Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Mulai Terabaikan


__ADS_3

Berangkat sekolah, jarang sarapan. Pulang kerja, lihat meja makan, kosong. Hira hanya masak nasi.


Kata dia, nggak sempat masak sayur atau lauk lainnya, karena Sora suka rewel, tak bisa ditinggal. Sudah berbulan-bulan nasibku seperti ini. Mau curhat ke Subandi, malu.


Karena nggak tahan, akhirnya aku curhat sama dia. Wajar, bukan, yang namanya manusia itu, nggak luput dari keluh kesah.


Kata Subandi, dulu dia juga bernasib sama. Tapi, pelan-pelan Subandi bersedia menerima nasibnya itu.


Solusinya, Subandi lebih memilih diam, dan masak sendiri kalau di rumah nggak ada masakan yang bisa dimakan.


"Dulu, aku juga sering begitu, Mas Bro. Ratna jarang masak. Dia pilih kelayapan di luar rumah, sama teman-temannya. Ketimbang masakin aku dulu di rumah. Aku kesel sebenarnya melihat itu. Tapi, lama-lama aku bisa terima," jawab Subandi serius.


"Sebenarnya enak, Mas Bro kalau ditelantarkan sama istri. Kita bisa protes, saat dia minta uang. Kita bilang aja sama dia, kewajiban nggak dipenuhi. Jadi uang belanja nggak aku kasih. Hahahahah!" celetuk Subandi lagi.


Aku malah mentertawakan dia, dan aku tanya balik sama dia. "Emang berani, nggak ngasih uang belanja?" tanyaku.


"Hahahaahhah. Berani sih kalau lewat chat. Kalau ngomong langsung depan Ratna, aku nggak berani," jelasnya.


Aku ngakak mentertawakan dia sampai perut aku sakit, gara-gara mentertawakan dia nggak ada habis-habisnya.


"Makanya jangan macem-macem sama bini. Nanti nggak dikasih jatah, bisa tahan nggak, hahahahahaha!" kataku lagi.


***


Selain kebutuhan makanku tak terpenuhi. Baju untuk kerjaku, juga terpaksa aku gosok sendiri.


Masih dengan alasan yang sama, Hira nggak bisa meninggalkan Sora sendiri di kamar. Katanya, sejam sekali, dia haus, harus minum susu asi ibunya.


Akhirnya aku punya inisiatif, setelah aku cuci sendiri di mesin cuci rumah, aku jemur. Setelah kering, aku bawa ke laundri aja, untuk setrika bajunya.


Ternyata, aku bawa ke laundry, ongkos setrikanya sama kayak orang laundry. Dia nggak mau hitung ongkos setrikanya aja.


Daripada ribet setrika sendiri. Akhirnya aku mau saja, biaya setrika, sama saja kalau laundry.


Melihat itu, Hira diam saja. Pasti dia senang karena bebannya berkurang.


"Mas kalau bisa yang punya aku sekalian dong," katanya.


"Enak aja. Kamu bayar sendiri ya," sebutku kesal.

__ADS_1


Dalam hati, seharusnya dia peduli soal nasib baju kerjaku. Eh ini dia malah mau ikutan nebeng setrika ke laundry, dan yang bayar biayanya, juga aku.


"Uangku pas-pasan sebenarnya. Mau ke laundry sayang. Tapi, kalau nggak ke laundry, nggak ada yang menyetrika bajuku." keluhku.


Anehnya, Hira cuek saat kukatakan itu padanya. Aku pusing. Sejak punya anak, kebutuhan aku terabaikan.


***


Di kantor. Aku iri sama Pak Juni, guru matematika. Dia istrinya juga pegawai. Padahal, sama-sama baru punya anak satu.


Tapi, kebutuhan Pak Juni dipenuhi sama istrinya. Kebutuhan yang aku maksud, soal kebutuhan makan dan baju juga diperhatikan istrinya.


Kata Pak Juni, dengan gaji pas-pasan, harus pandai berhemat. Karena, kalau kehabisan uang, mau pinjam ke orang lain, susah. Belum tentu dikasih.


Benar kata Pak Juni. Kita harus pandai mengatur keuangan. Biar nggak kehabisan uang. Kalau habis, pinjam orang, pasti susah.


Apalagi, jaman pandemi seperti ini. Rasanya kebutuhan meningkat, tapi pendapatan itu-itu saja.


***


Masuk angin. Setelah mancing. Rasanya badan nggak enak. Perut kembung.


Sebenarnya, dia itu baby sister atau istri aku ya? Soalnya, setelah punya anak, dia fokus ngurus anak. Lalai dengan suami.


Kalau sudah seperti itu, rasanya aku dilema. Mau marah, nanti dia balik marah.


***


Aku pura-pura minta tolong Subandi. Kusuruh dia mencarikan aku tukang pijit.


"Bro, tolong carikan tukang pijit, aku lagi masuk angin, nih," kataku dengan serius lewat ponsel.


"Mau tukang pijit cowok atau cewek boleh, Bro. Tolongin," kataku lagi.


Hira langsung nyolot marah saat mendengar aku minta tolong Subandi carikan tukang pijit perempuan.


"Apa. Tukang pijit cewek. Maksud kamu apa coba Mas!" bentak Hira.


"Aku masuk angin, kamu nggak peduli. Jadi aku minta tolong orang tukang pijit. Kan bener nggak?!" tegasku.

__ADS_1


Teleponku kembali berdering. Subandi memberi info kalau tukang pijitnya ada dan bersedia dipanggil ke rumah.


"Ceweknya kira-kira umur berapa, Bro?" tanyaku, buat manas-manasin Hira.


Dia langsung merebut ponselku.


"Bro Subandi. Nggak usah dituruti Mas Budiman. Kalau pun ada tukang pijitnya, bilang aja nggak jadi. Karena Mas Budiman nggak mau kalau tukang pijitnya cewek. Tapi, kalau laki-laki, boleh datang ke rumah," kata Hira, emosi.


Aku langsung merebut ponsel yang ada di tangannya itu dan kembali menelepon Subandi.


"Bro. Cewek atau cowok, tukang pijitnya tolong antar ke rumah aku dong. Aku butuh soalnya, Bro. Aku nggak tahan nih, masuk angin," jelasku serius. Subandi langsung bilang oke.


***


Tak lama, Subandi datang, bersama tukang pijit perempuan, yang aku pesan. Spontan, melihat kedatangan Subandi dan tukang pijit, Hira masuk kamar lalu membanting pintunya.


Jadi nggak enak aku sama Subandi. Semoga dia paham, kalau Hira cuma cemburu.


"Maaf ya Mas, Pak Jono libur. Katanya dia ada keperluan dengan keluarganya. Jadi, aku terpaksa minta tolong mbak ini," jelas Subandi.


***


Hira benar-benar marah saat aku selesai pijit dengan mbak-mbak itu. Padahal, waktu pijit, ada Subandi.


Lagian, untuk apa Hira cemburu. Seharusnya dia peduli sama aku saat aku mengeluh masuk angin.


"Aku bingung ya. Aku ngeluh masuk angin, kamu diam aja. Aku panggil tukang pijit, kamu marah sama aku," keluhku, protes.


"Kalau memang kamu nggak peduli lagi sama aku, ya nggak apa-apa. Aku paham. Kamu sibuk ngurus anak. Jadi, mulai sekarang, urus diri masing-masing aja gimana?" kataku.


Aneh. Dia malah nangis. Kata dia, mengurus anak nggak gampang.


"Ini, untung aku masih cuti. Nanti kalau sudah masuk sekolah, ngajar, kita harus punya uang untuk menitipkan Sora di tempat penitipan anak. Jadi, mulai sekarang, tolong pikirkan dengan baik, masalah ini!" kata Hira.


"Iya aku paham. Tapi, aku hanya minta sedikit saja perhatian kamu buat aku. Aku ini suami kamu. Bukan teman kamu. Jadi ingat itu. Istri yang nggak melayani suami, itu dosa besar," kataku bernegosiasi sama Hira.


"Dimana sih rasa empatimu. Aku berangkat ke sekolah nggak pernah sarapan. Pulang sekolah, lihat makanan di meja, nggak ada. Terus aku harus gimana. Mau beli makanan di luar, jujur kalau setiap hari, aku nggak sanggup. Berapalah gajiku. Buat makan di luar sering-sering, itu rasanya nggak mungkin. Karena aku memikirkan beli susu buat Sora." kataku mulai pelan.


Hira hanya diam mendengar aku panjang lebar bicara.(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2