Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Beli Sandal Baru Jadi Masalah


__ADS_3

Sesekali, aku ingin shoping, meski hanya membeli sepasang sandal. Bukan sandal mahal harga ratusan ribu yang aku beli. Aku lebih nyaman memakai sandal murahan meski dengan harga Rp20 ribu. Sandal apa lagi, kalau bukan sandal plastik. Kali ini aku sengaja nggak pergi sama Hira. Karena aku ingin sesekali jalan sendiri. Sebenarnya ingin pergi bertiga, bareng Hira dan Sora. Tapi, kali ini aku memilih sendiri.


Pulangnya, sandal itu langsung aku pakai. Hira mengetahui sandal baruku. Dia langsung ngomel. Katanya aku nggak berhemat. Padahal, baru kali ini aku beli sandal baru. Hari raya, aku juga nggak pernah kepingin beli sandal atau baju baru. Bagiku, itu nggak penting. Lagian, sudah tua, untuk apa beli baju atau sandal baru. Soalnya yang lama juga masih bisa dipakai.


''Katanya kamu nggak punya uang, Mas. Kok kamu beli sandal baru?'' celetuk Hira tiba-tiba. Tentu saja komentar dia membuat aku emosi.


''Baru juga aku sekali ini beli sandal, kamu sudah marah sama aku. Harganya juga nggak seberapa, cuma Rp20 ribu. Kamu beli tas atau sepatu baru buat ke sekolah, aku nggak pernah protes. '' kataku dengan nada meninggi.


Tak lama dia juga membalas apa yang aku lakukan. Keesokan hari, dia seharian tak pulang-pulang. Alasannya dia pergi sama kawannya.


''Ibu macem apa dia, melalaikan tugas dan tanggung jawab dia sebagai seorang ibu. Anaknya shoping ditinggal seharian. Untung saja dia minum susu botol.'' gerutuku penuh emosi.


''Sebenarnya kamu ini gimana ya. Niat jadi ibu atau nggak. Anak kamu tinggal seharian, kamu shoping sama teman-temanmu. Tega banget kamu sama anak sendiri,'' kataku setengah emosi.


''Lho kan ada bapaknya, libur, work from home,'' sebutnya. Jawaban dia membuat aku semakin emosi.


''Ya sudah begini aja, mulai sekarang Sora kita titipkan di panti asuhan.'' kataku masih dengan emosi meledak-ledak.


''Gila kamu Mas!'' pekiknya.


Sudah lama, aku berniat menitipkan Sora pada panti asuhan, kalau memang Hira tak menjaga Sora dengan baik. Aku akan menjenguknya setiap minggu, kalau memang dia aku titipkan di sana.


''Gila kamu Mas ya!'' kata dia lagi semakin emosi.


''Kamu yang gila, ibu macem apa, meninggalkan anaknya sendirian seharian.'' ulangku masih menyalahkan dia.


Tapi, lagi-lagi dia membela diri. Katanya dia butuh refresing. Dengan alasannya itu, aku juga merasa bersalah, karena jarang mengajak dia refresing.


Apalagi sejak covid 19, aku nyaris tak pernah mengajaknya keluar. Tapi, demi menutupi kesalahanku, aku nggak akan mengutarakan soal itu. Bagiku, dia tetap salah karena melalaikan tugasnya sebagai ibu yang harus menjaga anak-anaknya.

__ADS_1


Kalau kamu keberatakan jaga Sora, biar aku yang akan menjaganya dengan caraku. Aku mau menitipkan dia di panti asuhan. Pokoknya dia akan aman dalam penjagaan aku.


''Dimana nalurimu sebagai ayah, menitipkan anak di panti asuhan?'' bentaknya.


''Itu urusan aku. Karena kamu sudah berapa kali melakukan seperti ini. Kamu lalai dengan tugasmu,'' kataku padanya.


''Ya sudah. Terserah kamu, apa yang mau kamu lakukan sama Sora,'' dia pergi ngeloyor ke kamar.


Melihat sikap Hira, memang aneh. Belakangan dia suka pergi meninggalkan Sora sendiri sama aku. Apalagi, dengan aku ada di rumah alasan work from home, dia bebas bepergian.


''Sudahlah Mas, kalau memang kamu mau ceraikan aku, ceraikan saja. Kita sudahan sampai disini,'' tantangnya.


Aku diam tak mau menanggapi apa perkataan dia tadi. Karena aku saja tak pernah memberikan perkataan seperti itu ke Hira.


Rasanya ingin sekali kutampar dia. Menyesal aku memilih dia menjadi istri. Padahal, dulu aku sangat memujanya. Mencintai dia sepenuh hati. Tapi, hati manusia memang cepat berubah. Secepat perasaanku yang juga mulai berubah ke dia. Dia bukan Hira aku yang dulu.


***


Entah berapa kali ada pertengkaran seperti ini. Semula, karena persoalan sepele. Tapi, efeknya merembet hingga kemana-mana. Dia juga mulai tak mengurus rumah. Baju kotor menumpuk, aku yang mencucinya. Piring kotor, juga dimana-mana, tak disentuh dia.


Karena bermasalah, sandal baruku aku buang saja, daripada memunculkan masalah baru. Aku mengalah dan lebih memilih pakai sandal jepit, kemana-mana.


Kondisiku benar-benar berubah sekarang. Bergaya sedikit, jadi masalah buat Hira. Katanya aku dibilang nggak bisa berhemat. Padahal aku beli barang yang murah. Tetap saja di mata dia, aku lelaki yang nggak bisa berhemat.


Salahku dimana coba. Beli baju atau sandal sekali-kali, bukankah itu hak aku? Tapi, semua jadi masalah buat Hira. Ya sudahlah. Sepertinya semakin lama semakin suram rumah tanggaku. Kenapa jadi seperti ini. Pernikahan impianku, tak bisa aku wujudkan. Hira mulai berubah.


***


Aku mengadukan apa yang aku alami ini ke Subandi. Kata dia, aku harus banyak bersabar. Itu terus yang dikatakan Subandi kalau aku curhat ke dia soal rumah tanggaku.

__ADS_1


''Piye kabare,'' kata Subandi.


''Apik tapi merana,'' kataku dan membuat aku tenang saat berbicara dengan dia.


Memang benar apa yang dia katakan. Kuncinya hanya bersabar. Karena tanpa sabar, semua akan hancur. Aku coba mencerna apa yang selalu dikatakan Subandi. Tapi, sepertinya batas kesabaran aku sudah diambang batas.


''Bagaimana ini ya. Bingung aku menghadapi istriku,'' kataku pada Subandi.


''Biasa itu, Mas Bro, kalau perempuan suka protes-protes, itu tandanya dia minta dicium!'' kata Subandi dan kami pun melepas tawa sama-sama.


''Dasar gemblung kowe,'' kataku padanya.


''Iya, coba cium dia, pasti nggak protes-protes lagi sama Mas Bro,'' imbuh Subandi lagi.


''Hahaha kowe ini ada-ada aja,'' celetukku.


''Serius ini Mas Bro, coba cium dia kalau banyak protes-protes!'' tegas Subandi.


''Iya sih aku belum coba trik dari kamu ini. Aku, selalu kebawa emosi, kalau dia berbuat aneh-aneh.'' kataku detail bercerita sama Subandi.


''Aneh piye toh Mas?'' tanya Subandi penuh selidik.


''Iya, dia suka aneh. Aku cuma beli sandal harga Rp20 ribu, dia protes. Terus dia bilang aku nggak bisa diajak berhemat. Rasanya dia itu pingin aku tampar,'' jelasku penuh emosi.


''Sabar toh Mas Bro. Namanya perempuan ya begitu. Itu artinya, dia juga minta dibelikan sandal. Jadi, dia nggak akan protes ke Mas Bro, kalau dibelikan sandal. Berapalah Mas Bro, sandal dia. Belikan sekalian dong Mas Bro.'' jelas Subandi sok bijak.


''Ah kowe ini nggak bela aku, malah bela Hira,'' protesku padanya.


''Bukan belain siapa-siapa Mas Bro. Coba trik aku itu. Perempuan pasti luluh, kalau sering dikasih hadiah. Meski kecil dan murah harganya, dia bakal bangga selangit lho Mas Bro. Percayalah kata-kata aku,'' masih kata Subandi yang bicara panjang lebar.

__ADS_1


Aku hanya diam berusaha mencerna apa yang dikatakan Subandi. Mungkin benar apa kata dia tadi.(bersambung)


__ADS_2