Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | DUA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Bagas berjalan dengan gontai menuju kamarnya. Setelah mengunci pintu kamar, tubuh kekar itu merosot ke lantai dengan deraian air mata. Kedua tangannya terus memukuli lantai. Detik selanjutnya ia memeluk lututnya sendiri lalu menenggelamkan wajahnya diantara lipatan tangannya.


Bagas mendongak, "Aku bodoh," lirihnya.


Bagas berdiri lalu menghampiri cermin untuk melihat seseorang yang pantas disebut bajingan-nya bajingan. Ya, dirinya adalah orang yang pantas untuk disebut sebagai bajingan-nya bajingan.


Dia mencintai Ruhi tapi tidak mau kehilangan Maura. Dia membenci setiap orang yang berusaha mendekati Ruhi tapi juga tidak mau melepaskan Maura. Dia sangat mencintai Ruhi tapi dia terlalu terobsesi dengan Maura.


Bagas menangis menatap dirinya sendiri yang sangat bodoh. Dia menyesal sudah memperlakukan Ruhi dengan sangat buruk. Bukan hanya memanfaatkannya, tapi Bagas juga menjadikan Ruhi barang taruhan dan juga menghancurkan hati gadis manis itu sebanyak dua kali.


"Maafkan aku Ruhi."


Bagas menatap foto Ruhi yang terselip di pojokan kaca lemarinya.


Pernyataan Caca mengenai penyakit Ruhi sangat menamparnya. Tapi dengan pernyataan Caca itu, Bagas sadar, sangat sadar jika dia sangat mencintai Ruhi.


"Aku harus ke rumah sakit," tekadnya. Bagas bersiap-siap untuk menjenguk Ruhi ke rumah sakit.


Setelah mandi, Bagas melihat pantulan dirinya di cermin lemarinya yang berukuran full body. Ada beberapa bekas cambukan yang diberikan oleh Indra minggu lalu.


"Ini bahkan lebih ringan daripada yang kau tanggung selama ini Ru," ucapnya bermonolog-ria.


Bagas bergegas mengenakan pakaiannya lalu pergi ke rumah sakit dimana Ruhi di rawat.


#


"Abang dari mana sa––mas Bagas?" Lirih Ruhi.


Bagas berdiri diambang pintu dengan sebuket mawar merah tersenyum pada Ruhi. Lagi-lagi air matanya menetes melihat Ruhi yang tengah duduk bersandar dengan naskah drama "Luruh Tak Embuh" di tangannya.


Tanpa sadar Ruhi *** naskah yang ia pegang. Bagas mendekati Ruhi yang masih terkejut melihat kedatangannya.


Bagas meraih tubuh Ruhi ke dalam pelukannya, "Maaf," bisiknya. Bagas menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ruhi. Ruhi ingin berontak tapi ia merasakan kalau punggung Bagas bergetar.


Bagas menangis, lagi.


"Maaf."


"Maaf."


"Maaf."


"Maaf."


"Maaf."


"Apa yang terjadi mas? Kenapa mas Bagas meminta maaf padaku?" Tanya Ruhi sembari menahan tangisnya.


"Semuanya Ruhi. Semuanya. Aku akui aku salah. Aku lelaki bajingan. Aku jahat. Aku bodoh. Aku bajingan-nya bajingan. Aku tolol. Aku-"


"Cukup mas," potong Ruhi sembari melepaskan pelukan Bagas. Ruhi menangkup wajah Bagas dan ia bisa melihat dengan jelas bahwa pemuda itu menangis.


"Semuanya sudah terjadi. Aku sudah memaafkan mas Bagas sebelum mas Bagas meminta maaf."


"Aku sadar kalau yang ku cintai adalah kamu Ruhi. Kaulah yang ku cintai. Kau-"


Lagi-lagi ucapan Bagas terpotong ketika seorang menariknya menjauh dari Ruhi.


Bugh!


"Bajingan!"


Bugh!


"Brengsek!"

__ADS_1


Bugh!


"Jancok!"


"Abang! Stop!"


Aziz menghentikan bogemnya di udara saat mendengar teriakan Ruhi.


Aziz menatap Ruhi, Ruhi menggeleng dengan air mata yang telah mengalir di pipinya. Aziz menghampiri Ruhi lalu mengusap air mata Ruhi.


"Don't cry baby," ucap Aziz.


"Jangan lakukan itu lagi."


Aziz dan Ruhi menoleh menatap ke arah ambang pintu. Nampak Ali tengah membantu Bagas untuk berdiri lalu mendudukkannya di sofa.


"Suster, tolong ambilkan kotak p3k," pinta Ali kepada suster yang menjadi asistennya.


Sang suster menjalankan permintaan Ali. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan kotak p3k di tangannya.


"Terima kasih," ucap Ali dengan senyumannya.


"Sekarang pergilah. Kerjakan tugasmu yang lain."


Si suster pergi. Mungkin akan ada 'bom' meledak sebentar lagi.


Dengan telaten Ali mengobati luka robek di pelipis, dagu, dan ujung bibir Bagas.


"Kau tau anak muda? Sebenarnya aku sangat membencimu dan membuatku ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri. Kau sudah melukai keponakan kesayanganku. Kau––ah sudahlah. Untuk apa aku mengoceh seperti ini."


Ali menuangkan rivanol ke kapas lalu mengoleskannya pada luka Bagas. Bagas meringis karena sensasi dingin sekaligus perih menyerang lukanya.


Aziz hanya menatap Bagas dengan penuh amarah.


"Aku melakukan ini karena aku adalah dokter. Dan beda lagi kalau ini terjadi di luar rumah sakit dan saat aku sedang tidak memakai jas dokterku. Aku malah akan menambah lukamu."


Ali menatap Bagas. Ia berusaha mencari kebohongan dimatanya namun nihil. Ia jujur ingin minta maaf kepada Ruhi.


"Aku percaya kepadamu."


"Tapi aku tidak!" Seru Rendi.


Rendi memasuki ruang rawat Ruhi bersama dengan Rajendra. Rajendra menahan putranya untuk tidak menghantamkan bogem mentahnya kepada Bagas.


"Aku kecewa kepadamu. Aku percaya padamu tapi kau malah menghinaku dengan membohongiku!"


"Rendi! Sudahlah! Dan untukmu! Lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran."


Rajendra nampak serius.


Bagas bangkit lalu perlahan meninggalkan ruang rawat Ruhi. Sejenak Bagas menatap Ruhi lalu mengucapkan maaf lagi tapi tanpa suara. Setelahnya, Bagas benar-benar pergi meninggalkan rumah sakit.


#


Kantin kampus 1 Universitas PGRI Diponegoro.



Khan_Indra Get well soon my baby girl❤️ Khan_Ruu


179♥️


Komentar dinonaktifkan


"Gimana keadaan Ruhi?" Tanya Adi sembari duduk di samping Indra.

__ADS_1


Indra mendongak sembari meletakkan ponselnya.


Indra menghela napas, "Semoga saja dia segera pulih," ucapnya.


"Rencananya aku akan memberitahu anak-anak satu kelas tentang keadaan Ruhi."


"Maksudmu?" Ketus Indra.


"Gini lho mas. Cepat atau lambat mereka pasti tau." Adi menatap Indra, "Anak teater Langit pun sudah tau," cicitnya.


"APA!" seru Indra sembari menggebrak meja kantin. Semua orang terkejut ketika Indra menggebrak meja kantin.


"Siapa yang memberitahu?"


"Caca," jawab Adi dengan ragu.


"Shit!" Desis Indra. Indra meninggalkan uang sepuluh ribu di meja kantin kemudian pergi.


Indra berjalan dengan setiap langkah diiringi oleh rasa marah yang menggebu. Indra menuju sanggar teater Langit. Setiap mahasiswa tidak ada yang berani menyapa Indra karena mereka tau kalau singa berwujud manusia itu tengah murka. Nampak dari raut wajahnya.


Brak!


Indra membuka pintu sanggar dengan kasar. Di dalam sanggar tengah berkumpul Pras, Riko, Nada dan Caca. Keempatnya terkejut karena Indra yang bar-bar.


"CACA!" Sentak Indra.


Dengan gemetar, Caca menghampiri Indra.


"Apa maksudmu menyebar luaskan penyakit Ruhi ke anak teater Langit!"


"Memangnya kenapa mas? Apa salahnya jika semua orang tau? Aku melakukan itu untuk membungkam mulut Rhea mas!"


"Dan dengan Bagas tau segalanya, begitu?"


Caca melupakan itu!


"Kalau masalah itu-"


"Kalau Bagas datang ke rumah sakit setelah tau kenyataannya, aku bersumpah akan membuatnya menderita. Bahkan lebih kejam dibandingkan luka seminggu yang lalu."


"Gak usah aneh-aneh deh Ndra."


"Lo gak pernah merasakan bagaimana rasanya jadi gue Pras! Ah terserahlah! Bahkan gue siap membunuh siapapun yang terlibat dalam taruhan dan semua yang menyebabkan Ruhi menangis."


Indra meninggalkan sanggar. Dia pergi entah kemana.


"Kamu kenapa Ca?"


"Aku takut mas Indra kembali seperti dulu."


"Maksudmu?"


"Sebentar," cegah Pras. Ia menarik Caca dan Riko untuk masuk sanggar lalu mengunci pintunya dari dalam.


"Nah! Sekarang lanjutkan."


"Apa kalian ingat koran yang kita temukan saat kita latihan di rumah om Jendra?" Tanya Caca.


Riko, Pras dan Nada mengangguk.


"Itu adalah potongan berita dari kasus pembunuhan yang dilakukan oleh mas Indra."


"APA!"


•••

__ADS_1


TBC♥️


__ADS_2