
Aku pusing melihat rumah berantakan. Padahal, belum punya anak. Sementara Hira, sepertinya sudah nggak peduli dengan kondisi rumah.
Kulihat, dia lebih banyak menghabiskan waktu rebahan di tempat tidur. Pulang mengajar dari sekolah, jam 15.00 wib, sampai malam jam 20.00 wib tidur.
Bangun-bangun, lapar minta dibelikan makanan. Sejam setelah makan, dia rebahan lagi di kamar.
Pagi-pagi, aku sibuk sendiri. Menyiapkan sarapan pagi sendiri dan juga keperluan aku mengajar, kupersiapkan sendiri.
Dalam hati, selalu membatin. Kenapa jadi berantakan begini, rumah tanggaku.
Ya sejak 3 bulan terakhir, semuanya kukerjakan sendiri. Mau ngomel-ngomel, nanti aku takut Hira tersinggung.
Kumaklumi kondisi dia yang usia kandungannya mulai bertambah. Ya Allah, sembilan bulan aku harus menjalani kekacauan ini?
Mau gimana lagi. Mau atau nggak mau, sepertinya aku harus menerima takdirku saat ini.
"Mas, kalau mau sarapan, aku cuma masak nasi aja ya. Lauknya kamu goreng telor aja, kan gampang," kata Hira. Aku hanya mengiyakan aja apa kata Hira.
"Sabar, Budiman. Sabar ya.....Kang. Dia lagi hamil, Kang. Harus banyak sabar," kataku sendiri, membatin sambil mengurut dada.
Bisa ya, mengatakan itu tanpa beban. Padahal, sebagai istri, dia harus melayani aku.
Tapi, ya sudahlah aku memang harus mulai belajar menerima keadaan. Ternyata begini, menjelang jadi calon ayah. Pasti banyak cobaan lahir batin.
"Mas, nanti beli KFC dong. Lagi pingin nih," pinta Hira.
"Matilah. Sekarang kan tanggal tua," gumamku lagi, kesel. Dia nggak pengertian banget sih. Kenapa sekacau ini dia sekarang. Berubah 180 derajad. Padahal, waktu pacaran, dia nggak pernah minta aneh-aneh sama aku.
"Mas!" panggil Hira.
"Ya. Beli in KFC dong. Yang pingin, bukan aku. Tapi, anak kamu nih dalam kandungan aku," jelasnya, seolah memaksaku harus beli KFC.
"Masa sih. Tapi, dia maklumlah ya sama ayahnya. Ini kan tanggal tua. Beli KFC nya nanti tunggu gajian aja ya," kataku, mencoba bernegosiasi dengan Hira.
"Duh Mas, pinginnya sekarang. Bukan tunggu pas gajian. ini aja baru tanggal 25. Gajian kan tanggal 1. Keburu ngiler dong Mas, anak kita," protes Hira setelah mendengar penjelasanku.
"Tunggu pas gajian aja ya. Kalau aku beli sekarang, uang aku untuk beli bensin selama seminggu, gimana. Gajian masih lama, Hira. Paling tidak, sepekan lagi," jelasku masih bersikukuh menolak beli KFC.
"Ih kamu perhitungan banget ya mas. Masa KFC cuma lima puluh ribuan aja, kamu pelit banget sih, Mas. Perhitungan banget, kamu sama calon anak kita," kata Hira yang tiba-tiba nangis sesenggukan. Persis seperti bocah cilik yang kemauannya nggak dituruti sama orang tuanya.
Melihat itu, spontan langsung aku meralat pernyataanku tadi.
__ADS_1
"Ya udah...., udah jangan nangis. Aku beli KFC nya hari ini. Tunggu pulang dari sekolah ya." kataku berjanji pada Hira.
Hira spontan langsung menghentikan rengeknya. Lalu bilang terimakasih padaku.
Persis bocah. Dia kegirangan. Mungkin dia bener. Itu bawaan bayi dalam kandungannya.
"Sabar, ya Budiman. Lalui ujian-ujianmu dengan lapang dada. Insya Allah, akan ada rejeki tak terduga, meski istrimu sering minta makanan yang enak-enak," gumamku bicara dengan diri sendiri.
Ya Allah, rasanya aku tersiksa lahir batin, saat-saat sekarang ini.
***
Iseng telepon Subandi. Lama tak bersua dengan dia.
"Assallamuallaikum Pak Cik," kataku menyapa dia lewat ponsel.
"Pak Cik?" sahut Subandi heran.
"Namaku bukan Pak Cik. Mas Bro. Apalah, masa iya nama Subandi jadi Pak Cik," protes Subandi.
Spontan aku tertawa lepas atas respon Subandi itu.
"Hahahahahaha. Iya Pak Cik Bro!" celetukku.
"Hmm....boleh," kata Subandi.
"Dimana nih, posisi sekarang," tanyaku.
"Setengah jam lagi, kita ketemu di kafe Chika ya," sebut Subandi.
"Hmm. Nggak ada tempat lain?" celetukku.
Aku kurang suka di kafe itu. Karena, di sana mengingatkan aku pada Sabrina. Terakhir putus sama dia, di kafe Chika. Aku benci kafe itu.
"Oh oke. Gimana di kedai kopi Pak Dollah." ralat Subandi.
"Oke.Oke. Aku ke sana ya sekarang. Aku tunggu kamu di sana ya Bro. Kalau bisa, jangan lama-lama," pesanku padanya.
"Oke. Sippp!" sahutnya dan aku pun menutup percakapanku di ponsel.
Dengan kecepatan 80 meter per segi, aku melaju menuju kedai kopi Pak Dollah.
__ADS_1
Di kedai kopi ini, aku sering menghabiskan waktu berjam-jam, dari sore sampai malam, bareng Subandi.
***
Pak Dollah menyambut kedatanganku dengan wajah sumringah. Sepertinya dia bahagia banget aku berkunjung ke kedai kopinya.
Kata Pak Dollah, sejak pandemi, warung kopinya sepi. Pelanggan yang datang, seharian itu, bisa dihitung dengan jari.
"Seperti inilah, kedai kopi saya sekarang. Kursi yang disediakan di warung, nggak boleh banyak-banyak. Minimal 4 kursi dan dua meja." jelas Pak Dollah panjang lebar.
"Kemana aja toh Mas, tiga bulan ini, jarang kemari. Jadinya sepi sekarang ini," ulangnya lagi, masih berkeluh kesah.
"Saya sibuk di sekolah Pak. Apalagi, istri sedang hamil muda. Jadi saya lebih banyak stay di rumah," sebutku di hadapan Pak Dollah.
"Oalah. Mau jadi calon bapak, toh?!" celetuk Pak Dollah tiba-tiba.
"Selamat ya Mas, hebat yo. Sudah jadi calon bapak," kata Pak Dollah sembari menepuk- nepuk pundak kananku.
"Pusing tapi, Pak." celetukku.
"Lho....kenapa toh, kok pakai acara pusing segala," celetuk Pak Dollah.
"Biasa, Pak. Orang rumah suka minta yang aneh-aneh." sebutku jujur pada Pak Dollah.
Dia tertawa cekikikan mendengar jawabanku tadi. Kata dia, aku harus kuat menghadapi masa-masa yang tak terduga.
Katanya, memang bawaan orok, kalau istri hamil, suka minta aneh-aneh.
Aku sedikit tenang, setelah mendengar wejangan-wejangan Pak Dollah.
Sekali lagi, dia bilang, aku harus bisa jadi suami siaga, saat menghadapi kelahiran anak pertama.
"Jadi, ya sabar-sabar aja ya Mas kalau masa-masa menunggu kelahiran anak pertama. Biasanya mamaknya suka nyidam aneh-aneh," kata Pak Dollah lagi, seolah-olah menakut-nakuti aku.
"Terus Mas, lebih parahnya lagi. Mas harus siap-siap beresin rumah yang berantakan. Karena istri, bawaan suka mabuk. Kalau hamilnya sudah memasuki bulan ketiga." cerocos Pak Dollah tanpa jeda.
Sebenarnya, aku sudah mengalami semua yang dikatakan Pak Dollah. Mungkin, di awal-awal, aku masih syok. Belum terbiasa dengan keadaan istri yang malas-malasan. Bawaan dia, cuma rebahan di kamar. Aku bisa memaklumi itu.
Sepertinya, kondisi seperti yang kualami saat ini, juga dialami suami-suami lainnya. Oalah......semoga aku diberi kesabaran, supaya bisa menghadapi perubahan situasi yang sebelumnya sama sekali tak pernah aku duga.
Ya. Benar kata Pak Dollah, aku harus bisa menghadapi perubahan situasi, di saat istri hamil muda.
__ADS_1
"Intinya Mas, harus sabar dan berusaha jadi suami siaga. Insya Allah semua bakal baik-baik saja. Jadi, yang semangat ya Mas. Masa iya, calon bapak kok nggak semangat. Ayo semangat Mas." katanya menasehati aku.
"Kan gara-gara saya banyak omong, jadi lupa buat kopi pesanan Mas," katanya sembari bangkit dan ngeloyor ke ruang belakang.(bersambung)