
Ini Permintaan Hira yang paling aneh dan buat aku emosi. Karena, permintaannya tak mungkin aku penuhi.
"Mas aku mau lihat pasar malam," kata Hira, padaku.
"Ha!" jawabku bingung.
"Pasar malam di mana. Mana ada pasar malam," kataku.
"Plis.....dong. Kita cari yuk. Kita keliling-keliling kota." katanya merengek padaku.
"Ih. Nggak mau lah. Capek, aku. Masa diajak ke tempat yang tujuannya tak jelas di mana." kataku, mengelak.
"Ayolah. Kasian anak kamu nih, maunya hari ini lihat pasar malam," ulangnya masih mendesakku.
"Pasar malamnya kan ada di waktu tertentu, toh," kataku mencoba memberi alasan.
"Ayolah antarin aku nyari. Kalau bukan anak kamu yang mau lihat, aku nggak ngotot pingin lihat pasar malam," kata Hira lagi, masih ngotot ingin tetap mencari pasar malam.
Akhirnya, aku menuruti saja, apa permintaan dia. Karena dia ngotot. Aku nggak bisa menolak. Kata dia, yang ingin lihat pasar malam itu, anak kami yang masih dalam kandungannya itu.
Ya sudah, ngalah. Akhirnya aku antar keliling kota, pakai mobil combetku.
"Mas, tanya-tanya sama kawan kamu dong, dimana ada pasar malam," kata Hira padaku.
Dalam hati, pasti dia sendiri juga ragu, dimana bisa menemukan pasar malam.
***
Kulirik jam tanganku. Sudah menunjukkan pukul 21.00 wib. Hampir seluruh penjuru kota, berusaha kutelusuri. Tapi, hasilnya nihil. Tak ada aku temukan pasar malam yang ingin dilihat Hira.
Kulihat, Hira bolak-balik menguap.
"Yes. Pasti dia sudah ngantuk," gumamku dalam hati.
"Tapi, sial. Kenapa dia nggak ngajak balik, sih. Duh susah bawa istri hamil nih!" celetukku lagi masih dalam hati.
Mau ngajak dia balik, kayaknya dia masih belum ingin balik, selama pasar malamnya belum dia temukan.
Aku punya usul, kutawari dia ke mall. Kubilang, mall kan pasar malam juga. Tutupnya jam 22.00 wib.
Tapi, lagi-lagi, Hira masih tak bersedia menerima usulan aku tadi. Kata dia, pasar malam itu, beda sama mall.
Kalau di mall, tak ada BH seharga lima ribuan. Tapi, kalau di pasar malam, ada BH seharga lima ribuan.
Mendengar itu aku langsung tertawa cekikikan. Oalah, perempuan.....perempuan!
__ADS_1
"Mas, ya sudahlah kita balik aja. Kayaknya bener kata kamu, mana ada pasar malam di kota kita," kata Hira, setelah waktu menunjukkan pukul 23.00 wib.
"Ya ampun, dari tadi dong sayang. Capek nih keliling-keliling dari tadi. Mana besok ada rapat sama kepala sekolah. Moga aja nggak telat," kataku mengeluh.
"Ya maaf. Kan ini bukan kemauan aku. Tapi, kemauan orok yang ada di kandungan aku, sayang," jelasnya.
"Iya....iya, aku paham," kataku.
Tak lama, dia minta jagung bakar. Katanya, lagi-lagi berdalih yang ingin makan jagung bakar, adalah anak dalam kandungannya.
"Ya Allah, astafirullah. Kenapa nggak ngomong dari tadi, sih. Beri hamba kesabaran," kataku, pada Hira.
Hira malah cekikikan mendengar kalimatku itu.
"Maaf sayang. Pinginnya emang mendadak. Dedek bayinya suka mendadak. Terus mau gimana lagi, coba?" kata Hira membela diri.
"Iya......iya. Aku coba cari nih. Dimana ada orang jualan jagung bakar, malam-malam begini," keluhku sampai lelah.
Di perempatan jalan. Kutemukan pedagang jagung bakar. Tapi, kulihat dia hendak berkemas.
Nasib lagi apes emang malam ini. Apa yang diinginkan Hira, tak satu pun terkabul.
"Kalau emang nggak ada ya sudahlah, Mas. Kita balik aja. Maaf ya udah nyusahin," katanya padaku sambil mengelus pundak aku.
Aku hanya diam saja. Kami pun akhirnya balik kanan. Karena, Hira juga tahu, penjual jagung bakar itu sudah berkemas. Artinya, jagung bakar dagangannya sudah habis terjual.
"Kita lihat besok Ma, karena pingin jagung bakarnya malam ini. Siapa tahu, besok udah nggak pingin. Jadi Mas nggak perlu repot-repot antar aku ke sini lagi," kata Hira.
Bersamaan dengan itu, aku kasian sebenarnya sama Hira. Eh nggak. Maksud aku, sama calon anak aku. Apa-apa yang diinginkan dia, belum terkabul.
Semoga, kelak dia lahir ke dunia, jadi anak yang tangguh dan nggak mudah menyerah dengan perjuangan hidupnya nanti. "Amin," kuaminkan sendiri, doa dalam hatiku untuk calon anakku yang masih dalam perut.
"Nasib ya, Nak. Kamu nggak dapat satu pun apa yang jadi keinginan kamu malam ini," kata Hira, sembari mengelus-elus perutnya itu.
Aku spontan ikut nimbrung mengelusnya.
"Maafkan ayah, ya Jaka," celetukku sambil senyum-senyum.
"Ihhhhh. Nggak mau. Aku nggak mau dia dikasih nama Jaka!" protes Hira langsung menepis tanganku yang ikut mengelus perutnya.
"Namanya Anjas," kata Hira.
"Hahahahha. Anjas?! Ih nggak banget, sih namanya!" kataku nyinyir.
"Ketimbang Jaka?!" kata Hira, sewot.
__ADS_1
"Nanti, kalau dia dikasih nama Jaka, bisa jadi bahan bully kawan-kawannya. Jaka sembung bawa golok. Nggak nyambung, goblok! Coba. Kalau seperti itu, gimana? jelas Hira panjang lebar, tanpa jeda.
"Hahahahahahha. Aduh sayang kamu ini ada-ada aja sih. Jaka itu, nama yang spesial. Bagus banget.
Tahu nggak. Nama Jaka itu, melambangkan ambisi yang membaja. Jika nama seseorang Jaka, ia adalah orang yang tak henti-hentinya berupaya meraih apa yang diinginkan dalam hidup," jelasku lebih rinci.
"Satu lagi. Nama Jaka juga mempunyai jumlah angka
J \= 10
A \= 1
K \= 11
A \= 1
Jumlah totalnya adalah 23.
Sehingga menurut studi numerologi, nama Jaka mempunyai kepribadianĀ Ekspansif, visioner, petualang, menggunakan kebebasan dengan cara konstruktif.
Itu menurut internet lho, sayang!" masih kataku, panjang lebar, demi meyakinkan Hira, bahwa nama Jaka itu, nama yang spesial.
Hira diam. Kulirik, eh ternyata dia ketiduran. Sialan. Bicara panjang lebar, dia udah ngorok aja.
Capek pasti. Karena apa yang dia mau tak satu pun terkabul. "Maaf sayang ya," kuelus rambutnya. Tapi, dia tak bergeming.
Kembali ke Jaka. Nanti kalau lahir, aku siapkan nama dia, Jaka Putra Budiman.
Sengaja aku bunyikan nama Jaka Putra Budiman.
Tak aku sangka, Hira mendengarnya. "Kalau cewek, namanya Sora Putri Budiman," kata Hira yang tiba-tiba bangun lalu menoleh ke arahku, yang duduk di samping kanannya.
"Udah sampai belum kita ya," katanya menggeliat, menguap karena mengantuk berat.
"Setengah jam lagi, sayang kita sampai. Ini masih berada di jalan lintas barat," jelasku.
"Cepetan dong sayang. Ngantuk berat pingin ketemu bantal kasur," kata Hira manja sambil bersandar di pundak kiriku dan aku konsen melaju menuju rumah.
"Kalau aku lihat, anak kita cowok kayaknya, sayang," kataku meyakinkan Hira.
Hira langsung menggeser tubuhnya dan tak lagi bersandar di bahu kananku.
"Cewek dia," kata Hira protes.
"Kalau cewek, biasanya emaknya suka dandan. Nah kamu, malah minta aneh-aneh. Lihat pasar malam," kataku mencoba merubah impiannya.
__ADS_1
Karena, dia berharap anak cewek yang lahir. Sedangkan aku, berharap anak cowok.(bersambung)