Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Ulang Tahun yang Terabaikan


__ADS_3

Sudah jam 01.00 wib, Hira nggak ada ngucapin selamat ulang tahun sama aku. Padahal, Hira juga belum tidur. Dia masih asik sendiri dengan ponselnya. Sementara Sora, sudah tertidur sejak jam 22.00 wib. Nggak seperti biasanya. Tapi ya sudahlah. Mau diapain lagi. Mungkin, sudah nggak penting lagi mengingat ulang tahunku.


Biasanya, setiap ulang tahunku, dia selalu memberikan aku kejutan yang tak aku duga. Beli cake ulang tahun atau ngajak makan di rumah makan terenak.


''Kamu nggak ingat ya ini ulang tahunku,'' kataku to the point aja sama Hira.


''Ingat,'' jawabnya singkat.


''Emang kenapa?'' tanya dia ketus.


''Nggak kenapa-kenapa sih,'' jawabku datar.


Tapi, tak lama aku langsung ngeloyor menuju ke kamar. Aku nggak mau berdebat sama dia tengah malam buta begini.


Dia juga ikutan ke kamar.


''Maksud kamu, pengen dirayakan?'' tanyanya sinis.


''Kan udah tua. Ngapain dirayakan,'' cetusnya lagi.


Aku hanya bisa diam, mendengar dia ngoceh tak tentu arah. Kata-kata dia menyakitkan, malam ini.


''Sudahlah, kalau memang kamu nggak ada greget buat mengingat ulang tahunku, ya nggak apa. Bener kata kamu, aku sudah tua dan sebentar lagi mati,'' kataku dengan hati yang nelongso.


''Apaan sih ngomongnya!'' kata dia protes.


Tapi, setelah itu aku tidur dan nggak merespon dia lagi, karena sudah terlanjur sedih mendapat perlakuan seperti itu dari istri.


Mungkin bener kata Hira, aku ini sudah tua. Nggak penting lagi dirayakan.


***


Paginya, aku buka ponsel. Beberapa teman dekat mengucapkan selamat ulang tahun ke ponselku. Ya Allah terimakasih atas anugerah terindah, hari ini ulang tahunku yang sederhana.


Aku senyum-senyum sendiri membaca kiriman chat teman-teman.


Hira sewot melihat aku senyum-senyum sendiri di depan ponselku.


''Chat sama siapa. Senyum-senyum,'' katanya sewot.


''Sama oranglah. Nggak mungkin sama monyet,'' jawabku seenaknya.

__ADS_1


Tak lama dia mendekati aku dan berusaha merebut ponsel di tanganku. Aku langsung emosi, karena merasa diawasi sama dia. Dia aja ngucapin ulang tahun sama aku, nggak mau. Tapi, terlalu mau tahu urusan laki-laki. Aku paling benci dengan istri seperti itu.


''Kenapa kamu kepoin aku. Kamu aja sekedar ngucapin ulang tahun sama aku, kamu nggak sudi. Jadi, kamu nggak usah ikut campur urusan aku!'' kataku penuh emosi.


''Oh gitu! Oke. Mulai sekarang kamu juga nggak usah urusi aku!'' bentaknya.


Karena tak ingin terjadi perang dunia ketiga, aku memilih menjauh dari dia dan tidur di depan tv.


Ya Allah beri aku kesabaran. Karena aku hanya ingin hidup tentram, meski sebanarnya kami sering bertengkar untuk hal-hal yang tak penting.


***


Paginya, dia berusaha baikin aku. Dia nawarin makan yang enak-enak. Dia minta maaf karena sudah melupakan hari ulang tahunku. Tapi, aku sudah terlanjur sakit hati rasanya diperlakukan tidak semestinya sama istri. Padahal aku nggak minta lebih. Hanya ucapan selamat ulang tahun pun, nggak aku dapatkan.


Bukan aku berharap lebih. Ya cuma sekedar ucapan ulang tahun. Dia sengaja lupa.


''Mas, makan di restoran Mbah Darmo yuk, aku yang traktir.'' katanya membujukku.


''Nggak. Terimakasih. Makan aja kamu sendiri. Nggak usah ajak-ajak aku lagi. Kalau bisa nggak usah urus-urus aku lagi,'' kataku dengan nada penuh emosi.


''Jangan begitu Mas, maafin aku. Aku sengaja nggak kasih apa-apa sama kamu karena aku nggak tahu mau kasih surprise apa,'' jelasnya panjang lebar.


''Iya nggak apa. Sebentar lagi ak mati kok. Kamu nggak perlu repot-repot harus memberi aku kejutan. Aku sudah tua,'' kataku.


''Udah aku maafkan. Kamu nggak salah. Semua kata-katamu kemarin benar. Oke!'' kataku mengakhiri perdebatan pagi itu.


Sora keluar dari kamarnya dan menghambur ke aku. Dia merengek minta susu botolnya. Aku pun langsung bergegas ke dapur mencuci botol minumannya lalu aku buatkan indomilk kesukaannya.


''Ayah,'' katanya memanggilku.


''Nanti beliin KFC ya,'' katanya meminta ke aku.


''Lho....suka KFC toh,'' tanyaku.


Dia pun mengangguk.


''Oke, nanti sore kita ke KFC ya, makan KFC ya,'' janjiku pada Sora. Sekali lagi dia mengangguk.


''Wah, anak bunda suka KFC toh,'' celetuk Hira.


''Aku hanya mau pergi sama Hira. Nggak usah kamu temani,'' kataku memberi peringatan ke Hira.

__ADS_1


Hira hanya diam dan berlalu meninggalkan aku dan Sora di meja makan, berdua.


Kulihat mata dia berkaca-kaca. Dalam hati, rasain pembalasan aku. Pasti lebih menyakitkan. Sebenarnya aku nggak mau berbuat jahat sama Hira. Tapi, dia selalu mencari gara-gara. Apa salahnya memberikan aku ucapan saja, di hari ulang tahunku. Bukan sok-sok jadi ABG. Tapi, aku juga butuh perhatian dari orang terkasih.


Ya Allah, perdebatan demi perdebatan dari hal-hal sepele, selalu aku alami. Apa ini sebuah tanda-tanda bahwa aku sudah nggak cocok lagi sama Hira?


Semoga pikiran burukku ini nggak akan jadi kenyataan. Aku mau rumah tanggaku, baik-baik saja, sampai maut memisahkan. Karena, aku memang sudah memantapkan hati, memilih Hira jadi pendampingku.


***


Saat aku bersiap hendak pergi ke KFC bareng Sora, tiba-tiba kulihat Hira menangis sesenggukan. Dia meminta maaf padaku untuk kesekian kalinya.


''Mas, maafin aku ya.'' katanya padaku, sambil menangis sesenggukan.


Aku hanya diam menanggapi permintaan maafnya.


''Kenapa sih dia selalu menyakiti aku. Padahal aku sayang banget sama dia. Tapi dia tak membalas cintaku dengan sepenuh hati.'' kataku bicara sendiri dalam hati.


Semua karena ulah dia. Andai dia nggak memperlakukan aku dengan seenaknya, aku nggak bersikap seperti ini. Tak kusangka, dia langsung memelukku dari belakang. Untung Sora tak melihatnya. Hira menangis lebih kuat lagi. Dia berharap aku memaafkanya.


''Mas, izinkan aku ikut ke KFC ya.'' pintanya.


''Nggak, aku nggak pengen pergi sama kamu. Aku cuma pengen pergi sama Sora. Karena dia yang harus kubahagiakan. Bukan kamu,'' kataku sinis.


''Mas, aku ikutan ya. Aku lapar. Seharian aku belum makan. Mau nunggu traktiran KFC dari kamu,'' katanya memelas.


Sekali lagi, aku masih diam, belum memberikan izin dia ikutan ke KFC bareng Sora.


''Sumpah demi Allah aku lapar Mas, aku belum makan dari pagi,'' katanya lagi meyakinkan aku.


''Ya....Mas,'' katanya merengek lagi persis seperti anak kecil yang minta dibelikan es krim.


''Aku nggak punya uang kalau mau traktir kamu. Boleh ikutan . Tapi, kamu nanti bayar sendiri.'' kataku terpaksa.


''Makasih ya Mas,'' sahutnya.


''Bunda ikutan kan, ya Ayah,'' tanya Sora dengan polosnya.


''Iya, sayang, bunda ikutan. Kita bertiga maem ayam goreng KFC,'' kata Hira dengan pedenya. Padahal, aku mengizinkan dia ikutan, karena terpaksa.


''Ingat. Bayar sendiri!'' ulangku mengingatkan Hira.

__ADS_1


''Iya Mas, aku ingat. Bayar sendiri,'' jawabnya dengan cengar-cengir.


Akhirnya pergi bertiga naik mobil. Rencananya awal tadi, aku sama Sora cuma mau pakai motor aja.(bersambung)


__ADS_2