
Hira sepertinya masih penasaran darimana aku punya uang untuk pulang kampung.
Dia masih terus bertanya padaku, soal tiket pp ku pulang kampung kemarin. kujelaskan sekali lagi, aku pulang kampung dibiayai sama Sintia adikku.
Dia tetap nggak percaya. Hingga akhirnya dia berhasil menemukan kertas slip setoran uang ke rekeningku.
Ya ampun. Kenapa bisa teledor sih aku. Sial! Ketahuan rahasia aku soal transferan uang pembagian harta warisan itu.
Terpaksa aku harus mengatakan yang sebenarnya soal uang itu.
"Jadi kamu anggap apa aku selama ini. Kamu dapat uang dari mana ini?" katanya sambil menunjukkan kertas slip setoran itu.
Sekali lagi aku masih berpikir ulang. Harus mulai dari mana untuk menjelaskan ke Hira. Aku putuskan untuk terus terang saja sama Hira.
"Aku dapat uang itu dari Sintia," jelasku.
"Kaya banget dia ya ngasih uang kamu sebanyak itu?" celetuknya dengan nada sewot.
"Kamu sebenarnya mau nanyak apa mau ngajak kelahi dengan aku?" kataku dengan nada emosi.
Soalnya, belum aku jelaskan dia sudah pasang nada emosi. Jadi, aku juga terbakar emosi melihat sikapnya yang seakan-akan memojokkan aku.
Sepertinya dia memposisikan aku ini, seakan-akan terdakwa kasus korupsi. Siapa coba yang nggak emosi dibuat seperti itu.
Aku nggak mau melanjutkan pembicaraan. Aku lebih memilih masuk kamar, tidur di siang bolong.
Untung saja aku nggak kerja hari ini. Work From Home. Kalau kerja. Pasti bawaanku, bad mood. Semua gara-gara Hira. Dia selalu saja cari masalah. Padahal aku sudah berusaha mengalah dalam segala hal.
Tapi, Hira nggak pernah berubah. Terkadang hal sepele, dia besar-besarkan dan suka memancing emosiku.
***
"Mas jelaskan uang dari mana yang ada di rekeningmu itu?" tanya Hira lagi, memancing emosiku.
__ADS_1
"Kamu bisa nggak, nggak usah ngurus soal itu lagi?" kataku mencoba membentaknya.
"Aku lagi butuh uang Mas, buat beli kebutuhan Sora." katanya padaku.
"Berapa? Beli apa?" tanyaku singkat dan to the point.
" Dua juta," sebutnya.
"Mau beli apa kamu sampai minta uang 2 juta?" tanyaku mulai tersulut emosi.
"Buat kebutuhan Sora!" jawabnya sinis.
"Dia butuh apa, anak masih bayi kayak gitu. Kamu jangan meras aku!" kataku lagi, berusaha membela diri.
"Kamu nggak percaya sama aku. Sora itu butuh banyak uang. Beli susu, beli pempes, beli bedak bayi, dan sabun, dan lainnya. Selama ini, kamu ngasih uang ke aku, pas-pasan. Mana cukup sebulan 2 juta!" jelasnya seakan-akan menyalahkan aku.
"Kamu ini nggak bersyukur ya. Punya suami ngasih uang 2 juta sebulan, itu bukan uang yang sedikit. Kalau aku kerja bangunan, belum tentu aku bisa ngasih uang kamu sebanyak itu," sebutku mulai emosi.
"Sialan. Baru ngasih uang segitu aja sudah sombong." kata Hira.
"Ya Allah Nak, maafkan Ayah. Kamu pasti terkejut ya Nak mendengar kami bertengkar," kataku dalam hati bicara sendiri.
Kudengar Hira berusaha menenangkan Sora. Alhamdulillah, pelan-pelan Sora terdiam. Pasti dia sudah tertidur lagi, setelah ibunya menenangkan dia dalam gendongan.
Sekali lagi, aku masih emosi mendengar umpatan-umpatan dari Hira tadi. Dia nggak lagi menghargai pemberianku. Seharusnya dia bersyukur. Apalagi di zaman seperti ini, semua sedang dalam kondisi terpuruk. Ekonomi ambruk. Mengapa Hira tak bisa bersyukur dengan rejeki yang ada.
Kudengar Sora kembali menangis. Kuyakin bocah tak berdosa itu sedih mendengar pertengkaranku dengan Hira. Memang dia masih bayi. Tapi, aku tahu dia sedih mendengar orang tuanya terus berkelahi. Mulai sekarang aku akan berusaha diam, saat Hira ingin berdebat denganku. Bukankah diam, lebih baik daripada harus berdebat. Berdebat, tidak akan ada habisnya.
***
Kucoba bersabar dengan sikap Hira yang mulai buat aku emosi. Kuambil alih Sora yang menangis dalam pelukan Hira. Kubelai kepala bocah mungil itu. Kunyanyikan lagu-lagu sholawat penyejuk hati.
Aku berharap, kelak Sora sudah dewasa nanti, akan jadi perempuan tangguh dan baik hati.
__ADS_1
Kulihat, lama-lama mata mungilnya terpejam mendengar lagu-lagu sholawatan yang aku nyanyikan.
Semangatku sekarang, cuma karena kehadiran Sora. Kalau pun aku selalu tak akur sama Hira, semua aku abaikan. Semua karena Sora. Malaikat kecil penyemangatku.
***
Kesabaranku benar-benar diuji. Pagi ini, aku mau berangkat ngajar ke sekolah. Tapi, di meja makan tak kulihat Hira menyediakan sarapan pagi.
Ditambah lagi, Hira masih menuntut uang Rp2 juta yang dia minta, segera kuserahkan padanya.
Tanpa basa-basi, emosiku langsung meledak. Kumaki dia dengan makian kata-kata kasar. Namun, dibalik semua itu aku ingin memberi dia pelajaran. Bagaimana cara menghargai suami. Karena dia selalu merendahkan aku, hanya karena uang bulanan yang aku beri ke dia, kurang banyak.
Jujur, sebagai honorer, aku harus menerima berapa pun gaji yang dari sekolah. Apalagi,di masa pandemi ini, pihak sekolah memberlakukan sistem kerja dengan work from home.
Nggak ada lagi kegiatan keluar kota, yang biasanya aku bisa dapat ceperan.
Terakhir, sebelum pandemi, masih aku ingat, setahun yang lalu, aku masih mendampingi Fera, siswa aku yang jago melukis.
"Kamu mikir nggak sih. Hari ini aku mau sarapan aja nggak ada yang aku makan. Terus kamu dengan santainya minta uang Rp2 juta ke aku. Kamu nggak ada otak ya," makiku ke Hira.
Dia menangis, tapi aku cuek saja. Hingga akhirnya dia minta maaf ke aku. Aku merasa dia selama ini kurang menghargai pemberianku.
Saat dia minta maaf, aku sengaja nggak meresponnya. Dia pikir hanya dengan minta maaf, aku bisa luluh? hahahahaha!
Nggak bisa. Maaf aku nggak bersedia untuk itu. Aku ingin melihat, apakah dengan dia minta maf, sikapnya ke aku akan berubah?
Percuma dong minta maf, besok dia dengan seenaknya dia, menyakiti hati aku lagi.
Beberapa hari ini, aku mencoba lebih banyak diam, dan bicara seperlunya saj. Aku ingin melihat reaksi Hira, seperti apa padaku.
***
Baru saja dia kemarin minta maaf sama aku. Tiga hari kemudian, sudah buat ulah. Apa nggak emosi. Katanya dia butuh uang buat refresing. Hahahahaha. Udah kayak orang kaya aja, butuh uang buat refresing?
__ADS_1
Kalau aku punya mesin pencetak uang, silakan dia minta apa aja aku bakal kasih. Inj, uang gaji honorerku aja nggak sampai Rp5 juta. Terus dia minta Rp2 juta katanya dengan alasan buat refresing. Ah, istri macem apa sih dia itu?!
Nyesel sumpah aku nyesel. Karena aku yang teledor. Kenapa bukti slip setoran uang Rp250 juta aku itu ketahuan dia. "Perempuan itu sama semua, mata duitan," kataku mengumpat dalam hati.(bersambung)