Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Bagi-Bagi Warisan


__ADS_3

Sintia, mengajakku makan di restoran paling enak. Ya, kami bertiga janjian ketemu di restoran Bento, restoran paling enak di Surabaya.


Kata Sintia, di Restoran Bento, sate ponorogonya yang bisa bikin kita ketagihan.


Aku sebenarnya, nggak begitu suka sama makanan yang namanya sate. Tapi, karena Sintia begitu gigih berpromosi tentang enaknya sate ponorogo, jadinya aku tergoda juga makan sate itu.


"Pokoknya Mas, kamu harus coba sate ponorogonya. Dijamin, bakal ketagihan," kata Sintia heboh sendiri.


Aku masih diam saja, mendengar dia. "Aku nanti, cicip aja ya satenya. Satu tusuk. Soalnya aku pingin makan rawon tempat langganan kita jaman jadul deket sekolahan SMA kita itu, masih jualan nggak ya, orangnya?" tanyaku penasaran.


"Eh dasar, dikasih makanan bergizi, ini malah nyari rawon." kata Sintia, protes.


"Makan sate aja ya hari ini. Besok baru aku temani makan rawon. Soalnya Mas kan liburan di jawa, dua mingguan. Jadi, masih banyak waktu, kalau mau hunting makanan." sebut Sintia memaksaku, untuk menerima tawarannya makan sate.


"Yo wis aku ikut sama kamu aja. Mau makan sate, rawon, bakso, soto, kan aku disini tamu kamu," kataku pasrah.


Akhirnya aku makan sate ponorogo yang direkomendasikan sama Sintia. Menurut aku, rasanya biasa aja. Tapi, kata Sintia, rasanya enak selangit.


"Ah. Biasa aja. Enak rawon nih," kataku.


Sintia langsung sewot melihatku nggak terlalu suka makan sate.


"Piye toh, sate enak banget kayak begini masa iya dibilang nggak enak. Lidahmu pasti kena covid ya Mas?" kata Sintia mengejekku lagi.


"Ini, makanan orang kaya. Kalau aku sukanya tempe bacem. Hahahahah!"


"Yo wis lah kalau nggak doyan. Jadi aku makan sendiri nih. Kalau mau order menu lain, pilih aja. Ada menu lain kok di warung sate ponorogo ini," kata Sintia sambil terus melahap sate kesukaannya itu.


"Kamu sering beli sate disini ya?" tanyaku.


"Nggak juga Mas. Kalau pas kepingin baru aku beli. Lagian, makan sate tiap hari, ya nggak bagus toh," katanya lagi.


***


Aku minta rehat sebentar di rumah. Sintia memulai pembicaraan bagi-bagi warisannya.


Dia menyodorkan selembar kertas dengan rincian pembagian uang warisannya.


"Fix ya uangnya sudah aku hitung. Kemarin setelah dikurangi biaya operasional, jumlahnya ini," kata Sintia meletakkan lembaran kertas itu di meja.

__ADS_1


Aku sedikit terbelalak melihat jumlahnya. Terpikir di otak aku, rencananya bakal buka usaha.


Tapi, buka usaha apa, belum ada gambaran.


"Setelah ini, kita ke bank. Biar aku transfer uang kamu ke rekeningmu." kata Sintia.


Sintia juga mengingatkan aku, supaya menggunakan uang itu untuk sesuatu yang bermanfaat.


"Ini uangnya kita dapatkan dari warisan orang tua. Jadi, sebaiknya gunakan dengan benar dan yang bermanfaat," kata Sintia mewanti-wanti lagi.


"Kalau bisa, uangnya buat usaha Mas. Aku aja usaha buka salon selama ini. Lumayan, hasilnya bisa buat tambah-tambah bayar sekolah anak-anak," cerita Sintia, dengan antusiasnya.


Aku salut sama dia. Dia memang perempuan mandiri. Nggak mengandalkan pemberian bulanan dari suami aja. Andai Hira seperti itu. Aku pasti bahagia.


Soal bagi-bagi harta warisan ini, dia nggak boleh tahu. Kalau tahu, pasti bakal kacau rencana aku.


"He. Mas kamu melamun ya. Ya udah kita ke bank yuk. Kita langsung transfer uang kamu dan uang Mas Gatot." kata Sintia menghentikan lamunan aku.


Aku dan Sintia pun beranjak pergi meluncur ke bank tujuan.


"Kamu udah kasih tahu sama Hira belum soal uang ini?" tanya Sintia padaku.


"Nggak akan." sahutku.


"Biar aja. ATM aku udah disita dia. Gaji bulanan dia yang terima. Itu pun masih kurang kata dia," keluhku, curhat sama Sintia.


"Astagfirullah. Kenapa bisa seperti itu. Terus kamu pakai uang apa, untuk biaya operasional kamu sehari-hari, gimana dong?" tanya Sintia, resah.


"Ya aku cari sendiri, pandai-pandai aku. Kadang aku nyambi mancing. Hasilnya aku jual online. Itulah buat biaya operasional aku," jelasku.


"Oalah. Sabar ya Mas. Aku pun nggak bisa berbuat banyak. Soalnya kan itu urusan rumah tangga kamu," kata Sintia.


"Aku merasa jadi suami paling sabar. Semua demi anak-anak. Aku banyak mengalah, selama ini," kataku.


Rasanya siang itu plong. Apa yang jadi unek-unek di dada, sudah kuceritakan sama Sintia.


"Terus, anakmu, gimana. Masih satu kan?" tanya Sintia.


Pertanyaan Sintia itu buat aku mau tertawa. Sementara ini, kalau soal produksi anak, kukatakan, satu aja.

__ADS_1


Kalau sampai dua, dalam kondisi seperti ini, sepertinya aku nggak sanggup.


Sedangkan satu saja, permintaan Hira, luar biasa. Dia selalu menuntutku untuk cari tambahan. Padahal, di masa pandemi seperti ini, harus cari tambahan kemana coba?


Hari ini, aku bersyukur. Dengan dapat rejeki dari hasil warisan orang tua, ada gambaran aku bisa bernafas lega, ke depan.


***


"Sin, aku ada ide buka toko kelontong. Menurut kamu, bagus nggak sih. Berprospek nggak ke depannya?" tanyaku tiba-tiba ada ide usaha..


"Semua usaha bagus, asal halal," jawab Sintia dengan bijaknya.


"Tapi, jangan sewa ruko. Bisa abis nanti modalnya. Sewa kios kecil-kecilan aja dulu. Nanti, seiring berjalannya waktu, bisa tahu. Apa usahanya menghasilkan atau merugi," pesan Sintia, memberi saran.


"Iya, aku juga nggak mau langsung keluarkan modal besar. Paling sepuluh jutaan, aku buat modal usahanya," jelasku panjang lebar.


"Sip. Semoga sukses dan berkembang usahanya nanti," tutur Sintia mendoakan aku.


***


"Mas Gatot tadi udah aku hubungi. Kusuruh cek ke rekeningnya. Tugas aku sekarang udah beres ya. Kalian, selamat ya dapat rejeki. Termasuk aku juga, sangat bersyukur. Bisa untuk tambahan beli alat salon yang selama ini tak sanggup kumiliki," kata Sintia penuh haru.


"Eh iya, tiket untuk pulang, jangan khawatir. Nanti aku yang boking. Kan aku baru dapat rejeki uang warisan," kata Sintia berseloroh padaku.


"Hmm...iya tahu. Ada OKB," candaku.


"Wkwkwkwkw. Kok kamu tahu sih Mas," celetuk Sintia.


Dia memang punya selera humor yang tinggi. Nggak kayak aku, susah kalau diajak guyon.


"Mas. Andai istrimu tahu soal ini, apa reaksi dan tindakan kamu? pertanyaan Sintia, serasa menohok.


Aku nggak bisa jawab pertanyaan Sintia. Tapi, andai ketahuan, aku akan memilih berbohong saja. Karena, kalau dia tahu, pasti hidup aku terancam. Atm bakal disita untuk kali kedua.


"Tunggu aku cari alasan dulu, apa jawaban aku, andai dia tiba-tiba tahu aku dapat warisan." jelasku.


Sintia malah tertawa lepas melihat aku seperti orang kebingungan. Tak hanya itu, dia juga mentertawakan aku, kenapa aku suka sama Hira. Padahal, menurut Sintia, Hira itu nggak cantik-cantik amat. Sementara, Sintia juga tahu, aku dulu zaman kuliah, play boy habis, cap kapak. Hahahahahah!


"Dapat istri kayak begitu, ya derita kamu lah Mas," katanya sembari terkekeh.

__ADS_1


"Kamu tega ya, tersenyum di atas penderitaan saudara sendiri," kataku sewot.


"Ya maaf deh. Becanda aja aku, Mas. Mas sabar ya. Aku doakan semua akan indah pada waktunya." celetuk Sintia, menunjukan penyesalannya.(bersambung)


__ADS_2