Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | DUA PULUH TIGA


__ADS_3

Perasaan apa yang tengah mengerubungi hatiku ini? Melihat Ruhi mengenakan pakaian adat India yang dikenal dengan sari itu membuat hatiku bergemuruh, seolah akan ada ledakan maha dahsyat di hatiku.


Pipi kemerahannya nampak sangat cantik ditimpa mentari pagi. Hari ini kami memutuskan untuk latihan dari jam setengah tujuh pagi tadi sampai nanti jam 8 malam.


Kami tengah berlatih dihalaman Gedung Olahraga Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains. Mengingat sudah masuk waktu salat zuhur, aku pun menginterupsikan kepada Arina dan yang lain untuk salat terlebih dahulu.


Sebenarnya dalam hati aku sangat gondok saat melihat Indra yang sedari tadi menatapku seolah-olah ingin membunuhku.


Apa dia tau semuanya? Ah! Kurasa tidak. Video yang ditunjukkan oleh Pras sudah ku hapus saat ponsel milik Pras ditinggal di sanggar untuk mengisi daya sedangkan si empunya ponsel pergi kuliah karena ada satu jam mata kuliah.


Aku sedikit bernapas lega ketika tau kalau Ruhi tidak tau apa-apa mengenai niat asliku mendekati dia lagi.


Aku akui aku salah. Dua kali aku mendekati Ruhi karena ada sesuatu. Pertama karena taruhan dan yang kedua adalah permintaan mas Danu untuk mencari tau tentang Ruhi. Memang, mas Danu tidak menyarankan cara ini. Tapi ini adalah murni dari pemikiranku sendiri.


Aku pun saat ini masih bimbang dengan perasaanku sendiri. Aku tidak membenci Ruhi, aku pun tidak memiliki dendam kepadanya. Kalau cinta? Jujur aku masih bingung. Aku nyaman didekatnya, aku senang bisa bercanda dengannya, dan yang paling penting adalah jantungku selalu berdegup kencang ketika didekatnya.


Author POV


Indra menyeruput jus mangga miliknya sambil terus mengawasi gerak-gerik Bagas. Ia akan terus mengawasi keparat itu sampai pada waktu yang tepat untuk membongkar semuanya.


Indra melihat jam berapa sekarang melalui jam tangan berwarna silver yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Salat gak mas?" Tanya Tito.


"Salat dong. Ayo," ajak Indra.


Tito dan Indra pergi ke mushola GOR FIKS untuk menunaikan ibadah salat zuhur.


15 menit kemudian...


Indra, Tito dan orang-orang yang selesai menunaikan ibadah salat zuhur, tengah sibuk memakai alas kaki masing-masing.


"Ruhi mana mas?" Tanya Tito, ia baru menyadari kalau Ruhi tidak ikut salat jamaah.


"Dia ada tanggal merah, makanya gak ikut salat." Indra dan Tito berjalan beriringan menuju kantin.


Cring! Cring! Cring!


Bunyi gelang kaki mengalun indah di telinga setiap orang yang mendengarnya. Gerakan kaki yang dinamis dan terkontrol, menimbulkan ritme yang seirama dengan lagu saat lonceng-lonceng kecil pada gelang kakinya beradu satu sama lain.


Ruhi pelakunya. Rupanya, disaat yang lain tengah ishoma, dirinya sibuk berlatih menari di halaman GOR.


"Ruhi! Istirahat dulu!" Interupsi Danu menghentikan aktivitas Ruhi menari.


"Nggeh mas," patuh Ruhi.


Ruhi berjalan mendekati meja yang ditempati oleh Indra di kantin GOR.


"Abang tolong dong," pinta Ruhi dengan napas terengah-engah sembari meluruskan kakinya di kursi panjang yang diduduki Indra.


"Capek?" Tanya Indra sambil melepas gelang kaki Ruhi sebelah kanan lalu sebelah kiri. Ruhi mengangguk sembari terus mengatur napasnya.


Indra tersenyum, "Dasar keras kepala," ucap Indra sembari mengacak rambut Ruhi.


"Hai," sapa Bagas pada Ruhi.


Ruhi dan Indra menoleh ke arah Bagas. Indra tetap dengan tatapan datarnya namun tangannya mengepal dengan erat.


Jujur, Ruhi sangat ingin mencakar pemuda tidak tau malu didepannya ini. Tapi apalah daya, Ruhi tidak mampu karena jujur dia masih mencintai Bagas.


Ya! Perasaan untuk Bagas ini tak mau luruh meskipun Bagas melukainya sedemikian rupa. Katakan saja Ruhi bodoh karena tidak bisa membenci Bagas.


Ruhi tersenyum simpul. Bagas duduk di depan Ruhi dengan wajah tanpa dosanya.

__ADS_1


'Astaga orang ini. Apa urat malunya sudah putus ? Dengan seenak jidat duduk di depan Ruhi dengan senyuman menjijikannya,' batin Caca menatap Bagas tidak suka.


"Ca, kok rasanya aku pengen nyakar tuh muka ya?" Bisik Nada dengan geram.


"Hei kalian berdua ngapain bisik-bisik ? Ojo-ojo kon ngrasani om ku maneh, yo seh?" Tanya Ruhi menyelidik Caca dan Nada. Karena dua sahabatnya ini adalah penggemar berat omnya, Aliandra Hayyat Khan.


"Yang," peringat Riko pada Caca.


"Eh enggak kok! Kita bicara soal orang lain Ru."


"Oh ya? Siapa?"


"Ada temenku SMA yang gak tau malu Ru. Kau tau Ru, orangnya itu udah nyakitin cewek tapi dia masih aja berperilaku seolah-olah dia itu malaikat. Padahal mah hatinya iblis! Udah punya pacar tapi masih deketin si cewek itu. Dan kamu tau Ru? Ternyata temenku SMA itu deketin si cewek cuma karena terpaksa. Dia dapet desakan dari seseorang," ucap Caca menyindir manusia tak punya malu bernama Bagas itu.


Riko menghela napasnya, 'Astaga anak ini,' batinnya.


Nada tersenyum kemenangan, sedangkan Bagas terbatuk-batuk karena merasa tersindir.


Indra terkekeh, 'Kerja bagus Ca,' batinnya.


"Benarkah Ca? Wah... Brengsek juga ya temenmu itu. Terus gimana akhirnya Ca?" Tanya Indra semakin memanas-manasi keadaan.


"Belum tau mas. Tapi, sahabat si cewek itu sekarang lagi menyelidiki temanku SMA itu, memilih hari yang tepat untuk pembalasan," ucap Caca. Matanya menatap Bagas dengan tajam, tersirat kebencian yang mendalam kepadanya. Caca mematahkan sumpit yang ia genggam saking geramnya kepada Bagas.


Semua orang terhenyak melihat kebencian Caca yang baru kali ini ia tunjukkan. Gadis cantik itu ikut terluka ketika sahabatnya disakiti. Sahabatnya terluka dia pun ikut merasakan sakitnya.


"Ca, kamu nyeremin sumpah," ucap Ruhi.


Caca langsung menetralkan ekspresinya, "Hehe entah kenapa aku juga sangat ingin membunuh temenku itu. Tapi yahh... sudahlah."


'Kenapa Caca menatapku seolah-olah ingin menelanku? Apa Riko memberitahu dia soal video yang ditunjukkan Pras tempo hari?' batin Bagas sembari menghindari kontak mata dengan Caca. Karena Bagas bisa melihat kebencian yang luar biasa untuk dirinya dari mata Caca.


"Maaf menunggu. Silakan ini pesanan kalian," ucap Bu kantin sembari memberikan pesanan Ruhi dan kawan-kawan.


"Mas Indra ngapain disini? Gak mungkin kan kalau mau nungguin Ruhi doang?" Tanya Tito, "Kan om Rajendra udah percaya sama aku," imbuhnya.


"Iya iya yang calon mantunya pak rektor," goda Nada.


"Aamiin," celetuk semua orang.


Ruhi melepas salah satu headset dari telinganya, "Bukannya tadi udah doa ya? Kok baru aamiin?" Tanya Ruhi.


"Tadi-"


"Gak ada apa-apa sayang. Eh Tito! Suka-suka Indra dong ya. Ruhi adek gue jadi, gue wajib menjaga dia dari lelaki keparat," ucap Indra sembari menatap Bagas saat mengatakan 'Lelaki keparat'. "Adek, pakai headset-nya nanti aja. Makan dulu," imbuh Indra memperingatkan.


Ruhi melepas semua headset yang ia pakai lalu menyimpannya. Dia lebih baik menurut ketimbang kakak tersayangnya ini mengomel tidak jelas.


#


"Baiklah. Sekarang kita latian pola lantai. Nanti kalian keliling sekitar sini saja. Setelah saya bilang 'stop' kalian berhenti langsung berpose. Pose atas, sedang dan bawah, terserah. Kalian bebas. Ayo! Kita mulai," ucap Sekka mengarahkan materi latihan siang ini.


Arina dan yang lain melakukan apa yang diinstruksikan oleh Sekka. Mereka berjalan, berkeliling sekitar lapangan parkir yang sudah ditandai oleh Sekka.


Di sana sudah ada beberapa level yang ditempatkan sesuai dengan tata letaknya dipanggung nanti.


Saat berkeliling, kebetulan Ruhi dan Bagas menaiki level besar yang sama.


"Stop!"


Semua pergerakan Arina dan yang lain terhenti. Ruhi yang belum siap tidak sengaja menabrak dada bidang Bagas dan reflek Bagas menahan tubuh Ruhi. Mereka terpaksa melakukan pose atas dengan tubuh Ruhi yang ditahan oleh Bagas.


"Brengsek! Beraninya dia menyentuh adikku!" Geram Indra yang bisa didengar oleh Ruhi melalui bluetooth headset yang terpasang di telinganya. Tapi, Ruhi terlalu larut pada posisinya sekarang ini.

__ADS_1


Kedua insan itu saling menatap, menyelami mata satu sama lain. Bagas menatap binar mata Ruhi yang menampakkan sejuta perasaan yang masih tersembunyi dan seolah melarang dia untuk jangan ikut campur.


Ruhi menatap Bagas dengan sorot mata yang menunjukkan bahwa dia kecewa, dia marah, dia benci pada dirinya sendiri yang tidak bisa membenci lelaki keparat ini. Ruhi jadi teringat percakapan Jodhi dan Bagas saat selesai pentas parade teater langit beberapa bulan yang lalu.


"*Lo pikir gue mencintai Ruhi? Cih! Jangan harap! bwahahahaha," gelak Bagas saat Jodhi menyerahkan kunci mobilnya kepada Bagas sebagai hadiah atas kemenangan Bagas dalam taruhan memperebutkan Ruhi.


"Jaga mobil gue gas. Cuma seminggu lho gas," Ucap Jodhi sembari memberikan kunci mobil dan STNK nya.


"Iya iya cerewet banget sih. Lumayan buat apel pacar gue."


"Lo beneran punya pacar gas ?"


"Ya punya lah. Lo kira gue jomblo gitu ?"


"Trus lo sama Ruhi gimana ?"


"Emang gue pacaran sama Ruhi ? Bwahahaha jangan berharap deh ya. Ah ya! Dan satu lagi. Gue dapet bonus njir!"


"Bonus ? Bonus apaan ?"


"KKN dipermudah sama dekan. Untung banget kan gue ?"


"Kok bisa ?"


"Ya bisalah. Gue memanfaatkan Ruhi. Dan walaa! Gue berhasil!"


Deg!


"Benar-benar gak waras lo Gas!"


"Berisik! Yang penting gue dapet enaknya*."


Air matanya mulai menggenang di pelupuk dan akhirnya menetes melalui sudut matanya. Bagas terhenyak melihat air mata Ruhi.


'Apa Ruhi tau semuanya?' tanya Bagas dalam hati. Entah perasaan apa ini. Ketika dia melihat Ruhi, ia takut kehilangan gadis manis bermata coklat terang ini.


"Are you okay sweety?"


Ruhi terdiam mendengar suara kakaknya yang terdengar cemas.


"Move lagi!" Seru Sekka.


Adegan saling tatap pun terhenti. Mereka kembali move mengitari lapangan.


"Setelah saya mengucapkan kata 'stop', kalian harus membuat 2 grup dengan pose bebas!" Interupsi Sekka.


"Stop!" Seru Sekka.


Semuanya menghentikan pergerakan kemudian membentuk dua grup dengan berbagai pose.


"Sudah cukup. Kalian bisa beristirahat sejenak," ucap Sekka.


Ruhi memperbaiki letak bluetooth headset-nya.


"Ruhi, apa kau baik-baik saja?"


"Ruhi baik-baik saja abang," jawab Ruhi sembari mengacungkan jempolnya kepada Indra.


Indra dan Ruhi kini terhubung lewat sambungan telepon. Meskipun tidak ada pembicaraan sama sekali, Indra maupun Ruhi tidak mematikan sambungan teleponnya.


"Latihan kita sambung besok lagi. Karena saya ada acara keluarga, jadi latihan untuk hari ini sampai disini. Kalian sudah bekerja keras kawan-kawan," ucap Danu sembari menjabat tangan semuanya.


•••

__ADS_1


TBC♥️


__ADS_2