
Semalaman aku nggak bisa tidur. Menunggu jam 09.00 wib. Debar jantungku semakin tak karuan. Seperti genderang perang yang ditabuh. Karena di jam itu aku harus mengucap ijab qabul di depan Pak Penghulu.
Hanya Subandi, dan beberapa tetangga, mengiringi aku pergi menuju rumah pengantin perempuan.
Tak masalah bagiku. Aku hanya berharap, acara pernikahan berjalan lancar.
"Mas, mobil antik kodoknya sudah di depan. Ayo kita berangkat. Tapi, masih jam 08.00 wib. Gimana?" tanya Subandi.
"Tapi, nggak apa. Jalannya santai aja, biar sampai sana nggak terlalu lama menunggu jam 09.00 wib." kataku pada Subandi.
Jantungku benar-benar tak bisa diajak kompromi. Semakin aku membayangkan mengucap ijab qabul, semakin tak karuan rasanya perasaanku.
"Bro, ntar santai ya bawa mobilnya," pesanku mewanti-wanti pada Subandi lagi.
"Iya, Mas Bro. Tenang aja. Sesuai perintah nanti jalannya 40 km/ jam," jelas Subandi serius.
Aku naik mobil lawas bentuk kodok, dan beberapa
***
Di tengah perjalanan, jok mobil kodok yang aku duduki berasap. Kebetulan, aku duduk di jok belakang.
Subandi pun menghentikan mobilnya. Makin lama, asapnya semakin mengepul tebal.
Aku panik. Tapi, berusaha tenang. Ada apa ini. Kenapa mobilnya berasap. Pikiran aku sudah aneh-aneh.
"Mungkin, karena mobil tua Mas Bro. Jadi nggak bisa jalan jauh kayaknya," kata Subandi menenangkan aku.
"Kemarin kenapa nggak dicek dulu, mesinnya," protesku.
"Aku nggak tahu sih Mas Bro. Kata pemiliknya, aman. Makanya dia pinjamkan mobilnya ke kita," jelas Subandi yang juga tampak panik. Dia sepertinya juga merasa bersalah.
Kulirik jam tanganku sudah pukul 08.30 wib. Akhirnya aku putuskan untuk naik mobil yang rombongan tetangga.
Kutinggalkan mobil berasap itu. Perasaanku tak enak. Entah kenapa jok mobil yang aku duduki itu tiba-tiba berasap.
Semoga saja tak ada firasat buruk setelahnya. Mulutku tak berhenti mengucap istigfar. Memohon ampun, dan dijauhkan dari balak.
Tadi malam aku memang gelisah. Tak bisa terpejam mata ini. Padahal, aku sudah mengalihkan konsentrasiku untuk melukis. Aku berharap, setelah lelah melukis, bakal ngantuk. Tapi, tetap saja tak mempan. Mataku masih terang benderang sampai pagi ini.
***
Sekitar jam 08.50 wib, aku tiba di rumah Hira. Kulihat tamu undangan di rumah Hira, cukup ramai.
Tapi, kebanyakan sepertinya bapak-bapak, serta ibu-ibu majelis taklim.
__ADS_1
Suara ibu-ibu marawis juga terdengar merdu, meramaikan acara pagi itu. Ya. Sebelum acara dimulai, pagi-pagi sekali ibu-ibu majelis taklim sudah tampil membawakan lagu-lagu Islami.
Setelah itu, mereka menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah. Tak lama, setelah itu, giliran acara aku, yang harus mengucap ijab qabul.
"Saya terima nikahnya Hira binti Syaifullah dengan mas kawin sebentuk cincin emas 24 karat, dengan berat 5 gram, dibayar tunai," kataku mantap.
"Sah....?"
"Sah....!" alhamdulillah!" pekik beberapa orang.
Setelah itu, tamu-tamu berdatangan. Mengucapkan selamat menempuh hidup baru.
Ucapan papan bunga juga berjajar, di sepanjang jalanan menuju rumah Hira. Apalagi, keluarga Hira dikenal keluarga terpandang di kampung itu.
Rasa gelisahku soal jok mobil berasap tadi, sudah berhasil kuhalau. Dalam hati, aku masih bersyukur. Acara pernikahanku diberi kelancaran. Karena, tak pikiran aku sudah macem-macem. Berprasangka yang negatif soal mobil itu. Ah sudahlah yang penting selamat.
***
Malamnya, aku masih tak tenang. Kuceritakan kembali insiden mobil jok berasap itu.
Hira terperangah. Dia kaget mendengar cerita itu.
"Memangnya nggak dicek dulu ya Mas sebelum dipinjamkan ke orang. Terus kenapa juga mobilnya dianter pas pagi mau acara. Seharusnya, pas malamnya, dianter ke rumah Mas," protes Hira panjang lebar.
"Iya sih. Tapi, nggak kepikiran. Tahunya Mas ya kondisi mobilnya oke. Apalagi itu mobilnya punya orang kaya. Pasti perawatannya oke." jawabku pede.
"Punya teman. Dia kan penyuka barang-barang antik. Motor antiknya juga banyak. Di rumah dia. Kapan-kapan ke sana yuk, sekalian kita ucapin terimakasih," sebutku.
Hira langsung protes. Dia bilang, seharusnya orang yang meminjamkan mobilnya itu, minta maaf sama Mas. Untung aja mobilnya waktu itu nggak terbakar, meledak atau sampai makan korban jiwa," imbuh Hira lagi, tanpa jeda.
"Ih apaan sih ngomongnya. Yanh pasti kan sekarang aku sudah selamat. Waktu jok mobil yang aku duduki itu berasap, aku langsung minta turun dan gabung sama mobil rombongan dari tetangga-tetangga yang antar Mas," jelasku juga panjang lebar.
"Rasanya, kalau aku tahu siapa pemiliknya, mau aku labrak saja orangnya. Karena dia hampir saja mencelakakan kamu." terang Hira dengan nada judes.
"Sudahlah sayang. Jangan dipikir lagi. Nanti kita nggak happy, malam ini." kataku berusaha menyudahi cerita soal jok mobil berasap itu.
Kata Hira, dia minta waktu beberapa malam ini, sementara tinggal di rumah ibunya.
Terpaksa aku bilang iya, demi memenuhi keinginannya itu.
"Terus, sampai kapan kita tinggal di rumah ibumu. Sehari, dua hari atau berapa hari ini? Kapan dong aku boleh minta peluk?" tanyaku sedikit manja.
"Hmm. Kan bisa kapan aja. Sekarang juga boleh," kata Hira.
Spontan aku langsung memeluknya. Tapi, dia berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
Kata dia, nanti saja kalau sudah pindah ke rumahku. Kalau di rumah Hira, katanya malu.
"Sttt. Nanti aja sayang kita pelukan di rumah Mas aja. Biar bebas. Disini nanti tiba-tiba dipanggil ibu disuruh apa-apa," kilah Hira.
"Emang anak kecil. Kan anak gadisnya udah nikah," kataku mencari pembenaran.
"Hahahaha. Iya juga sih. Tapi, tunggu ya besok aja pas di rumah kamu, Mas," kata Hira lagi masih ngotot nggak mau pelukan di rumahnya.
Padahal, kamar ini kan disetting untuk malam pertama aku sama Hira. Tapi, ya sudahlah kalau itu mau dia. Terpaksa harus sabar.
"Sabar sabar aja ya Budiman, istrimu belum mau dipeluk," celetuk aku ngomong sendiri.
Eh Hira, malah mentertawakan aku.
"Janji deh nanti di rumah sana, kamu boleh minta peluk seharian," katanya memberi janji surga padaku.
"Serius nih?!" tanyaku memastikan.
"Awas kalau bohong!" ancam aku.
"Hukumannya apa kalau ingkar janji?" tanyaku lagi, masih belum percaya apa kata Hira.
"Hmmm apa ya. Ya udah kalau aku ingkar janji, nanti aku traktir ayam KFC," katanya sembari cekikikan.
"Ah nggak mau kalau traktir!" kataku sewot.
"Jadi apa dong," tanyanya lagi.
"Pokoknya janji harus ditepati, titik!" desakku padanya.
"Baiklah Tuan Budiman," sahutnya.
"Eh boleh request nggak sekarang. Pingin nih," kataku.
"Pingin apa, sayang!" tanyanya lembut.
"Buatin aku kopi yang paling enak," pintaku.
"Oh itu mah gampang, sayang. Tinggal ke dapur, panasin air. Masukin gula sama kopi ke cangkir." sebut Hira, spontan dia beranjak dari tempat tidur menuju dapur.
"Eh kalau ada, kasih jahe dikit ya sayang," kataku lagi.
"Oke Tuan Budiman," kata Hira sambil menyentuh bibirku.
*Deg*
__ADS_1
Jantungku berdebar karena sentuhan kecil jemari Hira, di bibirku. Sebenarnya aku ingin memeluknya erat. Karena, sekarang dia sah, menjadi milikku seutuhnya.(bersambung)