
Setiap orang punya masa lalu. Ya. Masa laluku adalah Sabrina.
Aku sudah melupakan perempuan itu, sejak hadirnya Hira dalam hidupku. Tapi, tiba-tiba Hira ingin tahu sedetail mungkin soal masa laluku bersama Sabrina.
Dia menemukan foto kenang-kenanganku sama Sabrina.
"Mas, kamu masih mencintai bidadari bangku abu-abumu itu ya," katanya to the point.
"Matilah aku. Dia pasti menemukan foto Sabrina yang disana aku tuliskan Bidadari Bangku Abu-abu." gumamku dalam hati, yang juga bercampur rasa panik.
"Duh! Rahasia terbongkar. Tamatlah riwayatku!" Pekikku dalam hati.
Aku masih diam terpaku, setelah mendapat pertanyaan itu.
"Jawab, kamu masih cinta sama dia?" tanya Hira lagi, mendesakku.
"Apa, sayang. Kok dari kemarin marah-marah melulu sih sama aku. Kayaknya istriku yang cantik ini minta dipeluk," kataku sembari mendekati dia dan berusaha memeluknya.
Tapi, dia masih pasang wajah memberengut. Kubelai rambutnya lalu kubisikkan, bahwa dia lah perempuan satu-satunya di hati aku.
"Sayang, kamu adalah cinta matiku, percayalah. Nggak mau lagi sama orang lain," kataku menggombal.
"Beli in aku gelang dong," katanya tiba-tiba.
"Hmmm. Dasar perempuan. Tapi nggak apalah biar dia senang. Setelah nikah seharusnya aku memanjakan dia. Mengajaknya shoping, beli emas atau apa saja yang buat dia bahagia," kataku, membatin.
"Tapi, ada syaratnya. Traktir aku mie ayam ya. Baru nanti beli perhiasan di toko emas langganan kita," kataku mengajukan syarat.
Hira setuju atas permintaanku tadi.
Kami pun makan mie ayam di warung langganan biasanya.
Tapi, lagi-lagi dia masih penasaran soal Sabrina. Dia terus mendesakku, supaya aku mau ngaku soal Sabrina.
"Jawab dong pertanyaan aku tadi," desak Hira terus menerus.
"Aku lapar nih sayang. Kita bahas nanti ya, maem dulu aku," pintaku, berusaha mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Akhirnya dia berhenti membahas itu. Dia makan lahap banget. Pasti dia lapar.
"Pak. Minta baksonya aja, sama kuah dikit ya," katanya pada Pak Man penjual mie ayam langganan aku itu.
"Wuih lapar apa doyan nih, sampai tambah bakso," kataku menggodanya.
"Lapar gara-gara kamu nih," katanya masih saja pasang wajah cemberut.
"Apa lagi sih sayang. Perempuan itu nggak penting lagi, sekarang. Dia itu udah aku anggap mati. Karena dia udah bikin aku sakit hati. Jujur, dulu aku mencintainya. Tapi, ternyata dia mengkhianati aku. Dia pergi sama laki-laki lain. Coba bayangin. Pacaran dari SMA sampai kuliah, terus dia berkhianat. Sakit nggak sih, andai kamu ada di posisi aku. Makanya aku paling nggak suka kalau dikhianati. Kata dia, temanan aja. Tapi, sampai dua kali aku jumpa dia sama laki-laki itu. Boncengan. Bayangin coba!" kataku dengan nada emosi.
"Gimana puas nggak penjelasan aku?! Jadi, tolong percaya sama aku. Aku nggak ada hati lagi sama dia. Lagian sudah berapa tahun, sayang. Udah belasan tahun aku nggak pernah tahu kabarnya, dan aku masa bodoh. Bagiku dia sudah mati," kataku lagi, meyakinkan Hira.
"Ya sudah. Maaf ya aku cuma penasaran. Soalnya, kamu kasih caption di foto dia, bidadari bangku abu-abu. Siapa yang nggak cemburu. Coba kamu jadi aku, pasti cemburu," kata Hira mencari pembelaan diri.
"Hmmm. Dimana dia bisa temukan foto itu. Perasaan aku simpan di tempat rahasia. Pasti dia sempat bongkar lemari aku, pas aku nggak tahu," gumamku.
Syukur, dia sepertinya percaya akan penjelasan aku. Jadinya, aku lega. Berharap dia nggak akan pernah mengungkit-ungkit nama Sabrina lagi.
"Satu lagi nih, pertanyaan aku. Soalnya aku belum puas seratus persen, Mas, penjelasanmu tadi," imbuh Hira.
Tadi aku sudah bahagia. Hmm. Ternyata ada lagi pertanyaan susulan.
"Kamu udah cium dia berapa kali selama pacaran!" tanyanya menohokku.
"Yah mana ingat, aku, sayang!" jawabku jujur.
"Berarti sering ya," dia bangkit lalu meninggalkan aku. Padahal, mie ayam dan baksonya belum habis.
"Oalah gusti, dia ini ternyata cemburuan toh. Sabar......sabar...punya istri kayak begini. Nyesek banget sih," gumamku.
"Eh tunggu sayang aku bayar mie ayamnya dulu, baru kita pergi," teriakku. Tapi dia sudah duluan kedatangan ojek, yang kebetulan lewat.
"Ojek! Antarkan saya ke km 19," kata Hira pada abang ojek itu.
Tanpa basa-basi, ojek itu pun membawa serta Hira, dalam boncengan.
Budiman. Sabar ya. Ini ujian pertama, di rumah tanggamu!
__ADS_1
Jadi menyesal menjawab pertanyaan tadi. Seharusnya aku berbohong saja. Biar dunia aman terkendali.
Yah nasi sudah menjadi bubur. Aku harus mencari cara nih, buat membujuk Hira.
Dia kan minta gelang. Aku harus cari gelang yang disukai dia. Menguras tabungan dikit, tak apalah. Yang penting suasana hati Hira bisa balik lagi kayak kemarin-kemarin, nggak curigaan bawaannya sama aku.
Aku juga heran, kenapa dia tanya-tanya soal Hira. Perempuan memang nggak mau kalah. Dia harus jadi yang nomor satu, di hati pujaannya.
***
Kujemput Hira di rumah orang tuanya. Tapi, dia menolak pulang. Katanya, selama aku nggak jawab pertanyaan dia dengan jujur, dia nggak akan pulang ke rumah aku.
Oalah Gusti. Ujiannya berat banget. Bukankah pengantin baru seharusnya ngerasain yang enak-enak. Eh ini ngerasain yang asem-asem. Salah apa aku ini ya Allah?!
*Sayang, aku udah beliin gelang emas yang kamu mau, 6 gram beratnya," kataku mencoba memulai memperbaiki suasana.
"EGP," jawab dia lewat chat whatsapp.
"Lho kan kemarin kamu minta. Jadi ya aku beliin. Katamu pingin punya gelang emas yang cakep," jelasku lagi sembari aku fotoin gelang emasnya, lalu aku forward ke dia.
"Pakai ya nanti sayang, pasti makin cantik kalau pakai gelang itu," kataku lagi.
Hira tak membalasnya tapi chatku dibaca dia.
"Sayang, aku lapar nih, nggak ada makanan di rumah. Gimana makan malam di luar yuk. Aku jemput kamu," kataku lagi mencoba merayunya.
Hmmm. Capek aku mencoba membujuknya tapi tak mempan. Ya sudahlah. Mungkin dia perlu waktu untuk menyendiri dan menjauh dari aku.
***
Sepekan sudah, Hira berada di rumah orang tuanya. Dia benar-benar marah padaku. Segala cara sudah aku coba. Tapi, dia tak peduli. Sepertinya, dia benar-benar cemburu pada Sabrina.
Padahal, sudah aku jelaskan ke dia kalau aku nggak butuh lagi sama Sabrina. Aku nggak cinta lagi sama Sabrina.
Di benak dan pikiranku, saat ini cuma ada satu nama, Hira.
Aku sudah berjanji dalam hati, Hira adalah bidadari, permaisuri di hatiku. Ya Allah, aku harus gimana lagi, untuk membuat Hira kembali ke rumah aku.
__ADS_1
Aku pasrah ya Allah. Tapi, jangan buat semuanya cepat berakhir. Sebab, aku baru saja menemukan belahan hatiku. Dialah perempuan satu-satunya yang bertahta di istana hatiku.(bersambung).