
Waktu terus berlalu. Takdir telah mempertemukan aku dengan Hira. Perempuan yang berhasil membuat aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya.
Ya. Aku mantap memilihnya, menjadi belahan jiwaku.
Ingin kuutarakan niatku, pada Hira.
"Hira, ada waktu nggak nanti malam. Kita makan bareng sama yuk, aku pingin maem mie ayam di simpang 3 km 10 Bintan Centre," kataku lewat pesan whatsapp.
Tak lama, Hira membalas chat aku.
"Boleh. Tapi, jemput adek ya Mas," balasnya.
"Ih manja banget sih," kataku lagi, menggodanya.
"Nggak mau, kalau nggak dijemput. Malas," jawab dia.
"Hahahahah. Iya iya sayang, Mas jemput," kataku.
Dia hanya membaca chatku tanpa membalasnya.
***
Sebelum ketemu cewek tengil itu, aku minta pendapat Subandi.
Bukannya dikasih pendapat, dia cuma jawab setuju dan setuju banget. Dasar gemblung dia!
"Jujur Mas Bro, sudah tepat kok, Mas Bro pilih Hira. Aku setuju pakai banget. Karena aku yakin, Hira itu takdirmu." kata Subandi berusaha meyakinkan aku.
"Jadi kapan lamarannya, Mas Bro." tanya Subandi penasaran.
"Nanti malam." jawabku.
"Hahahahahah. Mantap Mas Bro ini ya, mainnya main langsung-langsung aja. Ikan sepat ikan gabus. Lebih cepat lebih bagus," kata Subandi, masih berbincang lewat pesan whatsapp.
"Tapi, Mas Bro, aku nggak bisa ikutan ya, nanti malam ada acara makan malam sama keluarga Ratna," jelas Subandi lagi.
"Hmm. GR. Siapa yang ajak kamu, toh. Aku mau ngelamar Hira sendirian. Terus nanti pas hari H perkawinannya, kamu datang ya. Kalau nggak datang, awal kamu nanti aku pecat jadi sahabat," kataku masih panjang lebar, bicara sama Subandi lewat chat.
"Hahahah. Bisa aja Mas Bro ini," sebut Subandi sembari membubuhkan emoticon orang tertawa.
"Ya sudah. Siang ini aku masih cuti. Libur. Senin baru masuk kerja. Doain acaraku ngelamar Hira, sukses ya Bro," kataku pada Subandi lagi.
"Iya pasti dong, semoga lancar ya Mas Bro, doa terbaik untukmu," imbuh Subandi mengakhiri percakapannya.
Biar otakku fresh. Aku tidur sebentar. Karena nanti malam, aku harus menyiapkan jiwa dan raga untuk melamar anak gadis orang.
Oh iya. Sebelumnya juga, aku huhubungi kakak dan juga adik-adikku. Mbak Fika, Heru, Andin dan Dirma. Kukabari mereka, kalau aku mau menikah. Malam ini, acara lamarannya.
***
"Mbak Fika, minta doa ya. Aku mau lamaran malam ini," kataku pada Mbak Fika di Surabaya.
"Lamaran? Maksudnya lamaran apa nih?" tanya Mbak Fika bingung, saat aku telepon.
"Lamaran lah pokoknya." sebutku.
"Eh cah gendeng (gila-red). Lamaran nikah?" jelas dia.
"Iya dong. Masa aku disuruh menjomblo seumur hidup. Mbak Fika udah punya suami. Heru punya istri. Andin punya suami. Dirma punya istri. Lah aku, piye?" Yo kalau ada cewek, aku nikah dong," kataku panjang lebar.
"Hmmm. Sudah ada ceweknya toh. Tiba-tiba kok mau lamaran. Dasar cah gendeng (gila-red)." celetuk Mbak Fika balik telepon genggamnya.
"Liat coba mana ceweknya. Cantik nggak?" tanya Mbak Fika lagi.
__ADS_1
"Cantik tapi dikit. Hahahah!" kataku cekikikan.
"Kirim sini foto cewek mu itu," pinta Mbak Fika.
"Tunggu yo. Tapi, jangan dibully ya kalau sudah aku kirim." kataku mewanti-wanti. Soalnya aku tahu pasti, Hira kemungkinan bakal dibilang nggak cantik sama Mbak Fika.
Memang, kalau dibanding Sabrina. Hira masih jauh. Kalau tanding, Sabrina dapat nilai 90. Hira dapat 60. Hahahaha!
Kok aku masih ingat dia. Aku kan janji untuk melupakan dia. Kenapa harus ingat-ingat dia, sih!
"Cantik mana sama Sabrina?" tanya Mbak Fika.
Tapi, aku berbohong. Aku bilang saja, cantik Hira. Bagaimanapun, Hira calon istriku. Jadi, aku harus bilang Hira lebih cantik, dan dia segala-galanya bagi aku.
"Serius kamu lamaran malam ini?" tanya Mbak Fika lagi, seakan tak percaya.
"Iya Mbak, serius dong. Minta doa restunya ya!" kataku penuh antusias.
"Yo wis kalau begitu. Semoga lancar. Cuma bisa kirim doa dari sini," ungkap Mbak Fika mengakhiri percakapannya.
***
Tak sabaran, menunggu jam 19.00 wib. Karena aku janji jemput Hira, di jam itu. Ya. Jarum jam itu butuh waktu satu jam lagi untuk singgah di angka 7.
Semakin menuju jam 19.00 wib, jantungku berdebar tak karuan. Kayak anak SMA menunggu penguman kelulusan.
*Dreettt! Dreettt! Ponselku bergetar. Kupastikan itu dari Hira. Benar. Itu dari Hira. Kubuka pesan chatnya.
"Mas jemput adek jam berapa. Biar adek siap-siap," tanya Hira.
"Tunggu. Sebentar lagi ya, Mas on the way," balasku.
"Oke, sayang," balasnya. Hatiku jadi bahagia, dengan panggilan itu.
Pakai parfume.
Lalu, tancap gas menuju rumah Hira. Sesampainya di sana, di teras rumah, kulihat Hira sudah stay dengan baju setelan kaos biru lengan panjang, dengan celana jeans warna biru langit.
"Kok kita serasi, ya," godaku.
"Iya ya. Tadi kan kita nggak janjian." katanya menimpali.
"Berarti kita emang ditakdirkan bersama," kataku spontan.
"Ih masa sih Mas," kata Hira, seakan ingin memprotesku.
"Ya gimana coba kalau nggak jodoh. Ngapain juga aku jemput-jemput kayak gini," kataku pasang wajah pura-pura emosi.
"Ih gitu aja baper," katanya sambil cekikikan.
"Iya kamu nakal sih. Suka bikin emosi," kataku masih pura-pura emosi.
"Hmmm. Maaf deh. Janji nggak ngulang lagi," katanya sambil naik ke boncengan motorku. Lalu, tanpa ragu, dia memeluk pinggangku erat.
"Makan mie ayam kan, kita sayang?" tanya dia.
"Nggak. Nggak jadi. Nggak jadi lapar," kataku.
"Ih. Aku lapar tahu. Tadi nggak makan. Nungguin ditraktir sama kamu, Mas," katanya manja.
Tapi, aku masih mengujinya. Gimana sih kalau aku marah. Apa dia juga balik marah sama aku?
Ternyata dia lembut. Orangnya nggak mudah emosi. Sepertinya dia orang yang tepat untuk aku, dan juga calon ibu dari anak-anakku nanti.
__ADS_1
"Makan aja sendiri." kataku sewot.
"Ih. Jangan marah dong, sama aku. Nggak kasihan ya sama aku. Kelaparan dari sore tadi. Karena tahu mau ditraktir, jadinya aku nggak makan." jelasnya panjang lebar.
"Hahahaha! Kasian!" kataku membully dia.
"Ih. Pokoknya traktir aku!" desaknya sambil mencubit pingganggku. Tak hanya mencubitnya. Dia juga menggelitikku.
Aksi dia, buat aku nggak fokus bawa motor.
"Kalau jatuh, kita berdua tidur di rumah sakit aja ya," kataku.
"Apalah. Mulutnya cabul." katanya sambil mencubit pinggangku lagi.
"Abis kamu dari tadi buat aku geli, jadi nggak bisa fokus bawa motor," jelasku.
"Ya udah. Maaf. Cepetan ya. Lapar nih." serunya.
"Ngebut kita ya," tantangku.
"Jangan sayang. Aku takut. Santai aja," pintanya.
Tak lama, kami pun tiba di warung soto langganan. Warung Pak Man.
Sotonya, rekomended banget. Ada cekernya paling disukai sama Hira. Kalau aku, nggak terlalu suka ceker.
***
"Tutup mata bentar dong. Aku ingin kasih Hira sesuatu yang spesial. Tapi, aku tutup dulu ya, dengan kain." kataku minta izin.
"Ih nggak mau. Emang dikasih apaan. Pakai tutup mata segala. Nanti diapa-apain." kilahnya.
"Nggak lah. Yakin.deh. Sebentar saja sayang." kataku meyakinkan dia.
Tapi, setelah aku ngotot, dia mengizinkan aku menutup matanya.
"Awas ya jangan aneh-aneh," ancam Hira, tapi tak serius.
"Nggak, sayang. Orang sebentar aja. Abis tu aku buka," kataku lagi.
Ya aku sengaja bawa kain kecil tapi agak panjang. Kututup matanya. Lalu, aku letakkan kotak kecil berisi sebentuk cincin, emas 24 karat, seberat 4 gram itu, di hadapannya.
Aku letakkan kotak kecil itu, dengan kondisi terbuka atasnya.
"Tunggu ya, kan mau makan soto. Jadi penutup matanya harus dibuka," kataku.
Saat dia buka mata, dia tersenyum bahagia, karena ada cincin permata di samping mangkok soto cekernya.
"Wuih. Cincin ini pasti mahal belinya," kata Hira, menyanjung.
"Oh iya dong, ini untuk calon istriku. Bagus nggak? Semoga dia suka ya," kataku.
Bersamaan dengan itu, wajah Hira berubah memberengut.
"Oh kamu cuma mau pamer dan minta pendapat sama aku, bagus apa nggak, ini cincinnya?" tanya dia bersungut-sungut.
"Hahahaha. Calon istri ku itu masa kamu nggak tahu. Nama depannya H." kataku membuat dia semakin kesal.
"Sudahlah aku pulang. Nggak lucu tahu," kata Hira bangkit dari tempat duduknya hendak meninggalkan warung itu.
"Eh tunggu. Sayang. Nama kamu kan depannya H. Siapa lagi sih kalau bukan kamu," kataku coba merayunya, dan kutarik tangannya agar dia duduk lagi di depanku.
Dia hanya diam. "Ya aku melamar kamu, Hira sayang. Aku jatuh hati padamu, sejak kita ketemu, hari ini, esok dan selamanya. Aku ingin menua bersamamu. Temani aku ya sayang, sampai dunia tak bermentari," kataku sok puitis.
__ADS_1
Sekali lagi, Hira hanya diam. Tapi, tak lama, ia meneteskan air matanya dan menerima lamaranku.(bersambung)