Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Sepakat Mancing


__ADS_3

Sudah sepekan ini, aku sama Subandi, kompak mancing bareng. Lumayan, hasilnya. Andai Hira tahu, pasti dia senang.


Kuposting foto-foto hasil mancing. Hira cuma ngasih like jempol. Hahahahah. Sudahlah. Mungkin dia lagi menikmati kebersamaannya sama keluarganya.


Jadi dia nggak ada memperhatikan aku. Kalau nggak salah, sudah sepekan, dia tidur di rumah ibunya.


Pagi nggak ada minta jemput ke sekolah. Apa dia ambil cuti ya. Malam juga nggak ada chat aku.


Penasaran. Aku kirim aja hasil masakan aku sama dia. Aku ingin tahu respon dia seperti apa.


Hira masih nggak tertarik merespon foto-foto hasil mancingku. Dia hanya mengirimkan satu kata. Kata dia, bagus!


Ya sudahlah kalau dia memang nggak mau respon lebih soal hobby mancingku.


Lagi pula, direspon atau nggak direspon, sama saja. Aku akan tetap hobby mancing. "Perkara istri, nggak suka. Biarkan saja." pikirku dalam hati.


Kulihat, isi kulkas penuh. Penuh dengan ikan, hasil mancing aku dengan Subandi. Hasil tangkapan ikan, dibagi dua.


Alhamdulillah, sepertinya aku nggak mengeluarkan uang untuk belanja lauk, selama sepekan ini.


"Bro. Ikanmu, dimasak apa? Aku mau masak asam pedas ini," kataku pada Subandi.


Kufoto bumbu asam pedasnya. Kukirim ke Subandi. Dia bilang," mantap, Chef Budiman ini."


Aku balas dengan emoticon orang tertawa. Dia juga balik mengirimkan emoticon orang tertawa.


"Bagusnya kita mancing lagi, Mas Bro. Hasilnya kita jual ke siapa gitu. Kita jualan online," kata Subandi memberi saran.


"Hahahaha. Ide brilliant. Tapi, dijual ke siapa. Bukannya setiap warung sudah punya langganan masing-masing?" kataku, sangsi.


"Iya juga sih. Tapi, apa salahnya kita coba aja Mas Bro. Siapa tahu kita bisa jadi toke ikan!" kata Subandi optimis.


"Hmmmm. Kamu yakin, bisa jalani bisnisnya? Kan kita ini masih berstatus sebagai pegawai. Eh nggak aku masih honor. Kalau kamu, iya. Sudah pegawai," selorohku.


"Hahahaha. Sama aja kita Mas Bro. Hidup masih pas-pasan. Jadi harus cari sampingan. Pegawai sekarang, udah nggak ada tunjangan lagi. Banyak dipangkas," keluh Subandi.


"Sama, Bro. Apalagi aku. Hidup dengan gaji dua juta. Anak mau lahir. Terus gimana coba nasib aku sebagai bapak. Tentu saja aku harus kerja keras cari sampingan. Kalau nggak cari sampingan, nanti anakku mau makan apa, coba. Dua juta, bayar rumah, bayar listrik, habis. Ngarep dari lukisan, kayaknya nggak bisa," kataku gantian ngeluh.


"Sama aja kita Mas Bro." kata Subandi lagi.


Hingga akhirnya aku dan Subandi rajin mancing. Hasilnya, iseng-iseng diposting, dijual lewat Forum Jual Beli, di Facebook.


***

__ADS_1


Penasaran, ingin tahu respon orang. Kuposting foto-foto hasil mancingnya. Aku coba jualan di Facebook.


#Ayo, bapak ibu, yang ingin menikmati ikan segar, bisa japri ke nomor saya. Ikan diantar sampai ke alamat. Ongkir jauh dekat, sepuluh ribu.


Luar biasa. Ternyata yang komen ibu-ibu dan ada juga mbak-mbaknya.


Pembeli yang kirim inbox ke FB aku.


Pembeli FB : "Sekilo berapa, Mas, ikan selarnya?"


Aku. : "Tiga puluh ribu, kak."


Pembeli FB : "Bisa antar ke alamat nggak ya Bang?"


Aku. : "Bisa kak. Alamatnya dimana ya?"


Pembeli FB : "Perum Satria 2, Blok H/24."


Aku. : "Oke kak, ditunggu ya. Kami on the way ke sana sekitar sepuluh menitan lagi ya."


Pembeli FB : "Oke Bang."


Dengan hati riang gembira, aku mengantar pesanan orang itu. Kutemukan alamatnya dan ikannya langsung dibayar.


"Terima orderan tiap hari ya Bang?" tanyanya.


Bingung. Aku nggak langsung jawab.


"Sore kak, kalau mau setiap hari. Tapi, kalau sabtu minggu, bisa jam berapa saja," jelasku.


"Oke.Bang. Aku minta nomor ponselnya. Kalau aku mau order, aku hubungi ya," katanya padaku.


Dengan senang hati, aku memberikan nomor ponselku. "Semoga dia jadi pelanggan tetapku." gumamku penuh harap.


"Oke. Mbak, saya pamit. Terimakasih ya," kataku lalu pergi menjauhi rumah gedongan itu.


***


Kuberitahu Hira. Bahwa aku sekarang punya bisnis jualan ikan segar. Tetapi, sekali lagi sepertinya dia nggak mendukung. Buktinya, dia biasa saja responnya.


"Baguslah. Kalau punya usaha," kata Hira dengan nada datar, saat kusampaikan lewat ponsel.


"Jadi, kapan pulang ke rumah, Hira?" tanyaku padanya.

__ADS_1


"Tunggu Mas kalau pingin pulang, aku kabari ya. Kan baru juga sepekan." katanya, memberi alasan.


"Eh iya, kamu cuti ya kok lama gitu liburnya?" tanyaku lagi penasaran.


"Iya, Mas. Dua minggu." sebutnya.


"Hmmm. Pantes nggak ada minta jemput. Aku pun diam aja, kalau nggak minta dijemput. Kupikir, kamu lagi senang, kumpul sama ibu dan keluarga," kataku panjang lebar.


"Tapi, Mas suka, kan kalau nggak jemput aku. Bisa bebas kelayapan kemana aja," katanya tiba-tiba memojokkan aku.


"Maksudnya apa?" tanyaku sedikit kesal.


"Nggak ada aku, buktinya Mas mancing. Terus sekarang jualan ikan. Pakai acara diantar segala, sampai ke alamat. Awas aja macem-macem. Kutonjok nanti," katanya setengah mengancam aku.


"Hahahahaha. Ini nih mulai negatif pikirannya. Aku itu, nyari buat tambahan. Nanti waktu kamu melahirkan anak kita, kita punya biaya, sayang," jelasku mencoba meyakinkan Hira.


"Hmmmm. Iya Mas. Terserah kamu aja," katanya.


"Tapi, ingat. Jangan genit-genit sama pembeli. Nanti dia suka sama kamu, gimana?!" katanya dengan nada cemburu.


"Ya ampun. Emang aku ada tampang laki-laki genit?" protesku.


Tak hanya Hira yang aku kasih info. Subandi juga aku ceritain.


Kubilang sama dia, kalau jualan ikan aku, laris.


Dia ikut senang. Katanya, dia juga mau coba jualan ikan segar. Tapi, bukan jualan online. Dia mau coba didrop ke warung-warung.


"Kalau aku, mau aku drop ke warung-warung Mas. Mau coba nawarin ke warung-warung sembako yang juga jualan sayur." sebut Subandi.


"Wah. Mantap kamu Bro. Semoga laris manis ya dan banyak warung yang mau dititipin." kataku memberi semangat.


"Iya Mas Bro. Makasih suntikan semangatnya. Kita harus punya usaha sekarang Mas Bro. Usaha apa aja yang penting menghasilkan," katanya menggebu-gebu.


Aku beruntung punya teman, yang semangat untuk hal-hal positif. Seperti halnya Subandi. Dia selalu mengajak aku pada hal-hal yang membangkitkan semangat hidup.


"Eh iya. Mancing kita yang kedua, tetap ya jadwalnya Sabtu Minggu. Kalau setiap malam mancing, kan nggak mungkin, Bro," kataku pada Subandi penuh semangat.


"Iya Mas Bro. Siap. Jadwal dinas kita di laut, Sabtu Minggu," kata Subandi terkekeh.


"Kita bawa bekal ya. Biar aku yang masak," kataku berjanji padanya.


"Weeee. Siap Mas Bro. Atur aja. Aku siap selalu." kata Subandi kegirangan.

__ADS_1


"Nanti, rasain ya masakan ikan asam pedasku. Pasti dijamin ketagihan dan makan kamu, banyak sebakul," kataku lagi sok-sok pamer.


Subandi kembali terkekeh mentertawakan aku.(bersambung)


__ADS_2