Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | TIGA BELAS


__ADS_3

Duduk sembari menatap taman ditemani secangkir teh dan sekaleng biskuit menjadi kenikmatan tersendiri bagi Indra, Ruhi, Rajendra dan Rendi dalam melewati waktu senggang walau hanya beberapa jam saja. Selepas ashar nanti Rendi harus kembali ke KOREM dan untuk Rajendra harus kembali ke kampus karena ada beberapa berkas serta seminar nasional yang harus ia hadiri nanti selepas magrib.


"Seneng deh rasanya bisa menghabiskan waktu bersama keluarga," ucap Ruhi sembari terus memeluk ayahnya. Rajendra terkekeh.


"Kok abang agak tersindir gitu ya," sahut Rendi dengan nada pura-pura terluka. Ruhi menatap Rendi tidak enak hati. Ia balik memeluk abangnya yang super duper sensitif ini.


"Merusak suasana kau ini Ren,"


"Dih papi masa cemburu sama anak sendiri ?"


"Suka-suka papi dong," Rajendra menatap Indra yang sedari tadi hanya diam tanpa ikut nimbrung. Biasanya Indra lah yang paling cerewet diantara dua saudaranya yang lain. "Ndra, kamu kenapa diem aja ?"


Indra tersadar dari lamunannya sembari mengusap wajahnya lalu menatap Rajendra, "I-indra izin masuk dulu," Indra bangkit lalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan ayah, kakak dan adiknya yang menatapnya dengan satu alis yang terangkat.


Ruhi, Rendi dan Rajendra saling menatap lalu Rendi mengisyaratkan agar dia saja yang menangani Indra.


Di dapur.


Entah kenapa rasanya begitu sesak jika mengingat mimpi buruk yang menghampiri tidurnya selama kurang lebih tiga hari ini. Mimpi itu terasa sangat nyata. Bahkan rasa sesaknya masih terasa sampai saat ia membuka matanya.


Indra tidak tahan dengan tekanan batin ini. Ia selalu mengatakan kepada Ruhi bahwa tidak akan terjadi apa-apa kepada Ruhi, tapi dia tidak bisa membohongi hatinya yang bertolak belakang dengan ucapannya.


Punggung Indra bergetar. Kedua tangannya bertumpu pada wastafel dan kepalanya menunduk. Indra terisak untuk kesekian kalinya dalam tiga hari ini.


"Gak bisa. Aku gak bisa begini terus. Semakin aku memikirkannya, aku akan semakin berat dan semakin tidak rela." Indra menghirup udara hingga paru-parunya terasa penuh, lalu ia hembuskan dan melegakan detak jantungnya yang berdenyut menyakitkan.


"Ndra," Rendi menyentuh pundak Indra. "Apa ada masalah ?"


"Nggak ada kok bang," ucap Indra berusaha terlihat biasa saja di depan Rendi. Dasar Indra, dia pikir dia bisa membohongi seorang Rendi ? Tidak Ndra tidak !!. Rendi sangat tau kalau adiknya ini ada masalah. Itu terlihat dari raut muka dan gesturnya saat berbicara dengan Rendi. Indra mengucapkan tidak apa-apa dengan tatapan mata yang seolah menghindari kontak mata dengan Rendi. Itu sudah cukup menjadi bukti bagi Rendi.


"Kalau sudah siap, kamu boleh ceritakan apa aja sama abang,"


Indra menatap Rendi dengan lekat. Rendi tersenyum kepada Indra untuk memberikan Indra semangat dalam menyelesaikan masalah yang membuat perasaannya gundah. Yah, walaupun Rendi tidak tau masalah apa yang menimpa adiknya itu.


Indra memasuki kamar Ruhi yang nampak temaram. Dengan kue bergambar Naruto, tokoh anime kesukaan Ruhi, Indra menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Ruhi, "Happy Birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you,"


"Semoga diumur mu yang ke tujuh belas ini, Ruru tambah cantik, baik hati, tambah pinter, semoga tambah gendutan dikit, semoga yang disemogakan tersemogakan. Abang sayang Ruru," Indra menyingkap selimut yang menutupi Ruhi. Saat ia membuka selimut itu, semua berubah. Yang semula di dalam kamar, berubah menjadi tempat pemakaman dan ranjang kamar Ruhi berubah menjadi gundukan tanah merah yang masih basah tanahnya. Di gundukan tanah itu tertancap sebuah nisan yang tertera nama Ruhi Rajendra Hayyat Khan Binti Rajendra Hayyat Khan.

__ADS_1


Kue yang tengah dibawa oleh Indra pun tiba-tiba menghilang. Indra meluruh kemudian meraba gundukan tanah itu.


"Ruhi !!! Tidak Ruhi !! RUHI !!!!!!!!"


Sekali lagi Indra terhenyak saat Rendi mendapatinya melamun lagi. Padahal baru saja Rendi tegur.


"Melamun lagi. Mikir apa sih ?"


"Nggak mikir apa-apa bang. Kita keluar yuk pasti papi sama Ruhi nungguin kita,"


Indra berjalan mendahului Rendi yang tetap diam berdiri sembari menatapnya dengan tatapan curiga.


#


"Bukan gitu Tito," ujar Ruhi sembari berdiri di samping Tito, "Tapi begini," Ruhi melakukan gerakan memutar. Tito memperhatikan dengan seksama.


"Oh, jadi begini ?" Tito menirukan gerakan Ruhi.


"Nah gitu dong dari tadi," puji Ruhi.


Tito dan Ruhi saling menautkan tangan kanan mereka. Sedangkan tangan kiri mereka melengkung keatas, membentuk hampir mirip separuh hati. Mereka melangkah kan kaki mereka memutar, mata mereka saling menatap dengan tatapan penuh keserasian. Pada akhir gerakan, Tito memutar tubuh Ruhi seperti gasing --tapi ya gak kek gasing yang muternya cepet gitu-- yang akhirnya membentur dada bidangnya.


"Perasaan gerakannya Tito sama Ruhi cepet banget selesai nya. Tapi kalo yang part si Ruhi sama Bagas kok lama ya ?" Ucap Saza menatap Ruhi dengan tatapan heran.


"Mungkin karena aku masih kaku, jadinya Ruhi kurang nyaman gitu," sahut Bagas yang melihat Ruhi terdiam. Mungkin tidak enak padanya. Saza mengangguk-angguk.


"Sekarang giliran Ruhi. Part yang nari sendirian itu lho Ru," instruksi Arina.


"Oh, siap kak," Ruhi melaksanakan instruksi Arina.


Ponsel milik Arina tiba-tiba bergetar dan menampakkan nomor tak dikenal, "Eh tunggu bentar Ru. Mbak jawab panggilan telepon ini dulu ya,"


"Iya mbak,"


"Ya halo,"


"...."

__ADS_1


"Iya saya Arina. Ini siapa ya ?"


"...."


"Oh astaga mas Kendra toh ? Ada apa mas ?"


"...."


"Eh ? Besok ?"


"...."


"I-iya mas... Insyaallah teater langit bisa. Njeh mas... Njeh,"


"Ada apa mbak ?" Tanya Tito.


"Kita ada masalah,"


"Masalah apa Rin ?" Tanya Bagas yang baru selesai dengan panggilan alamnya.


"Tadi mas Kendra, alumni kita, minta kita untuk menampilkan tarian yang bertema mengenai bentuk rasa cinta masyarakat kepada rajanya. Dan masalahnya adalah..... Kita belum siap. Latihan nari kan sulitnya minta dipeluk, eh minta ampun maksudnya,"


"Aku sama Ruhi bisa mbak,"


"Tapi-"


"Kalau masalah tema itu, kami sudah punya lagunya."


"Beneran ?"


Tito dan Ruhi mengangguk.


"Aku mengandalkan kalian,"


"Siap mbak,"


•••

__ADS_1


TBC♥️


__ADS_2