Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
ATM Disita


__ADS_3

"Mas aku mau beli kebutuhan bulanan. Antarin ke swalayan dong," kata Hira.


"Oke. Yuk. Belanja," kataku.


Kami pun boncengan dengan motor, menuju swalayan.


Di parkiran, Hira tiba-tiba minta ATMku.


"Mas sini ATM nya, aku yang pegang ya. Biar aku enak, nggak pakai ribet, kalau pas mau belanja," katanya. Pernyataan dia membuatku syok.


"Matilah aku, kalau atm aku disita dia. Gimana aku mau hidup?" keluhku dalam hati.


Tak bisa berkata-kata. Akhirnya aku serahin ke dia, atmnya.


"Makasih sayang," katanya.


"Aku tunggu di parkiran gimana?" kataku dengan nada lemah.


Dia pun tak menolak. Terus melangkah ke dalam meninggalkan aku.


Sejam aku menunggu dia belanja. Sudahlah, yang penting dia bahagia. Cuma aku masih syok soal atm yang diminta dia. Semoga nanti sampai di rumah dibalikin.


Isinya nggak tanggung-tanggung di dalam atm itu, ada 15 juta, hasil aku menabung selama ini.


Sampai rumah, dia menyerahkan struk belanjaannya. Menunjukkan ke aku secara rinci, apa yang sudah dibeli dia.


"Aman Mas kebutuhan selama sebulan, aku kan dah belanja banyak," katanya.


"Habis berapa tadi?" tanyaku iseng.


"Satu jutaan," sebutnya.


"Oo oke," kataku.


Dalam hati, aku kecewa. Ternyata orangnya boros banget. Padahal, selama ini aku nggak pernah belanja sebanyak itu.


Tadi aja, aku hampir bingung gimana bawa belanjaannya. Tapi, aku diam aja, takut jadi masalah kalau komen-komen yang macem-macem.


***


Esoknya, aku berusaha minta atmnya. Ragu, tapi tetap harus aku minta karena aku mau atm itu aman di tanganku.


"Tenang aja Mas, aku bawa atmnya aman, kok," katanya.


"Tapi, aku besok mau bayar angsuran motor," kataku beralasan.


"Iya besok aku ambilin ya uangnya di ATM. Berapa bayar angsurannya? tanyanya.


"Satu juta," sebutku.


Duh gimana ini. ATM disita dia. Aku nggak bisa berkutik.

__ADS_1


Harus cari cara nih, supaya ATM itu balik ke aku lagi.


Akhirnya aku punya cara, uang di rekening atm itu aku alihkan ke rekening lain, tanpa sepengetahuan Hira.


Berhasil. Aku jadi punya atm rekening lain. Uang di atm yang disita Hira, aku sisakan hanya dua juta.


Tapi, lama-lama dia tahu soal ini. Aku hanya bisa diam, tak memberikan penjelasan apa pun.


"Ya nanti kalau kurang uangnya bilang ya," kataku padanya.


Dia sewot dan pasang wajah memberengut. Ah biarin aja. Masa aku harus takut sama dia.


***


"Bro, apa kabar," tanyaku pada Subandi lewat pesan chat.


"Baik, Mas Bro," jawab dia.


"Bro mau minta tolong nih!"


"Iya apa Mas Bro?" jawab Subandi.


"Aku boleh nggak nitip atm sama kamu?" kataku to the point.


"Ha?! Titip atm?!" tanya dia heran sembari membubuhkan emoticon orang ketawa.


"Lah kenapa nggak titip sama Hira Mas Bro," katanya memberi saran.


"Ketemuan yuk sekarang. Tapi jemput aku. Nanti aku ceritakan masalahnya," desakku.


"Oke tunggu sebentar ya Mas Bro, aku ke rumah Mas Bro," katanya tanpa menolak permintaanku.


Dalam waktu setengah jam, Subandi tiba di rumah aku, dan langsung aku ajak dia jalan ke kedai kopi.


Ya kedai kopi langganan aku, dan dia. Kedai Kopi Sahabat. Di sana, aku ceritakan panjang lebar soal tragedi penyitaan atmku tadi.


Dia awalnya tertawa. Katanya, senasib sama dia. Kata Subandi, awalnya dia tersiksa. Tapi, lama-lama dia ikhlas dan terima dengan lapang dada.


"Awalnya aku mau protes. Tapi, lama-lama aku terima aja saat atm diminta dia. Terus, aku cari cara, buka rekening lain lagi. Jadi, separuh uang yang ada di atm istri aku tadi, aku tarik. Nah, atm itu aku rahasiakan keberadaannya. Aku bilang aja nggak ada pakai atm untuk rekening yang baru itu," sebut Subandi.


"Terus, dia protes nggak, setelah tahu isi atm itu berkurang?" tanyaku penasaran.


"Iya sih dia protes tapi, aku bilang aja mau aku kasih ke orang tua aku karena lagi butuh uang," jelas Subandi.


"Iya sih kamu enak Bro, masih punya orang tua, bisa buat alasan," jawabku lemah.


Subandi garuk-garuk kepala karena tak bisa berkata-kata lagi.


"Tapi Bro tolongin ya atm aku ini pegang aja. Nanti kalau aku butuh apa-apa, aku hubungi kamu," kataku.


"Hmm. Serius nih harus sama aku. Emang Mas Bro nggak khawatir aku pegang?" tanya dia balik.

__ADS_1


"Ya kan pin nya sama aku. Kamu kan cuma pegang atm nya aja. Plis ya....Bro, bantu aku," kataku memelas.


"Aku nggak nyangka Bro, kalau dia bakal sita atm aku." ceritaku.


"Ya yang banyak sabar aja Mas Bro. Biar dunia aman terkendali," pesan Subandi, menasehati aku.


"Kenapa ya nasib aku jadi kayak gini, masa iya baru sebulan nikah sudah kayak gini," keluhku.


"Sabar, Mas Bro, hidup ini memang penuh tantangan, jangan pernah nyerah ya Mas Bro," ujarnya lagi.


Kuperhatikan, Subandi bernasib sama kayak aku. Semua dikuasai istri. Tapi, dia berusaha happy dan bawa santai.


Aku juga mau belajar seperti dia. Bawa happy persoalan hidup yang kita hadapi. Dia hebat, sudah 5 tahun berumah tangga, tapi masih rukun-rukun aja meski semuanya dikuasai istri.


"Apa semua perempuan atau istri itu rata-rata jadi penguasa di rumah tangga ya, Bro," kataku lemah.


"Hehehhe. Nggak tahu juga aku Mas Bro," jawabnya santai, dan lagi-lagi dia garuk-garuk kepala. Ciri khas Subandi yang tak pernah bisa hilang dari dirinya.


"Nasib ya Bro, kita," kataku penuh sesal.


"Sabar, Mas Bro," katanya lagi sambil menepuk pundakku.


***


Insiden itu sudah aku duga. Hira marah saat tahu uang dalam atmku yang disitanya itu berkurang.


"Kenapa sih Mas kamu pindahin uangmu diam-diam ke rekening lain. Terus kamu sisain uangnya di atm cuma dua juta. Maksudnya apa coba?!" katanya penuh emosi.


"Iya, ak depositokan uangnya. Biar nggak habis," kataku.


"Jadi, kamu khawatir uangnya bakal aku habisin?" tanya Hira lagi, masih emosi.


"Bukan begitu, sayang. Uangnya aku depositokan," kataku menjelaskan untuk kesekian kalinya.


"Aku mau minta uang lagi nih. HP aku jadul soalnya. Jadi aku mau beli yang baru. Soalnya kan isi atmnya cuma kamu tinggalin dua juta," sebutnya.


"Sabar sayang ya. Kan HP nya masih bisa dipakai. Nanti ya kalau ada uang yang lebih, baru beli HP yang baru. Kita harus berhemat, sayang," kataku berusaha membujuknya.


"Nggak mau, pokoknya tambahin uangnya aku mau beli yang baru," kata Hira, masih ngotot.


"Duh gusti pangeran, beri hamba kesabaran yang berlipat-lipat, buat menghadapi istri hamba," gumamku dengan rasa sedih.


"Oh iya Mas. Gaji kamu ditransfer lewat rekening mana?" tanya Hira.


"Lewat rekening yang atmnya sama kamu itulah sayang," jelasku.


"Beneran? Berarti awal bulan ini gajimu masuk ke atm itu kan?" tanyanya butuh kepastian dari aku.


"Iya, sayang, bener." kataku berusaha mendekatinya dan memeluknya. Aku selalu berharap, perempuan yang ada di hadapanku ini, suatu hari nanti bisa lembut tutur katanya padaku.


Sekali lagi, aku nggak menyesal berjodoh dengan Hira. Hanya saja, aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan Hira.(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2