
Hira. Namanya singkat banget. Kok bisa sih aku suka sama cewek tengil itu. Padahal, dia bukan tipeku.
Tipeku itu, cewek yang sok jual mahal. Lah si Hira, dia justru malah suka cari perhatianku terus, hingga akhirnya benteng pertahananku jebol juga.
Ya. Pesona cewek tengil itu memang mampu menghipnotisku.
Satu hal yang aku suka dari dia. Katanya, dia suka melukis. Tapi, anehnya kenapa dia minta jadi murid aku. Bahkan, dia rela mau les privat melukis, meski harus bercampur sama anak bocah kemarin sore.
Hahahahaha! Dasar cewek tengil yang konyol. Nggak tahu malu. Masa udah tua, mau kumpul sama bocah. Apa nggak ada tempat lain, selain harus les privat melukis di tempat aku.
Aku masih ingat betul, dia suka memaksaku, supaya aku mau mengajarinya melukis.memberinya lampu hijau.
***
"Hira, besok temani Mas cari canvas, dong," kataku manja, lewat chat whatsapp.
Hmm...Lama nggak dibalas-balas dia. Padahal sudah centang dua. Tapi, masih warna abu.
Kenapa jadi galau kayak gini kalau chat nggak dibalas sama Hira. Kemana sih dia. Ini kan hari Sabtu.
Ya sudahlah, kalau nggak mau balas. Masa bodoh!
Baru juga jadi teman, sudah sombong. Egoku mulai keluar. Padahal, baru kali ini aku chat sama dia. Terus nggak dibalas-balas, emosi.
Kulanjutkan pekerjaanku. "Melukis saja. Nggak mau kemana-mana," pikirku.
Meski demikian, rasanya aku nggak nyaman melakukan aktifitas. Ini gara-gara Hira.
Hingga malam, kulihat masih juga tak dibalas chatku. Kenapa ya dia? Seribu pertanyaan, singgah di otakku.
Mau telepon ke ponselnya. Gengsi. Karena, yang bersarang di benak, hanya emosiku.
***
Minggu pagi, Hira baru membalas chat aku.
"Kenapa sih Mas, mengecewakan ibu aku. Kamu bilang mau datang, ke rumah. Kan ibuku ngundang kamu buat makan empek-empek.
"Tapi, kamu tega. Buat ibuku sedih. Seharian dia menunggumu. Dia berharap kamu datang. Kamu sudah buat aku kecewa berat," kata Hira panjang lebar. Pasti dia menuliskannya penuh emosi.
Ya Allah gimana ini. Aku lupa. Gimana caranya ya minta maaf sama dia!?
Aku pun memberanikan diri, untuk datang ke rumahnya. Perkara diterima atau nggak permohonan maafku, aku tak peduli.
__ADS_1
"Assallamuallaikum." ucapku.
Di rumah itu, aku disambut hangat sama orang tua Hira.
Tapi, Hira memandangku dengan wajah memberengut. Ya Allah. Kenapa aku bisa lupa ya. Kemarin kan aku memang bersedia datang, untuk memenuhi undangan makan empek-empeknya.
"Ayo masuk, Nak Budiman. Kemarin ibu tungguin, eh Nak Budiman nggak nongol-nongol. Padahal kemarin empek-empeknya khusus mau disuguhin ke Nak Budiman," katanya padaku, masih dengan ramahnya.
Belum sempat membalas perbincangan bersama ibunya. Hira nyeletuk dan marah padaku. Sepertinya dia ingin menumpahkan emosinya yang sudah memuncak, sejak kemarin Sabtu.
"Ah. Pembohong," celetuk Hira sewot.
Saat dia mengatakan itu, aku benar-benar menyesal. Karena aku ingkar janji.
"Maaf ibu, kemarin saya ketiduran. Karena kecapekan, habis beres-beres rumah." jelasku, sembari melirik ke arah Hira yang masih pasang wajah emosi.
"Ya sudah. Nggak apa. Ibu bisa maklum." kata ibunya lembut.
"Ibu bapaknya Nak Budiman, gimana, sehat-sehat kan?" tanya dia lagi.
"Ibu saya sudah wafat, bu. Begitu juga bapak," jelasku.
"Ya Allah Nak, maaf ya. Ibu nggak tahu. Hira juga nggak pernah cerita sama ibu. Jadinya ibu nggak tahu." katanya sambil menepuk pundakku.
Aku pun mengamini apa yang dikatakan ibunya Hira.
Begitu juga Hira, mulai berubah. Tadinya yang pasang wajah sewot, kini dia bersimpati padaku.
"Maaf ya nggak tahu," kata Hira padaku, spontan.
Aku hanya mengangguk mendengarnya. Tanpa sengaja, mataku berkaca-kaca menahan tangis.
"Ups. Laki-laki masa iya menangis," gumamku dalam hati dan berusaha cepat-cepat mengusapnya dengan jari telunjukku.
"Ya sudah. Tunggu sebentar, ibu gorengkan empek-empeknya. Nak Budiman ngobrol dulu, sama Hira," kata ibunya Hira.
Bersamaan dengan itu, spontan berdiri lalu mengekori ibunya ke dapur.
"Sudah. Biar ibu saja, Hira. Hira sama Nak Budiman. Masa iya tamunya dibiarkan sendiri," celetuk ibunya.
Tapi, Hira tetap ngeloyor ke dapur mengekori ibunya.
Setengah jam kemudian, keduanya membawa gorengan empek-empek, teh segelas dan kopi segelas. Ada juga kue lainnya. Entah kue apa, aku tak paham namanya. Yang aku tahu kue ubi bungkus daun. Orang jawa, menyebut kue itu kue lemet.
__ADS_1
Rasanya, enak banget. Kue atau jajanan khas jawa itu juga, ibu sering membuatnya. Dulu, kata ibu, bapak juga suka kue lemet itu.
"Ini ayo dihabiskan. Kalau nggak habis, nggak boleh pulang," seloroh ibu Hira.
Entah kenapa, ibunya tanya-tanya lagi soal orang tua aku yang sudah meninggal dunia itu.
Jadi, aku jelaskan kalau bapak, dulu pegawai imigrasi. Ibu, kepala sekolah di salah satu SD yang ada di Tanjungpinang.
Mendengar ceritaku, ibunya Hira hanya manggut-manggut. Lalu, sesekali menimpali.
"Kalau begitu, Nak Budiman ini tinggal sendiri ya di rumah?" tanyanya penasaran.
"Iya, Bu," jawabku singkat.
"Anak tunggal ya, Nak Budiman?" tanyanya lagi, masih penasaran.
"Nggak Bu, kebetulan saya tujuh bersaudara. Saya anak nomor dua. Ada Mas saya. Nomor satu di Jawa. Sedangkan saudara nomor tiga sampai nomor tujuh, di Jawa juga. Jadi saya di Tanjungpinang ini seorang diri," paparku.
Kulihat, Hira lekat-lekat memandangku. Dia begitu fokus, menyimak setiap penjelasan tentang keluargaku.
"Maaf lho ya Nak Budiman, ibu tanya-tanya. Biar kita saling kenal. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang," kata ibunya lagi.
***
"Bro. Ketemuan yuk. Biar aku jemput," kataku pada Subandi, lewat chat whatsapp.
Tak pakai lama, Subandi langsung mengiyakan saja, ajakan aku.
Dua puluh menit kemudian, aku sudah tiba di rumahnya Subandi. Kalau untuk urusan ngebut, jangan ditanya, akulah jagonya.
Kami pun, menuju salah satu warung Soto Ceker langganan. Dimana lagi, kalau bukan di warung Pak Man. Disana, aku sedikit blak-blakan sama Subandi.
Aku curhat habis-habisan sama dia. Karena, bagiku, dia adalah sahabat terbaik, yang bisa menyimpan rahasia.
"Bro. Aku mau tanya. Jujur ya. Seperti apa sih Hira itu, orangnya?" tanyaku to the point, minta pendapat dari Subandi.
Karena, kutahu, dia mengenal Hira lebih dekat. Hira sekantor dengan Subandi. Tentu, sedikit banyak, Subandi bisa memberikan gambaran, seperti apa sosok cewek tengil itu.
"Yang aku tahu, dia sedikit tengil. Sama seperti penilaian Mas Bro. Kan Mas Bro bilang, dia tengil," jawab Subandi santai.
"Ih jawabannya nggak kuinginkan banget, jawaban itu. Aku serius nanyak nih. Plissss. Bantu aku, untuk mengenal Hira lebih jauh," kataku memohon pada Subandi.
Sejenak dia bingung mau jawab apa. Lagi-lagi, dia mengeluarkan jurus andalannya. Apa lagi, kalau bukan jurus andalan cengir-cengir dan garuk-garuk kepala. Mungkin, itu jurus bawaan dia sejak lahir kali ya. Asal dimintain pendapat, terus dia nggak bisa jawab, pasti dia keluarkan jurus tadi. Aku pun jadi nggak bisa ngomong kalau sudah seperti itu.(bersambung)
__ADS_1