Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Alih Profesi


__ADS_3

Lama-lama, asik juga jualan. Untungnya, lumayan. Bisa ditabung. Meski cuma lima ribu sekali transaksi. Lumayan, kalau . Kalau nggak jualan, siapa yang mau ngasih uang lima ribu sehari.


Aku harus punya dua nomor ponsel. Satu fokus buat jualan. Satu lagi untuk urusan kerja. Jadi, biar lebih nyaman.


Seperti biasa. Sudah sepekan ini, aku sama Subandi, kompak nyari duit bareng, dengan cara mancing. Hasilnya, dijual ke orang.


Subandi juga mulai ada pelanggan di salah satu warung kenalannya. Sedangkan aku, lebih fokus jualan ke online, lewat Face Book.


Alhamdulillah, hanya modal mancing, beli bensin untuk menuju ke lokasi. Plus modal paket internet, hasil pancingan ikannya diposting ke face book.


Awalnya, beberapa teman hanya ngasih like jempol. Tapi, lama-lama, istri-istri teman, pada inbox mau beli ikan segarku.


Terimakasih ya Allah, Engkau telah memberi kemudahan mencari rejeki. Apalagi anak aku mau lahiran. Ini benar-benar anugerah terindah yang Allah berikan untuk aku.


Kuceritakan sama Hira, apa aku buka usaha saja dan berhenti jadi honor. Tapi, Hira nggak setuju. Kata dia, sebaiknya jualan ikan itu dibuat kerja sampingan.


Terpaksa aku ikuti saran Hira. Mungkin benar apa kata dia. Karena di jaman serba susah ini, cari pekerjaan juga susah.


"Hari gini. Dimana Mas, mau dapat gaji dua juta sebulan. Mana kebutuhan pasti bakal bertambah setelah aku melahirkan," kata Hira, padaku dengan nada protes.


Ah. Sudahlah. Mengeluh nggak akan ada habisnya. Sekarang, aku ingin serius usaha.


Kalau awalnya hanya sekedar iseng. "Sekarang aku mau serius," kataku dalam hati.


Kulihat stok ikan segarku di kulkas full, setelah tadi malam mancing sama Subandi.


Rasanya nggak sabaran, aku share aja di facebook. Siapa tahu ada yang order lagi. Mumpung hari Sabtu, aku libur.


#Status FB


Monggo Bun, silakan ikan segarnya kalau minat, japri ya. Ongkir sepuluh ribu. Jauh dekat. Diantar sampai ke alamat.


Benar. Tak lama, hanya dalam hitungan detik, ada yang like dan komen order.


Wuih......


Senangnya dalam hati kalau jualan kayak begini. Selalu ada yang respon. Semoga ke depannya jualan aku lebih laris.


"Ya Allah, beri aku rejeki berlimpah dan barokah, supaya aku bisa menghidupi keluarga kecilku."


Kata-kata itu selalu aku langitkan. Semoga Tuhan selalu mendengar dan mengabulkan doaku itu.

__ADS_1


Ada lima orang, seharian ini yang order ikan segar sama aku, lewat inbox facebookku.


Semua, berhasil kutemukan alamatnya. Ya ikan-ikan segar yang diorder orang itu, selamat sampai tujuan. Hahahaha!


Subandi juga tiba-tiba chat ke aku. Kata dia, orderan dia dari hari ke hari, terus meningkat.


Ada empat warung sembako yang juga jualan sayur dan ikan, yang jadi langganan Subandi.


"Alhamdulillah ya Bro, usaha kita lancar. Semoga ini awal yang baik untuk sebuah usaha." celetukku pada Subandi.


Ya. Aku memanfaatkan waktu luang, bertukar pikiran dengan Subandi.


"Aku turut senang kalau usaha kamu juga laris manis. Siapa tahu, suatu saat nanti, kita juga sama-sama bisa beli ruko. Hahahhahah! Ngayal, boleh kan Bro!" selorohku padanya.


"Aminn....," sahutnya.


Kebayang, aku dan Subandi, punya toko sembako, sebelah-sebelahan. Kabulkan ya Allah, doa hamba!


***


Malam minggu ini, aku sengaja nggak ngajak Subandi mancing. Mau ke tempat mertua. Sekaligus jumpa Hira. Rindu banget lihat wajahnya dan mendengar suara ceriwisnya.


"Bro aku off dulu ya Minggu ini. Mau lihat bini aku, di rumah orang tuanya. Kita mulai lagi minggu depan. Kalau minggu depan aku nggak kemana-mana selain niat mau mancing," jelasku sama Subandi.


"Iya Mas Bro Bos. Kalau begitu biar aku turun sendiri," katanya padaku.


"Kabari aja kalau Mas Bro mau turun. Aku selalu ada untukmu Mas Bro," katanya lebai.


"Hahahahhahah! Kamu ini lebai kayak perempuan!" kataku mengejeknya.


"Hahahahaha!" gantian Subandi yang melepas tawa. Mungkin dia anggap aku lucu.


***


Tiba di rumah mertua, ditanyain panjang lebar soal usaha jualan ikan aku.


"Wah, sekarang jadi bos ikan segar ya Nak Budiman," celetuk ibu mertua.


"Iya bu, lumayan hasilnya. Untung-untung dapat lima ribuan, bisa untuk uang beli bensin, "jelasku penuh meyakinkan.


"Iya Nak. Sekarang ini lagi zaman susah. Pandemi corona entah kapan berlalu. Orang-orang yang dulu bekerja di swasta, pada banyak di PHK, Nak," cerita ibu Hira penuh prihatin.

__ADS_1


"Jadi, sekarang ini, usaha apa aja, dilakukan, untuk bertahan hidup," imbuh ibu Hira lagi.


Aku, hanya manggut-manggut mendengarkannya. Andai dia tahu bagaimana hidupku sekarang, hidup pas-pasan dengan gaji dua juta. Pasti ibunya Hira sedih, menantunya ternyata kere.


Untung aku nggak terlihat kere di depan ibunya. Sebisa mungkin aku berusaha terlihat berkecukupan. Meski aslinya kekurangan. Nasib, jadi orang nggak punya duit.


"Eh sana makan siang dulu, Nak Budiman. Belum makan ya pasti?" tanya ibu Hira padaku.


Aku hanya cengir-cengir. Soalnya aku memang belum sarapan dari pagi.


"Rejeki suami soleh," gumamku dalam hati.


Saat lagi asik-asiknya menikmati makan siang di rumah mertua, Subandi chat. Katanya, ada yang mau order ikan selar dalam jumlah banyak. Rencananya untuk persiapan acara syukuran.


Rejeki kedua, untuk suami soleh memang datangnya tak diduga-duga. Aku langsung telepon Subandi, karena kegirangan, mendengar kabar dari dia.


"Bro. Serius ya orderan ikannya sampai 30 kg?" tanyaku penasaran.


"Wkwkwkwkwk. Iya Mas Bro serius. Dia mau ada acara syukuran. Jadi pesen 30 kg." jelas Subandi meyakinkan.


"Kalau memang stok ikan Mas Bro di rumah ada, aku iyakan aja ya orderan dia. Aku bilang, bisa dianter ke alamat," imbuh Subandi.


Aku pun langsung bilang oke. Karena stok ikan aku di kulkas, melimpah.


"Orderan dari mana, Nak. Sampai 30 kg begitu. Subhanallah, luar biasa ya," puji ibu Hira.


"Iya Bu, alhamdulillah. Rejeki memang tak disangka-sangka kalau kita sabar." kataku sok bijak. Hehehehhee!


Hira juga tampak riang gembira mendengar aku ada orderan banyak. Kata dia, kalau orderan banyak, nanti bisa nabung dan sewa kios, untuk buka usaha.


"Ya semoga saja apa yang jadi impian kita, suatu saat terwujud. Doakan aku sehat selalu ya supaya bisa jualan setiap hari." kataku pada Hira.


"Eh tapi ingat, jangan lupakan tugas kantor. Boleh bisnis tapi pekerjaan utama jangan dilalaikan," kata Hira mewanti-wanti.


"Iya, siap. Nyonya," kataku sembari melempar senyum bahagia.


Hira terkekeh. Begitu juga ibunya juga ikut tertawan.


"Ya hati-hati kalau bisnis. Jangan sampai rugi. Nanti nggak dapat untung, malah buntung," pesan ibunya Hira menasehati aku.


Sekali lagi, aku hanya manggut-manggut. Lalu melanjutkan makan nasiku, yang tadi belum sempat aku habiskan. Apalagi, lauknya rawon, masakan andalan ibunya Hira. Jadi, rugi kalau nggak dihabiskan. Sebenarnya makan yang ditinggal itu, nikmatnya berkurang. Tapi, apa boleh buat. Merespon orang yang order ikan, tentu juga sama-sama penting. Karena ini menyangkut masa depan aku. Hahahahah!

__ADS_1


Kalau nggak direspon, tentu pembelinya bakal lari.(bersambung)


__ADS_2