
"Sumpah, tadi aku nggak menyangka kalau lukisan itu ternyata sudah jadi," sebut Hira heran.
"Maksudnya?" tanya Subandi, bingung.
"Iya. Foto yang aku kasih kemarin, ternyata tadi sudah dibuat lukisannya. Kan kata Mas Bro, dia bilang banyak order. Jadi nggak bisa dikerjain cepat," jelas Hira.
"Eh! Tadi pas aku numpang pipis ke kamar mandinya, tiba-tiba ada lukisan tumbang. Jadi, aku pun berusaha menegakkannya lagi ke tembok. Tapi, aku, kaget aja lihat lukisannya. Lukisan yang tumbng itu, kok wajahnya mirip foto aku yang ada di facebook. Berarti, dia diam-diam ngelukis wajahku, dengan cara lihat foto di Facebookku," jelas Hira, panjang lebar lagi.
"Hahahhahahaha," spontan Subandi tertawa lepas, setelah mendengar penjelasan Hira.
"Bener...bener deh, ketahuan dia ya!" sebut Subandi setelah menyelesaikan gelak tawanya itu.
"Maksudnya?!" tanya Hira yang gantian bingung mencerna kalimat Subandi.
"Dia ada hati sama kamu, Non!" seloroh Subandi.
"Hahhhhhh!? Ada hati?! Hahahahahaha" celetuk Hira heran, sambil melepas tawa.
"Buktinya, dia diam-diam menyelesaikan lukisan wajahmu, Non!" ujar Subandi, meyakinkan.
"Padahal, kemarin dia menolak. Terus, pura-pura bilang lagi sibuk. Nggak bisa cepet. Terus dia bilang biayanya mahal, untuk lukisan wajah. Wah. Kena prank dah, kamu, Non!" jelas Subandi lagi.
Dilihatnya wajah Hira memerah. Sepertinya dia menahan malu.
"Sudahlah, kalian jadian saja, kenapa. Aku jamin, kalau kalian jadian, pasti bahagia. Kawan aku yang satu itu nggak bakal neko-neko. Percaya, deh sama aku ," kata Subandi meyakinkan.
Tapi, di sisi lain, Hira tak ada respon sama sekali. Malahan dia asik memainkan ponselnya. Berlagak sok sibuk sendiri.
Melihat itu, Subandi pun tak melanjutkan bicara.
"Sudah malam nih, kita pulang yuk," ajak Subandi.
"Eh ada keperluan lain lagi ya?" tanya Hira.
"Iya, janjian sama orang rumah, mau makan malam di luar." sebut Subandi. Lalu, dia membayar makanan dan mimuman yang mereka order tadi, di kasir.
"Hmmmm. Bilang aja mai pacaran kan, kalian," celetuk Hira.
"Heheheheh." Subandi cuma cengir-cengir sambil garuk-garuk kepalanya.
"Yo wis aku juga penat. Belum pulang ke rumah, dari pagi," ujar Hira, sembari bangkit dari tempat duduknya. Mereka pun pulang dengan tujuan masing-masing.
***
Kudengar suara pintu ruang tamu, diketuk seseorang berkali-kali.
__ADS_1
*Dug dug dug....!*
Duh siapa lagi, malam-malam bertamu!
"Mas Bro!" teriak seseorang.
Meski belum kubuka pintunya, aku tahu. Itu suara si kunyuk Subandi. Ngapain dia balik lagi ke rumahku.
"Mas Bro!" teriaknya lagi sambil gedor-gedor pintunya.
"Iya. Tunggu. Bro!" sahutku.
Subandi bukan pulang ke rumahnya malah balik lagi ke rumahku.
"Mas Bro. Tadi itu aku kan ngobrol sama Hira. Katanya dia mau undang kita makan malam besok," sebut Subandi.
(Sebenarnya bukan itu yang ingin disampaikan Subandi. Dia ragu karena khawatir Budiman marah).
"Lihat besok deh," kataku.
"Kalau kamu jemput, aku mau sih datang. Kalau nggak dijemput, aku nggak mau datang," kataku lagi.
Tanpa berpikir panjang, Subandi langsung mengiyakan apa permintaanku tadi.
***
Ponselku bergetar. Tanda ada pesan masuk ke whatsapp aku.
Lagi-lagi pesan dari cewek tengil itu.
"Mas. Itu lukisannya kan sudah jadi, apa aku ambil besok pagi, boleh nggak? Atau, siang aku pulang ngajar." kata cewek tengil si Hira itu mengirim pesan lewat chat whatsapp aku.
"Sial. Dia tahu. Hahahahahah," kataku bicara sendiri.
Aku sengaja hanya baca pesan dia, tanpa membalasnya. Aku ingin tahu reaksi dia seperti apa.
Dia chat lagi. Malah bahas yang lain. Kata dia, minta diajari melukis. Kalau pun bayar, dia juga mau. Aku sih hanya ketawa saja membaca pesannya.
Dalam hati, pasti dia tahu aku juga ngajar melukis untuk anak-anak. Makanya dia minta diajari.
"Maaf saya cuma ngasih les privat untuk anak-anak. Kalau untuk orang dewasa, saya belum buka penerimaan," jelasku, membalas chat dia.
"Nggak apalah Mas, aku belajarnya bareng anak-anak kecil," balasnya lagi.
"Hmmm. Gimana ya," aku pura-pura ragu.
__ADS_1
Tapi, aslinya aku mau saja ngasih les privat, gratis. Nggak bayar. Eh. Nggaklah. Nanti dia GR. Dikiranya aku suka sama dia. Hahahahahahah!
Sementara, ini aku harus bertahan. Harus jaga imej. Biar dia berjuang gimana caranya dapat perhatian dari aku.
Nanti, kalau aku main terima-terima begitu saja, selain GR. Dia bisa besar kepala.
"Boleh kan Mas ya. Kapan jadwalnya. Nanti aku datang ke rumah Mas," tanya dia lagi, seolah meminta persetujuan dari aku.
"Ihh. Maksa." celetukku dalam hati.
"Ping. Boleh ya. Mas. Nanti aku bawa in makanan. Mas suka makanan apa?!" dia mendesakku.
Hahahahaahh! Cewek tengil ini luar biasa. Dia suka maksa.
"Maaf, nggak bisa, Mbak. Saya cuma ngajari anak-anak SD. Lah Mbak Hira kan sudah jadi guru. Segan saya mau ngajarin guru," kataku lagi padanya.
"Oalah Mas. Nggak apa. Aku memang ingin sekali belajar melukis sejak kecil. Tapi, nggak ada yang ngajarin. Jadi, ya gimana. Jadi, waktu aku tahu Mas jago ngelukis. Makanya saya senang. Minta diajari," jawab Hira seperti orang patah semangat.
"Hmmmm. Cewek tengil ini ternyata jago merayu." gumamku.
"Gimana ya, saya nggak bisa Mbak, nggak ada tempatnya juga, kalau mau belajar melukis di tempat saya. Rumah saya kan sempit," jelasku panjang lebar membalas chatnya.
***
Aku minta pendapat Subandi. Eh malahan Subandi kunyuk itu mendukung Hira.
"Aku setuju kalau dia belajar melukis di tempat Mas Bro. Berarti dia itu suka sama Mas Bro," kata Subandi sambil cengir-cengir.
"Kamu ini, mendukung aku sama cewek tengil itu ya. Ih ogah ah!" kataku menolak.
"Ya sudah, kalau begitu, suruh dia datang aja Mas Bro, pas ada jadwal anak-anak les privat lukisnya," kata Subandi sok memberi saran.
"Kamu yang jadi gurunya kalau dia datang ke rumah aku," kataku asal bicara.
"Terus, dia rela lho katanya mau bawain aku makanan apa yang aku sukai. Hahahahahahah. Dasar cewek tengil dia ya. Udah gitu dia maksa-maksa aku, supaya aku mau menerima dia jadi muridku. Kan tengil nggak kalau kayak gitu," jelasku..
"Hahahahhaa. Sudahlah Mas Bro. Kasian dia, kalau terus Mas Bro tolak. Terimalah jadi muridmu, biar dia juga jago ngelukis," kata Subandi lagi, terus merayuku.
"Eits. Nanti kalau sudah jadian, kan enak Mas Bro. Bisa ngajar melukis bareng-bareng," celetuk Subandi langsung membekap mulutnya sendiri.
"Maksud kamu apa nih!" kataku sok-sok nggak paham.
"Iya aku doain Mas Bro sama Hira, bisa jadian. Kan aku dan Ratna, enak. Bisa cepet-cepet makan nasi gratis." imbuh Subandi terus membual, hingga membuat aku ngebayangin, naik pelaminan.
"Eh kok jadi aku berkhayal naik pelaminan sama Hira sih. Wah otakku ini nggak beres," gumamku lagi.(bersambung)
__ADS_1