
Hari Sabtu-Minggu, adalah hari paling kutunggu, dalam sepekan. Karena, di hari itu, aku bebas mau ngapain. Makan, tidur, melukis, rebahan, atau main biola. Tapi, yang pasti, melukis, jadi prioritas aktifitasku seharian.
Bisa-bisa, aku tahan lapar, karena fokus pegang kuas dan corat-coret di atas kanvas. Singkong rebus dan secangkir kopi, jadi teman setia.
Apalagi, duduknya di karpet bulu domba berbentuk bulat, semakin membuat aku jadi malas gerak.
Kalau ada yang telepon atau chat, kadang suka aku cuekin. Pokoknya, Sabtu-Minggu itu, Me Time. Jangan ada yang coba-coba mengusik ketenanganku di hari itu.
Kalau masih nekad, ya konsekwensinya paling aku cuekin. Mau jenderal bintang lima sekalipun, aku nggak ada urus. Hahahahaha!
***
Kulihat, sudah jam 18.00 wib. Mandi? Ah! Nggak mau. Nantilah.
Tumben, perutku lapar. Sial. Mana nggak ada makanan di rumah.
Buka kulkas, isinya cuma air putih dalam botol. Terpaksa masak nasi di rice cooker.
Dulu, waktu ada Mama, pasti nggak pernah kosong rice cookernya. Lauknya, Mama suka masak sayur lodeh sama goreng telor dadar.
Sekarang, nasib. Mau makan harus berjuang sendiri, masak nasi. Salahku sendiri sih, nggak nikah-nikah sampai sekarang. Andai ada istri, pasti ada makanan siap santap tiap hari di meja makan.
*Tok tok tok tok*
"Assalamuallaikum." suara seorang perempuan mengucap salam. Lalu, kudengar suara ketukan pintu, pelan.
"Siapa ya? Mau maghrib kok nggak ada aturan, bertamu ke rumah orang," gerutuku.
Dia mengetuk pintu lagi, dan mengucap salam untuk yang kedua kalinya.
Penasaran, aku. Sengaja ingin kuintip dulu siapa perempuan itu. Tirai ruang tamu bagian jendela pojok ruang tamu, kusingkap sedikit.
Hira?!
*Dag dig dug...* jantungku bereaksi tak karuan.
"Ngapain, cewek tengil itu datang ke rumah aku. Pasti dia mau minta tolong soal lukis wajahnya itu. Hahahahaha!" gumamku dalam hati.
Tapi, sumpah aku nggak percaya pemandangan sore ini. Berani banget, dia datang sendiri. Nggak ada ditemani siapa-siapa.
Buru-buru aku telepon Subandi. Untuk mencari tahu apa tujuan Hira datang ke rumahku.
"Woiiiii monyet. Ngapain cewek tengil itu datang ke rumah?!" tanyaku pada Subandi dari balik ponsel genggamku.
"Hah masa iya Mas Bro. Yang bener aja Mas Bro," tanya Subandi, kebingungan.
"Masak masak, masak di dapur. Cepet kamu ke rumah aku sekarang. Selama kamu belum datang, aku nggak akan bukain pintu untuk cewek tengil itu!" jelasku panjang lebar, dan setengah mengancam.
"I i iyaaa tunggu Mas Bro, aku segera datang. Lima belas menitan, aku sampai rumah Mas Bro, ya!" kata Subandi berjanji.
__ADS_1
"Cepat pokoknya," kataku dengan nada meninggi.
Subandi menepati janjinya. Dia langsung teriak-teriak memanggilku. Bersamaan dengan datangnya si perusuh itu, aku langsung membuka pintu ruang tamunya.
"Mas Bro, nona manis nan menawan ini, mau minta tolong dilukis wajahnya. Katanya mau dipajang di kamar tidurnya," kata Subandi membuka percakapan sore jelang maghrib itu.
Hira kulihat mengangguk. Tanda dia membenarkan apa yang dikatakan Subandi tadi.
"Berapa ya Mas, biayanya?" tiba-tiba Hira berbicara.
"Mahal e," kataku. Aku ingin tahu apa respon dia.
"Iya berapa toh, Mas?" tanya lagi, mengejarku.
"Berapa, ya. Pokoknya mahal," kataku memainkan emosinya.
"Ya sudah Mas nggak apa. Tolong kerjakan saja," kata Hira dengan nada meyakinkan.
"Nanti kalau sudah selesai, kabari saya ya Mas, atau bisa juga info ke Mas Subandi.
"Tapi, ini nggak bisa cepet ya Mbak. Soalnya, banyak orderan," jelasku pada Hira.
"Lamanya berapa hari ya? Sebelum lebaran, bisa selesai nggak Mas? Aku butuh banget untuk hiasan kamar tidur aku?" tanya Hira ingin kepastian.
"Bisa lah, demi Mbak Hira," sahut Subandi mengambil alih jawabanku. Seharusnya kan aku.
"Heheheehhe." Subandi cengir-cengir sambil garuk-garuk kepalanya. Ciri khas Subandi yang nggak bisa dihilangkan.
"Ya sudah aku usahakan cepet," sahutku.
Tiba-tiba Hira mau numpang pipis. Aku jadi kelabakan. Buru-buru aku ke ruang tengah. Lalu menyingkirkan lukisan bergambar wajah Hira itu. Tapi, aku bingung. Jadinya, hanya aku balikkan saja, kanvas bagian depannya menghadap tembok.
"Silakan," kataku mempersilahkan Hira ke belakang, menuju kamar mandi.
Tapi, bersamaan dengan Hira menuju kamar mandi, lukisan itu tumbang.
Duh Gusti! Terbongkar sudah rahasiaku. Spontan Hira memperbaiki posisi lukisan itu, dengan menegakkannya ke dinding lagi, dengan posisi yang sempurna.
Sambil menegakkan lukisan yang tumbang itu, Hira cengir-cengir melihat lukisannya. Tapi, dia tak berkomentar apa pun. Duh apa komentar dia ya, setelah tahu lukisan itu.
Posisi Hira masih di kamar mandi. Tiba-tiba ponsel Subandi bergetar. Itu tandanya ada pesan masuk lewat chat whatsapp.
"Mas. Bro. Lukisan wajahku, sudah siap rupanya. Sakti ya teman kamu itu, lukisannya baru aku order, eh langsung jadi. Dia buat lukisan itu, dibantu sama Aladin ya? Hahahahahahhah!" kata Hira panjang lebar, lewat chat whatsapp Subandi.
Subandi masih belum paham, apa yang dibilang Subandi.
"Maksudnya apa nih Non. Aku nggak paham!" tanya Subandi minta dijelaskan lebih detail.
"Hahahahahah. Salut aku ya. Kawan Mas Bro itu sakti," imbuh Hira lagi, sambil membubuhkan emoticon orang tertawa ngakak.
__ADS_1
"Seriuslah," desak Subandi.
Tapi, pernyataan Hira benar-benar membuat Subandi tak mengerti apa maksudnya.
"Ya sudah. Habis dari sini, kita ketemu di warung makan. Lapar banget nih. Aku seharian belum makan," pinta Hira.
"Oke," sahut Subandi singkat.
"Lama banget cewek tengil itu di kamar mandi," kataku, setengah berbisik ke Subandi.
"Dia pipis apa mau melahirkan sih," sebutku terkekeh.
"Sttt...ada Hira," kata Subandi sembari menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya yang dimonyongkan itu.
Aku pun berusaha nggak bicara lagi.
"Lama banget sih Non. Kirain brojol di kamar mandi tadi," seloroh Subandi sambil terkekeh.
Tak lama, mereka pamit undur diri dari rumah aku.
***
Tak lama, setelah adzan maghrib berkumandang, Subandi dan Hira tiba di salah satu warung kaki lima pinggiran jalan.
"Pecel lele. Minumnya es teh," sebut Hira setelah dia mengambil posisi duduk berhadapan dengan Subandi.
"Sama, saya juga pecel lele," sebut Subandi.
"Hmmmm. Suka benget ya sama pecel lele. Asal makan, pasti maunya pecel lele," celetuk Hira pada Subandi.
"Sumpah lapar banget," sebut Hira lagi.
"Emang sibuk banget, ya. Sampai nggak sempat makan," kata Subandi.
"Hahahahahaha. Nggak juga," jawab Hira santai.
"Hmmmm. Pasti lagi kasmaran ya, kok bisa tahan lapar gitu. Nanti sakit, ayang beb nya sedih, lho," goda Subandi.
"Ayang beb apaan. Pembohong besar!" celetuk Hira.
"Ups." kata Hira yang langsung membekap mulutnya sendiri karena keceplosan salah ngomong.
"Maksudnya. Siapa nih yang pembohong. Cerita dong. Kok aku baru tahu, kalau sudah ada ayang beb. Woro-woro dong di medsos biar pada tahu," sahut Subandi.
"Hahahahahahah, emang lagi jualan produk, pakai woro-woro segala," protes Hira.
"Siapa sih, yang elu maksud. Kasih tahulah. Masa sama aku aja, main sebunyi-sembunyi?" tanya Subandi penuh selidik.
"Nanti, aku ceritain. Tapi, jangan sekarang," jawab Hira. (bersambung)
__ADS_1