
Malam ini, aku sengaja nggak kemana-mana. Badanku sedikit mau demam, rasanya.
Mana perut keroncongan. Lapar. Tapi, mau beli makanan di luar, kedinginan.
Coba ada istri, pasti sudah ada yang buatkan malam. Kalau pas kedinginan, ada yang memeluk atau paling tidak, diselimutin.
Ponselku bergetar. Malas mau meraih ponsel itu. Biarlah. Mungkin kalau ada urusan kerja, bisa besok.
Kupejamkan mata, meski jam dinding kulihat masih bertengger di angka tujuh.
Samar-samar suara bocah mengaji dari mushola, sampai ke rumahku. Padahal, jarak rumahku dengan mushola, tak terlalu dekat.
***
"Mas Budiman kenapa ya sudah berhari-hari tak terdengar kabarnya. Pesanku dari tadi malam, juga tak dibalas," kata Subandi pada Hira.
Spontan Hira mengajak Subandi mengunjungi Budiman.
Aku dan Hira baru saja menghadiri acara pernikahan teman SMA.
"Ya udah, kita lanjut ke rumah Mas Budiman aja yuk. Tapi, kita mampir ke toko roti Yakseng ya. Beli kue dikit aja. Terus beli buah juga," pinta Hira.
"Cieeee....," celetuk Subandi.
"Ya siapa tahu Mas Budiman itu sakit. Jadi, apa salahnya kita bawain roti sama kue," sebut Hira penuh bersemangat.
"Beuhhhh......ada yang mulai sayang sama seseorang nih! Lagi semangat 45 kayaknya Nona Hira. Demi.....," kata Subandi lagi.
"Demi apa nih maksudnya. Aku tonjok baru tahu!" kata Hira sambil mengepalkan tangan kanannya dan mengarahkan ke muka Subandi.
"Ampun tuan putri," kata Subandi sembari menangkupkan kedua telapak tangannya.
Tapi, pelan-pelan Subandi ingin mengatakan kalau dirinya tahu persis, bahwa Budiman jatuh hati pada Hira.
"Tunggu jangan sekarang," kata Subandi membatin.
Sementara, Hira, merasa penasaran dengan sikap Budiman. Dia mengira, Budiman ada hati padanya. Tapi, sikap Budiman yang sok cuek dan jual mahal, menambah rasa penasaran Hira pada Budiman.
"Laki-laki sombong. Lihat saja, nanti, aku pasti bisa menakhlukkanmu," kata Hira sesumbar.
"Aku heran. Sebenarnya dia itu ada hati sama aku nggak sih. Kadang sikapnya aneh. Kenapa dia nggak jujur sih. Hahahahahaha. Itu kan tebakan hati aku. Belum tentu juga kebenarannya. Biarlah waktu yang menentukan," gumam Hira dalam hatinya.
***
__ADS_1
Satu jam kemudian, Subandi dan Hira tiba di rumah Budiman.
Tak lama, pintu ruang tamu, dibuka sama tuan rumahnya.
*Deg"
Aku bertemu pandang dengan Hira. Matanya, lekat memandangku. Seakan menyiratkan rasa rindu yang terpendam. Ah! Itu kan perasaan aku saja. Belum tentu, cewek tengil itu rindu sama aku.
Spontan Subandi langsung menyapaku. Bertanya kabarku. Hira, hanya senyum-senyum memandang ke arah Subandi lalu berpindah memandang ke arahku.
Sekali lagi, tatapan mata cewek tengil itu membuat aku terpana. Hahahaha! pandang mata yang kesekian.
"Kemana aja Mas Bro berhari-hari ini nggak ada kabar. Chat aku nggak dibalas. Jadi, kami penasaran, Hira minta temani ke rumah Mas Bro," jelas Subandi.
Tapi, bersamaan dengan itu, sebuah cubitan kecil, mendarat di pinggang Subandi. Hendak menghindarpun, Subandi tak sempat.
"Aduh! Sakit tahu!" kata Subandi mengaduh.
"Abis kamu aneh-aneh sih Mas Bro," sahut Hira.
"Masuk dulu, silakan. Aku mau nyari makan dulu. Badan aku agak demam, beberapa hari ini," kataku pada mereka.
Spontan, Subandi langsung menawarkan diri, agar dia saja yang membeli makanan untuk Budiman.
Kusodorkan dompetku. Maksud aku, biar dia beli makanan pakai uang di dompetku itu. Tapi, Subandi menolak.
Katanya, dia ada uang kalau hanya untuk membeli sebungkus nasi. Akhirnya aku pasrah dan kembali masuk ke dalam. Bersamaan dengan itu, Hira mengekoriku dari belakang.
Akhirnya aku hanya berdua sama Hira. Tak ada percakapan apa pun, di sepuluh menit pertama.
Aku dan Hira sama-sama diam. Dia kelihatan salah tingkah, saat aku curi-curi pandang melihat ke arahnya.
"Lumayan lama nih jadi patungnya. Kok sama-sama diam," tiba-tiba Subandi datang, mengalihkan suasana hening malam itu.
"Nggaklah. Kita ngobrol kok," kata Hira, protes soal tuduhan Subandi tadi.
"Ya sudah. Ini Mas Bro makan dulu, biar ada tenaga. Nanti dilanjut ngobrolnya," Subandi menyuguhkan nasi itu diatas piring. Lengkap dengan air mineralnya.
Karena Subandi tahu persis, kalau di rumah sahabatnya itu, jarang ada air putih yang ready. Jadi, harus beli dulu di warung.
Berbarengan dengan itu juga, Hira mengeluarkan buah dan roti yang sengaja dibelinya tadi.
"Ya ampun Non. Kenapa nggak dikeluarin dari tadi toh buah sama rotinya," protes Subandi.
__ADS_1
Hira hanya cengir-cengir sambil menata buah jeruk, pir dan apel itu, di piring milik Subandi.
"Ini kenapa beli buahnya banyak banget. Saya disuruh jualan buah ya?" kataku dengan nada guyon.
"Hmmm. Ini spesial dibeli in sama Non Hira," sebut Subandi sembari melirik ke arah Hira.
"Bug!" kaki Hira di bawah meja, langsung menendang kaki Subandi. Hari ini, dia benar-benar sial. Strateginya mendekati Budiman, rupanya terbaca oleh Subandi.
"Aduh. KDP ini. Tadi dicubit pinggangnya. Sekarang ditendang kakiku. Apalah salah aku. Kan aku ini cuma menyampaikan pesan," urai Subandi.
"Maksudnya, pesan dari mana nih?" sahutku penasaran. Padahal, aku dari tadi fokus menikmati makanan aku. Nasi padang lauk rendang daging.
Subandi tak menyangka. Untuk kali kedua, dapat tendangan kaki lagi, di bawah meja.
"Awas kalau aneh-aneh ngomong!" ancam Hira sambil melirik Subandi.
"Hahahhaha! Aku terkekeh melihat ekspresi Hira, yang sepertinya dia ketakutan kalau terbongkar rahasianya.
Kuduga, Hira ada hati sama aku. Tapi, dia gengsi untuk mengatakannya. Hehehehehe. Kayaknya nggak mungkin deh, kalau cewek yang nyatain suka duluan, sama cowoknya.
***
Malam semakin larut. Sepeninggal Subandi dan Hira dari rumahku, malahan aku sama sekali tak bisa tidur.
Kupandangi buah dan roti yang dibawa Hira tadi. Hmmm. Kok bisa sih dia mau bawain aku buah.
Biasanya, kalau kayak begini. Ini tanda-tandanya cewek suka sama cowok.
Hahahaha! Dia aku pastikan suka sama aku. Kita tunggu saja, sejauh mana dia berjuang untuk mengenal aku lebih dekat.
Tadi, aku segan mengambil buah oleh-oleh Hira. Pikirku, nanti tunggu dia pulang, baru aku makan.
Lumayan, perbaikan gizi. Lama aku nggak pernah kepikiran beli buah. Selain mahal, uang gajiku juga pas-pasan. Jadi, tak pernah aku sisihkan khusus untuk beli buah.
Bagiku, buah itu makanan orang kaya. Selama setahun, bisa dihitung dengan jari, berapa kali aku beli buah.
Kebutuhan utama, beras, gula, kopi, sabun dan bayar cicilan rumah dan motor, itu yang jadi prioritas kebutuhan aku setiap bulan.
Oh iya, tadi aku lupa mengucapkan terimakasih. Kok kesannya aku jadi orang sombong banget ya. Jarang mengucapkan terima kasih, atas kebaikan Hira.
Iseng-iseng aku kirim pesan chat ke dia, dan bilang terimakasih atas oleh-oleh buahnya tadi.
Tapi, pesanku itu tak kunjung dibaca dia. Masih warna abu, centang satu.(bersambung)
__ADS_1