
Hira mengeluh, katanya nggak betah tinggal di rumah. Terus, juga katanya rindu dan ngidam masakan rawon, orang tuanya. Dia minta diantar ke rumah orang tuanya.
"Mas, aku tinggl di rumah ibuku, seminggu ya. Nanti aku kabari kalau mau pulang. Jemput aku." katanya dengan nada santai.
Mau tinggal di rumah orang tuanya selama seminggu? Hahahaha. Paten kali istri seperti itu. Tapi, ya sudahlah. Biarkan saja, yang penting dia bahagia. Supaya duniaku aman sentosa.
"Iya.....terserah," kataku, tapi tak menunjukkan wajah senang.
"Jangan marah ya, aku lagi bosen di rumah. Pingin tinggal di rumah ibuku selama sepekan. Soalnya aku rindu sama rawonnya," sebut Hira mengutarakan keinginannya.
"Iya nggak marah," sahutku lagi. Tapi, gimana nasib aku, di rumah sendiri, sepi. Membujang.
"Nanti kalau rindu, video call aja ya kita," katanya.
"Ih, siapa yang rindu. Nggak ada rindu-rinduan," kataku sok jual mahal.
"Ih. Nakal," katanya mencubit pingganggku dan aku nggak sempat menghindar.
***
Tiba di rumah mertua. Disambut hangat sama ibunya Hira. Kata ibunya Hira, dia rindu. Sudah dua bulan lebih, Hira jarang datang.
"Weh, cucuku tak lama lagi bakal lahir," kata ibunya sembari mengelus-elus perut buncit Hira yang sudah memasuki 6 bulan.
"Ya belum, toh bu. Ini baru 6 bulan," jawab Hira. Aku, di sana lebih banyak diam. Aku pamit tidur sebentar di kamar bekas Hira dulu.
"Nanti ibu buatin selamatan ya, kalau sudah 7 bulan. Selamatannya namanya mitoni (nujuh bulanan)," jelas ibunya Hira. Hira cuma diam.
"Ya sudah sana istirahat kalau mau istirahat," kata ibunya Hira lagi.
"Eh Nak Budimannya sudah makan belum," tanya perempuan, yang bicaranya kental dengan logat jawa itu.
"Udah, Bu. Tadi kami makan nasi padang," sebut Hira.
"O, yo wis. Sana istirahat aja kalau begitu," ulang ibunya.
"Iya, buk." sahut Hira langsung masuk ke kamarnya.
Waktu menunjukkan pukul 18.00 wib. Adzan maghrib, tak lama lagi dikumandangkan. Perut aku, keroncongan. Cacing-cacing dalam perutku sepertinya pada demo.
"Hira. Aku lapar. Boleh makan nggak," kataku berbisik padanya.
"Hmmm. Tadi siang kan maem nasi padang, kita. Lapar lagi toh? Tapi, aku juga lapar. Aku buat nasi goreng mau nggak?" katanya, menawari aku.
__ADS_1
"Mau pakai banget, dong sayang," kataku manja.
"Oke. Tunggu. Lima belas menitan, sudah siap santap," kataku berjanji padanya.
Dia beranjak ke dapur, aku tetap rebahan di kamar. Soalnya, aku nggak tahu mau ngapain juga di rumah mertua.
"Tumben dia rajin. Biasa, kerjanya dia cuma rebahan aja di kamar. Sampai-sampai aku kesel lihat kebiasaan dia," celetukku dalam hati.
"Apa bagusnya dia sementara aku suruh tinggal di rumah orang tuanya saja, ya. Biar dia nggak malas. Nanti, kalau kangen, ya video call-an. Seperti saran dia. Daripada di rumah. Pasti asik mau kelahi aja sama dia. Hahahahahahah..." kataku bicara dengan diri sendiri. Entah kenapa aku tiba-tiba aku punya ide konyol kayak gitu ya?!
Benar-benar lima belas menit. Nasi goreng buatan Hira, sudah terhidang di meja makan.
"Nak Budiman. Eh. Sayang. Udah masak ni nasgornya," teriak Hira dari ruang makan.
"Apaan sih, Nak Budiman. Sayang-sayang. Nanti didengar ibu kan nggak enak," protesku.
"Apa sih sayang. Kan udah suami istri. Ya sah-sah aja dong," jawab Hira.
"Iya juga sih. Tapi nggak gitu kali manggilnya di depan orang," kilahku.
"Jadi?" tanya Hira.
"Mas." sebutku.
"Suamiku ini ternyata lama-lama cerewet ya," kata Hira sembari mendaratkan ciumannya di pipi kananku.
"Kan. Dia ini. Sembarangan cium suami di tempat terbuka," protesku lagi.
"Ya ampun, Mas. Ini kan di rumah aku. Diiiiiiiii.....dalam ruang makan. Bukan di tempat terbuka," jelasnya detail.
"Ya sudah. Aku lapar nih, jangan diganggu. Nanti aku nggak bisa nyaman, makannya," kataku mencoba menghentikan ulah Hira yang sembrono itu.
Tapi, sejujurnya aku senang dikasih ciuman mendadak kayak gitu. Soalnya sudah lama, tak dikasih ciuman mesra kayak tadi.
"Hira, jam sembilan malam. ini, aku pulang ya. Besok aku ada rapat sama kepala sekolah. Takut kesiangan. Besok pagi, siap-siap jam 06.30 wib ya aku jemput kamu, kuantar ke sekolah," kataku panjang lebar.
"Siap Mas Bro," katanya penuh semangat.
Selesai makan, aku pamit pulang. Alasan, mau mengerjakan tugas kantor. Karena tadi, nggak bawa laptop.
***
Kumatikan lampu ruang tamu. Masuk kamar. Tidur.
__ADS_1
Ponselku bergetar.
*Drettt..*
Ada chat masuk ke whatsapp aku. Hmmm. Hira. Katanya dia rindu.
Padahal, baru aja beberapa menit yang lalu, pisah. Sudah bilang rindu. Hahahahahah. "Rasain!" kataku.
Dasar perempuan, sok jual mahal. Tadi, ngotot mau nginap di rumah ibunya. Setelah dituruti maunya, dia bilang rindu kalau pisah.
Aku menghela nafas panjang. Merenungi sikap Hira yang suka buat aku emosi. Sebentar minta A, sebentar berubah pikiran minta B. Pusing!
Jujur, emang kalau jauh, buat rindu.
Tak lama, Subandi chat aku. Dia ngajak nongkrong. Hmmm. Nggak jadi tidur nih kalau gangguan silih berganti menghampiri.
Bagusnya memang ngopi. Merefresh otak yang sudah kacau, gara-gara istri lagi hamil muda. Berat ternyata ujian jadi calon bapak, saat menghadapi istri yang lagi ngidam! Hahahahah!
Kuiyakan saja ajakan Subandi.
"Aku tunggu depan teras Mas Bro," kata Subandi.
Ternyata , dia tiba-tiba sudah di depan teras.
"Oalah. Ceritanya aku mau dijemput toh. Tunggu aku ganti baju." jawabku sembari ganti kaos oblong dan pakai jaket.
Soalnya, udara malam ini, sepertinya dingin banget.
Lima menit kemudian, aku muncul di hadapan Subandi, dan kami on the way ke salah satu tempat tongkrongan paling nyaman.
Ya dimana lagi, kalau bukan di Kafe Chika. Wifinya di kafe ini kenceng banget. Jadi, wajar kalau para pengunjungnya betah berlama-lama di tempat.
Setelah mengambil posisi paling strategis, aku order kopi paling spesial di Kafe Chika.
"Kukira, tadi Mas Bro di luar. Karena, aku lihat, mati lampu ruang tamunya. Eh ternyata di dalam toh?" kata Subandi mengawali perbincangan malam itu.
"Tadi, aku kan nganter Hira ke rumah orang tuanya. Dia tidur di sana. Aku balik. Terus sampai rumah, aku matikan lampu ruang tamu. Rencana mau tidur. Eh bini aku, kamu juga chat. Nggak jadi deh tidur," jelasku.
"Hahahaha," Subandi melepas tawa.
"Dasar kalian emang pengganggu. Nggak bisa lihat orang senang." kataku sewot.
Tapi, aku buru-buru meralatnya. "Sebenarnya aku pingin ngopi. Tapi nggak ada yang ajak aku. Jadi, ya aku tidur aja. Eh tiba-tiba kamu chat ajak aku ngopi. Ya maulah. Daripada tidur. Lagian masih jam 21.00 wib. Masih sore banget.(bersambung)
__ADS_1
.