Lebih baik sekarang kita makan, trus take video habis itu pulang. Capek aku," lerai Ruhi. Mereka makan dalam diam. Sesekali Tito meringis karena luka di bibirnya masih terasa perih.


•••

__ADS_1


TBC♥️


__ADS_2