Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Begadang


__ADS_3

Setelah dua hari menginap di bidan Anggi, dan Hira sudah melahirkan. Alhamdulillah, akhirnya pulang ke rumah.


Yes! Aku jadi bapak. Hira jadi ibu. Rasanya aku tambah semangat bekerja.


Tapi, kalau nanti kerja, si dedek siapa yang jaga ya. Tiba-tiba kepikiran soal itu. Ah! Tapi, masih lama. Hira juga masih cuti. Jadi, sementara ini si dedek sama ibunya.


Sekarang aku harus giat bekerja. Nabung buat keperluan si dedek. "Hmmm. Baru juga sampai rumah. Pikiran aku macem-macem. Mikir pengeluaran ini itu. Astagfirullah. Kesannya aku nggak bersyukur banget. Kata orang, ada anak ada rejeki. Kucoba nggak insecure sama keadaan.


Saat ini yang penting si dedek dan ibunya selamat dan sehat-sehat aja," kataku membatin.


Aku menidurkan si dedek, sembari memberikan dia susu dalam botol. Ibunya, kasihan kalau disuruh langsung menyusui. Pasti dia masih letih.


Mungkin, tunggu besok, ibunya bisa menyusui. Kata bidan Anggi, kalau sudah bisa menyusui, sebaiknya ibunya memberikan asinya. Karena, kalau lama tak menyusui, ibunya bakal demam.


***


Kupandangi malaikat kecil itu dengan rasa bahagia. Dia menggeliat. Bibir mungilnya bergerak pelan. Bersamaan dengan itu, pipinya memerah.


Kubelai-belai kepalanya yang dianugerahi rambut hitam lebat itu. Terimakasih ya Allah.....Engkau telah menganugerahkan aku bocah yang lucu dan menggemaskan ini.


Akan aku jaga dengan sepenuh jiwa ragaku, hadirnya di hidupku.


Malam semakin larut. Si dedek masih bobok cantik di tempat tidurnya. Aku berusaha terjaga di malam hari. Karena kutahu Hira pasti masih letih. Tenaganya belum pulih seutuhnya.


"Mas, tolongin ya kalau dia nangis. Aku ngantuk berat Mas," kata Hira lirih.


"Hmm. Iya, Bun," kataku yang mulai belajar memanggil Hira dengan sebutan Bun. Tujuanku, si dedek suatu hari bisa menirukannya, dengan memanggil ibunya, dengan sebutan bunda.


Kulihat seharian ini dia masih rebahan. Sesekali si dedek aku dekatkan di sampingnya.


Dia membelainya penuh bahagia. Dalam hati aku selalu berdoa, semoga bocah kecil itu bisa hidup bahagia bareng aku dan Hira.


Kulirik jam dinding, menunjukkan angka jam 02.00 wib tengah malam. Si dedek tak kudengar suara tangisnya.


Pasti dia juga sudah terlelap sama seperti bundanya.


Tapi, baru saja hendak aku pejamkan mata. Dia merengek. Hira spontan memintaku membuatkan susu yang baru, dengan botol.

__ADS_1


"Iya, tunggu," kataku bergegas ke dapur.


Hira tak menggendongnya meski dilihatnya bocah itu menangis dan semakin meninggikan suaranya.


"Mas, cepetan dong, dedeknya haus," pekik Hira dari dalam kamar.


"Iya, sabar. Airnya belum mendidih. Air panas di termos habis," jelasku dari dapur.


Bocah itu masih terus merengek selama aku belum menyerahkan botol susunya. Mungkin dia haus, tengah malam begini.


Kupercepat langkahku menuju kamar setelah botol susunya terisi susu kaleng.


"Ini sayang, ayah datang," kataku sembari meletakkan muncung botol susu itu di mulutnya yang mungil.


Hira hanya memandanginya dari jauh.


"Haus ya sayang. Mimik susunya sama ayah ya. Bunda ngantuk berat, Nak," katanya sembari melanjutkan tidurnya.


Aku, masih memegangi botol susu itu, supaya tak terlepas dari mulut si dedek.


Tapi, usahaku gagal. Akhirnya kuraih dia dan aku gendong dalam dekapanku. Masih sambil kutepuk-tepuk pahanya.


"Cup cup cup.......sayang. Anak manis jangan nangis dong, nanti ada cicak di dinding," kataku setengah bernyanyi kecil.


Masih tetap merengek. Aku coba ajak dia ke ruang tamu. Di sana aku masih bernyanyi kecil.


"Anak manis, janganlah menangis. Kalau menangis nanti digigit cicak," kataku. Entah itu lagu atau bukan, yang penting aku bernyanyi sebisaku.


Kalau ada anak TK besar. Pasti aku bakal ditanya. Om itu lagunya judulnya apa ya?! Hahahahahah!


Hira menyusulku ke ruang tamu. Mencoba mengipas wajah bocah dalam gendongan aku itu, dengan kipas angin mungil. Kipas portable.


Dia masih saja tak mau diajak kompromi. Dia terus merengek. Hira mencoba mengambil alih si dedek dari dekapan aku.


"Cup cup sayang, ini sama Bunda. Jangan nangis dong. Mimik susu sama bunda ya." kata Hira sembari mencoba memberikan susu asinya.


"Astaga. Dia haus Bun. Minta mimik bunda. Berarti kalau dia nangis, pasti pingin minum Asi." sebutku.

__ADS_1


"Asi itu, memang bagus. Bisa bikin anak pinter. Terus imun tubuhnya juga kuat," imbuhku lagi.


Hira terlihat konsentrasi memberikan susu asinya pada si dedek. Padahal, kulihat dia masih ngantuk dan letih.


"Udah, Bun. Sini," kataku setelah melihat si dedek terlelap.


Mata si dedek juga terpejam. Berarti dia sudah kenyang. Lalu tertidur pulas.


Hira pun menyerahkan si dedek ke aku. Lalu kubawa dia ke kamarnya lagi. Kurebahkan bocah imut itu di ranjang bayinya.


Sejam kemudian, si dedek terbangun lagi. Dia haus lagi. Sepertinya haus lagi. Aku coba buatkan susu botolnya lagi.


Hmmm. Ternya dia pipis. Popoknya basah. Untung aku sudah belajar dari youtube cara gantiin popok bayi, yang pipis. Hahahaha.


Di jaman serba canggih ini, lihat tutorial apa aja, bisa lewat youtube. Nggak perlu pakai les privat.


Aku kemarin juga baca-baca artikel. Gimana caranya belajar jadi bapak siaga. Bapak siaga itu, buat bapak yang baru punya anak bayi, pertama kali.


Pokoknya, semua tentang dunia bayi dan cara jadi bapak siaga, sudah aku khatamkan. Tapi, kenyataannya sangat susah kalau sudah praktek langsung.


Buktinya, untuk menenangkan bayi saja, aku belum berhasil. Soalnya, susu asinya, hanya bundanya yang punya. Hahahahaha!


Kalau punya bayi baru lahir, kata orang-orang, malamnya siap-siap jadi scurity. Harus siap siaga kalau si bocah bangun setiap satu jam sekali. Itu, karena si bocah haus.


Giliran pagi, dia tidur sampai siang bolong baru dia bangun. Hmmm. Kenapa bisa begitu ya. Siang dibuatnya jadi malam. Malam dibuatnya jadi siang. Sabar ya....Budiman. Itu kan bocah nggak bisa diprotes atau ditanyain kenapa bisa seperti itu ulahnya dia. Wkwwkwkkw!


Susahnya, aku kalau pagi ke sekolah ngajar. Nah si bocah masih tidur. Nanti bangun siang bolong. Tidur sore. Terus tengah malam buta, dia bangun.


Oalah ya sudahlah. Nasib jadi bapak siaga ya begini. Di sekolah kadang suka ngantuk berat.


Cuci muka pun terkadang hanya bisa menghilangkan rasa ngantuk sesaat. Setelah beberapa jam kemudian, ngantuk lagi.


"Belum lagi harus nganter orderan ikan segar, saat sore pulang sekolah. Benar-benar waktu istirahatku berkurang banyak," gumamku kesal tapi berusaha sabar. Karena memang ini sudah jalanku.


Sementara Hira, lebih banyak fokus merawat si dedek. Rumah juga terkadang berantakan. Masak, untuk sarapan aku pagi sebelum ke sekolah, juga tak sempat lagi.


Semua berubah banyak, setelah si dedek lahir. Tapi, apa hendak dikata. Itulah namanya hidup, banyak warna-warninya.(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2