
"Dia, Suharto Ahmad, pengusaha ternama. Dialah yang menabrak Ruhi tempo hari. Dia sekarang berada di Jakarta."
Reno menutup buku laporan yang ia baca barusan.
"Sekarang, apa yang akan kau lakukan?"
Indra bangkit dari duduknya. Asap mengepul dari mulut pemuda tampan itu. Indra kembali kecanduan dengan rokok elektriknya seperti dulu.
"Kumpulkan semua bukti. Kita akan membuatnya menginap lama di jeruji besi."
Reno menatap punggung Indra, "Benarkah?" Tanyanya gembira.
"Iya. Kematian adalah hal paling ringan baginya. Aku akan memenjarakan dia. Dan aku juga akan membayar beberapa napi di sana untuk membalaskan dendamku kepada Suharto Ahmad itu dengan cara mereka sendiri dan secara perlahan-lahan dia akan tersiksa secara batin juga fisiknya. Akhirnya dia akan memohon untuk kematiannya sendiri."
Reno tersenyum lega karena Indra tidak akan nekat seperti dulu. Tapi tetap saja kejam.
"Ku dengar, Tito dibawa ke psikiater."
Indra berbalik menatap Reno. Ia baru tau kalau Tito dibawa ke psikiater.
"Benarkah?"
"Kau belum tau rupanya." Reno duduk di kursi yang berhadapan dengan meja Indra.
"Psikisnya terguncang setelah kematian Ruhi. Dia sering menyakiti dirinya sendiri dan juga berbicara dengan foto Ruhi. Dia-"
"Sudah Reno. Kita akan menjenguknya hari ini." Tukas Indra karena ia ikut sakit mendengar kabar kondisi Tito yang hampir gila karena kepergian Ruhi.
__ADS_1
"Oke."
***
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. ~W.S. Rendra.
*Hidup ku lalui dengan berpegang teguh pada prinsip dimana aku akan memaafkan semua yang telah menyakitiku dan terus berjuang sampai orang yang meremehkan aku akan ikut bertepuk tangan ketika aku berhasil nanti.
Niatku untuk bebas dari jeratan penyakit kanker darah ini harus pupus ketika Allah sendiri meminta aku untuk kembali kepadanya.
Meninggalkan semua keluarga, kerabat dan sahabat. Meninggalkan cinta dari ayah, kedua kakakku, paman-pamanku, teman-temanku dan semuanya.
Tapi senyum kesenangan karena Allah telah mengangkat segala rasa sakit yang ku derita selama ini.
Surat ini ku buat atas dasar keinginanku sendiri. Aku membuat ini hanya untuk menguatkan hati yang akan rapuh ketika kepergianku kelak.
Entah siapapun yang akan menemukan surat ini, aku ingin berpamitan melalui surat ini dan tolong sampaikan kepada ayah, bang Rendi, bang Indra, om Ali, om Saif, om Rizal, paman Faris, Sona, bang Abhi, Alfa, Devan, Revan, bang Aziz, bang Adi, Caca, Nada, mas Danu, Tito, Vanya, Eka, dan semua teman-teman teater Langit dan teman-teman PBSI kelas A, bahwa aku sangat bahagia memiliki kalian.
Aku sangat mencintai kalian dan sangat bahagia karena Allah menganugerahkan kepadaku orang-orang yang benar-benar mencintaiku apa adanya.
Untuk mas Bagas, aku tau kau sangat mencintaiku. Dan aku sudah memaafkanmu juga Maura. Aku tidak akan sakit hati lagi karena Allah telah menjaga hatiku bersamaNya.
__ADS_1
Dan untuk Tito, di kehidupan ini kita tidak bisa bersama tapi dengan izin Allah, kita akan bersatu dengan saling mencintai di kehidupan selanjutnya*.
Salam penuh cinta,
Ruhi Rajendra Hayyat Khan
Surabaya, 8 Mei 2019
•••
Setiap kisah tidak harus berakhir happy ending kan?
Allah sudah menakdirkan bahwa Ruhi tidak akan dimiliki oleh siapapun, baik itu Tito maupun Bagas. Allah lebih menyayangi Ruhi maka dari itu Allah mengambil Ruhi dengan caraNya sendiri.
Dari kisah ini, dapat di pelajari bahwa jangan sia-siakan siapapun yang berada di sisimu saat ini. Entah itu kekasih, orang tua, sahabat atau siapapun itu. Karena kita tidak tau kapan ia akan pergi dari kita.
Kepergian seseorang memang sangat menyakitkan. Tapi percayalah.... Hukum timbal balik itu ada.
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. ~W.S. Rendra.
•••
__ADS_1
TAMAT
•••