Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Minta Pembantu yang Tua


__ADS_3

Untuk kali kedua, Hira minta pembantu, katanya buat teman kalau pas waktu lahiran nanti. Karena nggak ada yang bantuin kerjaan rumah.


Tapi, aku masih berpikir panjang. Pembantu, harus digaji. Sedangkan pendapatan aku jadi guru honorer, tak seberapa. Kalau pakai uang Hira untuk bayar gaji, kayaknya nggak mungkin.


"Mas, cari pembantu dong, buat temanan aku nanti pas lahiran, " kata Hira pagi ini. Lagi-lagi aku tolak. Aku tetus terang saja bilang nggak sanggup mau gaji pembantu.


"Mau digaji pakai apa. Tunjangan honorer, mana ada. Apa pakai gaji kamu? Kalau pakai uang gaji kamu, aku oke oke aja. Silakan pakai pembantu! " kataku ceplas-ceplos aja.


"Nanti aku lahiran gimana dong. Sebulan lagi lahiran. Terus yang urus Sora siapa. Karena aku sibuk urus bayi kita yang baru lahir," kata dia tanpa jeda.


Spontan saja aku jawab, kalau urusan Sora, biar aku aja yang urus. Dia terdiam. Tapi sepertinya dia masih ngotot harus ada pembantu.


""Aku heran. Kenapa sih kamu bergaya seperti istri bos. Pakai pembantu segala. Kalau pakai pembantu itu, harus siap-siap uang lebih di tabungan. Terus satu lagi, uang lebih itu emang khusus buat budged bayar pembantu. Paham. Nggak sih kamu!" bentakku penuh emosi.


"Kalau begitu urus Sora. Kalau nggak mau ngasih aku pembantu. Terus, pekrrjaan runah, selama 3 bulan ke depan, kamu yang kerjain. Itu, sambil nunggu pemulihan kondisi fisik aku setelah lahiran. " jelas dia, nyerocos.


"Gila!" pikirku. Bisa mati berdiri kalau aku semua yang urus.


"Maksud kamu apa. Kamu jadikan aku pembantumu?!" tanyaku kesal.


Dia nggak jawab pertanyaanku. Malahan ngeloyor ke kamar.


Ya Allah, beri aku kesabaran berlapis-lapis. Sungguh aku pusing menghadapi tingkah istri yang aneh-aneh.


Astagfirullahalladzim, ampuni aku ya Allah. Andai aku boleh memilih, sebaiknya dianggak hamil dulu. Karena belum benar-benar siap untuk menerima kehadiran anak kedua.


***


Lagi lagi, aku nggak pengen kupendam sendiri. Kepada siapa lagi, kalau bukan bercerita pada Subandi. Karena, dia sahabat sekaligus kuanggap saudara, meski statusnya dia orang lain. Tapi, sikap dan perlakuan dia ke aku, benar-benar seperti saudara sendiri.


"Bro apa kabar? " sapaku lewat pesan whatsapp. Dia langsung balas chatku. Kuajak dia ketemuan di warung kopi. Kukatakan kalau aku pengen ngopi sama dia.

__ADS_1


Dia langsung oke, dan pengen tancap gas, menuju warung kopi langganan kami.


"Yuk Mas Bro, on the way sekarang ya aku kesana," kata Subandi penuh semangat membalas chat aku.


Tak lama, aku pun sampai di warung kopi langganan. Di sana, ramai banget. Padahal, sudah lama, aku jarang ke sini. Menyusul Subandi juga sampai di lokasi.


"Hai Mas Bro, apa kabar?" sapa Subandi dengan salam ala covid 19, yang mengepalkan tangan.


"Baik!" jawabku singkat.


Bersamaan dengan itu, seorang pelayan laki-laki muda, datang menghampiri dan meletakkan buku menu di atas meja.


"Pesan kopi tubruk, " kataku pada pelayan itu.


Ia mencatatnya dalam buku note kecil. Subandi, pesen teh es pakai lemon.


"Tumben nggak pesen kopi, " celetukku.


"Hahahahha iya Mas Bro," jawab Subandi.


"Ya ela. Bebas dong. Kita kan judulnya hari ini nyantai," kataku sambil mengeluarkan sebatang rokok.


"Sekarang ganti nih rokoknya. Rokok anak muda, " celetuk Subandi, seenaknya.


"Apa cerita nih Mas Bro. Lama tak bersua kita, " tanya Subandi sambil menunggu order minuman datang.


"Biasa. Lagi pusing nih, mau jadi calon bapak dua anak, " jelasku langsung.


"Wah. Aku siap-siap kado nih, " sahut Subandi.


"Hahahahahahah. Boleh boleh banget. " kataku sambil melepas tawa lebar.

__ADS_1


"Jangan pusing Mas Bro. Mas Bro harus bersyukur, dikasih titipan lagi sama yang diatas . Sedangkan aku.....? " tutur Subandi, dan kalimat dia berusaha aku potong.


"Ah sudahlah. Jangan diteruskan kalimatmu itu, " tepisku.


"Aku itu cuma pusing aja, kenapa Hira banyak tingkah saat lagi hamil." jelasku sambil menata emosiku. Hahahahahah!


"Banyak tingkah gimana nih Mas Bro, maksudnya? " tanya Subandi penuh selidik.


"Iya. Pusing aku dibuat dia. Pertama, dia sudah minta tiket mau pelesiran ke Bali, setelah lahiran, " sebutku.


"Wowwwww amazing ke Bali? " sahut Subandi.


"Kedua, dia ngidam beli cincin emas putih bentuk love. Ketiga, dia minta dicarikan pembantu untuk persiapan lahiran nanti," aku cerita ke Subandi, blak-blakan tanpa mlau-malu lagi. Karena, dia juga seperti itu, suka curhat soal pribadi atau rumah tangganya ke aku.


Kita memang harus punya sahabat atau teman akrab, untuk sekedar berbagi beban di kepala. Hehehehehe bukannya hendak melibatkan orang lain dalam kesusahan yang aku alami. Tapi, aku merasa plong dan beban di kepala ini hilang setelah curhat ke sahabat.


"Ya kalau emang Mas Bro nggak sanggup memenuhi keinginan Hira, ya jangan dipaksakan," kata Subandi memberi nasehat.


"Aku maunya begitu. Tapi, mengapa susah banget ya. Kalau aku tolak apa yang jadi keinginan Hira, pasti dia ngamuk dan kami perang dunia kelima. Ini artinya aku nggak berdaya mengatur keinginan istri, " jelasku masih panjang lebar.


"Apa kamu punya kenalan nggak, pembantu. Tapi, yang tua. Aku mau yang tua aja, pembantunya. Usianya ibu-ibu yang udah kepala lima. " tanyaku penuh harap.


"Nggak ada, Mas Bro kalau yang udah tua kepala lima usianya. Aku banyak kenalanan yang usianya kepala dua sama kepala tiga. Masih sexy-sexy dan menyenangkan Mas Bro, " goda Subandi.


"Hahahahah. Bisa jadi gencatan senjata nanti kalau aku turuti saranmu. Nanti Hira mengira itu istri kedua, " celetukku protes.


"Mas Bro sih aneh-aneh aja. Pembantu yang udah tua, hari gini susah, usia 45 aja juga susah." imbuh Subandi.


"Aku sih mau aja nyari pembantu usia muda begitu. Tapi, nanti kalau aku jatuh cinta sama dia, apalagi kalau dia cantik. Kan aku jadi susah. Ada dua perempuan sekaligus di rumahku, yang harus aku kasihi. Aku masih jadi pria normal nih. Hahahahahahahha! " lagi-lagi aku tertawa lepas.


"Oalah. Mas Bro ini nakal juga ya. Ada bakat terpendam punya dua istri rupanya." seloroh Subandi.

__ADS_1


"Husss. Kamu ini ngawur. Nanti dengr Hira, bisa gencatan sejata dari segala arah nanti. Darat udara. Bisa bisa aku dibumihanguskan dong sama Hira." kataku bercanda.


Hari ini, aku benar-benar plong, rasanya di hati. Bisa bercanda sama Subandi, meski masalahku sendiri segununng. Aku bersyukur punya teman sebaik, dan segokil Subandi. Aku cerita apa saja, dia berusaha jadi pendengar yang baik. Dia nggak pernah menyalahkan aku, meski aku cerita yang nggak bener ke dia. Subandi itu, best friend forever. .(bersambung)


__ADS_2