Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | EMPAT PULUH LIMA


__ADS_3

Aku dimana?


"Ruhi!"


Siapa aku?


"Ruhi!"


Dan ini suara siapa?


"Ruhi!"


Tangan siapa ini? Kenapa begitu pucat?


"Ruhi!"


Oh, ini tanganku.


"Ruhi!"


Aku mulai mengedarkan pandanganku mencari dari mana sumber suara itu berasal. Tapi, sebelum menoleh, aku sudah terhempas karena sesuatu yang sangat kuat dan masuk ke dalam ruangan gelap.


"Ruhi!"


Lampu menyala, ah, bukan lampu. Mungkin ini yang dinamakan cahaya kehidupan. Aku kini berada di suatu lorong panjang yang menurutku tak berujung.


"Ruhi!"

__ADS_1


Suara siapa lagi ini? Siapa perempuan yang memanggilku ini? Ruhi? Apa itu namaku? Aku terus memegangi kepalaku yang terasa berputar karena secara tiba-tiba partikel-partikel dari memori ingatan perlahan merasuk ke otakku dan berubah wujud menjadi sebuah kepingan puzzle yang merepotkan.


Denyutan demi denyutan terasa menyakitkan. Kepalaku seperti dihantam benda tumpul. Tempatku berpijak kini perlahan bergerak seperti treadmill tapi bedanya ini terus bergerak maju. Aku melewati sekat-sekat lorong yang tak berwarna dan sangat lengket seperti sarang laba-laba yang biasanya mengotori gudang atau tempat-tempat usang lainnya.


Tempatku berpijak berhenti. Aku dihadapkan oleh sesuatu tayangan yang menayangkan proses melahirkan seorang bayi. Sang ibu sangat kepayahan sembari terus mengejan agar bayinya segera keluar. Di samping sang wanita, ada seorang lelaki yang kemungkinan besar itu adalah suaminya, tengah menggenggam tangan sang istri untuk memberi semangat.


Setelah pertaruhan nyawa selesai, sang bayi keluar dan untuk pertama kalinya berada dunia. Si bayi merah berjenis kelamin perempuan yang sangat cantik itu menangis. Lantas si ayah mengumandangkan adzan tepat di telinga putri kecilnya sembari terharu.


"Ruhi Rajendra Hayyat Khan," gumam sang ayah.


Ya, bayi kecil itu adalah aku. Benarkah itu aku? Begitu kecil dan nampak sangat ringkih. Hatiku terenyuh melihat kebahagiaan kedua orang tuaku ketika aku dilahirkan.


Selepas melihat tayangan barusan, kakiku mulai melangkah tanpa bisa ku kendalikan.


Semua kejadian dalam hidupku ditayangkan di suatu layar besar yang terpasang disepanjang dinding lorong. Aku terus melangkah dan menonton semua tayangan singkat mengenai hidupku. Perlahan juga aku bisa merasakan semua anggota tubuhku. Sebelumnya aku hanya merasa punya tubuh tapi tidak bisa ku kendalikan. Hingga aku sampai di satu titik dimana aku mulai sadar bahwa aku tidak memiliki bayangan.


Sudah mati?


"Ruhi!"


Suara itu kembali terdengar. Aku mulai berlari ke arah suara itu berharap kalau aku bisa kembali ke duniaku.


Tapi nihil. Aku seperti mengejar cakrawala yang tidak ada ujungnya. Aku terduduk lemas sembari menangkupkan wajahku dan mulai terisak. Mengapa harus begini? Apa aku benar-benar sudah mati?


"Kau memang sudah tiada, wahai anak manusia?"


"Siapa kau?" Tanyaku.

__ADS_1


"Siapa aku tidaklah penting untukmu. Yang terpenting sekarang, kau harus ikut aku. Urusanmu di dunia sudah selesai."


Deg!


Seperti inikah akhirnya? Aku pergi meninggalkan ayah, kedua kakakku, keluarga, teman, dan semua orang?


"... maka dari itu, aku datang menjemputmu. Kembali ke sisi tuhanmu, Allah SWT bersama ibumu."


"Ruhi!"


Aku menoleh.


"Jangan dengarkan suara panggilan itu. Allah SWT telah mengangkat semua rasa sakitmu dan sebagai gantinya kau harus merelakan hidupmu. Demi nama Allah SWT yang Maha Benar, ikutlah bersamaku."


Aku menatap sosok yang ada di depanku ini. Kemudian dengan ragu aku memutuskan untuk....


Ikut.


Mungkin memang inilah waktuku untuk menyerah. Terimakasih karena sudah menemani perjalanan hidupku. Terimakasih papi karena sudah menjadi ayah terbaikku. Terimakasih untuk kedua abangku yang sangat aku sayangi dan sangat ku cintai. Terimakasih untuk Caca, Riko, Nada, Vanya, Eka dan semua teman-teman teater Langit. Terimakasih untuk Tito karena sudah mencintaiku dengan tulus walau aku belum bisa membalas cintamu. Dan aku meminta maaf untuk itu.


Terimakasih untuk semua orang yang pernah berkaitan dengan kehidupanku. Guru, dosen dan semua orang.


Khusus untuk mas Bagas, terimakasih untuk luka yang telah kau berikan. Aku masih sangat mencintaimu. Dan semoga kau selalu bahagia.


Aku pamit.


•••

__ADS_1


TBC♥️


__ADS_2