Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi

Maaf, Kita Tak Sejalan Lagi
Undangan Makan Siang


__ADS_3

Senyum manis itu, masih lekat di ingatanku pagi ini. Hmmm.....Hira. Ya senyuman cewek tengil itu mulai merasuki otak dan pikiran aku.


Kulihat, malu-malu, dia mulai mencari cara untuk mendekati aku. Ah. Aku yang GR atau memang faktanya seperti itu ya.


Buktinya, banyak. Pertama dia minta ajarin melukis. Pakai maksa segala. Kedua, dia berani datang ke rumah aku. Ketiga, kemarin malam dia bawain aku buah dan roti.


"Budiman. Jangan GR dulu!" batinku.


Hahahaha! Ya jadi laki-laki jangan GR. Siapa tahu, dia cuma iseng-iseng, biar diajarin melukis.


Soalnya, dia ngebet banget pingin diajari melukis.


Subandi bilang, cewek tengil itu emang suka maksa, selama keinginannya nggak dituruti.


Tapi, nggak apalah. Berteman sama cewek tengil itu. Siapa tahu, dia memang jodohku. Hahahahaha.


Dasar aku. Sok jual mahal. Tapi, sebenarnya butuh. Ya sudahlah. Semua sudah ada yang ngatur. Gusti Allah. Aku hanya menjalani saja, apa yang jadi lakonku.


Andai berjodoh sama cewek tengil itu, ya mau gimana lagi.


Belum selesai mikirin cewek tengil itu. Tiba-tiba ponselku bergetar. Kulihat, siapa lagi kalau bukan dari cewek tengil itu. Hahahahaha.


Kuat banget magnet cewek tengil itu. Aku lagi mikirin dia, eh dia tiba-tiba chat.


"Hah!" kaget aku. Orang tuanya besok siang mengundang aku ke rumahnya, untuk makan siang.


Duh. Gimana ini. Aku harus minta pertolongan sama Subandi, nih. Nggak mungkin aku datang sendiri. Bisa-bisa aku keringetan kalau nanti diajak ngobrol sama orang tua Hira.


"Datang ya Mas, kumohon, demi orang tua aku," desak Hira lagi, lewat chat.


Aku sengaja belum balas chatnya. Karena aku harus minta persetujuan Subandi.


****


"Kamu ini lucu lho Mas Bro," celetuk Subandi.


"Yang diundang kamu, kenapa pakai ajak-ajak aku," imbuh Subandi terkekeh.


"Plisssss. Dong. Temani aku. Nanti aku bisa mati berdiri kalau ke rumah cewek tengil itu sendirian," pintaku, memohon.


"Gimana ya. Nanti Hira marah nggak Mas. Kan aku nggak diundang. Yang diundang itu kamu, Mas Bro," jelas Subandi lagi, meyakinkan aku.


Sekali lagi, aku memohon padanya. Hingga akhirnya Subandi tak bisa menolak. Kata dia, demi aku, dia rela menemaninya. Hahahhahah. Terimakasih, Subandi, sahabatku!


"Besok aku jemput setelah selesai salat jumat ya Mas Bro." katanya berjanji padaku.


"Terserah, Bro. Pokoknya jemput aku ya," kataku, ingin menegaskan.


"Sippppp. Komandan!" sahut Subandi.

__ADS_1


***


Sumpah. Entah kenapa, baru juga masuk halaman rumahnya, aku deg-degan. Gimana nanti ngomong sama orang tua Hira. Ah. Tapi. Ada Subandi. Biar saja orang tua Hira ngobrol banyak sama Subandi.


"Jangan grogi ya bos, ini kan yang kedua kalinya kita datang ke rumah Hira. Kalau yang pertama kemarin biasa-biasa saja. Ini yang kedua kalinya luar biasa. Undangan makan spesial!" kata Subandi setengah berbisik.


*Dug dug dug*


Tak lama. Pintu ruang tamu itu dibuka si empunya.


"Eh Nak Budiman. Nak Subandi. Masuk-masuk. Ayo langsung ke ruang makan. Makan siangnya sudah disediakan sama Hira. Lauknya spesial dimasak Hira sendiri." kata perempuan setengah baya itu, nyerocos sendiri.


Ya. Perempuan yang sudah banyak ubannya itu, tak lain adalah ibunya Hira. Dia menyambut kedatanganku dan Subandi, dengan ramah.


Aku langsung mengambil posisi duduk di dekat Subandi. Tak kulihat Hira di sana.


"Di mana tukang masaknya ya," pikirku.


"Hira!" teriak ibunya.


*Deg* Jantungku tak sengaja jadi berdebar tak karuan, mendengar nama cewek tengil itu dipanggil.


"Ini Nak Budiman sudah datang. Temani makan," perintah perempuan itu.


"Iya ibu, sebentar," jawab Hira, entah dia berada di ruang mana.


"Cepat sedikit toh. Daritadi nggak siap-siap mandinya," celetuk ibunya.


Tak lama, Hira muncul. Wangi sabun mandinya, sampai ke penciuman hidung aku.


"Wuih cakep banget dia. Wangi. Hahahahahha!" pujiku dalam hati saja.


Aku melirik sebentar ke arahnya, saat dia mengambil posisi duduk tepat di hadapan aku.


*Deg* debar jantungku semakin tak beraturan.


Kenapa jadi kayak gini ya. Ada yang berbeda disaat ini.


"Ayo. Kok bengong. Ambilin nasinya, Hira!" kata ibunya, memberi komando pada Hira. Sebab, dari tadi, tak ada yang menyentuh makanan di atas meja makan itu, sebelum Hira datang.


"Ayo dong Nak Budiman, Nak Subandi, ayo dimakan. Ini masakan Hira. Enak lho," puji ibunya hingga membuat Hira merah padam wajahnya menahan malu.


"Ih ibu, apaan sih. Tadi kan kita masaknya berdua," kata Hira malu-malu kucing.


"Rasain Nak, ya. Habisin kalau bisa. Ibu ke dapur dulu," kata perempuan itu langsung ngeloyor ke belakang.


"Lho. Kok ibu nggak ikut makan," sahut Subandi.


"Tenang, Nak ibu belakangan. Ibu buat kopi sama teh dulu, ya sebentar," jelasnya dari dapur.

__ADS_1


"Hmmmm," kataku setelah mencicipi salah satu lauk yang ada di meja makan itu.


"Kok, hmmm aja Mas Bro. Enak kan?" tanya Subandi minta pendapat aku.


"Asin sedikit," kataku.


Spontan. Hira melihatku. Dia melotot.


"Hah. Masak iya," Hira kaget.


"Sini. Nggak usah dimakan mas kalau asin. Maaf buru-buru tadi." kata Hira. Dia berdiri dan menarik sayur itu dari meja makan. Lalu dibawanya ke dapur.


Aku dan Subandi hanya cengir-cengir mentertawakan Hira yang terlihat panik, saat ketahuan masakannya asin banget.


"Mas Bro ini. Jadi malu dia," sebut Subandi, berbisik di telinga aku.


Untung Hira tak melihat adegan Subandi bisik-bisik ke aku. Kalau dia melihat, pasti dia tahu dan mengira, aku dan Subandi lagi ngomongin dia.


"Maaf ya." ulang Hira.


"Nggak apa. Meski asin, kata Mas Bro Budiman. Tetap enak kok, ya kan Mas Bro," kata Subandi sambil menyenggol aku, dengan sikut tangan kanannya.


"Iya. Enak kok meski asin. Orang mau dimakan, eh dibawa masuk ke dalam," imbuhku lagi.


"Ya udah. Tunggu aku ambil saja sayurnya, lagi." kata Hira. Dia bergegas ke dapur dan membawa sayur lodeh itu lagi, ke atas meja makan.


Diikuti ibunya, membawa kopi dan teh, empat gelas.


"Ini. Silakan. Pilih teh, atau kopi terserah," sebut ibunya Hira.


Aku, pilih kopi. Saat panas-panas itu aku sruput.


"Hmmm. Sedap." kataku sambil memejamkan mata.


"Nanti, lauknya yang nggak habis, dibungkus saja ya Hira, bawa in ke Nak Subandi dan Nak Budiman," perintah ibunya.


"Eh jangan buk, nanti Hira makan apa," tiba-tiba Hira protes.


"Gampang nanti ibu masak lagi. Bahan-bahan sayurnya banyak di kulkas," seru ibunya, membuat Hira tak membantah lagi.


Melihat itu, aku dan Subandi diam saja.


"Hmmm dia nggak ikhlas Bro ngasih kita," kataku ke chat whatsappnya.


"Hahahahah!" jawab Subandi juga lewat chat.


"Buk, nggak apa, kami juga masak, di rumah," tiba-tiba Subandi buka suara.


"Oalah Nak, sebanyak ini. Nanti mana dimakan sama Hira. Nih. Ibunya suruh makan. Dia kan sok-sok suka diet." jelas ibu Hira.

__ADS_1


Hira hanya diam, melihat ibunya panjang lebar bicara.(bersambung)


__ADS_2