Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | DUA


__ADS_3

Rasanya begitu enggan, Ruhi turun dari mobil super mewahnya. Ia masih begitu malas untuk bertatap muka dengan Bagas. Meskipun Bagas semester 5 sama seperti abangnya, mereka sangat sering bertemu.


Karena selain semester tua, Bagas adalah asisten dosen sastra yang otomatis diutus untuk menggantikan dosennya untuk mengajar. Ia sangat kecewa dengan tindakan Bagas yang menjadikan dirinya sebagai taruhan.


Tok... Tok...Tok...


Seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya. Siapa lagi kalau bukan Tito.


"Kamu baik-baik aja kan Ru ?"


Ketukan Tito sarat dengan kecemasan. Dia sudah sejak 15 menit yang lalu memperhatikan mobil Ruhi. Tapi si pengendara masih belum menunjukkan batang hidungnya keluar dari mobil. Tito semakin cemas karena ia takut Ruhi akan nekat. Namun, kecemasannya mencair ketika Ruhi membuka pintu mobil lalu keluar dengan tas yang menyampir dibahunya.


"Kau ini kenapa ? sudah kubilang jangan nekat kan ?! aku takut kamu kenapa-kenapa... berjanjilah padaku kalau kau tidak akan berbuat nekat Ruhi," Cerocos Tito setelah melepaskan pelukannya. Mereka menjadi pusat perhatian karena adegan pelukan barusan.


"Astagfirullah Titot... aku gak akan nekat... ya meskipun pemikiran itu sempat mampir sih..."


Tuk!!


Tito memukul kepala Ruhi dengan ujung pulpennya. Ruhi mendelik menatap Tito yang seenaknya memukul kepalanya. Tito hanya tersenyum kuda dengan wajah tanpa dosanya.


"Titot !! sakit tau !!" omel Ruhi.


"Uluh uluh... mana yang sakit ? sini sini abang Tito elus," ucap Tito dengan gaya pengucapan seperti saat dia berbicara dengan anak TK. Tito mengusap kepala ruhi lalu mengecupnya dengan sayang.


Tubuh Ruhi menegang menerima 'serangan' dari Tito. Pipinya memanas. Tito langsung kabur meninggalkan Ruhi yang masih mematung.


Ruhi yang baru sadar kalau dikerjai oleh Tito, langsung mengejar Tito yang sudah berlari lebih dahulu menuju kelas mereka di lantai 2.


"Kenapa ? Lo cemburu ?"


"Gue ? Cemburu ? Yang benar saja,"


'Meskipun mulut lo mengelak, tapi mata lo mengatakan kalo emang lo cemburu gas...' batin Maura.


Itu adalah percakapan dari Bagas dan Maura yang sejak tadi melihat adegan romantis, interaksi antara Tito dan Ruhi. Bagas menatap lurus kearah punggung Ruhi yang sudah menghilang dipersimpangan menuju ruang kelasnya seraya menyeruput es tehnya hingga tandas.


"Kalo cinta gausah gengsi bro..."


"Dihh siapa yang gengsi ? Gue ? Sorry, Ruhi bukan tipe gue.."


"Lah... siapa yang bilang lo cinta sama Ruhi coba ?"


Bagas tersedak salivanya sendiri, "Tttapi kan itu maksud lo," ucap Bagas gelagapan.


"Gausah ngelak deh ah... udah ketangkep kering juga..."


"Ketangkep basah kampret," balas Bagas seraya menggeplak kepala Jodhi.


"Sakit woi !!" teriak Jodhi yang dihadiahi pantat oleh Bagas yang berjalan memasuki koridor kampus menuju ruang A.202.


"Gua jadi merasa bersalah sama Ruhi,"


"Maksud lo Ra ?"

__ADS_1


"Mereka saling mencintai... tapi gengsinya Bagas terlalu tinggi dan malah membuat Ruhi yang menanggungnya..."


"Yang patutnya disalahkan ya si Jodhi tu !! main bikin acara taruhan... mana anak orang lagi yang ditaruhin..." Rutuk Dani.


"Iya iya gue salah... terus... demi membuat si onta sama Ruhi balikan lagi apa coba ?" Tanya Jodhi merasa bersalah.


"Kalian jangan harap bisa membuat mereka kembali bersama..."


"Kenapa ?" tanya Maura, Jodhi dan Dani kompak. Mereka menengok kebelakang.


"Karena gue sendiri yang bakal melenyapkan Bagas kalo dia berani deketin adek gue," bukan Dani yang menjawab melainkan Indra. Lelaki berseragam komandan menwa itu tiba-tiba saja berada di kantin yang sama dengan mereka dan mendengarkan semua percakapan antara Maura, Jodhi dan Dani. "Beruntung gue saat ini lagi pakai seragam komandan, kalo enggak, gue jamin, tulang kalian gak ada yang utuh lagi..." imbuh Indra seraya menepuk pipi Jodhi dan Dani bergantian. "Oh ya... lo tidak udah sok perhatian dengan hidup adek gue, karena seorang jalang gak akan pernah tau dimana letak kesalahannya," ucap Indra tepat disamping Maura. "dan satu lagi... jaga teman kalian... dia tidak tau sedang berhadapan dengan siapa..." tambah Indra setelah itu ia benar-benar pergi dari kantin meninggalkan ketiga orang yang terdiam terpaku di bangku mereka.


Indra, seorang mahasiswa berprestasi yang paling ditakuti oleh seluruh mahasiswa di universitas PGRI Diponegoro. Bagaimana tidak ? Karate, Taekwondo, dan juga silat sudah ia kuasai bahkan sudah sabuk hitam. Ia juga seorang presiden BEM yang banyak digilai oleh kaum hawa. Parasnya yang tampan dan tubuhnya yang proposional juga tinggi badannya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek.


Di Ruang A.202


"Ajijahhhh kembaliin gak ?"


"Panggil nama gue yang bener dulu... baru gue kembaliin nih hp..."


"Gak mau... Kamu lebih cocok dipanggil ajijahhh..."


Aziz meletakkan ponsel Ruhi di sudut lemari kaca. Tentu saja tempat itu tidak bisa dijangkau oleh Ruhi karena tinggi lemari kaca itu diluar jangkauan Ruhi. Ruhi sedikit berjingkat dan berusaha meraih ponsel itu namun nihil.


"Makanya jangan pendek pendek jadi orang... sini biar gue ambilin... gak tega gue," ucap Aziz dengan diakhiri kekehan.


"Gausah... Gue bisa sendiri... dasar hantu egrang..." Oceh Ruhi.


"Ajijahhhhhhhhh !!" teriak Ruhi geram. Ruhi berusaha meraih pundak Aziz untuk mencakarnya. Aziz otomatis berlari menjauh dari Ruhi. Ruhi berdecak.


"Dasar gonggo hantu egrang !!" Ruhi masih berjingkat berusaha mengambil ponselnya. Ruhi memutuskan untuk mengambil kursi. Dia berusaha mengambil ponselnya. "Pas kayak gini Tito malah ngilang lagi... kemana sih tu bocah," gerutu Ruhi seraya meraih ponselnya yang malah bergeser menjauh dari jangkauan tangan Ruhi. Ruhi berjinjit tapi kursi yang dipijaknya bergoyang. Beruntung Ruhi masih bisa menyeimbangkan. Ruhi sedikit maju tanpa sadar ia berpijak pada ujung kursi.


"E e e e.." Ruhi limbung. Ruhi tidak sempat berpegang pada lemari. Dan...


"RUHI !!" pekik semua teman-teman ruhi.


Brukk!!


Ruhi merasa tubuhnya melayang. Ia memberanikan membuka matanya.


Deg!!


Kedua pasang mata itu saling menatap penuh rasa kerinduan. Bagas, adalah orang yang menangkap tubuh Ruhi sebelum tubuh mungil itu jatuh menghantam keras dan dinginnya lantai kelas. Semua orang terdiam melihat adegan itu. Adegan saling tatap itu seolah diiringi lagu romantis ost dari Bodyguard berjudul teri meri prem kahani.


Teri Meri, Meri Teri Prem Kahaani Hai Mushkil


(Aku dan kau, kau dan aku, cerita cinta yang sulit)


Do Lafzon Mein Yeh Bayaan Naa Ho Paaye


(Tidak bisa diungkapkan dalam beberapa kata)


Ek Ladka Ek Ladki Yeh Kahaani Hai Nayi

__ADS_1


(Ini bukan sekedar cerita cinta tentang anak laki-laki dan gadis)


Do Lafzon Ein Yeh Bayaan Naa Ho Paaye


(Tidak bisa diungkapkan dalam beberapa kata)


Ruhi menatap dalam-dalam manik mata yang sangat ia rindukan itu. Disatu sisi, ada kebencian luar biasa yang perlahan mendominasi adegan saling menatap ini.


'Mengapa harus seperti ini kisah cintaku? Mencintai tanpa dicintai. Harapan yang ia berikan seperti bukan mimpi namun rupanya hanya mimpi. Si itik buruk rupa seperi aku ini hanya pantas dipermainkan,' batin ruhi.


Teri Meri, Meri Teri Prem Kahaani Hai Mushkil


(Aku dan kau, kau dan aku, cerita cinta yang sulit)


Do Lafzon Mein Yeh Bayaan Naa Ho Paaye


(Tidak bisa diungkapkan dalam beberapa kata)


Ek Dooje Se Hue Judaa, Jab Ek Dooje Ke Liye Banee


(Kita dipisahkan, meski kita tercipta untuk satu sama lain)


Teri Meri, Meri Teri Prem Kahaani Hai Mushkil


(Aku dan kau, kau dan aku, cerita cinta yang sulit)


Do Lafzon Mein Yeh Bayaan Naa Ho Paaye


(Tidak bisa diungkapkan dalam beberapa kata)


Bagas seolah tidak bisa melepaskan pandangannya dari mata indah Ruhi. Ia terlalu terhipnotis hingga tidak sadar mereka berdua tengah diperhatikan oleh seluruh teman-teman Ruhi. Bagas bisa menemukan rasa cinta yang teramat sangat dalam di mata Ruhi untuknya. Hatinya menghangat saat tau Ruhi benar-benar tulus mencintainya. Ia sedikit terhenyak karenanya. Bagas bisa melihat juga genangan air mata Ruhi yang siap untuk menetes kapan saja.


Adegan mereka terhenti saat seseorang menarik kerah baju Bagas lalu menariknya menjauh dari Ruhi.


Bugh!!


"Jangan pernah lagi lo sentuh adek gue !! ayo," Indra menarik Ruhi untuk pergi.


"Tapi Ruhi masih ada kelas bang,"


"Dengan dia dosen lo ? gak... abang gak ijinin..."


Ruhi pasrah. Ia patuh dengan perintah abangnya. Bagas menatap Ruhi dengan penuh rasa bersalah.


"Anda sudah melepasnya... jadi jangan harap anda bisa meraihnya lagi..." ucap Aziz. Meskipun ia dan Ruhi sering tidak akur, dia dan Ruhi adalah sahabat dari kecil. Jadi, ia sudah menganggap Ruhi sebagai adik kandungnya.


Aziz menjadi sangat benci kepada Bagas karena ia tau apa yang sudah Bagas lakukan kepada Ruhi. Padahal, sejak awal, ia sudah sangat setuju jika Ruhi dan Bagas ada hubungan. Tapi mau bagaimana lagi ? kini tugas Aziz adalah melindungi Ruhi.


Aziz memilih duduk dan diikuti teman-temannya yang lain. Mata kuliah dimulai walau sedikit canggung.


•••••


TBC❤️

__ADS_1


__ADS_2