
Indra menatap nanar tubuh adiknya yang dipasangi infus dan semua alat yang ia tidak tau apa namanya. Selama satu minggu ini, Indra kehilangan semangatnya setelah mengetahui adiknya divonis leukimia stadium akhir. Penyakit yang sama dengan penyakit yang menjadi alasan kepergian ibunya ke alam baka. Sulit bagi Indra untuk menerima kenyataan saat ini. Hidup adiknya tinggal lima bulan ? cihh prediksi macam apa itu. Mereka hanya dokter, bukan Tuhan.
Tidak jauh beda dengan Indra. Tito sama menderitanya. Sudah menjadi rahasia umum kalau Tito mencintai Ruhi. Jangankan untuk tersenyum, berkedip saja seolah sangat sulit baginya. Air mata yang menggenang dipelupuk matanya akhirnya menetes juga. Ruhi, wanita yang ia cintai harus terbaring di brangkar rumah sakit selama satu minggu ini.
Ruhi sadar beberapa jam setelah ditangani pihak rumah sakit. Tito dan Indra selalu setia menjaga Ruhi secara bergantian. Dan selama seminggu ini juga, baik Tito maupun Indra disatroni banyak teman-teman Ruhi. Mereka menanyakan keberadaan Ruhi yang tidak hadir di kelas. Tito dan Indra selalu mengelak saat mereka ditanyai oleh bidadari cerewet yang berstatus sebagai sahabat Ruhi, Nada dan Caca. Mereka merahasiakan penyakit Ruhi dari sahabat-sahabat Ruhi karena itu permintaan Ruhi.
Ruhi sudah terlelap setelah meminum obat dan itu pun harus dipaksa oleh Tito.
"Kalian beristirahatlah... mungkin besok Ruhi sudah bisa dibawa pulang..." ucap Saif kepada Indra dan putranya.
"Kapan Ruhi sembuh pa ?" tanya Tito dengan suara tercekat.
"Semoga Allah memberikan kesehatan kepada Ruhi... Semoga ada mukjizat..."
Di lapangan parkir belakang
Hari ini adalah jadwal latihannya teater langit untuk persiapan pentas tunggal beberapa bulan lagi. Setelah pemanasan, Danu mengumpulkan yang hadir untuk memberikan naskah yang telah ia buat kemarin kepada masing-masing orang yang hadir. Danu mengedarkan pandangannya mencari sosok yang selama seminggu ini bagaikan lenyap ditelan bumi.
Bagas pun begitu, jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, Bagas sangat merindukan wanita yang telah disakitinya beberapa waktu lalu. Ia belum mau mengakui kalau dia telah jatuh cinta pada Ruhi. Ia terlalu gengsi untuk mengatakannya. Jangankan mengatakan pada orang lain, mengakuinya pada dirinya sendiri saja masih gengsi.
"Ada yang tau dimana Ruhi dan Tito ?"
"Mboten ngertos mas..."
Danu menghela napasnya berat. Entah kenapa ia menjadi begitu gelisah, perasaannya pun tidak enak, 'Seperti akan terjadi sesuatu, tapi apa ?' tanyanya pada dirinya sendiri.
"Baiklah... itu adalah naskah yang akan kalian pentas tunggalkan... judulnya Luruh Tak Embuh... Naskah ini saya buat kemarin... kisah ini menceritakan mengenai seorang wanita yang patah hati karena sang pujaannya ternyata hanya memanfaatkan ketenarannya agar bisa meraih ketenaran secara instan... meskipun begitu, si wanita tidak mau meluruhkan perasaannya... Luruh Tak Embuh... Luruh yang berarti jatuh atau gugur atau surut, Tak Embuh berarti tak mau... Jadi maksud dari Luruh Tak Embuh ini adalah tidak mau menyurutkan sesuatu yang harusnya sudah ia tinggalkan karena ia sangat mencintai sesuatu itu..."
Danu membagikan naskah itu. Rhea dan kawan-kawan mulai membaca naskah. Nada, Caca, Rhea, Saza, Arina, bahkan Dika, Riko dan Pras terisak membaca naskah itu. Mereka seolah membaca kisah sedih dari seorang gadis yang begitu terpuruk ditipu oleh sang pujaan.
Bagas merasa kalau tubuhnya saat ini kaku. Kisah dalam naskah itu sama persis dengan semua tindakannya kepada Ruhi. Bagas menangis dalam diam, jujur ia menyesal karena sepertinya dia memang telah jatuh pada pesona cinta seorang Ruhi Rajendra Hayyat Khan. Gadis yang selalu tersenyum saat ia mempermalukan putri kesayangan Rajendra itu di depan umum. Bahkan Bagas pernah meludahi Ruhi karena ia melihat Ruhi berjalan berduaan dengan seorang pria yang ia ketahui namanya adalah Reza Suryasena Atmaja. Entah mengapa ia merasa hatinya memanas saat melihat Ruhi berdekatan dengan lelaki lain. Bagas terlalu bodoh karena dia terlambat menyadari kalau dia, mencintai Ruhi.
"Kenapa ? tersindir ya ?" bisik Riko kepada Bagas. Sudah menjadi rahasia umum dalam UKM teater langit mengenai hubungan Bagas dan Ruhi yang diakhiri dengan kenyataan bahwa Bagas memanfaatkan Ruhi agar dia bisa mendapatkan kemudahan mengenai KKN (Kuliah Kerja Nyata)nya dan juga karena Bagas kalah bertaruh dengan Jodhi yang mengharuskan ia memacari salah seorang mahasiswi semester satu. Dan Ruhi lah korban Bagas.
__ADS_1
"Apa maksudmu ?" tanya Bagas dengan nada tidak terima.
"Maksud gue ? pikir saja sendiri.." ucap Riko sembari beranjak pindah duduk di dekat Caca karena memang mereka adalah sepasang kekasih.
#
Pagi ini Ruhi sudah dibawa pulang oleh Rajendra. Meskipun begitu, Ali masih tetap mengawasi Ruhi karena dia mencium bau-bau penghianatan dari pengrusuh kecil ini. Ruhi sangat keras kepala dan sering memperdayainya. Dan Ali kini berusaha waspada, takut-takut kalau pengrusuh kecilnya ini akan berulah lagi.
"Kan kamu sudah di rumah... selama beberapa hari kedepan istirahat dan jangan lupa minum obatmu secara teratur... jangan bandel," peringat Ali kepada Ruhi.
"Iya iya om..."
"Jaga kesehatan ya sayangnya om," ucap Ali seraya mengusap kepala Ruhi lalu mencium kening Ruhi dengan sayang.
"Sudah selesai ?"ucap Rajendra yang berdiri bersandar diambang pintu kamar Ruhi seraya bersedekap.
"Oho... rupanya orang tua ini cemburu melihat aku mencium putrinya..."goda Ali seraya menaik turunkan alisnya.
"Keluar atau gue tabok itu bokong oplas lo ?!"
"Ihhh om Ali mesum !!!" pekik Ruhi ketika melihat Ali otw melepas celananya –baru tahap melepas ikat pinggang pemirsaahhh--. Rajendra menggeplak kepala adiknya yang bar bar ini. Ali mengaduh karena geplakan kakaknya itu.
"Lo disini bikin mata anak gue ternodai tau gak..."
"Iya Ali juga sayang sama abang,"
"Gak nyambung woi !!"
"Lha sayang adek enggak ?!"
"Utuh utuhhhh cini cini abang peyukkk"
"Geli sumpah..."
__ADS_1
Ruhi tertawa melihat pertengkaran ayah dan omnya itu.
'Andai aku bisa hidup lebih lama...' batin Ruhi sembari tersenyum miris.
Disisi lain, disaat yang bersamaan
Kenapa semuanya terasa asing bagiku ? Dimana aku ? Aku menyusuri ruang putih yang terasa sangat hampa. Aku melihat seorang gadis cantik yang tersenyum padaku dikejauhan. Aku menghampirinya yang tak pernah melunturkan senyum diwajah cantiknya. Ruangan hampa itu berubah menjadi padang bunga mawar putih.
Ruhi ?
"Bagaimana lo bisa disini ?"
"Hai mas ?"dia tersenyum kembali tanpa menjawab pertanyaanku.
"Jawab pertanyaan gue dulu Ru," ucapku sedikit menaikkan suaraku.
Ruhi tersenyum, "Itu gak penting mas... yang terpenting sekarang adalah permintaan mas Bagas akan segera terpenuhi..."
Ruhi memutar tubuhnya beranjak dari tempatnya berdiri. Namun Bagas mencekal tangan Ruhi.
"Maksud lo apa Ru ?"
"Suatu saat mas Bagas pasti ingat kok... dan saat itu tiba, Ruhi mohon jangan pernah menyesal ya mas ?"ucap Ruhi sembari melepas cekalan tangan Bagas.
"Tunggu dulu Ruhi !!! Jelaskan maksudmu barusan..." Ruhi berjalan menjauh dari Bagas menuju satu cahaya putih yang menyilaukan mata. Bagas berlari berusaha menggapai tangan Ruhi tapi nihil.
"Ruhi !! Ruhi !!! Ruhiiiiiiiiii !!!!!!!"
Bagas terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal. Buliran keringat dingin membasahi pelipis Bagas.
"Ada apa ini ? kenapa dalam mimpi tadi, Ruhi seolah oleh pamit sama gue... astagfirullah... itu Cuma mimpi... mimpi atau bukan, apa urusan gue ?" ucap Bagas tidak mengacuhkan hatinya yang sedikit mencelos saat ia seolah tidak memedulikan Ruhi padahal ia peduli.
•••
__ADS_1
TBC❤