
Kalung berliontinkan bentuk bulan itu, kupandangi lagi. Di depan cermin, aku masih belajar berbicara dengan Hira.
Ya, aku pasti grogi kalau menyerahkan kalung itu, ke Hira. Alternatif lain, supaya nggak grogi, aku minta temani sama Subandi.
Tapi, setelah aku pikir-pikir, kenapa aku punya rencana konyol kayak gitu. Kasian Subandi, masa iya disuruh jadi penonton.
Tunggulah. Aku harus mencari waktu yang tepat, untuk menyerahkan kalung itu ke Hira.
Kubuka Facebookku. Disana aku cari-cari nama Hira. Maksud aku, aku ingin menyerahkan kalung itu, tepat di hari ulang tahunnya.
Di sana, aku lihat tanggal, bulan dan tahun lahir Hira. Ya. Dia masih muda banget, usianya baru 20 tahun.
Aku? 40 tahun! Jadi gimana ini. Tua banget ya aku? Kupandangi wajahku di cermin.
Ah! Kalau laki-laki tua, bukankah banyak dikejar perempuan-perempuan muda.
Hahahahaha! Aku terkekeh sendiri di depan cermin. Berbicara sendiri, dengan bayangan aku di cermin itu.
Ya. Aku suka berlama-lama di depan cermin kamar mandi. Mengamati kerut-kerut di wajahku yang mulai terlihat garis-garisnya.
Beberapa helai rambutku, sudah mulai memutih. Ya ampun, aku ini sebenarnya jomblo sejati. Baru nyadar. Tapi, biarlah. Mungkin Tuhan tak ingin memberiku kesengsaraan.
Betapa tidak. Aku sering dengar beberapa orang temanku, setelah menikah, hidupnya bukan bahagia. Tapi malah menderita.
"Mungkin, mereka berjodoh dengan orang yang salah kali ya? Ah nggak mungkin. Masa takdir Tuhan harus disalahkan! Jodoh kan di tangan Tuhan.
Perkara bahagia atau nggak bahagia, itu kan tergantung manusianya!" pikirku.
***
*Dreet....dreet.....dreetttt!*
Buru-buru kuraih ponsel pintar itu.
Pesan masuk lewat chat whatsapp, dari Subandi.
"Mas Bro. Boleh minta tolong nggak?"
"Hmmm iya. Tolong apa. Bro?!" balasku.
"Tapi, bukan aku yang minta tolong, Mas Bro," kata Subandi lagi.
"Loh jadi siapa?" tanyaku penasaran.
"Cewek itu," sebut Subandi.
__ADS_1
"Hira?" tebakku sok tahu.
"Cieeeeeee. Kok langsung klik sih!" kata Subandi. Tapi, seolah-olah dia mentertawakan aku.
"Minta tolong apa, dia?" tanyaku semakin penasaran.
"Sabar Mas Bro. Nanti aku ceritakan. Tapi, kita ketemu dulu, ya!" jelas Subandi.
"Sekarang aja, kenapa. Nggak harus ketemu. Lagi malas keluar nih," jawabku.
"Ya udah Mas Bro, aku jemput gimana. Nggak bisa lewat chat, Mas Bro. Ini soalnya menyangkut hidup dan mati seseorang!" kata Subandi lagi, buat aku penasaran aja.
"Ya udah. Jemput aku sekarang. Mumpung aku mau keluar," balasku lagi.
"Hmmm. Mas Bro ini nggak sabaran. Tunggu dulu. Aku mandi sebentar saja. Ini aku baru pulang dari kantor. Nanti Mas Bro pingsan bau aku, kalau nggak mandi dulu!" jelas Subandi, panjang lebar lewat chat whatsapp.
"Terserahlah. Pokoknya kalau mau, ya jemput aku sekarang. Kalau nggak mau, ya sudah, aku tidur aja, lebih enak," jelasku sok jual mahal. Aslinya, aku penasaran, Hira mau minta tolong?
Tolong apa ya? Apa dia mau bilang ke aku. "Tolong cintai aku."
Hahahahaha! Aku ngayalnya terlalu tinggi.
Kayaknya, kebanyakan nonton film India tema cinta-cintaan kali ya?
***
Cantik banget! Pekikku dalam hati.
"Maksudnya apa, dengan foto ini," tanya aku penasaran.
"Tunggu Mas Bro. Santai dulu. Kita minum dulu," sebut Subandi serius.
Subandi ini, sepertinya sengaja buat aku penasaran dari tadi.
"Begini ceritanya Mas Bro! Dia itu rupanya tahu kalau Mas Bro ini, jago melukis. Nah foto ini, dia minta tolong dijadikan lukisan ukuran besar. Katanya dia mau ditempel di dinding kamar mandi." kata Subandi terkekeh.
Tapi, tak lama, dia meralat kata-katanya tadi.
"Ups! Maksud aku tuh, buat pajangan di kamar tidurnya," kata Subandi terkekeh lagi, seenaknya sendiri.
"Dia tahu dari mana, aku pandai melukis?" tanyaku, penuh selidik.
"Nggak tahu juga aku, Mas Bro. Kayaknya dia jago ya, jadi intel. Foto ini, diserahkan ke aku, tadi siang. Pas lagi jam istirahat makan siang!" kata Subandi, seolah memuji Hira.
"Hmmm. Kalau aku nggak mau dimintain tolong melukis foto ini, gimana? Hahahahahah!" kataku dengan gaya sok sombong.
__ADS_1
"Plisssss. Tolongin Mas Bro. Nanti kalau sudah jadi, katanya dia mau traktir Mas Bro," pinta Subandi, berusaha membujukku.
"Plissss ya Mas Bro," pintanya sekali lagi, sembari menangkupkan kedua telapak tangannya, lalu didekatkan di dadanya.
"Hahahahaha! Cuma ditraktir? Ogah lah. Enak aja. Kan, aku capek melukisnya. Memangnya melukis itu kayak sulap. Adakadabra...langsung lukisannya jadi.
"Jadi, harus gimana, Mas Bro. Besok aku pasti ditanya Hira soal ini," kata Subandi terlihat panik.
"Berapa sih kamu dibayar dia, sampai rela disuruh-suruh kayak begini!" selorohku.
"Aku curiga aja sama kamu nih Bro. Setia banget kamu mengabdi sama cewek itu. Hahahahah!" kataku mentertawakan dia.
Tapi, dibalik itu, aku melihat dia tulus. Suka menolong orang. Sepertinya dia ingin melihat aku, bisa dekat dengan Hira.
"Suruh dia datang ke aku sendiri. Kalau mau dilukis. Sombong banget sih dia jadi orang. Sudah minta tolong, tapi minta tolongnya pakai perantara orang," kataku pura-pura marah.
"Oh gitu ya Mas Bro. Kalau begitu, besok aku bilang ke Hira, suruh datang langsung ke Mas Bro," kata Subandi pasrah, dan dia pulang balik kanan, tanpa hasil.
***
*Ting*
Ponsel Hira berbunyi pelan. Lalu, cepat-cepat diraihnya dari atas meja makan. Dibukanya kode ponsel androidnya itu.
Subandi mengatakan dia nyerah, nggak bisa membujuk Budiman, agar melukis wajahnya.
"Non, Mas Budiman, sibuk. Nggak sempat kalau dimintain tolong. Kata dia, banyak orderan lukis wajah. Jadi ya dia minta maaf nggak bisa memenuhi permintaanmu," jelas Subandi menjelaskannya pada Hira, lewat chat whatsapp.
"Sombong banget, dia jadi orang. Baru juga dimintain tolong kayak gitu, udah nolak aku," balas Hira pada Subandi.
Subandi sendiri terpaksa harus berbohong pada Hira, karena dia nggak ingin punya masalah dengan Budiman.
"Eh gimana kalau Hira sendiri yang minta tolong dilukis wajahnya." kata Subandi memberikan saran.
"Nggak ah, nanti ditolak gimana? Aku kan malu kalau kayak gitu," jawab Hira.
"Jadi, gimana solusinya?" dengan membubuhkan emoticon orang menangis.
"Biarlah. Nanti aku pikirkan lagi, gimana caranya, kawan kamu yang sombong itu, mau menolong aku," jawab Hira.
"Terus, kalau Mas Budiman tetap nggak mau, meski dengan berbagai cara. Gimana?" tanya Subandi penuh selidik, dan sekaligus ingin tahu, sejauh mana, Hira akan mendekati Mas Budiman.
Subandi, sangat berharap usahanya mendekatkan keduanya sukses seribu persen. Karena, bagaimana pun juga, dia berjodoh dengan Ratna, semua karena Mas Budiman yang berperan dibalik layar. Di mataku. Mas Budiman itu mak comblang terhebat.
Tanpa campur tangan Mas Budiman, Subandi yakin, dirinya pasti masih jadi jomblo sejati.(bersambung)
__ADS_1