Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | TIGA PULUH DUA


__ADS_3

*Ruhi terbangun di atas rerumputan hijau yang terasa begitu lembut di kulitnya. Ia kini mengenakan gaun putih bersih dengan rambutnya yang tergerai beterbangan tertiup angin. Ruhi menatap telapak tangannya yang begitu pucat pasi seperti tak memiliki darah.


Ruhi tidak mengenal tempat indah ini. Tempat ini bahkan lebih indah dibandingkan pemandangan di pegunungan Himalaya yang pernah ia dan keluarganya kunjungi. Rumput disini pun terasa berbeda.


Ruhi duduk di atas rerumputan sembari menghirup udara yang terasa sangat segar. Seperti mendapat kehidupan baru.


Ruhi baru tersadar jika disini hanya ada dirinya seorang. Ia tidak menemukan kehidupan apapun disini. Bahkan serangga pun tidak ada. Ruhi bangkit dari duduknya lalu menatap ke sekeliling. Hanya ada pemandangan indah yang memanjakan mata.


Tiba-tiba ketakutan menyusup ke hatinya. Detak jantungnya mulai tak beraturan. Ia berlari ke arah barat. Ruhi menangis karena tidak menemukan siapapun disepanjang jalan ia lari.


Ruhi tak memperhatikan langkahnya hingga ia terjatuh tapi anehnya, ia tidak merasakan sakit. Lututnya pun tak terluka.


Tiba-tiba...


Ada tangan terulur di depan Ruhi. Sepertinya si empunya tangan berniat membantu Ruhi untuk berdiri.


Ruhi meraih tangan itu lalu mendongak menatap siapa orang yang membantunya berdiri.


"Mami?"


Wanita paruh baya itu tersenyum. Sangat cantik dan keibuan.


Frida Lidwina.


"Ruhi sayang," ucap Frida.


"Mami!" Pekik Ruhi lalu memeluk Frida dengan erat. Ruhi menangis sesenggukan di dalam pelukan Frida.


"Ruhi kangen mami?"


Ruhi mengangguk lalu mengusap air matanya, "Jelas. Bukan hanya Ruhi. Tapi papi, bang Rendi dan bang Indra pun juga kangen sama mami. Mami kemana aja sih."


Frida terkekeh, "Apa Ruhi lupa? Kalau mami kan sudah tenang disini. Kenapa Ruhi bisa ada disini sayang?"


"Ruhi juga gak tau Mi. Tadi, Ruhi bangun dan Ruhi sudah ada disini. Ini tempat apa mi?" Tanya Ruhi.


Frida nampak mencari jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan putrinya. Ruhi tertunduk karena ia paham kalau ini adalah...


Alam lain. Bukan alam kematian juga bukan dunia. Ini adalah alam antara hidup dan mati.


"Apa mami belum tenang di alam sana?" Tanya Ruhi memecah keheningan.


"Kenapa Ruhi bertanya seperti itu?"


"Karena mami berada disini. Oh atau mami berada disini untuk-"


"Menjemput Ruhi," potong Frida. Ruhi tersenyum lebar.


"Benarkah?"


"Ruhi mau ikut?"


Ruhi mengangguk dengan wajah sumringah.


"Tapi, bagaimana dengan papi, bang Rendi, sama bang Indra? Om Ali? Om Saif? Tito? Caca? Nada? Riko? Dan-"


"Bagas?"

__ADS_1


"Mami...."


"Mami tau Ruhi... Mami melihat semuanya dari sini."


"Kalau mami tau, kenapa mami gak datengin mas Bagas terus marahin dia? Dia udah nyakitin Ruhi. Dia jahat sama Ruhi. Dia-"


"Maka dari itu mami ingin membawa kamu pergi sayang."


"Tapi bagaimana dengan papi?"


"Dia akan baik-baik saja sayang."


Frida menarik Ruhi untuk mengikutinya. Langkah keduanya terhenti ketika tangan Ruhi yang bebas, ditahan oleh sesuatu.


"Raj?"


Rajendra menatap Frida dengan pandangan tidak setuju. Perlahan Rajendra menarik Ruhi agar Ruhi berada di belakangnya berjaga-jaga jika Frida nekat membawa Ruhi.


"Jangan bawa Ruhi dulu sayang. Aku, Rendi juga Indra masih membutuhkan Ruhi untuk berada disisi kami."


Frida terkekeh lalu menatap Rajendra dengan tajam.


"Tapi kau gagal menjaga putri kita!"


"Berikan aku satu kesempatan lagi Frida. Aku mohon," ucap Rajendra meminta persetujuan dari Frida.


"Apa jaminannya kalau kau akan melindungi Ruhi?"


"Nyawaku sendiri."


Frida menghela napasnya, "Baiklah. Tapi, jika sudah waktunya, aku akan menjemput Ruhi."


"Ruhi."


"Ya mami."


"Ini belum waktunya Ruhi ikut sama mami."


"Tapi kenapa?"


"Papimu, kedua abangmu, Om Ali dan semuanya masih membutuhkanmu."


"Tapi-"


"Pulanglah Ruhi sayang. Mami tetap menunggu Ruhi. Disini."


"Tidak perlu menunggu karena Ruhi masih akan hidup sedikit lebih lama lagi."


#


"Om mohon jangan menyerah dulu Ruhi... RUHIIIIII!"


Bunyi alat pendeteksi detak jantung yang tersambung dengan tubuh Ruhi bereaksi.


Ali bergegas berdiri lalu mengecek keadaan Ruhi. Wajahnya yang tadi memucat kini terasa hangat, teraliri oleh darah.


"Dasar anak nakal." Ali mendekap tubuh Ruhi yang terbaring dan masih memejamkan matanya sembari menangis.

__ADS_1


Ali bangkit lalu keluar dari ruang ICU untuk menghampiri Rajendra, Rendi juga Indra.


Sanggar teater Langit.


"Mas Danu tetap tidak ingin mengganti peran Ruhi?" Tanya Rhea membuka pembicaraan.


"Iya. Kemarin aku sama Pras sudah ke rumahnya dan bertanya soal kelangsungan pentas tunggal kita," jawab Arina.


Rhea dan yang lainnya menghela napas. Danu benar-benar menggantungkan pentas tunggal ini kepada Ruhi. Padahal mereka tau kalau Ruhi sakit dan penyakit yang diidap oleh Ruhi adalah penyakit yang tidak main-main.


"Bagaimana kalau nanti kita menjenguk Ruhi?" Akhirnya Pras bersuara juga setelah beberapa hari ini lebih banyak diam.


"Ide bagus tuh," sahut Saza.


"Ya sudah. Nanti kita ke rumah sakit untuk menjenguk Ruhi. Eh tapi, Ruhi dirawat di rumah sakit mana terus diruang apa?"


"Rumah sakit Mitra Husada ruang anggrek 2," ucap Bagas menyahut pertanyaan Pras.


"Mas Bagas kok bisa tau?"


"Aku membuntuti Aziz, kakak sepupu Ruhi."


Saza menatap Bagas lalu manggut-manggut, "Jadi, alasan mas Bagas babak belur seperti itu karena-"


"Aziz."


"Astaga! Berani juga dia."


"Gimana gak berani? Orang adeknya udah dijadiin barang taruhan plus dimanfaatkan habis-habisan sama mas Bagas. Kalau aku jadi Indra pun, aku akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Aziz bahkan lebih parah," ucap Pras melirik Bagas dengan sinis.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Tito datang bersama dengan Riko, Caca dan Nada.


Bagas langsung menghadiahkan bogem mentahnya kepada Tito. Tito yang tidak siap dengan serangan Bagas, terhuyung ke belakang. Tidak berhenti sampai disitu saja, Pras bangkit dari duduknya kemudian juga melayangkan bogem mentahnya ke wajah Tito.


"Stop!" Lerai Arina.


"Ada apa dengan kalian ini!" Sentak Rhea.


"Kenapa lo gak bilang ke kita soal penyakit Ruhi? Kenapa!"


Tito terbatuk-batuk lalu mengusap darah yang mengalir dari hidungnya.


"Apa maksud kalian?"


"Ruhi sakit dan kau lebih memilih bungkam soal penyakit Ruhi. Kenapa To? Kenapa?"


"Memangnya kalau aku memberitahu kalian, Ruhi akan sembuh?"


"Setidaknya biarkan kami memberikan semangat kepada Ruhi untuk terus hidup."


"You're just bragging! **** all of you!" Hardik Tito lalu berdiri dengan dipapah oleh Riko.


"Kalau kalian mau menjenguk Ruhi, silakan saja. Tapi ingat, jangan bahas penyakitnya. Itu akan membuatnya semakin terpuruk," ucap Tito lalu pergi bersama dengan Caca dan Nada juga Riko yang memapahnya pergi ke poli kesehatan kampus 1.

__ADS_1


•••


TBC♥️


__ADS_2