
Pagi ini, Hira mengaku pusing, mual-mual tak bisa bangun. Terpaksa Hira absen tak masuk ke sekolah. Padahal, kata dia, ada rapat penting dengan guru-guru, jelang kenaikan kelas.
Aku panik melihatnya dengan kondisi lemah tak berdaya itu. Kutawari dia ke dokter, tak mau, karena kata dia, tak kuat bangun.
Setelah muntah air berkali-kali, baru dia mau aku bawa ke dokter.
"Pelan-pelan ya sayang, kita ke dokter," kataku sedih melihatnya lemah seperti itu.
"Iya, antarkan aku ke dokter ya. Kartu askes aku, di dompet Mas," katanya sembari menyodorkan dompetnya ke aku.
"Iya gampang. Sekarang yang penting kita ke dokter dulu ya sayang, biar kamu cepet sehat," kataku was-was dan panik campur sedih.
Dalam hitungan lima belas menit, aku dan Hira sudah sampai di klinik Amanda. Bertemu dokter umum, Dr Gandi.
Setelah diperiksa, Dr Gandi menyarankan esok hari, harus pergi ke ke dokter kandungan. Karena ada kemungkinan, Hira dalam kondisi hamil muda.
"Berarti istri saya hamil ya, Dokter," tanyaku penasaran sekaligus bahagia tak terkira.
"Yup. Baru satu minggu. Makanya cek ke dokter kandungan ya, supaya lebih meyakinkan," kata Dr Gandi menyarankan ke aku.
"Oke siap, Dok," kataku masih tak menyangka kalau aku bakal jadi calon bapak.
Hira masih dengan kondisi lemah, meskipun tadi, sudah mendengar keterangan dokter, kalau dia dalam keadaan hamil satu minggu.
"Sekali lagi, selamat ya Pak, mau jadi calon bapak. Tolong dijaga istrinya ya. Harus makan makanan bergizi dan istirahat yang cukup, supaya janinnya tumbuh dengan baik," pesan Dr Gandi padaku.
"Oke, siap, Dok," kataku lagi untuk yang kedua kalinya.
Setelah itu, aku memapah Hira, meninggalkan ruang praktek Dr Gandi itu.
***
Sampai di rumah, aku mencium mesra kening Hira.
"Terimakasih ya sayang. Sebentar lagi aku jadi bapak," kataku pada Hira.
Lalu, aku baringkan dia di ranjang, supaya dia istirahat. Seperti pesan dokter, Hira nggak boleh capek.
"Makasih ya Mas," kata Hira lalu berbaring di ranjang kamar.
Kubelikan dia buah, susu dan makanan lainnya, pendukung ibu hamil.
Orang pertama yang aku kabari soal kabar gembira ini, tak lain adalah Subandi.
__ADS_1
"Wah, selamat Mas Bro," ucap Subandi dari balik ponsel genggamku.
"Berarti aku bakal punya ponakan nih," imbuhnya lagi.
"Cewek apa cowok, Mas Bro?" tanya Subandi.
"Belum bisa di USG. Kan baru seminggu ketahuan hamilnya," jelasku.
"Oooo, iya ya," sahut Subandi.
Ya Allah kenapa aku bahas kebahagiaanku. Karena, Subandi belum punya buah hati.
Aku buru-buru minta maaf sama Subandi, sebelum mengakhiri percakapanku dengan dia.
"Bro, maaf ya. Aku terlalu gembira. Nggak mikir perasaan kamu gimana. Malahan aku terus nyerocos cerita soal istriku yang hamil," kataku meminta maaf pada Subandi.
"Hmm. Santai aja Mas Bro, sudah biasa. Aku nggak apa-apa kok." jawab Subandi santai.
"Iya, Bro. Makasih ya. Kamu sahabat terbaikku. Doakan semuanya lancar ya Bro, nggak ada halangan, dan istri aku sehat walafiat, begitu juga dengan calon bayiku nanti," kataku minta doa darinya.
"Iya, Mas Bro, doa terbaik buat Mas Bro dan istri," imbuh Subandi memberi semangat padaku.
Aku tak lupa juga mendoakan Subandi dalam hati, semoga dia disegerakan dapat momongan, setelah sekian tahun menikah.
Hingga akhirnya kami mengakhiri percakapan.
Terbayang di angan-anganku, seorang bocah cilik merengek minta buku untuk menggambar.
Ya, suatu hari nanti, aku berharap anakku bakal mewarisi kepandaianku dalam melukis.
"Ayah, beli in buku gambar untuk Jaka dong!"
Rencanaku, kalau makhluk imut itu berjenis kelamin laki-laki, dia kunamai Jaka. Kalau perempuan, aku kasih nama Cempaka Putri.
Hahahahaha! Itu cuma khayalan aku tentang makhluk mungil yang aku tunggu kehadirannya, nanti. Ya, masih nanti. Masih lama. Sembilan bulan lagi, insya Allah dia bakal bertemu aku.
"Amin," kataku sendiri, mengamini apa yang jadi khayalan aku tadi.
***
Lagi-lagi, ada yang aneh, sejak Hira hamil muda. Dia selalu marah kalau aku merokok. Padahal, selama ini, dia cuek. Aku mau merokok atau nggak, dia nggak mau tahu.
"Mas, bisa keluar dari rumah ini nggak, kalau kamu mau merokok," kata Hira, ketus. Dia mengusirku.
__ADS_1
"Eh iya maaf sayang, aku keluar," kataku.
"Harus berapa kali sih, Mas. Aku bilang kalau merokok, harus di tempat lain. Jangan di dalam rumah." ulang Hira untuk kesekian kalinya.
"Iya, maaf sayang," kataku melembutkan nada bicaraku.
"Iya. Maaf maaf tapi tetap aja ngerokok di dalam rumah. Kamu nggak kasian ya sama aku dan calon anak kamu ini," bentak Hira padaku.
Sejak Hira hamil muda, dia selalu sensitif terhadap asap rokokku. Tapi, aku memang yang suka bandel. Tak pernah mematuhi aturan yang sebelumnya sudah disepakati sama-sama. Kalau merokok, aku harus di luar rumah.
***
Pergi ke dokter kandungan. Dia menyatakan dari hasil diagnosanya, Hira sedang hamil muda. Kehamilannya, terdeteksi baru seminggu ini.
Aku bersyukur bahwa aku memang bakal menjadi calon bapak. Berarti, mulai sekarang aku harus latihan jadi bapak, sebelum bocah imut itu muncul ke dunia.
Sama seperti pesan Dr Ganti, dokter kandungan, Dr Mira, mewanti-wantiku. Kata Dr Mira, harus dicukupi nutrisi dan gizinya, supaya janin dalam kandungan Hira, baik-baik saja sampai sembilan bulan nanti.
"Baik, Dok," jawabku dengan mantap.
"Vitaminnya jangan lupa diminum rutin ya, supaya selalu ada tenaga. Nggak boleh capek, dan istirahat yang cukup.
Rasanya nggak sabar ingin cepat-cepat ketemu Jaka imut!
Mimpi ketemu Jaka, sampai mengigau, saat tidur.
Hira bingung. Bertanya siapa Jaka itu. Kuceritakan saja kalau Jaka itu bayi yang ada di rahimnya.
Hira sewot. Dia nggak mau diberi nama Jaka.
Kata Hira, nama Jaka itu rawan dibully.
"Nanti anak kita dibully, Mas. Jaka sembung bawa golok. Nggak nyambung, goblok!" celetuk Hira masih pasang wajah sewot.
Aku spontan tertawa lepas saat dia mengatakan itu.
"Nggak mau kalau anak aku dikasih nama Jaka!" protes Hira lagi menegaskan kalau dia menolak nama Jaka.
"Apa......anak aku? Tapi kan sayang, buatnya berdua. Kalau kamu bilang itu anak kamu, aku harus buat satu lagi nih, biar masing-masing dari kita punya satu satu," kataku gantian protes pada Hira.
"Eh jangan macem-macem ya. Jaka aja belum lahir, masa mau buat lagi," kilah Hira menolak rencanaku.
"Tuh sebut-sebut nama Jaka. Berarti, setuju nih, kalau nanti anak itu lahir laki-laki, kita kasih dia nama Jaka. Ya. Setuju ya!" celetukku minta persetujuan dari Hira.
__ADS_1
"Ih. Nggak paten, kalau nama Jaka. Kayak nama anak desa tapi desa yang pelosok," protes Hira, tapi di sisi lain dia cengar-cengir saat mengatakan itu.(bersambung)