Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | DELAPAN BELAS


__ADS_3

"Aku ingin berbicara dua mata denganmu," ucap Rendi.


_


Glek!


Entah kenapa Bagas langsung merinding ketika Rendi mengatakan mau berbicara dua mata dengannya.


Rendi tersenyum miring melihat wajah pucat dari Bagas.


"Masih ingat aku? Beberapa waktu yang lalu aku datang untuk menjemput Ruhi saat ada mata kuliahmu. Aku TNI yang menjemput Ruhi waktu itu."


Bagas mengangguk. Rendi duduk disamping Bagas.


"Aku hanya ingin menyampaikan ini padamu." Rendi menghirup udara hingga memenuhi rongga paru-parunya kemudian ia hembuskan secara perlahan.


"Aku ingin kau menjaga jarakmu dengan Ruhi," lanjut Rendi.


Bagas reflek menoleh kearah Rendi. Ia menatap Rendi dengan tatapan tidak suka. Siapa dia sampai berani memintanya menjauhi Ruhi!.


Rendi tertawa mengejek, "Kau pasti bertanya-tanya. Siapa aku sampai berani memintamu untuk menjauhi Ruhi."


'Kenapa dia bisa tau apa yang ada di pikiranku?' batin Bagas berusaha menetralkan rasa terkejutnya.


Rendi mengulurkan tangannya, "Perkenalkan namaku Rendi Rajendra Hayyat Khan. Kakak pertama Ruhi."


Bagas menjabat tangan Rendi.


"Aku memintamu untuk menjauhi Ruhi karena aku tau semuanya. Apa saja yang kau lakukan pada adikku, dari pertaruhan sampai kau meludahi adikku di depan umum."


"A-aku bisa menjelaskannya," ucap Bagas dengan gugup. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Bagas mengepalkan tangannya menahan rasa takut mendengar suara Rendi yang saat ini terdengar sangat mengerikan.


"Aku tidak akan menghajarmu seperti Indra. Aku juga tidak akan marah kepadamu seperti Tito, Aziz, Adi dan teman-teman Ruhi yang lain. Aku hanya kesal pada diriku sendiri kenapa aku tidak bisa melakukan itu semua."


"Aku kecewa kepadamu Bagas. Padahal, awalnya aku sudah sangat menyukai hubungan kalian. Tapi, ternyata dugaanku salah. Maka dari itu, aku meminta kau menjaga jarak dengan Ruhi. Setelah pementasan teater langit selesai, menjauhlah dari adikku. Selamanya!"


Rendi memandang kearah depan tanpa menggeser pandangannya sedikit pun.


Bagas mengepalkan tangannya. Mana mungkin dia bisa melakukan itu. Baru saja Bagas ingin memperbaiki semuanya, tapi ada saja halangan. Sejak meminta maaf di kantin beberapa waktu yang lalu, Bagas sudah berjanji dalam hatinya kalau ia akan memperbaiki hubungannya dengan Ruhi dan memiliki hati Ruhi kembali. Bagas tidak akan membiarkan Ruhi dimiliki orang lain selain dirinya.


Hening menyeruak meliputi keduanya. Rendi dan Bagas sama-sama terdiam, tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.


"Maaf," lirih Bagas namun masih terdengar oleh telinga Rendi.

__ADS_1


Rendi reflek menatap Bagas, "Apa maksudmu?" Tanya Rendi memastikan. Ia bukan tipe orang main pukul sebelum mendengarkan penjelasan yang sebenarnya.


"Aku tidak bisa menjaga jarak dengan Ruhi apalagi menjauhinya. Aku baru sadar kalau adik perempuanmu itu sudah berhasil merebut hatiku. Dia berhasil mengobrak-abrik pertahananku. Hatiku yang sekeras batu dilunakkan oleh seorang Ruhi. Gadis polos yang sudah ku permainkan. Aku menyadari kalau aku... mencintai Ruhi," ucap Bagas.


Terdengar nada keseriusan pada ucapan Bagas. Raut wajahnya pun menunjukkan keseriusan. Rendi menghela napasnya, kemudian berdiri.


"Jaga adikku baik-baik," ucap Rendi lalu beranjak pergi meninggalkan Bagas yang terperanjat mendengar ucapannya. Rendi terus berjalan hingga menghilang di persimpangan koridor menuju ruang rawat Ruhi.


"Jaga adikku baik-baik."


Ucapan Rendi barusan terngiang lagi ditelinga Bagas. Tiba-tiba terbit wajah gembira pada ekspresi wajah Bagas.


"Itu artinya...." Bagas berpikir sejenak. "YES!" Pekik Bagas sembari menggoyang badannya saking gembiranya.


"Calon kakak ipar sudah memberikan lampu hijau. Berarti aku berhak mendekati Ruhi tanpa harus takut dengan Indra, Tito ataupun Reza-Reza itu." Bagas menyeringai.


"Baiklah! Mulai besok, aku akan mendekati Ruhi kembali," ujar Bagas.


#


Keesokannya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Semua orang menyahut salam Bagas meskipun setengah mati menahan kesal di hati mereka.


"Ngapain lo disini?" Tanya Indra dengan ketus.


"Biarkan dia Ndra. Abang udah mengizinkan dia untuk menjenguk Ruhi," ucap Rendi tanpa mengalihkan pandangannya dari kegiatan membaca koran hari ini.


"Tapi-"


"Tidak menerima tapi-tapian," potong Rendi saat Indra ingin memprotes ucapan Rendi.


"Hei tunggu dulu... Bukannya dia, bocah yang dulu meludahi Ruhi pas gue sama Ruhi CFD-an ya?" Ungkap Reza yang merasa tidak asing dengan Bagas yang mulai memasuki ruang rawat Ruhi.


"Jadi itu benar!" Rendi langsung mengunci pergerakan Indra yang ingin menerjang tubuh Bagas.


"Tenangkan dirimu Indra!" Bentak Rendi saat Indra tetap berontak. Indra langsung diam saat dibentak Rendi, kakaknya. Dengan perasaan kesal Indra membanting pintu ruang rawat inap Ruhi tanpa mengindahkan peringatan dari suster yang lewat di depan ruang rawat Ruhi.


"Maafkan dia. Indra memang keras kepala."


Bagas tersenyum kikuk.

__ADS_1


"Aku permisi Ren," pamit Reza lalu mengejar Indra yang sudah lebih dulu keluar.


"Mas Bagas? Kok disini? Dan dimana bang Indra?" Tanya Ruhi beruntun. Ruhi datang bersama Rajendra dan Ali setelah melakukan CT-SCAN pada Ruhi.


"Bagas?"


"Assalamualaikum pak," ucap Bagas sembari mencium tangan Rajendra kemudian Ali.


"Waalaikumsalam," sahut Rajendra. "Mau jenguk Ruhi?"


"I-iya pak," jawab Bagas.


"Kak, Ali mau bicara sama kakak sebentar. Ayo," ajak Ali dengan tatapan tidak bersahabat pada Bagas.


Rajendra membaringkan putrinya ke brangkar dulu kemudian mengekori Ali keluar ruang rawat inap.


"Apa kakak tau dia siapa?" Ucap Ali setelah keluar dari ruang rawat.


"Dia Bagas, kakak tingkat Ruhi, Aziz, Adi dan Tito di Unipdi. Kenapa?" Rajendra balik bertanya.


"Apa kakak tau apa saja yang sudah dia perbuat pada Ruhi kita! Apa kakak tau dia yang membuat Ruhi menangis! Apa kakak tau kalau dialah penyebab Ruhi dulu mengurung diri di dalam kamar selama seminggu penuh! Apa kakak tau-"


"Aku tau semuanya." Potong Rajendra.


"Apa?" Tanya Ali memastikan pendengarannya.


"Aku tau semuanya. Aku tau semua perilaku Bagas pada anakku. Dan aku juga tau, dia memanfaatkan Ruhi untuk memudahkan KKN-nya. Aku tau semuanya Al," ucap Rajendra dengan santai namun tangannya terkepal erat mengingat perilaku Bagas pada Ruhi. Ia tau semuanya dari Reno, sahabat Indra yang ia minta untuk mencari tau tentang Bagas.


"Lalu apa tindakan kakak sekarang?"


"Aku akan membiarkan dia mendekati Ruhi kembali."


"Apa kakak gila!"


"Aku waras! Seratus persen waras!"


"Lalu kenapa kakak membiarkan bajingan kecil itu mendekati keponakan tersayangku?"


"Karena Ruhi mencintai Bagas."


•••


TBC♥️

__ADS_1


__ADS_2