Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Cuek


__ADS_3

Tidak semua permintaan istri harus dituruti. Kalau pun dituruti, itu pun permintaan yang benar-benar mendesak kebutuhannya.


Hira ngomel terus sepanjang hari ini. Dia terus menanyakan ke aku, kapan terima gaji/ tunjangan.


Maklum, dari Januari, Februari, Maret, dan April itu, adalah bulan-bulan rawan para pegawai dan honorer. Gaji dan tunjangan, tak kunjung dapat.


"Sampai kapan kita hidup seperti ini. Coba buat usaha, seperti saudara-saudara kamu. Bukankah mereka ada usaha lain selain jadi pegawai dan mengandalkan gaji bulanan," kata Hira, terus mengoceh.


Aku diam saja saat dia mengatakan semua itu. Sebab, aku sendiri juga nggak tahu mau usaha apa. Modal juga nggak ada. Jadi, yang bisa aku lakukan hanya pasrah.


"Mas. Bukannya kemarin kamu suka mancing. Terus ikannya dijual ke kedai, atau dijual online ke teman-teman kamu?" katanya lagi.


"Iya." jawabku malas-malasan ngomong lagi sama dia. Karena, dia bisanya hanya menyalahkan aku terus, saat keadaan aku lagi terpuruk seperti ini. Sumpah! Lama-lama dia itu istri yang menyebalkan.


Kutelepon Subandi. Karena aku suntuk di rumah terus. Apalagi mendengar Hira terus mengomel sepanjang hari. Sepertinya dia akan terus mengomel, sebelum aku memberinya duit sekarung. Hahahaha! Dasar istri menyebalkan.


"Aku pergi dulu ada urusan!" sebutku langsung ngeloyor keluar rumah, meskipun dia sepertinya melarang aku pergi.


Dia diam saja! Baguslah!


Ketemuan sama Subandi, rasanya hati plong dan pikiran jernih. Karena, jauh dari suara-suara ocehan Hira yang semakin membuat aku sakit kepala.


"Mancing yuk!" kataku sama Subandi.


Lantaran hobby mancing, Subandi yang diajak mancingpun langsung kegirangan. Tanpa berpikir panjang, dia bilang oke-oke saja kalau diajak mancing.


"Malam kan, Bang Bro Mas!" celotehnya.


"Iya. Tapi, jemput aku ya!" pintaku padanya.


"Oke. Siap Bang Bro Mas!" jawabnya mantap.


"Tapi, siang ini kita nongkrong dulu yuk Mas Bro!" ajak Subandi padaku. Aku pun langsung mau saja dengan ajakannya itu.


"Di kedai kopi Titik Kumpul," sebut Subandi.


Aku setuju saja atas usulannya itu. Lagian, di Kedai Kopi Titik Kumpul, WiFi nya terjamin, kecepatannya super laju.


Tiba di kedai kopi Titik Kumpul.


Seperti biasa, aku pesan kopi tubruk secangkir. Begitu juga Subandi.

__ADS_1


Sembari menunggu pesanan kopi datang, Subandi iseng-iseng tanya kapan Hira melahirkan.


"Pusing, ah!" katanya.


"Pusing harus nyari duit banyak-banyak buat persiapan lahiran anak kedua! Enam bulan lagi, dia melahirkan. Sekarang baru jalan tiga bulanan, usia kandungannya," sebutku, curhat ke Subandi.


"Tenang Mas Bro. Banyak anak, banyak rejeki," sebutnya menghibur aku.


"Hahahaha. Apaan sih. Kalau gaji dan tunjangan keluar tiap bulan, nggak masalah. Nah ini....tunjangan zonk. Apa nggak puyeng aku. Istri selalu tanya terus, kapan tunjangan keluar!" masih kata aku, panjang lebar.


"Ya sama aja Mas Bro, aku juga sama. Orang rumah tanya terus. Mana mertua mau umroh. Pastinya aku harus nyumbang buat tambah-tambah biaya perjalanannya," jelas Subandi.


"Oalah. Kita ini diuji dengan ujian masing-masing. Kalau aku nggak kuat iman, sudah gantung diri, kali ya!'' celetukku.


"Hus. Sabar Mas Bro. Nggak boleh putus asa begitu. Banyak sabar."


Tak lama, orderan minuman secangkir kopiku dan Subandi, sudah tersuguhkan di meja, beserta nota tagihannya.


"Enam belas ribu, Pak!" sebut pelayan muda itu pada kami. Tapi, Subandi yang mengeluarkan dompetnya lebih dulu. Saat aku hendak mengeluarkan dompet aku juga, Subandi bilang, kali ini dia yang mentraktirnya.


"Aman, Mas Bro. Nanti kalau tunjangan keluar, aku minta traktir Mas Bro ya," katanya, dan aku pun memasukkan dompet aku ke saku celana belakang.


"Semoga murah rejeki, ya!" kataku mendoakan Subandi.


"Bisnis apa ya Bro, yang menjanjikan?" tanyaku mencoba melemparkan topik pembicaraan ke Subandi.


"Jualan Chip." jawab Subandi sembari terkekeh.


"Hahahaha. Boleh juga ide kamu. Nanti kalau bongkaran banyak, aku jual ke kamu ya!" selorohku.


Lagi-lagi Subandi terkekeh.


"Kemarin ada kawan, bongkaran sampai 100 B. Terus aku ditraktir makan sate kambing. Hahahaha!" cerita Subandi penuh semangat.


"Tapi, bicara bisnis, pasti butuh modal. Nah, sekarang ini, yang aku cari, bisnis tanpa modal!" sebutku serius.


"Jaga lilin!" kata Subandi.


"Maksud kamu, ngepet?! Hahahahah dasar gemblung!"


Jujur, belakangan, hanya dengan Subandi, aku bisa tertawa atau bergurau, dan ngebahas yang lucu-lucu. Padahal, seharusnya aku bisa menemukannya di Hira. Tapi, sekali lagi, Hira sudah nggak asik lagi. Dia cuma buat aku sakit kepala. Bisanya hanya menuntut.

__ADS_1


"Bro. Kalau orang rumah kamu nuntut duit terus, apa yang kamu lakukan?!" tanyaku, minta pendapat ke Subandi.


"Ya sabar aja Mas Bro. Perempuan memang begitu."


"Tapi, si sabar sudah mudik duluan. Dia curi start," kataku bergurau dan Subandi terlihat serius menanggapinya.


"Maksudnya gimana?!" tanya Subandi polos.


"Hahahaha. Jadi orang, polos banget!" celetukku.


"Sabar udah balik kampung. Sekarang yang masih tertinggal, emosi!" kataku berusaha memperjelas pernyataan aku tadi.


"Oalah Mas Bro ini. Kirain apaan tadi!"


"Bro. Kalau ada pekerjaan sampingan. Kabari ya. Jadi kuli bangunan juga nggak masalah. Pokoknya halal. Biar aku bisa nabung untuk persiapan Hira lahiran nanti."


"Siap. Mas Bro. Nanti aku kabari kalau ada. Tunggu aku tanya teman-teman aku, siapa tahu mereka punya info yang menawan hati!'' ucap Subandi berjanji padaku.


***


Malamnya, saat Hira dan Sora sudah tertidur, aku berusaha pergi. Tanpa pamit sama Hira. Soalnya, kalau pamit, pasti dia melarang aku. Alasannya, Sora nggak mau ditinggal. Padahal, yang nggak mau ditinggal itu, Hira. Perempuan memang aneh. Anak, dijadikan senjata, untuk meraih keinginannya.


Niatku, meski nggak pamit, aku mau memberitahu Hira lewat chat. Kalau lewat chat, Hira nggak bakal bisa melarang aku.


"Sori aku pergi mancing sama Subandi." kataku lewat chat.


Kutahu, jam 23.00 wib, Hira pasti sudah terlelap bareng Sora, di kamarnya.


Kulihat, masih centang dua warna abu. Sepertinya nggak mendengar kalau aku berkirim pesan ke chat ponselnya.


"Syukur, tenang. Dia pasti sudah terlelap di kamarnya," gumamku dalam hati, saat sudah lima belas menitan, chat aku belum dibaca Hira.


Kulihat, Subandi tenang saat mancing.


"Tadi, kamu pamit kan, sama orang rumah?"


"Iya dong Mas Bro. Bisa ngamuk nanti kalau aku nggak pamit saat keluar mancing. Besoknya pasti ngomel sepanjang jalan kenangan." celetuk Subandi.


"Hahahahahaha. Kok sama, kita. Kenapa pasangan kita cerewet ya." kataku menimpalinya.


"Cerewet, karena uang belanja dia, kurang Mas Bro!" sebut Subandi dan aku langsung merasa tersindir.

__ADS_1


"Tapi, emang lagi belum dapat tunjangan. Jadi, ya aku nggak bisa ngasih uang bulanan. Lagi pula, dia itu kan pegawai juga. Semestinya dia paham, seperti apa situasi terkini!" kataku lagi.


"Hmm....ya mau gimana lagi. Cerewet nggak cerewet ya kita terima saja, pasangan kita itu!" kata Subandi sok bijak.(bersambung).


__ADS_2