
Malam ini, Hira aneh. Dia manja sama aku. Tidur minta dipeluk. Dia pakai baju tidur sexy. "Tak seperti biasa," pikirku dalam hati.
Tapi, aku suka melihat dia seperti itu.
"Mas," katanya, dengan manja.
Aku pun berusaha memeluknya dengan penuh cinta.
"Mas, aku mau cerita sesuatu." kata Hira lagi masih dengan manjanya.
Dalam sebulan ini, aku masih ingat, berapa kali bermanja-manja dengan dia.
Pelan-pelan aku mulai melucuti pakaiannya hingga tak ada sehelai pakaian menutupi tubuhnya.
Hingga akhirnya dalam hitungan setengah jam kemudian, aku dan dia sudah mencapai puncak kenikmatan.
Kulihat Hira sudah kelelahan dan dia terlelap tanpa busana. Kututuoi tubuh ramping istriku itu.
Malam ini, aku merasa seperti malam pengantin baru. Karena Hira begitu bersemangat diajak bertempur. Untung saja Sora tak terbangun. Hingga aku benar-benar menikmati permainan bareng Hira malam ini.
***
Keesokam paginya, kutanyain Hira, soal sesuatu yang hendak ia sampaikan tadi malam.
Tadi malam. Aku sengaja nggak mau tanya soal itu karena aku nggak mau merusak suasana pertempuran dahsyat itu. Hahahahahahahah!
Dia, pagi ini juga tumben-tumbennya bikin sarapan. Sesekali aku berusaha memberikan pujian buatnya.
"Rajin banget hari ini buat sarapan. Ada apa gerangan?" kataku. Dia pun langsung mendekati aku dan memelukku dari belakang.
Aku masih penasaran dengan sikap dia yang sepertinya berubah jadi lembut. Selembut kain sutra. Hahahahha?!
Dia menunjukkan sesuatu padaku. Ya test pack.
"Mas, dua garis merah ini, hadiah ulang tahun kamu ya, untuk bulan Mei nanti, " katanya.
"Apa?????? Kamu hamil????? " tanyaku heran.
"Kok gitu responmu mas? " kata Hira, protes.
"Aku belum siap," jawabku.
Dia langsung melempar test pack itu ke arahku.
"Hmmm. Jujur aku belum siap karena Sora masih kecil. Baru juga, 4 tahun. Ekonomi lagi berantakan. Terus nanti anak kedua aku makan pakai apa.
Hira nangis setelah mengetahui respon yang tak menyenangkan dari aku tadi.
__ADS_1
Aku berusaha menenangkan dia.
"Maaf aku nggak bermaksud begitu tadi. Cuma aku masih berpikir, nanti kalau anak kita yang kedua lahir, mau dikasih makan apa. Karena sekarang tunjangan sudah nggak ada. Lebih banyak kerja work from home. " jelasku padanya.
Hira hanya diam tak merespon pembicaraan aku. Aku berusaha sebisa mungkin menenangkannya. Tapi, usaha aku belum berhasil. Seharian, sampai besoknya,
Hira masih tak mau bicara sama aku. Akhirnya, aku mengklarifikasi soal sikapku kemarin.
"Maafin aku sayang. Aku nggak bermaksud apa-apa soal kabar hadirnya anak kita yang kedua ini. Doain aku banyak rejeki ya, biar aku bisa menghidupi anak-anak kita, kelak" kataku sembari berusaha membelai rambutnya yang terurai karena habis keramas.
Dia tak menolak saat kucumbu. Semoga dia nggak salah paham atas apa yang terjadi kemarin.
Jujur, sebenarnya aku belum siap disebut bapa dua ank. Tapi, anugerah Tuhan, aku nggak kuasa untuk menolak kehadirannya. Hanya modal bismillah, aku akan berusaha sebaik mungkin, jadi orang tua bagi kedua anakku nanti.
"Sayang, udahan ya, " katanya tiba-tiba menolakku. "Hahahahahha. Baru kali ini aku ditolak dia. Apa dia balas dendam ke aku. Tapi ya sudahlah. Mungkin dia lelah. Jadi, gimana nasib aku, belum tuntas sudah ditolak, " gumamku dalam hati, bercampur emosi.
Padahal, menolak ajakan suami saat di ranjang itu, berdosa besar. Hmmmm. Kali ini aku harus banyak bersabar. Karena aku calon bapak dua anak.
***
Aku nggak paham seperti apa perubahan emosional seorang perempuan yang bakal punya anak kedua.
Siang itu, saat Sora tertidur lelap. Hira mendekat manja ke aku. Naluri kelakian akupun tak bisa bisa ditahan lagi.
Mungkin, dia mau bayar hutang. Karena kemarin permainan belum tuntas. Hahahahaha. Itu dugaan aku aja.
Tapi, lagi-lagi, dia menarikku dalam pelukannya. Sepertinya dia ingin melanjutkan permainan untuk sesi kedua. Hahahahaha.
Baiklah, dengan senang hati dan penuh gairah, aku memainkan lagi bagian-bagian sensitif milik Hira.
"Sayang, lama-lamain peluk aku," katanya manja.
"Hmmmm. Istriku ini, belakangan manja banget sih," kataku sambil memeluknya lebih erat.
"Iya. Habis aku kesel kamu buat, Mas. Aku bilang kita mau punya anak kedua. Eh kamu malah menolak," katanya penuh gairah sambil membalas pelukanku.
''Ya aku minta maaf. Soalnya aku bingung, sayang. Kondisi lagi serba susah kayak begini,'' keluhku.
''Iya aku paham. Terus, apa harus aku aborsi aja calon bayi kita?'' tanya Hira.
''Astagfirullah, apan sih, sayang. Aku nanti dosa besar,'' jelasku.
''Ya udah. Kalau begitu kita lanjutkan, sampai dia lahiran ya,'' katanya mengambil keputusan. Aku hanya mengiyakan apa katanya.
Bersamaan dengan itu, aku memanjatkan doa dalm hati, Semoga semua impian terindahku bersama Hira, bisa terwujud. Semoga Allah memberikan rejeki berlimpah, agar bisa menghidupi anak-anakku dan juga istri.
"Mas, semoga anak kita kedua nanti, cewek lagi ya," kata Hira padaku.
__ADS_1
"Ih. Kok cewek lagi sih, " kataku protes.
"Kalau cewek itu, bisa jadi aset paling berharga, " kata Hira bersemangat.
"Ihhh...kok jadi aset. Emang barang," kataku sambil memencet hidung peseknya itu.
"Aduhhhhh, sakit tahuuuuu, Mas! " pekiknya.
"Stttt...! Jangan kuat-kuat teriaknya. Kayak orang diperk**sa aja! " celetukku.
"Eh iya lupa kalau anak gadis lagi bobok syantik," kata Hira, sambil bangkit menuju kamar mandi, mandi wajib,
setelah perang di ranjang. Hahahahahahah.
***
Di awal pagi ini, hujan deras mengguyur kota tempat tinggalku. Suara gemerisik air hujan di atas genteng teras rumah, membuatku tak bisa nyaman tidur. Ditambah lagi suara teriakan cacing-cacing daam perutku, semakin menambah kegelisahan.
Kulihat, Hira masih terlelap dengan baju tidur sexynya.
Tak lama, terdengar Sora terbangun dari tidurnya. Kuhampiri dia yang tak jauh dari kamarku.
"Mas, tolongin Sora tuh, kayaknya dia udah bangun." kata Hira masih dengan matanya yang merem.
"Iya....., nih aku ke kamarnya," kataku, yang masih malas-malasan.
"Ayah," teriak Sora. Aku pun mempercepat langkahku.
Nggak terasa, kini Sora sudah hampir 3 tahun usianya. Kurang 5 bulan lagi. Alhamdulillah, anak gadisku ini mulai pinter ngomong.
"Wuih, anak ayah sudah bangun, " kataku sambil mendekatinya.
Dia pun ingin menghambur ke arahku. "Jalan pagi yuk," ajakku.
Seperti biasa, dia langsung turun dari temoat tidurnya dan ikut aku jalan pagi, di depan rumah.
"Sora sayang, tadi malam nggak bangun-bangun. Berarti tidurnya nyenyak banget ya sayang, " kataku mencoba mengajaknya berbincang.
Dia hanya diam. Semoga saja dia paham apa yang aku katakan padanya.
"Ayah, ndong," katanya manja.
"Hmmm. Capek dong kalau Sora minta gendong. Kan ceritanya kita pagi ini jalan-jalan pagi.
Tapi, dia nggak merengek, ngotot minta gendong. Dia tetap berjalan beriringan dengan ku. Sesekali aku memintanya, dia mengejarku.
Terimakasih ya Allah sudah Engkau anugerahkan bocah kecil yang lucu ini untukku. (bersambung)
__ADS_1