
Sahi jave na judayi sajna
Saya tidak tahan jarak di antara kita.
Tere bina dil naiyo lagna
Hati saya terasa gelisah saat Anda tidak ada.
Teri pyaari pyaari do akhiyan
Mata penuh kasih dari Anda
Tadpayein mujhe sari ratiyan
Siksa aku sepanjang malam.
Ruhi berlinang air mata sembari terus memaki Bagas. Adegan pertengkaran mereka ini sudah mengulang sebanyak 5 kali karena entah kenapa ada saja halangan yang membuat entah itu Bagas ataupun Ruhi jadi lepas peran.
"Ada apa dengan kalian ini? Kemistri kalian tidak ada sama sekali! Ruhi! Bagas! Kalau kalian ada masalah pribadi, jangan libatkan dalam drama ini! Kalian harus profesional!" Seru Danu kesal.
Ruhi dan Bagas saling menatap lalu menunduk.
"Istirahat dulu. Habis itu ulangi lagi baru boleh pulang," ucap Danu.
Semua menurut.
"Ada masalah apa sih? Kok gak konsentrasi?" Bisik Tito sembari menggiring Ruhi untuk duduk bersama yang lain di bawah pohon rindang yang berbeda dengan Danu.
"Nggak tau juga To," sahut Ruhi.
"Padahal kan adegan tadi kesempatan kamu untuk meluapkan semua uneg-unegmu," ucap Caca dan diiyakan oleh Nada juga Riko.
"Jangan bilang kamu masih sayang sama mas Bagas," ujar Riko penuh selidik.
Dengan cepat Ruhi menggeleng. Bukan itu yang ia rasakan. Tapi, amarah yang selama ini ia pendam untuk Bagas, memaksa untuk keluar. Ruhi takut kalau dirinya lepas kendali.
"Aku tau kok Ru. Kamu pasti takut kalau kamu marah, kamu gak bisa mengendalikan diri," ucap Pras seolah bisa membaca pikiran Ruhi. Ruhi tersenyum kaku sebagai tanda ia mengiyakan ucapan Pras.
"Kamu bisa Ru," ucap Tito.
Ruhi tersenyum.
"Gak pada makan nih?" Celetuk Nada.
"Makan lah. Kuy!" Ajak Caca yang sudah berjalan menuju kantin GOR.
Pras dkk bangkit dari duduk mereka mengikuti langkah Caca yang berjalan mendahului mereka.
"Tunggu," ucap Bagas sembari meraih pergelangan tangan kanan Ruhi. Semua orang menoleh, menatap Bagas.
"Aku ingin bicara denganmu Ru," ucap Bagas.
Riko menahan Tito yang berusaha untuk menghalangi Bagas dan Ruhi.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka," ucap Riko. Tito terpaksa menurut. Riko mengajak semuanya untuk memberikan ruang kepada Ruhi dan Bagas. Bagas menarik Ruhi ke bangku yang berada di bawah pohon rindang yang terletak agak jauh dari orang-orang.
Sesampainya di sana, Bagas dan Ruhi duduk di bangku. Keduanya sama-sama terdiam. Yang satu gugup karena bingung bagaimana menjelaskan maksudnya dan yang satu bingung karena tidak tau mau ditanyai apa.
"Mas Bagas mau bicara apa?" Tanya Ruhi setelah 5 menit mereka saling terdiam.
__ADS_1
Tiba-tiba Bagas duduk bersimpuh di depan Ruhi sembari mendongak menatap Ruhi. Sedangkan tangannya menggenggam erat kedua tangan Ruhi. Ruhi bisa melihat penyesalan dan juga rasa cinta Bagas untuknya. Dan itu nampak sangat dalam. Perasaan Bagas begitu menggebu dan itu juga yang menyiksa jiwa dan raga Bagas.
Bagas tertunduk menumpukan kepalanya pada genggaman tangannya dan Ruhi. Tak lama kemudian punggung yang nampak kokoh itu bergetar.
Bagas menangis.
Ruhi bingung mau berbuat apa. Bagas kembali mendongak dengan mata dan wajah yang basah oleh air mata.
"Maafkan aku Ru," ucap Bagas dengan suara parau.
Melihat penyesalan Bagas, Ruhi ikut menangis. Bagas mengusap air mata Ruhi yang sudah menetes.
"Jangan menangis Ru. Aku akan semakin membenci diriku sendiri. Jangan menangis."
Ruhi tersenyum walau masih dengan air mata yang terus mengalir, "Aku tidak mau melihat mas Bagas selemah ini lagi. Ruhi sudah memaafkan mas Bagas. Demi Allah, Ruhi sudah memaafkan mas Bagas."
Bagas lantas memeluk Ruhi dengan erat, "Maafkan aku atas semua kesalahanku selama ini Ru. Aku terlalu bodoh menyadari kalau aku mulai mencintaimu. Aku terlambat menyadarinya. Aku benar-benar mencintaimu. Benar kata Maura kalau aku akan menyesali semuanya. Maka maafkanlah aku Ruhi. Aku tau kau ragu dengan ucapanku barusan. Tapi kali ini aku jujur Ruhi. Maafkanlah aku," ucap Bagas sembari menahan sesak dalam dadanya. Ruhi melepaskan diri dari pelukan Bagas.
"Ruhi sudah memaafkan mas Bagas. Tapi... Untuk perasaan... Ruhi-"
"Kau tidak perlu membalasnya Ru," potong Bagas. "Biarkan ini sebagai hukuman untukku karena aku sudah mempermainkanmu. Dan biarkan aku memiliki perasaan ini Ruhi," lanjutnya.
Bagas mengusap air mata Ruhi yang membasahi wajah cantik gadisnya itu. Gadisnya? Ah, biarkan Bagas mengakui Ruhi sebagai gadisnya setidaknya untuk saat ini.
***
Latihan kembali dilakukan mengingat pementasan tinggal satu minggu lagi.
Indra dan Nada didapuk menjadi Master of Ceremony alias MC pementasan drama tunggal Teater Langit. Jadi, alasan Indra setiap hari ikut latihan bukan semata-mata untuk mengawasi Bagas namun juga untuk menyesuaikan diri dengan Nada agar kemistri mereka akan terjalin saat menjadi pembawa acara nanti.
Hanya saja, hari ini Indra tidak datang padahal biasanya dia akan mengekori Ruhi kemanapun adiknya pergi.
"Abang lagi ada keperluan sama anak-anak menwa. Katanya ntar nyusul kalo keburu," jawab Ruhi sembari bersiap untuk stejing.
Disisi lain...
"Cukup Ndra, kamu udah teler!" Peringat Reno yang langsung merebut botol berisi anggur yang sudah ditenggak oleh Indra separuhnya.
Kepala Indra terasa sangat pening. Ia menatap Reno dengan tatapan tidak suka.
"Balikin."
"No! Kau mabuk bung! Aku harus jawab gimana kalo sampai bang Rendi tau keadaanmu seperti ini?" Ujar Reno yang tidak sadar sudah menaikkan volume suaranya.
Indra menaikkan alisnya sembari menatap Reno dengan malas.
Reno menjambak rambutnya sendiri karena geram dengan ekspresi Indra yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
Pandangan Reno menangkap kehadiran seseorang yang sangat ia kenal. Pemuda tampan bercelana doreng dengan kaos hitam mendekati meja mereka dengan wajah yang menunjukkan bahwa dia sangat marah saat ini.
"Mampus," gumam Reno ketakutan.
Rendi datang dengan wajahnya yang sangat menakutkan.
"Pulang!" Ucapnya dengan geram sembari mencengkeram pergelangan tangan Indra dengan erat.
Indra tersentak dengan kehadiran Rendi di klub khusus kalangan atas langganan mereka.
"Eh abang," racau Indra karena terpengaruh anggur yang sudah ia tenggak.
__ADS_1
"Pulang sekarang!" Sentak Rendi.
Dengan langkah terseok-seok, Indra berusaha berjalan dengan tangan yang ditarik- ralat! Tepatnya di seret oleh Rendi, abangnya.
Sedangkan Reno hanya pasrah. Mungkin ia juga akan kena imbas dari kemarahan Rendi.
***
Apartemen edelweis, 22.00 wib.
Rendi melempar tubuh Indra ke atas ranjang empuk miliknya. Sedangkan Indra tak terganggu sedikit pun. Dia malah memantul-mantulkan badannya dan membuat pantulan kasur empuk itu semakin kencang. Hingga perlahan gerakannya semakin lambat dan akhirnya berhenti. Indra tertidur.
Rendi mendengus kesal karena adiknya ini begitu diluar kendali. Ia tidak bisa kalau terus-terusan melindunginya dari amarah Rajendra. Bagaimana tidak? Indra saat ini sudah dalam keadaan mabuk berat. Rendi kesal sendiri.
"Bang," ucap Reno dengan takut-takut.
"Apa?" Sahut Rendi ketus.
"Maaf."
"Rencana apa lagi yang kalian buat sekarang? Dan kenapa Indra nekat meminum minuman haram itu?" Desak Rendi.
"Kami belum punya rencana lagi bang."
"Belum punya rencana lagi? Apa maksudmu?"
"Beberapa waktu lalu, Indra hampir membunuh Bagas bang," jawab Reno dengan takut-takut.
"APA!" Pekik Rendi.
Terdengar Indra melenguh kemudian tidur lagi bahkan kini sampai mendengkur.
"Dasar anak itu! INDRA! BANGUN!" teriak Rendi meluapkan kegeramannya.
"Dasar setan kecil! BANGUN!" Teriak Rendi, lagi.
Karena tidak ada tanda-tanda bahwa Indra akan bangun, Rendi mengambil gayung yang berisi air dingin dari kamar mandi lalu...
Byurr!
Indra terkesiap ketika air dingin itu membasahi wajah tampannya.
"Abang?"
"Apa?"
"Reno?"
Si empunya nama bertingkah seolah-olah dia tengah mencari sesuatu.
"Kenapa kau memulai rencana tanpa memberitahu abang!" Sentak Rendi. Indra mengusap dadanya karena jantungnya kini tengah berdisko-ria mendengar bentakan Rendi.
"Indra udah gak tahan buat bunuh dia bang."
"Hoi bodoh! Kalau kau ingin membalas Bagas, diskusikan sama abang biar abang juga bisa membantu."
"Dasar aneh," gerutu Reno.
•••
__ADS_1
TBC♥️