
Sebisa mungkin aku harus sabar menghadapi perangai Hira yang belakangan tak aku sangka-sangka.
Hira minta dibelikan rumah atas nama dia. Ya Allah, cobaan apa lagi ini. Satu per satu, Engkau timpakan aku.
Semoga aku nggak menyesal telah memilih dia menjadi pendampingku. Aku berjanji padanya, berusaha untuk memenuhi apa yang jadi keinginannya.
"Beri aku waktu ya untuk mengumpulkan uang. Setelah terkumpul, uangnya aku serahkan ke kamu, ya sayang," kataku lembut.
"Capek deh," jawabnya.
Lama-lama aku emosi. Karena dia terkesan meremehkan aku.
"Ya sudah, cari sana laki-laki kaya yang bisa langsung belikan rumah yang kamu mau," kataku emosi.
Dia diam saja. Tapi, aku jadi menyesal, sudah bicara seperti itu. Langsung aku mengklarifikasi kalimatku tadi.
"Maaf ya, aku salah. Aku janji untuk membelikan rumah untukmu. Tapi, beri aku waktu," pintaku dengan wajah menyesal.
Hira langsung masuk kamar. Aku berusaha mengekorinya. Belum sempat aku masuk kamar, pintu kamar dibanting Hira.
*Brakkkkk!*
Ya Allah, sabar. Pengantin baru penuh ujian.
***
Kutinggal pergi saja dia. Karena aku nggak mau terpancing emosi.
Iseng ke rumah Subandi. Karena sudah lama nggak ketemu dia, sejak aku nikah.
"Wuih tambah sumringah sekarang ya Mas Bro, semenjak dua menjak ini," goda Subandi, saat pertama jumpa dia.
"Nggak terasa ya sudah sebulan kita nggak kontak-kontak." kataku padanya.
"Iya Mas Bro. Aku mau kontak-kontak Mas Bro, takut ganggu. Kan pengantin baru," celetuk Subandi lagi penuh semangat.
"Hmm. Kamu sombong. Nggak mau lagi temanan sama aku," jawabku mencari pembelaan.
"Hahahaa. Takut ganggu, aku Mas Bro," tegas Subandi untuk kedua kalinya.
"Ya. Sudah. Ngopi di mana yuk kita," ajakku.
"Lho Hira piye. Ditinggal nanti marah lho," kilah Subandi.
"Ah biarin aja," sahutku agak malas.
"Ya wis. Yuk. Satu motor saja sama aku," jelasnya.
Aku pun menuruti apa saran dia. Aku dibonceng Subandi.
__ADS_1
Di jalan, spontan aku nyeletuk.
"Nggak enak ya cepet-cepet nikah," kataku spontan.
"Nggak enak kenapa nih, kenapa nggak dari dulu, gitu ya maksudnya Mas Bro?" kelakar Subandi seenaknya.
"Nanti aku ceritain ya. Tapi, jangan bilang sama orang lain," kataku mewanti-wanti.
"Oh siap," sahut Subandi.
Akhirnya aku ceritakan inti persoalannya. Aku ceritakan, Hira minta rumah atas nama dia.
Dia diam awalnya. Sepertinya bingung mau jawab apa. Jujur, sebenarnya aku pingin solusinya dari Subandi.
"Kalau kamu nih Bro. Andai kamu ada di posisiku. Kamu udah punya rumah. Memang itu kamu dapatin pas sebelum nikah. Nah waktu nikah, kan kamu pakai tinggal bersama istrimu. Terus tiba-tiba istrimu minta dibelikan rumah atas nama dia. Sikapmu gimana?" tanyaku, panjang lebar.
"Sabar bos Mas Bro," katanya sambil menepuk pundak aku.
"Ah semua orang bisa bilang kayak gitu," kataku langsung protes.
"Semua orang yang sudah berumah tangga, ada ujiannya masing-masing Mas Bro. Aku, sudah 5 tahun nikah, belum dikaruniai momongan. Mas Bro, baru sebulan, dimintain beli rumah, heheheheh. Sabar Mas Bro, kuncinya. Nggak usah terlalu dipikir. Sebaiknya ngomong baik-baik sama Hira. Kasih dia pengertian," kata Subandi sok bijak.
"Iya deh Bro. Thanks berat sarannya. Aku bingung. Harus cerita ke siapa kalau kayak gitu. Temanku ya cuma kamu," jelasku.
Tak lama, ponsel dia bergetar. Katanya dari istrinya, mau ngajak jalan sembari shoping.
Ya Allah, beri rumah tanggaku kedamaian, dan saling sayang menyayangi.
"Sebenarnya bukan aku menyesali takdirku berjodoh dengan Hira. Aku bisa ikhlas, dengan apa yang aku alami. Tapi, aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan Hira," keluhku.
"Ya Mas, aku paham. Setiap orang ada ujiannya masing-masing. Harus banyak-banyak sabar." pesannya lagi.
Tak terasa sudah satu jam, ngopi di warung Kopi Mbah Pikpik. Kopinya, luar biasa. Kopi tubruk buatan dia, luar biasa.
"Yo wis lain kali kita ngopi lagi. Mas Bro kabari ya," kata Subandi, minta undur diri.
"Oke. Makasih. Jangan kapok kalau aku curhat-curhat kayak gitu tadi," kataku.
"Nggak lah Mas Bro. Aman." sahutnya, lalu kami berpisah.
***
Sampai di rumah, aku diberi surprise sama Hira. Dia menyediakan makan malamku. Lengkap. Ada nasi lengkap sama lauk pauknya. Ada buah, dan minuman kolak.
Spontan aku puji dia. Tapi, posisi dia lagi di kamar mandi.
"Wow makan malamnya enak nih," kataku sambil membuka tudung saji di meja makan.
"Iya maem Mas, tunggu ya aku mandi sebentar," sahutnya.
__ADS_1
"Tapi, kalau mas mau maem dulu, keburu lapar, ya silakan, nggak apa. Hira maemnya nyusul," katanya lagi masih dengan posisi di kamar mandi.
"Nggaklah sayang, aku tunggu kamu aja, selesai mandi. Kita maem bareng," jelasku.
"Hmmm.Tungguuuuu kalau begitu. Lima menit lagi siap." kata Hira lagi.
Tak lama, dia keluar dengan tubuhnya dibelit handuk.
"Wuih seksi," celetukku menggodanya.
Dia tak menjawab apa-apa. Tapi, buru-buru berlari ke kamar, karena dia malu.
Lima menit kemudian, dia keluar dari kamar. Mengenakan daster you can see yang seksi. Panjangnya selutut. Bodynya memang mulus, imut.
Mengenakan daster you can see itu, seolah dia menggodaku.
"Yuk makan," katanya sembari menuangkan nasi di piringku.
Aroma wangi sabun mandinya menelusup ke hidungku, dan membangkitkan naluri kelakianku.
"Sayang, aku makannya dikit aja ya. Tadi sudah maem sama Subandi," kataku jujur.
Eh dia diam aja. Mengisyaratkan dia kecewa. Tapi, aku harus jujur, biar aku nggak kekenyangan.
"Masa iya, habis maem, maem lagi." celetukku dalam hati.
"Duh salah lagi, aku. Buktinya dia diam saja tak ada respon," gumamku.
Kupegang tangannya, lalu kukatakan aku sayang dia. Hahahaha. Kayak ABG jatuh cinta aja. Tapi, biarlah. Aku harus mengatakan itu, karena dia sepertinya marah lagi, setelah mendengar penjelasanku, yang ngaku makan sama Subandi.
"Oalah gusti, kenapa kayak gini sih," kataku membatin sedih.
"Jangan buat dia selalu emosi saat menghadapi aku, ya Allah," gumamku berdoa dalam hati.
"Besok aku nggak masak aja ya Mas, kan mubadzir jadinya kayak gini," protesnya.
"Maaf sayang. Tadi aku nggak tahu kalau kamu masak di rumah untuk makan malam," kataku mencoba memberikan penjelasan.
"Ya sudahlah, nggak apa aku kasih kucing atau tetangga sebelah aja lauknya ini," jelas Hira.
Spontan aku mencegahnya. Aku bilang aja sama dia, besok pagi aku mau sarapan sama lauk itu.
"Oh oke," singkat padat dan jelas jawaban dia.
"Maaf ya sayang. Plis jangan marah sama aku. Kalau kamu marah-marah terus kayak gini, aku tu sedih. Rasanya duniaku kiamat," kataku sedikit merayunya lagi.
"Nggak lah siapa yang marah," katanya masih sinis.
Bingung aku harus bagaimana. Aku coba ingat-ingat kata Subandi, katanya harus sabar.(bersambung)
__ADS_1