
***Warning!
Ada adegan sadis. Bagi yang tidak nyaman dengan adegan sadis, mohon bijak dalam membaca**.
#
"Kalau Ruhi tau bagaimana Fan?" Tanya Fani dengan wajah sok khawatir.
"Ruhi? Biarkan saja dia. Aku lebih menyukaimu yang enerjik dan cantik daripada Ruhi yang monoton."
Fandi, pemuda yang berstatus sebagai kekasih Ruhi sejak memasuki bangku SMA. Sedangkan Fani adalah sahabat Ruhi sejak masuk bangku SMA. Dan saat ini, Fandi dan Fani tengah bermesraan di gudang sekolah. Hubungan mereka sudah berlangsung sejak 3 bulan yang lalu tanpa sepengetahuan Ruhi.
Fani dan Fandi masih sibuk dengan cumbuan mereka, tanpa mereka ketahui, gadis manis yang telah mereka khianati tengah menangis sembari membekap mulutnya. Sejak awal mereka bercumbu di gudang, Ruhi sudah berada di gudang yang sama. Mereka dipisahkan oleh lemari dan beberapa barang-barang tak terpakai lainnya.
Awalnya Ruhi ke gudang untuk mengecek level dan trap milik teater Langit. Setelah ia selesai mengecek dan menghitung level dan trap, Ruhi mendengar decapan dari ruang sebelah. Niat hati ingin pergi, Ruhi malah tetap berdiri sembari membekap mulutnya agar isak tangisnya tidak mengganggu aktivitas sahabat dan kekasihnya yang sedang bercumbu.
"Kalian luar biasa," ucap Ruhi tanpa mengeluarkan suara. Ruhi berjalan mundur.
Bruk!
Tanpa sengaja Ruhi menyenggol balok kayu dan menghentikan aktivitas Fani dan Fandi.
Fandi dan Fani sama-sama membenarkan kancing baju atas mereka lalu melihat siapa yang berani mengganggu aktivitas mereka.
"Ruhi?"
"Fani dan Fandi... Kenapa aku tidak menyadarinya?" Ucap Ruhi bermonolog. Kemudian ia bertepuk tangan lalu tertawa terbahak-bahak. Tangisnya pun pecah seiring dengan tawanya. Fandi berusaha mendekati Ruhi tapi Ruhi menghindar lalu lari meninggalkan gudang. Fandi mengejar Ruhi sedangkan Fani mengikuti langkah Fandi mengejar Ruhi dengan malas.
"Ruhi! Dengarkan dulu penjelasanku!" Teriak Fandi disepanjang koridor.
Ruhi terus berlari tanpa menghiraukan siapapun. Beberapakali ia menabrak siswa tapi ia terus berlari. Yang ditabrak pun hanya mendengus kesal.
Dan langkah Ruhi dan Fandi sama-sama terhenti ketika Ruhi menabrak seseorang. Fandi langsung bersembunyi dibalik pilar. Di sana sudah berdiri seorang pemuda yang sangat posesif kepada Ruhi.
Indra.
"Hei sayang, kenapa kau berlarian? Seperti anak kecil saja," kekeh Indra yang belum tau kondisi sebenarnya.
Ruhi langsung memeluk Indra dan menangis tersedu-sedu dalam pelukan Indra. Indra mengernyitkan dahinya. Seketika raut wajah Indra berubah menakutkan.
"Ayo kita pulang," ucap Indra dengan dingin. Indra mengajak Ruhi masuk mobil. Sebelum memasuki mobil, indra merogoh ponselnya lalu mendial nomer Reno.
"Aku mau kau melakukan sesuatu untukku."
"Dengan senang hati Ndra."
#
Malam ini begitu bercahaya karena bulan bersinar dengan terang. Namun, entah mengapa Fandi tidak bisa memejamkan matanya barang satu menit. Matanya terus terjaga padahal ini sudah pukul setengah dua pagi. Hatinya begitu cemas kala mengingat wajah Indra yang terlibat begitu menyeramkan.
Ia takut kalau Indra akan mencelakai dirinya mengingat Indra adalah tipe orang yang tidak pandang bulu jika menyangkut dengan Ruhi, adiknya.
__ADS_1
Dugaan Fandi benar.
Terdengar suara ketukan di jendela kamarnya. Dan kalian tau, kamar Fandi berada di lantai dua dan tidak ada pohon yang berdiri disekitar jendela kamar Fandi.
Ketukan beralih ke pintu kamar Fandi. Dengan langkah gemetar, Fandi menuju pintu kamarnya lalu membukanya. Belum sempat tangan Fandi meraih gagang pintu, seseorang sudah mendobrak daun pintu kamarnya hingga rusak parah. Fandi sampai terjengkang karena menghindari daun pintu yang didobrak oleh seseorang tak dikenal itu.
"S-siapa kau?" Tanya Fandi dengan ketakutan. Perlahan Fandi beringsut mundur menjauh dari seseorang bertopeng dengan pakaian serba hitam di depannya.
Seseorang itu memukul kepala Fandi menggunakan balok. Fandi langsung tak sadarkan diri.
Satu jam berlalu.
Kepala Fandi terasa begitu pening dan sekelilingnya seolah masih berputar-putar. Setelah beberapa saat menyesuaikan, Fandi mulai baik-baik saja. Padahal di keningnya yang sebelah kanan, sudah ada darah yang telah mengering.
"Sudah bangun rupanya."
Tiba-tiba lampu menyala. Dan nampaklah semuanya. Indra duduk di kursi layaknya milik CEO perusahaan besar dan disampingnya berdiri Reno dan beberapa orang seumuran dengan Indra dan Reno yang memakai setelan jas.
"M-mas Indra?"
"Kenapa?"
"Tolong lepaskan aku," pinta Fandi berharap Indra akan mengasihani dirinya. Indra tertawa dan terdengar begitu menyeramkan.
"Bawa masuk jalang kecil itu Reno!"
"Siap tuan muda!"
"Aku mohon lepaskan aku mas. Tolong..." Pinta Fani sembari menangis.
"Kau pikir aku akan luluh? Dengar jalang! Kau dan **** ini sudah membuat adikku menangis. Dan, kalian harus dapat balasan yang setimpal."
Reno memberikan cambuk kesayangan Indra kepada si pemilik. Indra berdiri sembari memecutkan cambuknya ke udara. Seolah Indra tengah melakukan pemanasan sebelum mencambuk seseorang. Sebelumnya Indra sudah memakai sarung tangannya agar ia tidak mudah untuk dideteksi. Reno pun sama.
Indra mengayunkan cambuknya kepada Fani.
Plas!
"Ini untuk satu tetes air mata Ruhi."
Plas!
"Ini untuk penghianatan yang kau lakukan pada adikku!"
Plas!
"Ini untuk tangisan adikku yang entah kesekian kalinya karena ulah kalian berdua!"
Plas!
Indra menyelipkan cambuknya lalu mencabut belati yang tersarung dengan rapi di pinggangnya. Indra mencengkeram rahang Fani dengan kuat.
__ADS_1
"Kau tau ini apa?"
Fani terus menangis sembari memohon untuk dilepaskan.
Indra tersenyum miring. Dengan sekali goresan, baju tidur Fani yang terbuat dari satin robek dan memamerkan tubuh Fani yang mulus. Indra, Reno dan seluruh anak buah Indra tidak tertarik dengan tubuh jalang itu.
"Minumkan!" Perintah Indra.
Reno menjejalkan sesuatu ke mulut Fandi dan beberapa saat kemudian obat itu bereaksi. Fandi dengan beringas menyetubuhi Fani. Obat yang Reno jejalkan tadi adalah stimulants atau obat perangsang.
Setelah keduanya lemas, Indra mengangkat tubuh Fandi dan memaksa Fandi untuk memakai celana pendeknya lagi. Sedangkan Fani sudah menangis tersedu-sedu dengan tubuh meringkuk seperti janin sembari berusaha menutupi tubuhnya yang terekspos.
Kembali Indra menghampiri Fani. Tanpa belas kasih Indra merobek kulit wajah Fani dengan belati yang ia bawa. Bukan hanya wajah tapi juga lengan, paha dan betis. Indra menusukkan ujung belatinya pada leher Fani tepat di bagian pita suara. Ia menancapkan belatinya lalu menggerakkan belatinya seperti mengorek-ngorek sesuatu. Suara Fani hilang bersamaan dengan nyawanya yang juga melayang ditangan Indra.
Reno dkk yang melihat aksi Indra hanya terpaku dan menelan saliva mereka. Mereka bersumpah untuk tidak akan berurusan dengan Indra.
Setelah puas, Indra memaksa Fandi untuk menggenggam belati miliknya. Dengan begitu, sidik jari Fandi yang ada di belati miliknya. Indra menepis belati miliknya dari tangan Fandi hingga belati itu terlempar agak jauh.
Tidak sampai di situ saja. Indra belum puas melampiaskan amarahnya pada kedua manusia yang sudah membuat adiknya menangis. Indra meraih cambuknya yang masih terselip di pinggangnya sebelah kanan. Dan kalian pasti tau siapa sasaran Indra.
"Tunggu Indra!"
Indra yang sudah mengayunkan cambuknya, terpaksa menghentikan aksinya.
"Ada apa Reno?"
"Kalau kau mencambuknya, dia akan terluka dan dia bisa melaporkanmu ke polisi."
"Lalu?"
"Bagaimana kalau kita melakukan sabotase?" Tawar Reno. Ah, rupanya Reno dan Indra sama-sama psikopat.
Indra menyeringai, "Good idea."
Indra mengambil tambang lalu mengikatkannya pada leher Fandi.
Sebelum 'mengeksekusi' Fandi, Indra menyerahkan pulpen dan kertas. Ia memaksa Fandi untuk menuliskan sesuatu di kertas itu. Setelah selesai, Indra menarik Fandi untuk berdiri di atas kursi.
Tambang yang mengikat leher Fandi juga menggantung dengan indah di salah satu tiang gudang yang kiranya kuat.
"Aku mohon maafkan aku" lirih Fandi memohon belas kasih Indra.
"Never!"
Bruk!
Indra mendorong kursi yang digunakan Fandi untuk berpijak. Tubuh Fandi menggelepar sebelum akhirnya mati tergantung*.
•••
TBC♥️
__ADS_1