Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Bertengkar


__ADS_3

Bangun siang karena kelelahan. Terus lapar.


Kukecup kening perempuan yang sudah halal bagiku itu.


"Sayang. Bangun. Mandi sana," kataku.


"Hmmm." dia menggeliat manja.


"Ya sudah aku mandi dulu ya. Setelah ini kita maem bareng yuk di luar," kataku lalu bergegas menuju kamar mandi.


Tanpa sengaja, Hira memeriksa isi ponselku dan dia marah saat tahu nama dia di ponselnya aku namai Cewek Tengil.


*Brak!!*


Kudengar suara benda dibanting ke lantai. Mandinya aku percepat. Lalu, aku pun buru-buru keluar kamar mandi. Kulihat, dia membanting ponselku sampai berkecai berantakan di lantai kamar.


"Apa maksudnya kamu ngasih nama aku dengan sebutan cewek tengil!" katanya dengan suara meninggi dan matanya membelalak.


Aku berusaha setenang mungkin menghadapi situasi ini. Ya, ini pertengkaran aku perdana, dengan Hira, setelah menikah.


Padahal, baru dua hari ini bercumbu mesra dengan dia. Tapi, hari ini terjadi perang dunia keempat. Hahahahah!


Hancur HP aku. Terpaksa harus beli lagi yang baru.


Sementara dia masih terus emosi. Aku berusaha diam. Tak menimpali apa pun yang di katakan.


"Aku mau pulang ke rumah ibuku," katanya minta dianter ke rumahnya.


"Ya ampun sayang. Maafin aku dong. Masa karena masalah sepele gitu kamu mau tinggalin aku?" kataku dengan nada bicara tenang.


"Kamu tega ya ngasih nama aku dengan sebutan cewek tengil. Maksudnya apa. Rendah banget aku di mata kamu," katanya protes. Tapi, dia sudah merendahkan volume bicaranya.


"Maaf sayang. Nama itu pas baru-baru kenal sama kamu, waktu itu. Maaf aku lupa mengganti namanya. Aku tu mau nulis, cinta..Tapi, sumpah. Demi Allah aku lupa. Sebenarnya, nama cewek tengil itu, panggilan kesayangan buat kamu," kataku membujuk dan merayunya.


"Oh bagus ya nama aku," katanya tiba-tiba nyolot.


Ya ampun baru tiga hari tinggal sama dia. Ternyata dia garang juga. Tapi, ini resiko aku. Baru juga 6 bulan kenal, aku sudah percaya dia dan jatuh hati sama dia.


Astagfirullah. Aku protes dengan ketentuan dan takdir dari Allah. Apapun itu, aku harus siap menanggung resikonya. Karena, perempuan ini memang ditakdirkan menjadi jodohku.


"Aku mau pulang ke rumah aku aja. Antarkan aku," bentaknya lagi. Kulihat dia sudah membawa serta pakaiannya dalam koper.


"Sayang, dengarkan penjelasan aku. Maafin aku, aku nggak ada maksud apa-apa dengan memberi nama cewek tengil di ponselku.


Aku suka sama cewek itu, dan sekarang dia ada di hadapanku.

__ADS_1


Kugenggam tangannya. Lalu, aku dekatkan wajahku di wajahnya. Pelan-pelan, kusentuh bibirnya dengan bibirku.


Tapi, dia sedikit menarik dirinya menjauh dari aku.


Aku berusaha menarik tangannya, agar dia tak bisa menjauhi aku.


"Jangan tinggalkan aku sayang. Aku benar-benar minta maaf karena aku memang memberi nama itu, untuk panggilan sayang ke kamu," kataku dengan lirih.


Dia pun menjauh dariku. Lalu berlari ke kamar. Mengunci pintu kamarnya dari dalam.


"Bukain sayang, aku minta maaf. Jangan marah dong, sayang," pintaku terus memelas.


Kudengar, dia menangis terisak. Aku tak bisa berbuat banyak. Tapi, setidaknya ak lega, dia nggak ngotot minta dianter pulang ke rumah ibunya.


Ya harus sabar. Menghadapi istri. Aku, jadi suami, belum sebulan. Ini ujian perdana di rumah tangga aku.


Pelan-pelan, aku cek kamarnya. Kuputar gagang pintunya. Ternyata sudah dibuka dia. Akupun mendekati Hira dan berbaring di sampingnya.


Kulihat dia sudah terlelap dalam tidurnya. Kulirik jam dinding, sudah jam 01.00 wib.


Kupandangi langit-langit plafon kamar tidur. Malam ini aku merindukan dia lagi. Kubelai pipinya. Lalu, aku lingkarkan tanganku di perutnya.


Dia terbangun, dan kami pun bercinta lagi, untuk melawan dinginnya malam. Dia perempuan yang hangat tapi sedikit garang! Hahahahah!


***


Aku pun melucu di depannya. Menari ala India. Kulihat dia tersenyum tipis melihat tingkahku.


"Gitu dong senyum, cantik kalau banyak senyum," kataku mencoba merayunya.


"Apaan sih," kata Hira, pura-pura masih emosi.


Aku tetap berjoget ala india, dan sesekali mendekatinya, dengan bicara gaya-gaya India.


"Ih kayak bencong!" celetuknya. Tapi tak lama dia tertawa.


"Hahahah! Asli kayak bencong!" katanya lagi, membullyku.


"Ih masak kayak Sahruk Khan gini dibilang bencong?!" sahutku masih terus berjoged.


Terakhir, aku bergaya memeluk tubuhnya dari belakang. Dia diam saja awalnya. Tapi, lama-lama dia pasrah saat aku mulai ngasih kode ingin mengajaknya bercinta.


***


"Antar aku ke rumah ibuku," kata Hira. Aku langsung panik mendengar permintaannya.

__ADS_1


Kurayu lagi dia. Tapi, dia malah cengir-cengir mentertawakan raut wajahku yang dilihatnya panik.


"Tunggu apa lagi. Sekarang antar aku ke rumah ibuku," kata Hira nyolot.


Aku diam saja tak meladeni.


"Aku mau makan di rumah ibu. Aku rindu masakannya. Udah seminggu ini aku nggak maem masakannya," kata dia, santai.


Mendengar pernyataan dia, aku tak bisa menolak. Terpaksa aku harus mengantarkannya, demi mencicipi masakan ibunya.


"Ayolah. Lapar nih, jam makan siang. Cacing perut aku pada demo nih. Minta haknya, makan siang," sebut Hira merengek seperti anak kecil.


"Iya iya.....tuan putri. Tunggu aku mandi sebentar, biar ganteng," kataku minta izin.


Hira diam saja dan dia rela menunggu aku. Mandiku tak lama. Hanya 10 menit.


"Yuk, tuan putri. Hamba siap jadi abang ojek setia," kataku merayunya.


Dia berjalan mengekori aku, lalu naik ke boncengan motor aku.


"Awas jangan ngebut. Lagi isi nih," katanya cekikikan lagi.


Spontan aku membalikkan badan lalu minta penegasannya.


"Apa, isi. Cepet banget. Kan prosesnya baru 3 hari?!" tanyaku penasaran kayak orang begok.


"Hahahaha. Ia isi air putih tadi," jawab Hira, seenaknya.


"Hmmm. Nakal juga tuan putri ini," sentilku sembari mencubit pipinya.


Dia mengaduh kesakitan.


"Aowwww. Sakit tahu," katanya dan bersamaan dengan itu, dia balik mencubit pinggangku.


"Udah ayo jalan. Lapar nih," pinta Hira sekali lagi, sambil mencubit pinggangku untuk yang kedua kalinya.


"Iya. Iya. Abis tadi penasaran soal isi. Kirain isi beneran. Terus aku jadi ayah." kataku senang.


"Hmmm. Maunya cepet-cepet aja. Emang bikin kue donat, cuma butuh waktu satu jam?" kata Hira berkelakar.


"Pegangan ya tuan putri ayu, biar nggak jatuh," kataku.


Dalam hitungan setengah jam, aku dan Hira sampai di rumah ibunya. Ibunya bahahia menyambut kedatanganku dan anak gadisnya itu.


"Eh ibu tadi masak sayur lodeh kesukaan kamu, sama tempe goreng. Ayo, ajak suami kamu makan." kata ibunya.

__ADS_1


Hira pun langsung ngeloyor ke belakang sambil menarik tanganku. Sejujurnya perutku juga lapar. Apalagi di rumah tadi, Hira tak menyediakan apa pun untuk mengganjal perutku.


"Hmm. Nikmat banget sayur lodeh buatan ibu," kata Hira, dengan lahapnya, makan siang pakai sayur lodeh dan goreng tempe.(bersambung)


__ADS_2