Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | EMPAT


__ADS_3

"Leukimia stadium akhir atas nama Ruhi R.H. Khan,"


Deg!!


Laporan hasil laboratorium rumah sakit tempat ayahnya bekerja mempu membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Tito mematung dengan laporan lab yang masih berada ditangannya itu. Ia meneteskan air matanya.


"Gak mungkin..." Tito membawa hasil lab itu ke hadapan sang ayah yang tengah menonton TV. "Tolong katakan pada Tito kalau ini bukan Ruhi, wanita yang Tito sayangi pah.."


"Kamu dapat itu dari mana To ?"


"Dari mana itu tidak penting pa... Jawab Tito... Apa ini Ruhi ? Ruhi Rajendra Hayyat Khan ?"


Saif bingung dan merutuki kebodohannya karena ia sembarangan menyimpan berkas rahasia milik pasiennya. Apalagi ini mengenai Ruhi, Saif tau kalau Tito sangat mencintai Ruhi maka dari itu dia sangat takut untuk memberitahu putranya itu mengenai penyakit Ruhi.


"Katakan pada Tito kalau ini tidak benar pa..." ucap Tito. Suaranya tercekat menahan tangis yang akhirnya terisak juga. Lututnya lemas melihat anggukan dari ayahnya itu. Ia berlutut didepan ayahnya seraya menangkup wajahnya. Ia menangis, ia merasa sudah gagal menjaga Ruhi. Ia membiarkan Ruhi berjuang sendirian selama lima bulan ini. Pantas saja Ruhi nampak berbeda dan badannya tambah kurus.


"Kenapa papa gak cerita ke Tito ? Kenapa papa menyembunyikannya dari Tito ? Setidaknya biarkan Tito menjaga Ruhi... Papa tau kan kalau Tito sangat mencintai Ruhi dari dulu ?"


"Ini atas permintaan Ruhi... Bahkan tuan Rajendra dan kedua anak lelakinya tidak ada yang tau kalau Ruhi menderita penyakit seganas itu..."


"Dasar bodoh," gumam Tito. Ia lantas beranjak menuju kamarnya untuk mengambil dompet dan kunci mobilnya.


Disisi lain... Di kediaman Rajendra...


"Bang Indra !!!!!!!!!!!!" teriakan Ruhi membuat heboh seluruh penghuni rumah. Indra dan Ruhi benar-benar mengacaukan malam yang damai di kediaman Rajendra itu.


"Kerjain dulu tugasnya baru nonton film lagi..."


"Kalian ini ada apaan sih ?" tanya Raj yang gemas melihat kelakuan anak-anaknya.


"Papi...." Ruhi memeluk Raj seraya terisak didada bidang sang ayah. "Abang gak bolehin Ruhi nonton film.. hweeeee"


"Kok nangis ? PMS ya ?"


'Uuhh ayah yang peka,' batin Ruhi. Ruhi mengangguk.


"Indra... udah jangan kamu godain adikmu..."


"Kok gitu pi ? Ruru belum mengerjakan tugasnya sedangkan tugasnya itu dari dosen paling killer se FKIP pi... bisa habis Ruru kalau tidak mengerjakan..."


"Ru... kerjakan tugas dulu baru nonton film ya ?"


"Papi kok berubah pikiran ? Ruhi sebel..."


"Gemesin banget... anaknya siapa sih ?" ucap Raj gemas sembari mencubit hidung Ruhi.


"Papi sakit tau..."


Raj terkejut karena ditangan yang ia gunakan untuk mencubit Ruhi tiba-tiba berlumuran dengan darah.


"Kamu mimisan Ru ? Astaga!! Bik Surti !!!!!!!!!! Ambilkan kotak obat bik !!!"


Belum sempat bik Surti datang membawa kotak P3K, Ruhi sudah tak sadarkan diri dalam dekapan sang ayah. Indra dan Rajendra panik. Mereka langsung membawa Ruhi ke Rumah Sakit Mitra Husada.


Kembali ke kediaman Vilanova...

__ADS_1


"Malam-malam begini mau kemana To ?"


"Ke rumah Ruhi..."


"Ingat jangan hakimi dia... tapi beri dia semangat... dan ingat juga kalau kau jangan sampai menceritakan soal ini kepada siapapun."


"Iya pa.."


Drrrttt... Drrrttt...


"Waalaikumsalam... APA ?!"


"Kenapa pa ?"


"Ruhi baru saja di bawa ke rumah sakit sama ayah dan abangnya..."


"APA ?!"


"Kau mau ikut atau hanya terkejut seperti itu ? ayo..."


Saif dan Tito langsung meluncur ke rumah sakit.


Di Rumah Sakit Mitra Husada


Saif langsung memakai jas dokternya kemudian menangani Ruhi yang berada di UGD. Setelah menangani Ruhi, Saif pergi ke ruangan Ali. Sesampainya di ruangan Ali, Saif menghampiri Ali yang terduduk dilantai setelah membaca hasil cek darah Ruhi. Untuk catatan saja, Ali adalah paman dari Ruhi. Dia meneteskan air mata, merasa sangat sesak mengetahui keponakan tercantiknya menderita penyakit separah ini.


"Kenapa lo gak bilang sama gue ?!" tanya Ali yang sarat akan nada kekecewaan.


"Ruhi yang meminta,"


"Dan lo menurutinya ?!" tanya Ali sembari berdiri.


"Dasar tolol !!"


Bugh!!!


Ali memukul wajah Saif hingga ujung bibir Saif robek dan meneteskan darah. Saif hanya diam tanpa membalas perbuatan Ali. Seandainya saja dia tidak menuruti Ruhi, tidak akan jadi seperti ini.


"Maaf... gue udah ceroboh dengan menuruti Ruhi... maaf..."


"Ponakan cewek gue satu-satunya... Ya Allah... mengapa engkau timpakan penyakit ini lagi ke keluarga kami ? Apa tidak cukup kakak iparku meninggal karena penyakit ini ?! apa salah keluarga kami ?!" isak tangis dari Ali berubah menjadi tangisan yang sangat pilu. Lututnya seolah tak mampu menopang beban tubuhnya lagi. Ia meluruh ke lantai kembali.


"Ada apa ini ?"


Rajendra berdiri diambang pintu ruangan Ali. Ia yang kebingungan karena Ali yang langsung masuk ke ruangannya setelah memeriksa putri kecilnya tanpa memberitau apapun padanya.


"Kakak ?"


"Raj ?"


Muka Saif dan Ali memucat. Mereka belum siap mengatakannya kepada Rajendra.


"Ada apa ini ? Kenapa dengan kalian ? kenapa denganmu Saif ?" tanya Rajendra setelah membantu Saif dan Ali berdiri.


"Kkami.. a..anu.."

__ADS_1


"Ada apa ? kenapa kalian takut kepadaku ?"


"Cepat katakan padanya," bisik Saif sembari menyikut perut Ali.


"Enak saja... kan lo dokternya..." balas Ali juga berbisik.


"Tapi yang meriksa Ruhi kan elo kampret..." -Saif


"Eh ampas tahu !! Harusnya elo yang bilang," -Ali


"Dasar kolor ijo.. Lo-" -Saif


"DIAM !!"


Glek!!


Singa jantannya naik pitam sodara-sodara.


"Katakan atau gue acak-acak ini rumah sakit..." ancam Rajendra.


"Berjanjilah... kau harus tetap tabah setelah mendengar apa yang kami bicarakan,"


"TIDAK USAH BANYAK CINGCONG!!"


"Ruhi sakit..." ucap Ali memberanikan diri.


"Gue tau itu... Dia sakit apa ?! Pilek ?! Muntaber ?! Anemia ?! atau-"


"Leukimia," sela Saif.


Deg!!


Detak jantung Rajendra berhenti bekerja saat mendengar ucapan adiknya. Ia mengucapkan kata leukimia tanpa suara.


"Kalian pasti salah.." sanggah Rajendra. Ia tidak percaya bahwa dia akan berhadapan dengan penyakit itu lagi.


"Kita berharapnya seperti itu... tapi maaf... memang begitulah kebenarannya..."sesal Saif melihat wajah frustrasi Rajendra.


"Sejak kapan ?"


"Lima bulan yang lalu," cicit Saif.


"APA ?!!!" napas Rajendra memburu. Ia mencengkram kerah jas dokter Saif kuat-kuat. "Kenapa lo gak cerita sama gue ?!"


"mmmmaafff Raj... Putri lo membuat gue berjanji agar gue gak cerita apapun sama elo... dia takut kalo elo bakal larang dia beraktifitas..."


Rajendra melepas cengkramannya. Ia menangis.


"Kenapa harus Ruhi ? Kenapa bukan gue aja ?! Kenapa ?!!!!"


"Kak... tenangin diri lo dulu... serkarang kita fokus kepada Ruhi... harapan hidupnya tinggal lima bulan lagi... gue harap kita bisa bahagiain Ruhi sebelum semuanya terlambat..."


"Lima bulan ? gak mungkin... kalian ini dokter !! bukan tuhan !! putri gue Ruhi akan terus hidup bersama gue sampai gue dulu yang menyusul Frida...."


"Semoga saja begitu..."

__ADS_1


•••


TBC❤


__ADS_2