
Malam ini menjadi malam yang panjang bagi Ruhi dan teman-teman teater langit yang lain. Latihan semakin gencar dilakukan karena meskipun pentas tinggal masih dua bulan lagi, belum ada persiapan yang berarti.
"Sebenarnya ada apa dengan kalian ini ?! Meskipun pentas masih dua bulan lagi, bukan berarti kalian berhak leyeh-leyeh !!" Ucap Danu dengan amarah yang ia tahan sebisa mungkin. Wajahnya kini sangat tidak bersahabat.
Ruhi *** ujung kaos yang ia pakai. Ia terus menunduk karena ia merasa kalau semua kekacauan ini disebabkan olehnya yang sering keluar masuk rumah sakit dan sering izin untuk tidak latihan.
Danu, Fandi dan Sekka meninggalkan lapangan parkir tempat mereka biasanya latihan. Rhea, Arina, Saza, Pras, Nada, Caca, Riko, Dika, Tito, Ruhi, dan Bagas tetap diam di tempat mereka duduk.
Hening.
Diantara 11 orang itu tidak ada yang membuka suaranya. Yang terdengar hanya helaan napas mereka. Pundak Ruhi bergetar dengan perlahan. Ia menahan isak tangisnya sekuat mungkin agar tidak terdengar oleh semua orang.
Nada dan Caca menyadari kalau Ruhi menangis. Caca menyenggol bahu Riko agar ia mengisyaratkan untuk Tito bertukar tempat duduk dengan Riko. Tito bergeser tempat di samping Ruhi sedangkan Riko duduk diantara Pras dan Caca.
Tanpa sepatah kata apapun, Tito langsung merengkuh tubuh Ruhi. Ruhi semakin terisak karena sesak di dadanya yang semakin memaksa untuk keluar. Rhea dan yang lain mendongak menatap Ruhi yang terisak di dalam pelukan Tito. Tito mengusap punggung Ruhi sembari terus membisikkan kata-kata untuk meredakan tangisan Ruhi.
Bagas merasa ada sesuatu yang tersayat di relung hatinya saat melihat Ruhi menangis di dalam dekapan Tito. Tangannya terkepal erat dengan rahang yang mengetat.
Dika yang menyadari kalau Bagas tengah emosi, mengikuti arah pandangan Bagas. Dika tersenyum, "Dia cemburu rupanya," batin Dika. Dika menepuk pundak Bagas.
"Sadari perasaan lo sendiri mas. Karena kalau terlambat sedikit, lo bakal menyesalinya," bisik Dika kepada Bagas. Bagas tersentak dengan ucapan Dika.
"Udah Ru. Ini bukan salahmu. Ini salah kita semua yang gak serius latihannya," bisik Tito.
"Tapi, aku yang punya andil besar dalam masalah ini. Ini sudah yang kedua kalinya mas Danu terlihat emosi seperti tadi. Ini semua salahku To. Salahku," lirih Ruhi.
"Sshhh... Jangan nangis lagi. Nanti kamu mimisan lagi Ru," peringat Tito yang masih berbisik.
Ruhi mengangguk. Tito melepaskan pelukannya karena baru sadar kalau mereka menjadi tontonan gratis Rhea dan yang lainnya.
"Berasa dunia milik berdua," ejek Nada yang dihadiahi pelototan tajam dari Tito. Nada hanya nyengir kuda.
"Ih Ru, liat tuh ingus kamu nempel di kaosnya Tito," celetuk Riko menggoda Ruhi.
"Biarin." Ruhi menjulurkan lidahnya.
"Nah gitu dong. Jangan sedih sedih lagi. Sini sini sini tak peluk." Pras otw memeluk Ruhi.
__ADS_1
"Ngapain mas ?" Caca menarik telinga Pras untuk kembali ke tempatnya semula.
"Ya gausah narik telinga gitu dong Ca!" Sungut Pras sembari mengusap telinganya yang memerah.
"Hei guys!! Serius dulu. Gimana ini ? Masa iya kita beberapa minggu ini gak ada progres yang berarti ?" Arina meminta kepastian.
"Ini semua gara-gara kamu Ruhi !! Kalau bukan gara-gara kamu yang penyakitan itu, mungkin kita udah bagus progresnya !!" Tuduh Rhea kepada Ruhi.
"Loh kok nyalahin Ruhi mbak ?" Tanya Tito tidak menerima tuduhan Rhea kepada Ruhi.
"Ya iyalah !! Dia itu pemeran utama tapi sering bolos latihan !! Andai aja aku yang jadi pemeran utama, gak bakal kayak gini jadinya !!"
"Mbak Rhea gak bisa nyalahin Ruhi gitu dong. Kan Ruhi sakit tifus jadi dia gak bisa hadir. Kalau emang mbak Rhea gak terima sama keputusan mas Danu soal pembagian peran ini, kenapa gak protes sama mas Danu aja ?! Kenapa malah menyalahkan Ruhi ?" Caca mulai tersulut emosi.
"Ya mau gimana lagi ?! Mas Danu emang dari awal udah berencana untuk menunjuk Ruhi sebagai pemeran utama. Casting kemarin cuma buat memperlihatkan kepada kita kalau Ruhi itu lebih baik daripada kita !!"
"CUKUP RHEA !!" Sentak Bagas. Bagas berdiri.
Semua orang ikut berdiri kecuali Tito dan Ruhi. Ruhi semakin terisak dalam dekapan Tito.
"Kau jangan menyalahkan Ruhi !! Ini salah kita semua !! Kita ini keluarga !! Tidak ada salah keluarga itu kesalahan hanya ditanggung oleh satu orang saja. Kesalahan kita tanggung bersama. Kamu jangan egois !! Kalau emang kamu pengen jadi peran utama, oke !! Aku bakal bilang ke mas Danu untuk peran utama jatuh ke tanganmu. Dan untuk peranku bisa digantikan sama Pras atau Dika."
"Tito, darah." Lirih Ruhi melihat hidungnya kembali mimisan.
"Tahan Ru," bisik Tito.
Ruhi bangkit dari duduknya. Meskipun sedikit sempoyongan, Ruhi memaksakan diri untuk pergi ke kamar mandi dan berusaha untuk menghindari perdebatan Rhea dan kawan-kawannya.
"Kalau sampai Ruhi kenapa-kenapa, aku bakalan bikin perhitungan denganmu Rhea !!" Ancam Bagas kemudian berlari menyusul Ruhi dan Tito.
Rhea mengepalkan tangannya. Ia benci dengan gadis seperti Ruhi. Ia iri kepada Ruhi. Dia cantik, kaya raya, banyak orang yang menyayanginya, dan kehidupan Ruhi seperti tidak ada celanya sedikit saja.
Ia benci kenapa dia harus terlahir dalam keluarga miskin. Kenapa selalu saja Ruhi yang mendapat semua kesenangan dunia. Kenapa Ruhi begitu sempurna ?. Dan masih banyak kenapa lagi yang terngiang-ngiang di otak Rhea.
Caca dan yang lain memutuskan untuk beranjak kembali ke sanggar.
"Apa kalian tidak curiga dengan tingkah Ruhi belakangan ini ?" Tanya Caca kepada Nada dan Riko.
__ADS_1
"Aku juga merasa seperti itu. Kenapa gak kita selidiki saja ? Mungkin kita bisa menemukan kebenarannya," usul Riko. Rupanya bukan dia saja yang merasakan perubahan Ruhi. Tapi Caca dan Nada pun merasakannya.
"Oke. Besok kita mulai penyelidikannya."
#
Ruhi terus menyeka darah yang semakin deras mengalir dari hidungnya. Ruhi terbatuk-batuk dan dari batuknya pun keluar darah.
"Ya Allah. Ruhi mohon, jangan ambil nyawa Ruhi sekarang. Tugas Ruhi belum selesai ya Allah," gumam Ruhi dengan mata sembab karena ia tidak berhenti menangis dari tadi.
Ruhi berjalan cepat menuju sanggar yang terletak di lantai 3. Ia berniat mengambil tas dan jaketnya untuk pulang.
Baru saja Ruhi akan menaiki tangga, suara Indra menghentikan langkahnya.
"Adek ?"
Ruhi menatap Indra yang baru saja keluar dari Mako MENWA. Ruhi menatap Indra dengan tubuh gemetar dengan mulut dan hidung sudah penuh dengan darah. Indra terkejut melihat adiknya kembali terbatuk dan hampir ambruk kalau tidak ia tahan tubuh mungil itu.
"A-abang... Sa-kit... Sa-kit...." Ruhi mengerang di dekapan Indra. Indra panik, ia langsung meraih kunci mobilnya kemudian membopong Ruhi.
"Mas Indra !!"
"Ambil ini To !!" Indra melemparkan kunci mobilnya kepada Tito, "Cepat ambil mobil gue di parkiran rektor !! CEPAT !!"
"I-iya mas !!"
Tito berlari ke parkiran khusus untuk mobil dinas Rajendra. Ia mengemudikan mobil Indra menuju lobi kampus tempat dimana Indra tengah menunggunya.
"Ayo mas !!"
Indra membopong Ruhi masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan tinggi, Tito melajukan mobil Indra ke rumah sakit milik Ali.
"Sebenarnya ada apa dengan Ruhi ?" Gumam Bagas yang menyaksikan Ruhi berdarah-darah dipangkuan Indra.
Ia melihat semuanya. Ia melihat Ruhi mimisan, ia juga melihat kalau Ruhi terus batuk darah. Bagas pun melihat kepanikan Indra dan Tito saat Ruhi tak sadarkan diri setelah memuntahkan banyak darah.
"Ada apa denganmu Ru?" Tanya Bagas kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
•••
TBC♥️