Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Duel Mesra


__ADS_3

Sudah seminggu aku berada di rumah mertua. Sebagai laki-laki aku merasa ada yang aneh, setelah nikah, harusnya tinggal di rumah sendiri.


Akhirnya aku berhasil membujuk Hira pindah ke rumah aku. Awalnya dia berat hati karena harus berpisah dengan ibunya.


"Jaga diri baik-baik ya. Hormati suamimu. Layani dengan baik, apa kemauannya," kata ibunya, sembari memeluk anak gadisnya itu.


Padahal, jarak antara rumahku dan rumahnya tak jauh, hanya beda kabupaten. Tapi, masih dalam satu wilayah provinsi.


Aku berpamitan sama ibunya, kucium punggung tangannya, tanda hormatku pada orang tua Hira.


Kakak-kakak Hira, melepas penuh haru.


"Titip adikku ya, kalau salah, marahin saja. Kalau nggak mau buatin sarapan, marahin saja ya Mas Bro. Kalau dia nggak terima, kabarin aku ya," pesan kakak tertuanya padaku.


Mendengar pernyataan itu, aku hanya cengir-cengir. Sedangkan Hira, terlihat protes.


"Apaan sih kak. Kan ak rajin masak," kilahnya menjawab omelan kakaknya.


Aku pergi, bersama Hira, dengan segudang harapan. Membangun istana bersama belahan jiwaku.


***


Panas mentari, tak menyurutkan semangatku menyusuri jalanan Tanjungpinang, menuju ke rumahku.


Ya. Rumah peninggalan mama ini, sudah seminggu aku telantarkan. Biasanya, kalau pagi, sebelum berangkat ngajar ke sekolah aku rajin menyapu


"Kamu tinggal sendirian ya Mas di rumah ini?" tanyanya.


"Nggak. Ada temannya kok," jawabku.


"Dimana dia sekarang?" tanya Hira ingin tahu.


"Tuh!?" sebutku sambil menunjuk ke dinding.


"Mana!?" tanya Hira lagi, penasaran.


"Ih mana sih!"


"Itu dia lewat!" tunjukku pada seekor cicak.


"Hahahaha. Ada ada aja lho dia ini!" celetuknya.


"Maksudnya, kawanmu itu cicak?!" kata Hira ingin mempertegas apa yang aku ditunjuk ke dinding tadi.


"Iya. Hahahahahahahah!" kataku tertawa lepas.


Tak lama, tubuh mungilnya itu aku dekap. Kali ini dia tak menolak. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mencumbunya. Lagi-lagi dia hanya pasrah.


Bercinta di siang bolong. Bagi pengantin baru, itu makin asik.

__ADS_1


"Aku bangga, sayang bisa mendapatkan kamu," kataku setelah kami sama-sama kelelahan setelah bertempur.


Dia buru-buru mengenakan pakaian dalamnya. Terus tertidur dibalik selimut, tanpa busana.


Aku tak mau membangunkannya. Meski jam dinding menunjukkan pukul 17.00 wib. Sepertinya dia letih banget setelah "duel" mesra tadi siang.


Sebenarnya aku lapar. Mau membangunnya tak tega. Ya sudahlah. Pikirku, masak indomie saja karena aku memang terbiasa melayani diri sendiri.


Saat aku serius masak di dapur, tiba-tiba kurasakan ada dekapan hangat dari balik punggungku.


Naluri kelakianku pun bangkit. Kumatikan kompornya. Lalu aku balik membalas pelukannya.


Dia sangat bergairah seharian ini. Aku pun berusaha mengimbangi hasratnya. Kami pun bertempur lagi, di atas ranjang. Duel mesra trip kedua pun berlangsung! Hahahahaha!


Perutku lagi-lagi keroncongan. Aku beranjak dari tempat tidur. Sedangkan Hira, kulihat masih terlena di ranjang. Tapi, dia masih enggan mengenakan pakaiannya.


Ya. Tubuhnya hanya dibalut underwear bagian atas dan bawah. Biarlah seperti itu. Aku sangat menikmatinya.


Suara kumandang adzan isya, membangunkan Hira dari pembaringannya.


Katanya, dia minta maaf sudah kelewatan manja hari ini.


"Maaf ya sayang. Aku seharian ini terlalu manja sama kamu," katanya masih dengan nada bicaranya yang manja.


"Iya nggak apa. Mandi sana. Aku udah masakin indomie tadi buat kamu. Kamu pasti lapar. Atau....kita makan di luar yuk," kataku memberi penawaran.


"Makan indomie aja. Tapi aku mau mandi dulu ya," kata Hira.


"Hahahaha. Dasar cewek tengil ini emang bikin kangen aku aja." gumamku.


Eh bukan! Dia bukan cewek tengil. Tapi mantan cewek tengilku yang sekarang udah jadi milikku seutuhnya. Aku masih berdebat dengan diriku sendiri.


"Kamu katanya mau mandi," kataku sambil mencumbunya, di atas pangkuan aku.


"Iya tapi dingin pasti ya," katanya.


"Hmmm.....manja banget sih istri aku ini," kataku masih memeluknya di pangkuan aku.


"Apa perlu ditemani?" tanyaku dengan debar jantung yang tak beraturan.


"Baru kali ini aku merasakan sensasi bercinta yang berbeda," gumamku.


"Dia benar-benar membangkitkan naluri lelakiku," kataku lagi, masih membatin.


Akhirnya aku bangkit dan kugiring dia menuju kamar mandi. Meski tak ada shower di kamar mandi, kami mandi bareng, penuh gairah.


Debar jantungku makin kencang tak beraturan, ketika Hira menelusuri lekuk-lekuk tubuhku.


Aku mendesah, penuh gairah. Ya ini sensasi bercinta paling unik yang pernah kualami sepanjang sejarah hidupku.

__ADS_1


Aku juga membalas, menelusuri keindahan tubuh mungilnya itu, mulus tanpa cacat sedikitpun.


"Udahan yuk sayang, aku kedinginan," bisiknya dengan mesra. Aku pun menyudahi petualangan di kamar mandi, malam itu.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 21.00 wib. Satu jam juga aku bercinta sama Hira di kamar mandi.


Aku buru-buru mengambil handuk dalam lemari, dan kubalutkan handuk itu, di tubuh mungilnya.


"Terimakasih, sayang," ucapnya dengan manja.


Aku, buru-buru balik ke kamar mandi, lalu membasuh tubuhku lagi dengan air bersih.


Setelah mengenakan pakaiannya, Hira menikmati indomie goreng buatan aku. Dia makan lahap banget.


"Wuihhh. Nyonya Budiman lahap banget makannya. Ini lapar, doyan, atau emang nggeragas?!" kataku.


"Apaan nggeragas?!" tanya Hira heran, sembari terus melahap indomie goreng yang ada di hadapannya itu.


"Nggeragas itu, bahasa jawa, Non. Artinya rakus!" jelasku.


Spontan, Hira langsung menghentikan makannya.


"Apaaa. Enak aja dibilang rakus. Lapar nih!" katanya protes padaku.


"Hahahahahah. Makanlah sayang. Aku suka kok lihat kamu makan lahap banget." kataku sembari mencium pipi kanannya.


"Abis itu duel lagi yuk, ntar tengah malam," kataku lagi berbisik padanya.


"Hmmmmm. Capek sayang. Tapi mau sih, lihat nanti malam ya. Bangunin aja aku," kata Hira, memberi kode padaku.


"Aku mau bobok dulu ya, persiapan tugas ntar malam," kataku.


"Tugas apa nih. Masa aku mau ditinggal sendiri!" protesnya.


"Tugas negara lah." godaku hingga buat dia sewot.


"Ih. Apaan sih pakai tugas negara, kan kamu masih cuti. Tiga hari lagi, masuk kantor. Emang guru itu, ada tugas mendadak kayak prajurit?" protesnya panjang lebar.


"Tidak sayang. Tugas negara aku ya bangunin kamu, nanti malam. Pingin peluk kamu sampai pagi, itu tugas negara aku," sebutku lagi. Spontan dia berubah, dan senyum-senyum sendiri.


"Dia ini suka bikin emosi aku lah," katanya masih manja.


"Tapi, kamu suka kan sayang," kataku merayunya.


"Sini," aku menarik tangannya dan membawany ke peraduan.


Satu per satu aku kembali melucuti pakaiannya. Karena naluri laki-lakiku tak bisa ditahan harus menunggu jam tengah malam.


Ya untuk trip keempat, duel mesra hari ini, aku sama Hira, gila-gilaan. Seakan nggak ada kerja lain, selain cuma bercumbu.

__ADS_1


Hahahahaha. Ternyata seperti ini ya rasanya jadi pengantin baru. Nggak mau kemana-mana. Cuma pingin di rumah aja, manja-manjaan sama pasangan.(bersambung)


__ADS_2