Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Mancing


__ADS_3

Lama kupandangi langit-langit kamarku. Cicak-cicak berkejaran. Entah apa yang mereka perebutkan. Kutahu, mereka sepertinya sedang aktif berinteraksi.


Entah kenapa, tiba-tiba pingin mancing. Mancing itu, asik. Melatih kesabaran. Bayangin saja, udah ngasih umpan udang, kalau nggak ditakdirkan dapat ikan, ya sampai berhari-hari, nggak bakalan dapat.


Ingat cerita Subandi, kata dia, waktu itu gaji dan tunjangan honorer nggak keluar-keluar sampai tiga bulan.


Jadinya, hari-hari tiap malam dia mancing di daerah yang katanya banyak ikannya. Tapi, suatu malam dia nggak dapat sama sekali, sampai hari ke-2.


Akhirnya, dia ngutang ikan di kedai orang China. Untung orangnya baik hati. Utang ikan sampai seminggu, dikasih.


"Oalah, Subandi.....Subandi. Nasib kamu emang lagi mujur. Coba aja waktu itu orang Chinanya pelit. Terus mau dikasih makan apa, orang rumahnya," gumamku, sembari mengingat-ingat cerita Subandi waktu itu.


Lagi pula, aku mau minjemin uang ke Subandi juga nggak ada uang. Jadinya, aku cuma jadi pendengar setia, saat dia cerita.


Jujur, aku sebenarnya pingin banget membantu memberikan pinjaman, andai aku punya uang. Tetapi, aku sendiri juga nggak berdaya. Sama nasib kita ya Subandi, waktu itu.


Sekarang, apa aku mancing saja, biar pengeluaran bisa kuhemat. Apalagi, tiga bulan lagi, Hira lahiran anak kami. Mau pinjam kemana kalau nggak nabung sendiri mulai sekarang.


Lumayan, ada waktu tiga bulan lagi. Insya Allah nanti waktu tiba lahiran, aku nggak bingung lagi soal biaya persalinannya.


Ya sudah. Aku coba ajak Subandi. Soalnya dia juga hobby mancing. Jadi, biar ada teman kalau mancing.


Mancing sendirian, pasti bakal membosankan. Kalau ada teman, pasti betah di pemancingan.


***


Aku coba hubungi Subandi lewat chat whatsapp.


Wah! Langsung oke, katanya. Mantap nih. Semangat! Semangat!


"Oke. Mas Bro. Besok kita berangkat jam 23.00 wib aja gimana?" kata Subandi langsung mau, saat aku ajak.


"Kan besok Minggu. Jadi, kita malam minggunya di jembatan Dompak aja. Disana banyak orang mancing," kata Subandi meyakinkan aku.


"O iya." kataku penuh semangat.


Karena nggak puas ngomong lewat chat. Akhirnya aku telepon dia.

__ADS_1


"Iya apa. Mas Bro." katanya saat menjawab panggilan ponselku.


"Tumben nih, ada apa gerangan, kok tiba-tiba ngajak mancing?" tanyanya penasaran.


"Biasa Bro. Lagi nggak punya uang. Jadi kalau mancing. Lumayan. Dapat ikan. Terus bisa dibuat lauk," jawabku santai dan to the point pada Subandi.


"Oalah. Kan kalian berdua sudah jadi pegawai, Mas Bro. Masa iya nggak punya uang," celetuk Subandi masih lewat ponsel.


"Hahaha!" kataku melepas tawa.


"Pegawai apaan. Pegawai dari Hongkong? Kalau Hira, emang sudah diangkat jadi pegawai. Nah aku, masih honor. Kamu ini ngejek aku ya," jawabku panjang lebar.


"Hmmmm sabar Mas Bro. Mungkin belum saatnya jadi pegawai. Rejekinya Mas Bro masih jadi honorer. Aku aja, lima tahun mengabdi jadi honorer. Baru setelah tertatih-tatih jalannya. Aku diangkat jadi pegawai. Lumayan berat perjuangan aku," kata Subandi gantian cerita panjang lebar.


"Padahal, aku juga sudah lima tahun mengabdi. Mana sebentar lagi anak aku lahir. Aku masih begini-begini aja. Tak lama lagi, aku bakal jadi bapak. Entahlah, gimana nasib aku selanjutnya setelah anak aku lahir. Penghasilan nggak tambah. Pengeluaran bakal banyak." keluhku.


"Yo sabar toh Mas Bro. Ada anak, ada rejeki. Nggak mungkin dong gusti Allah menyengsarakan kita. Gusti Allah bakal ngasih rejeki sama Mas Bro, kata Subandi menghiburku.


Spontan, aku mengaminkan apa yang dikatakan Subandi. Aku lega, setidaknya aku sudah curhat sama Subandi, biar beban di kepalaku ringan.


"Ya udah nanti jam 23.00 wib jemput aku. Sekarang aku mau tidur dulu. Kan lumayan. Sejam dua jam, bisa refresh otak," kataku pada Subandi dan akhirnya kita pisah.


***


Setengah jam lagi, Subandi menjemput aku. Aku tunggulah. Aku siap-siap. Menyiapkan beberapa alat pancing dan umpanku.


"Sudah lama, tak kupakai alat-alat pancingku ini. Tapi, masih bagus dan terjaga. Soalnya aku masukkan ke dalam tas khusus. Alhamdulillah lama nggak dipakai, sekarang dipakai lagi. Bismillah semoga mancingnya beruntung malam ini," gumamku penuh semangat.


Suara motor Subandi. Dia sudah nongol di rumah. Tepat jam 23.00 wib.


Buru-buru aku keluar ke teras, menyambut kedatangannya.


Kulihat, dia juga sudah menyandang alat pancingnya, di punggung.


"Mantap tas pancingnya," kataku tiba-tiba nyeletuk.


"Ini sudah lama, Mas Bro. Sudah sebulanan nggak aku pakai. Soalnya kadang mau mancing, nggak ada kawan. Terus aku juga jarang dapat ikan yang gede. Palingan ikan sebesar besar kelingking. Kan males, Mas Bro," cerita Subandi.

__ADS_1


"Hmmm ya udah sama aku. Tiap Sabtu/Minggu yuk, kita mancing. Aku juga lagi nyari teman mancing. Kalau sendiri, pasti males bawaannya," kataku lagi.


"Hahahahahahah. Bukannya Mas Bro lebih suka menyendiri?"


"Kalau lagi mancing, di tempat gelap. Sendirian. Nggak ah. Serem." kataku.


"Hahahahahah.....!" Subandi tertawa lepas.


Jam dua belas tengah malam, kami tiba di Pelabuhan Tanjungmoco. Kata Subandi, di pelabuhan ini banyak orang mancing dan ikannya gede-gede.


"Busyet. Tahu disini tempat mancing favorit orang-orang. Aku kesini tiap hari. Kenapa baru kasih tahu sekarang toh Bro. Kalau ada tempat mancing asik kayak begini," kataku protes pada Subandi.


"Iya aku kira sejak sudah nikah, Mas Bro nggak suka mancing. Lagi pula, aku mau ngajak Mas Bro, segan. Takut lagi sama orang rumah," sahut Subandi.


Kebayang, nanti malam dapat ikan gede-gede sebesar lengan tanganku. Kan lumayan. Bisa untuk persediaan lauk selama seminggu.


Nanti, kalau ada persediaan ikan di kulkas, aku bakal rajin masak. Masak-masak sendiri. Makan-makan sendiri. Istri biarkan aja di rumah ibunya. Hahahahha!


"Mas Bro, Hira kapan lahiran?" tanya Subandi.


"Bro! Bro! Berat Bro! Ada yang nyangkut nihhhh!" pekikku.


"Pasti aku dapat gedeeeee!" kataku meyakinkan.


Benar. Saat pancingnya berusaha aku angkat ke permukaan, ada ikannya. "Ikan selar." kata Subandi.


"Aku juga dapatttt nih Mas Bro," kata Subandi kegirangan.


"Wah kita sampai pagi aja disini. Biar dapat sebakul. Bisa buat persediaan lauk seminggu." sebutku.


"Hmm. Aku oke aja sih Mas Bro mau diajak sampai pagi," sahutnya.


Dalam hati, kalau kayak begini. Aku mau mancing tiap hari. Aku berharap dengan hasil mancing ini, pendapatan bulanan aku dari gaji, bisa kuhemat.


Semoga, waktu Hira lahiran nanti, aku bisa membiayainya. Belum lagi nanti beli baju bayi. Pasti aku harus mengelurkan banyak uang.


"Ya Allah, beri aku rejeki, menjelang anak aku lahir," doaku dalam hati.

__ADS_1


Tiba-tiba Subandi bilang lapar. Katanya dia belum makan. Aku juga sebenarnya lapar. Aku langsung punya ide aku bakar aja ikannya disana. Digado pasti enak.


"Wah ide bagus," kata Subandi. Akhirnya kami bakar ikan disana, sampai menunggu pagi.(bersambung)


__ADS_2