Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Masakan Aneh


__ADS_3

Hari ini, Hira membangunkan aku, pagi-pagi sekali. Minta diantar ke pasar. Katanya dia mau masak pepes ikan benggol.


"Wuih mau dong. Pasti enak pepesnya," kataku.


"Yuk ke pasar aku antarin," kataku penuh semangat.


"Yuk. Makanya tadi minta antarin kamu, sayang," katanya dengan manja.


Meski masih mengantuk dan setengah sadar, aku pun bergegas memboncengnya membawa dia ke pasar.


"Aku nggak ikutan ya, di parkiran aja, sambil tiduran," kataku.


"Oke nggak apa. Aku sebentar aja, cuma beli ikan benggol sama beli bumbu dan daun," katanya langsung ngeloyor ke dalam pasar.


Sambil menunggu dia belanja, aku tidur di atas motor.


Belum sempat menikmati tidur di atas motor, Hira sudah keluar dari dalam pasar.


"Yuk," katanya, dan dia langsung naik ke boncengan aku.


Sampai di runah, dia langsung mengerjakan rencana masaknya itu.


Sedangkan aku, balik ke kamar, melanjutkan perjuangan menjelajah mimpi. Hahahahah!


***


Hangat nafasnya menyentuh pipiku. Bisikan mesra di telingaku, terdengar indah saat dia membangunkan aku.


"Sayang. Bangun. Udah selesai tuh masakan pepesnya," kata Hira berbisik mesra di telingaku.


Aku menggeliat, masih menguap ngantuk. Padahal jam dinding sudah menunjukkan angka sepuluh.


Hari ini, hari terakhir malas-malasan. Senin besok, sudah masuk kerja masing-masing.


Kucoba bangkit karena beberapa kali Hira berbisik mesra di telingaku.


"Bangun sayang....,sarapan." katanya sembari membelai kepalaku.


Aku bergegas mandi. Kalau langsung menuju meja makan, rasanya tak etis. "Jadi orang kok jorok banget. Bangun tidur, makan." kataku bicara dengan diri sendiri.


Tapi, sepertinya Hira tak peduli itu. Aku mau jorok apa nggak. Buktinya, tadi aku masih bau jigong, dicium dia, dibelai-belai! Hahahahaha!


Baginya, mungkin aku ini raja. Bangun tidur langsung disuruh makan.


Kubasahi tubuhku dengan guyuran air dari kran kamar mandi. Seger rasanya. Seketik, rasa ngantuk yang masih bergelayut, sirna.

__ADS_1


Buru-buru aku menuju meja makan. Karena dari tadi aku sudah menelan salivaku berkali-kali, membayangkan pepes buatan Hira yang pasti, rasanya jos!


Di meja makan, hanya tersedia nasi dan tempe goreng.


"Pepesnya mana sayang," tanyaku sembari mengamati isi meja makan itu. Sebab, aku belum menemukan pepesnya.


"Ini," katanya sambil meletakkan teflon berisi makanan ikan benggol dengan segala pernak-perniknya.


Hmmm. Lemah aku melihat bentuk makanannya. Kayak bukan pepes. Entah apa namanya aku nggak tahu. Karena, dia nggak membungkus pepesnya dengan daun pisang.


Aku berusaha nggak komentar apapun tentang pepes itu. Aku sendiri bingung. Namanya pepes itu kan dibungkus daun pisang. Kenapa dia masaknya aneh.


Ikan benggolnya utuh begitu saja. Terus dikasih tahu sama tempe irisan dadu. Ada sayur sawinya sedikit, plus wortel.


Ya Allah, ini masakan apa? Masakan pepes dia aneh. Sekali aku cicip, rasanya aneh banget.


Ada rasa jahe dan kayu manis.


"Ya Allah, jangan muntah nggak ya setelah makan makanan ini," gumamku.


Tadinya lapar, perut keroncongan. Sekarang aku jadi kenyang. Malahan nggak doyan aku makannya.


Semoga dia nggak tersinggung saat aku tak banyak menyentuh masakan itu.


Iseng nanyak soal daun pisang yang tadi dibeli dia.


"Buat makanan lemet," jawab dia.


"O. Gitu. Emang ada beli singkongnya ya?" tanyaku iseng.


"Udah dong. Nanti ya, aku buat. Mas tinggal maem," katanya berjanji padaku.


"Enak nggak sayang pepesnya?" tanya dia padaku.


"Eenaaakkkk," kataku berbohong. Karena aku nggak doyan, aku cuma nggak mau aja, suasana damai berubah jadi huru-hara. Berbohong demi kebaikan, apa salahnya! Hahahahha!


Tak lama aku pamit mau ngerokok dulu di teras rumah. Aku ingin merenung. Sejatinya, takdirku punya istri itu seperti apa. Nggak seindah yang aku bayangkan.


Cantik, baik hati, pandai memasak. Suka berdandan, dan nggak cerewet.


Hmmmm. Sepertinya kriteria istri seperti itu, cuma ada di cerita roman picisan!


Astagfirullahhaladzim. Kenapa aku mengeluh soal takdir istri yang jadi pasanganku. Ini artinya aku nggak bisa menerima dengan lapang dada, apa yang jadi ketentuannya.


Bersyukur, aku nggak dikasih takdir jadi perjaka atau jomblo seumur hidup. Kalau jadi jomblo seumur hidup, nggak bisa ngerasain dibelai dong!

__ADS_1


Setelah pepes aneh, lemet batu.


Aku nggak tahu, kenapa lemet buatan dia, keras. Mana nggak jelas rasanya. Masa iya lemet dikasih jahe.


Kata dia, dikasih jahe, buat menangkal corona. Duh gusti! Jahe dicampur ke kue lemet.


Setahuku, kue lemet racikannya nggak aneh-aneh. Singkong, kelapa, gula merah. Kalau ditambah sama nangka, bolehlah. Pasti dijamin sedap.


Nah kalau dicampur jahe, aku baru kali ini merasakan kue lemet aneh. Oalah nasib, dia buat kue, nggak ada yang cocok di lidah aku.


Kue lemetnya aku makan sebungkus aja. Alasan aku, sudah kenyang. Soalnya, kalau aku turuti maem kue itu, pasti lidahku bakal protes.


"Mas kalau kue lemetnya nggak habis, aku bagikan ke tetangga ya," katanya.


Kaget aku mendengarnya pernyataan dia. "Waduh. Apa kata tetangga, dikasih makanan rasanya kayak gitu!"


Aku terpaksa harus mencari cara. Aku bilang aja kalau Subandi pasti doyan dengan kue lemet itu.


"Sini aku kasih sama Subandi aja, Sayang. Dia pasti suka banget kue itu," kataku berbohong padanya.


Ini, aku lakukan demi menghindari omongan tetangga. Mereka pasti bakal bilang kalau istri aku nggak pandai masak, nggak pandai inilah, itulah. Pokoknya kue lemet itu jangan sampai jatuh ke tangan tetangga.


"Kalau sempat jatuh ke tangan tetangga, bisa jatuh harga diriku," gumamku dihantui rasa khawatir.


"Oh Subandi suka ya Mas, sama kue lemet," tanya Hira ingin memastikannya.


"Iya, dia suka banget," jawabku meyakinkan.


"Nanti, biar aku yang antar ke rumahnya, habis maghrib," kataku lagi.


Hira pun mengiyakan apa usulku. Hmmm....Lega rasanya. Rencana, kue itu mau aku buang, ke tong sampah, daripada jatuh ke tangan tetangga.


Lelah aku memikirkan soal itu. Kenapa Hira nggak mau belajar dari youtube, buat masak pepesnya.


Biasanya, para ibu muda, selalu memanfaatkan youtube, untuk mencoba resep masakan yang ingin mereka buat.


Nah Hira, dia, belajar buat pepes dari siapa, kok rasanya ngawur kayak gitu. Ya Allah, beri aku kekuatan, menghadapi ujianmu seperti sekarang yang aku jalani ini.


Bagaimana tidak, satu per satu masalah rumah tangga aku, hadir di depan mata. Hanya pria-pria tangguh kayak aku yang bisa menghadapi cobaan-cobaan itu.


Prinsipku, kalau dipikirin, bisa stres. Jadi mending dibawa happy.


***


Tiba saatnya, aku harus mengantar kue itu ke Subandi. Tapi, nggak mungkin dong aku antar beneran ke rumah dia. Aku aja nggak doyan kue itu. Apalagi orang lain?!

__ADS_1


Mama, dulu ngajarin aku, kalau ngasih makanan sama orang, harus yang bagus.


"Le, kalau ngasih makanan ke orang, jangan jelek ya. Kalau kita nggak mau makan, dan ngerasa itu tak layak dimakan orang, jangan dikasih ke orang. Mending buang aja," pesan Mama waktu itu, suka menasehati aku.(bersambung)


__ADS_2