Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Akhirnya Beli


__ADS_3

Lama, aku berpikir panjang, soal rencana beli mobil. Aku, memang pernah berharap bisa beli mobil.


Mobil seperti apa, aku nggak terlalu mengikuti treand. Soalnya harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan yang ada.


Aku, hanya seorang honorer. Untuk beli mobil, rasanya masih harus berpikir seribu kali. Sebab, aku merasa nggak bakalan sanggup.


Tapi, setelah punya istri, aku berubah pikiran. Kuputuskan, untuk membeli mobil. Bukan mobil baru. Tapi, mobil second.


Ya. Aku akan beli cash. Bukan kredit. Jadi, aku berusaha tanya-tanya ke teman, nyari mobil second, jenis Jeep.


Aku tak memberitahukan rencana ini ke Hira. Sebab, aku ingin memberinya kejutan.


Subandi, adalah orang pertama yang aku beri tahu soal rencana ini. Kalau dia, pasti hanya mendukung, apa pun jenis mobil yang aku beri.


***


"Bro, antarin aku ke showroom mobil sekend di Jalan Brigjend Katamso," kataku pada Subandi, lewat chat.


Masih centang satu. Artinya Subandi tak mengaktifkan ponselnya.


Karena tak sabaran, aku akhirnya pergi saja ke rumah Subandi.


Kalau nggak ada orangnya ya aku balik saja. Ke showroom sendiri. Paling juga, nanyak harga dulu. Kalau deal, baru bayar.


Dengan kecepatan tinggi, 90 km per jam, aku melaju menuju rumah Subandi. Lima belas menit kemudian, aku sampai di sana.


Kulihat, ada motor dia parkir di teras rumahnya. Pasti orangnya ada.


"Dug.Dug.Dug.Dug.Duug" kuketuk pintu rumah dia. Sepi. Tak ada jawaban.


"Assallamuallaikum!" teriakku.


"Assallamuallaikum!" teriakku sekali lagi.


"Waalaikum salam," sahut seseorang dari dalam rumah.


Subandi, tidur rupanya siang itu.


"Eh Mas Bro," katanya tergopoh-gopoh membukakan pintu.


"Maaf, bangun tidur aku. Rasanya lelah banget," jelasnya.


"Iya, nggak apa," kataku.


"Ada apa Mas Bro," tanya dia lagi, sambil mempersilakan aku masuk ke dalam rumahnya.


"Antarkan aku dong, sebentar aja ke Jalan Brigjend Katamso," pintaku.


"Dimananya itu?" tanya Subandi ingin tahu.


"Showroom mobil," sebutku lagi.


"Wuihhhhh," celetuk Subandi.

__ADS_1


"Tunggu ya aku cuci muka sebentar aja. Kan bangun tidur," kata Subandi sembari langsung ngeloyor ke kamar mandinya.


Aku hanya menganggukkan kepala, tanda aku mengiyakan permintaannya tadi.


Aku boncengan satu motor sama Subandi. Motorku aku tinggal di rumahnya.


***


Tak pakai lama, setelah aku tes drive, aku langsung jatuh hati pada mobil suzuki katana.


Kubeli dengan harga cash, Rp40 juta.


"Bro, motor aku titip dulu di rumah kamu ya. Besok aku ambil. Ini aku bawa pulang dulu Katananya," jelasku dan Subandi setuju apa kataku.


Dengan perasaan bangga aku bisa memenuhi keinginan Hira, memiliki mobil.


Meski second, pasti dia senang. Karena dengan demikian, aku nggak punya hutang di bank.


Aku harap, setelah keinginannya aku penuhi, dia tak akan marah-marah lagi padaku.


Suara deru mobil Katanaku, akhirnya berhasil menarik perhatian Hira. Dia keluar dari rumah, menyambut kedatanganku.


Setelah aku parkir sempurna di teras rumah aku, aku menghambur ingin memeluk Hira.


Tapi, lagi-lagi aku lihat senyum dia yang semula gembira, tiba-tiba berubah cemberut.


"Lho tadi senang lihat aku datang, sampai bukain pintunya. Kenapa berubah cemberut, sekarang, sayang?!" kataku penasaran.


"Jalan yuk," kataku lagi berusaha membujuknya supaya tersenyum.


"Sebenarnya apa sih masalahnya, kamu asyik marah terus sama aku?! Nggak paham aku dengan sikap kekanak-kanakan kamu itu," bentakku karena emosi.


Hira pasti nggak mau karena aku beli mobil butut second itu. Tapi, bagi aku, bukan soal butut atau nggak butut. Yang penting, bisa dipakai. Mesinnya tangguh di segala situasi.


Hira diam saja ketika emosiku memuncak. Kuminta dia berterus terang saja padaku, kalau memang tak ingin menerima keadaan aku.


"Kamu nyesel nikah sama laki-laki miskin kayak aku?" kataku padanya, to the point.


"Kenapa kamu ini, seperti anak-anak sih," bentakku lagi.


Kulihat, dia menangis sesenggukan. Aku jadi bingung menghadapi sikapnya itu.


"Jujur, sekarang mau kamu apa. Biar aku tahu." kataku untuk yang kesekian kalinya masih dengan nada emosi.


Sekali lagi, dia masih bungkam seribu bahasa, dan menangis sesenggukan.


Melihatnya seperti itu, aku berusaha mengontrol emosiku.


Lalu, aku peluk dia, dalam dekapan aku.


Kubisikkan padanya. "Tolong terima aku apa adanya. Maafkan aku sudah emosi padamu," kataku masih membelai rambutnya.


"Kalau kamu mau aku memenuhi semua inginmu, aku minta waktu ya sayang." kataku lagi.

__ADS_1


"A....a...aku minta maaf ya, karena sudah menyusahkanmu," katanya masih menangis.


"Nggak. Kamu nggak salah. Sudah jadi kewajiban aku untuk memenuhi keinginan istri. Hanya saja, aku saat ini belum punya uang banyak. Aku baru sanggup untuk beli mobil second." kataku jujur padanya.


"Tolong maklumi aku ya sayang," kataku lagi, memelas.


"Sekarang, ayo kita tata bareng-bareng rumah tangga kita. Baru juga sebulan. Jadi banyak yang tak kita pahami. Maka dari itu, ayo kita bangkit dan bersemangat menjalani masa depan," sebutku penuh antusias.


Sepertinya, tangis Hira mulai mereda. Aku pun mengecup keningnya.


Membelai rambutnya penuh gairah.


Akhirnya, aku mengajaknya bercinta. Dengan segenap jiwa dan rasa yang aku punya, aku mencumbuinya.


Tak ada perlawanan. Dia pasrah, saat aku menelusuri setiap lekuk indah tubuhnya.


"Mas..., argh! Aku nggak tahan, sayang!" dia mendesah memanggilku.


"Iya, sayang. Aku juga udah rindu berat sama kamu," kataku balik merayunya, dalam cumbuan siang itu.


"Jangan lepaskan sayang." katanya saat aku menyentuh, dan meremas dua gunung indah itu.


"Lagi, sayang," katanya dengan manja.


"Mas....cepetan sayang, nggak tahan," katanya lagi, pasrah.


"Sabar sayang, aku masih ingin menikmati lebih lama," kataku berbisik di telinganya.


"Agh....sayang....nggak tahan." katanya penuh erotis.


"Iya, Mas juga sama nggak tahan, ingin berenang di kolam kenikmatan itu," kataku manja.


"Cepetan dong sayang, adek udah nggak tahan," kata dia lagi, manja banget.


Siang itu, aku benar-benar menyatu dengannya. Aku luapkan segala gundah gulana dan rindu yang memuncak.


Aku nggak ingin lagi menyakiti Hira. Aku janji pada diri sendiri, untuk selalu mencintainya sampai kapanpun.


"Sayang cepetan. udah nggak tahan," kata dia berbisik di telingaku.


Aku, sengaja memperlambatnya, karena aku begitu menikmati ******* manjanya.


Dia mendorong kepalaku, tepat menuju kolam renang kenikmatan itu. Aku pun menuruti apa maunya.


Kucumbui dia dengan birahiku. Seakan dia nggak akan pernah aku lepaskan lagi.


Kali itu aku merasa menejadi lelaki sejati yang begitu dirindukan perempuan.


"Terimakasih sayang," kataku, melenguh, mendesah, bersama. Hira juga merasakan kenikmatan luar biasa hingga ia menggigit lenganku.


"Terimakasih sayang," ucap dia yang juga kelelahan setelah bertarung menuju puncak kenikmatan.


"Iya, sayang aku juga makasih ya, udah kamu manjain, hari ini," kataku.

__ADS_1


Dalam hati, aku bergumam, semoga kita selalu bersama seperti sekarang ya, bahagia bareng. Aku dan dia pun terlelap bersama.(bersambung)


__ADS_2