Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | EMPAT PULUH TIGA


__ADS_3

Mas Bagas


Temui aku di cafe seberang kampus. Aku ingin memberikanmu sesuatu sebagai tanda persahabatan kita.


Ruhi mengernyitkan dahinya. Ia kembali membaca chat dari nomor Bagas. Hari dan tanggalnya hari ini. Apa Bagas salah minum obat atau bagaimana? Permintaan pertemanan yang ia lontarkan kepada Ruhi kemarin rupanya memang sungguh-sungguh.


*Kemarin, setelah dari plaza, Ruhi memutuskan untuk pergi ke sanggar teater Langit seorang diri. Dia ingin mengambil alat make up nya yang digunakan untuk makeup pentas kemarin.


Di sana rupanya ada Bagas yang sedang sibuk di depan komputer sanggar sembari bersenandung kecil. Padahal seharusnya dia istirahat karena baru sejam yang lalu dia berkelahi dengan Tito.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam. Ruhi?" Sahut Bagas. Ia nampak sumringah melihat kehadiran Ruhi tanpa ada Tito, Caca, Riko, Nada atau bahkan Indra.


"Ada yang bisa mas bantu Ru?" Tanya Bagas bermanis-manis ria. Dia terlalu bahagia karena melihat Ruhi.


"Aku mau ambil kotak makeup ku mas," jawab Ruhi.


"Oke, tak bantu nyari-"


"Gak usah mas. Ini udah ketemu," tukas Ruhi sembari meraih kotak makeupnya yang kemarin ia letakkan di samping pintu masuk. Bagas mendengus tapi dia tidak menyerah.


"Ruhi," panggil Bagas ketika Ruhi akan pergi.


Ruhi menghela napasnya, "Iya mas?"


Ruhi malas jika berurusan dengan Bagas. Ia takut perasaan yang sudah lama kering malah akan tumbuh lagi gara-gara hal kecil seperti ini. Detak jantungnya masih sama ketika dia belum mengetahui segalanya tentang Bagas. Dia dulu terlalu berharap. Selain itu, Ruhi juga takut jika Bagas kembali mendekatinya, dan juga menyakitinya lagi, maka Indra akan turun tangan langsung untuk membunuh Bagas.


Sudah cukup Fandi dan Fani yang menjadi korban kegilaan abangnya itu.


Dengan gugup Bagas meraih tangan Ruhi, "Tolong jangan pergi dulu Ruhi. Aku ingin mengatakan kalau aku sadar jika yang ku cintai adalah kau. Bukan Maura atau siapapun. Hanya dirimu. Ku mohon kembalilah kepadaku Ruhi," ucapnya dengan wajah penuh penyesalan.


Ruhi melepas genggaman tangan Bagas, "Maaf mas. Kalau untuk kembali aku tidak bisa. Maaf."


"Kenapa?"


"Kau terlalu menyakitiku mas. Maaf."


"Kalau begitu, jadilah temanku Ru!" Ujar Bagas kekeuh.


"Kalau itu...baiklah," ujar Ruhi dengan ragu. Bagas langsung memeluk Ruhi.


"Terima kasih. Ah, maaf. Kelepasan," ucap Bagas melepaskan pelukannya*.


Ruhi memberanikan diri untuk membalas pesan dari Bagas.


Anda


Oke


Ruhi lantas mengganti pakaiannya. Ia berharap jika niat Bagas kali ini memang untuk berteman dengannya. Dan dia berharap juga kalau Bagas tidak mempermainkannya lagi kali ini.


***


Pukul 12.00 wib

__ADS_1


Cafe 53 yang terletak di depan kampus Unipdi ini nampak cukup ramai. Di meja nomor 5 duduk seorang pemuda yang sedang menunggu pujaan hatinya. Rasanya sangat sesak karena saking bahagianya dia akan bertemu dengan Ruhi lagi. Bagas memang lebay. Dia yang membuang dan dia yang kehilangan.


"Bagas? Kamu disini juga?"


"Oh Maura. Iya. Seperti yang kau lihat."


"Kau janjian dengan Ruhi ya?"


"Kok kamu tau?"


"Nebak aja. Yaudah kalau begitu aku pamit dulu."


"Emm, Maura tunggu."


Maura berhenti lantas menatap Bagas, "Ada apa?"


"Maaf."


"Untuk?"


"Untuk segalanya."


"Lagi pula kau tidak melakukan kesalahan kepadaku. Kau benar. Dengan melepasku, kau bisa menggenggam cintamu, Ruhi."


"Terima kasih atas pengertianmu, Ra." Bagas refleks memeluk Maura karena bahagia. Segala bebannya sudah terangkat. Kini tinggal meluruskan permasalahannya dengan Ruhi. Dia akan menumbuhkan lagi perasaan cinta Ruhi kepadanya. Dan kisah ini akan berakhir dengan indah.


"Kalau mas memintaku datang kesini untuk memperlihatkan kemesraan kalian kepadaku, lebih baik tidak usah. Percuma aku datang kesini."


"Ruhi?" Pekik Bagas dan Maura bersamaan lalu melepaskan pelukan mereka. Semua pengunjung cafe melihat ke arah Bagas, Maura dan Ruhi.


"Cukup mas."


"Tapi Ruhi. Aku bisa menjelaskannya. Tadi aku dan-"


"SHUT UP BAGAS SWOGANTARA!" Teriak Ruhi. Bagas terkejut hingga mundur dua langkah karena baru pertama kali dia melihat urat-urat kemarahan Ruhi. Baru kali ini gadisnya itu berteriak seperti ini.


"Ruhi-"


Telapak tangan kanan Ruhi terangkat dan menghentikan pergerakan Bagas yang akan menghampirinya.


"TERIMA KASIH UNTUK SEMUANYA." seru Ruhi.


"Ruhi! Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku dan Bagas-"


"Diamlah mbak!" hardik Ruhi.


Ruhi sekali lagi menangis karena perasaannya kembali dilukai. Dia berlari meninggalkan cafe. Ruhi berlari tanpa arah dan tidak peduli dengan orang-orang yang ia tabrak. Dia hanya ingin berlari sejauh mungkin dari cafe itu. Ia kembali kecewa. Ia akui perasaan untuk Bagas masih ada. Bahkan masih tertanam kuat di dalam hatinya. Ruhi terus berlari hingga dia tak sadar sudah di tengah-tengah jalan raya. Banyak yang meneriakinya untuk menyingkir dari sana. Tapi terlambat....


Sebuah mini bus menabrak Ruhi hingga tubuh gadis mungil itu terpental beberapa meter. Ruhi tergeletak bersimbah darah.


"RUHI!" teriak Indra. Dia terlambat menyelamatkan Ruhi. Dia berlari menghampiri Ruhi. Meledaklah tangis Indra. Dia menangis, meraung-raung sembari memangku kepala adiknya.


"Bertahanlah. Abang udah panggil ambulan. Bertahanlah."


"A-bang...."


"Jangan tutup matamu Ru! Abang mohon. Ruhi! Bangun Ruhi! RUHI!"

__ADS_1


Indra memeluk Ruhi sembari terus menangis. Semua orang sudah berkerumun ingin melihat keadaan Ruhi. Indra menghentikan tangisnya kemudian meletakkan kepala adiknya. Indra bangkit dari duduknya dengan mata memerah. Amarahnya tidak bisa ditahan saat ini. Indra...siap mengamuk, lagi.


"RENO! TANGKAP PENGENDARA YANG SUDAH MENABRAK RUHI!" Teriak Indra. Orang-orang yang berkerumun ketakutan melihat Indra nampak murka. Mereka memilih untuk menyingkir dan memberi ruang untuk Indra.


Mini bus sudah kosong. Rupanya si pengendara melarikan diri.


"Kita bawa Ruhi ke rumah sakit dulu Ndra! Dia masih hidup!" Peringat Reno.


Ambulan datang dan membawa Ruhi ke rumah sakit untuk ditangani. Indra berlari memasuki Mako menwa kemudian mengambil kunci mobil untuk mengejar ambulan yang membawa Ruhi.


***


Brak!


"TITO! AZIZ! ADI!" teriak Lena, mahasiswi PBSI 2B.


"Dasar tidak sopan! Kelas ini sedang ada mata kuliah saya, tau!" hardik Bu Ivone, dosen manajemen pendidikan PBSI 2A.


"Maaf Bu tapi ini genting."


"Genting kenapa?"


"Ruhi kecelakaan!"


"APA!" Pekik satu kelas.


"Dia ditabrak mobil dan pelakunya kabur!"


Tito, Aziz dan Adi lantas pamit pulang kepada Bu Ivone dan diizinkan. Lena ikut meminta maaf karena grasa-grusu. Dan untungnya Ivone memaafkannya.


"Pakai mobilmu To!"


"Iya!"


Tito, Aziz dan Adi memasuki mobil. Tito mengemudikan mobilnya sedikit ugal-ugalan tapi untungnya tidak ada polisi yang sedang berjaga.


RS Mitra Husada.


Indra terus mondar mandir dan sesekali menengok ke dalam ruang ICU berharap bisa melihat apa saja yang dilakukan oleh dokter kepada adiknya dan kenapa begitu lama prosesnya. Indra menggeram marah.


"Indra!"


Indra menoleh dan mendapati ayah dan kakaknya datang dengan tergesa-gesa.


"Bagaimana keadaan Ruhi?"


"Bang Rendi...." Indra menangis di dalam pelukan Rendi. Dia sangat rapuh. Rendi memeluk adiknya tersebut. Ia tidak tega melihat Indra yang biasanya tegar, kini menangis di dalam pelukannya. Rendi juga ikut meneteskan air matanya.


"Ali, Ali. Bagaimana keadaan Ruhi?" Cecar Rajendra saat Ali keluar dari ruang ICU.


"Aku akan berusaha kak. Ruhi kritis. Dia kehilangan banyak darah dan benturan keras di kepalanya menyebabkan trauma berat. Ditambah lagi sel kanker Ruhi memperparah keadaan. Aku permisi dulu."


"Tidak... Tidak mungkin.... ALI! TOLONG SELAMATKAN ANAKKU!"


•••


TBC♥️

__ADS_1


__ADS_2