
Sebelum nikah, aku paling berhemat dengan pengeluaran aku. Karena, di masa pandemi ini, kondisi lagi susah. Jarang ada penugasan pelatihan atau dinas luar (DL).
Padahal, sebelum pandemi, DL itu, harapan banyak pegawai. Termasuk aku, yang masih berstatus honorer. Dulu, kalau ada siswa ada yang dikirim untuk mewakili lomba melukis, aku pasti yang ditunjuk untuk mendampingu.
Itu dulu. Pokoknya, waktu itu aku bahagia luar biasa, kalau ditunjuk jadi guru pendamping, saat siswa lomba lukis. Ya begitulah. Dengan adanya DL, aku merasa bisa sekalian refresing, plus tentunya dapat uang saku. Heheheheh! Lumayan kan. Bisa untuk tambah-tambah isi dompet.
Ya itu dulu. Sekarang, kondisi dan situasi sangat berbeda. Berubah seratus delapan puluh derajad. Ngajar dari rumah, lewat aplikasi zoom. Begitu juga siswanya, belajar dari rumah masing-masing.
Kalau pun ada guru yang masuk sekolah, itu semua karena ada giliran piket. Jadi, masuk secara bergantian.
Jaga jarak, itu sudah jadi trend hidup saat ini. Guru-guru sudah banyak alih profesi dengan nyari usaha sampingan.
Mau apa lagi, coba. Jam ngajar berkurang. Banyak santai. Sementara tuntutan kebutuhan hidup terus berjalan. Suka atau tidak suka, guru pun harus mencari cara lain, supaya bisa bertahan hidup.
Menghadapi situasi terpuruk itulah, aku belajar mengencangkan ikat pinggang. Sebisa mungkin aku harus berhemat.
Parahnya, aku tak bisa berhemat setelah punya istri. Sebab, ada banyak pengeluaran lain yang tak aku duga-duga sebelumnya.
Biaya perawatan. Hahahahah! Sumpah aku kaget. Ternyata begini ya rasanya punya istri. Harus belajar ikhlas, ketika istri menuntut ini itu.
"Mas, aku mau ke Spa ya besok, tambahin dong uangnya," katanya, membuat aku terhenyak.
Kemarin dia sita atmku. Kedua, dia minta tambahan untuk beli HP model terbaru. Sekarang, dia minta ke Spa untuk perawatan. Ya Allah, berat ya, ternyata kalau jadi suami.
Jadinya, aku ingat kalau dulu sering ngetawain Subandi, yang suka galau pas waktunya gajian. Sebab, atm dipegang bininya.
Aku sering membullinya, dan mengatakan kalau dia cocok banget masuk grup ISTI (Ikatan Suami Takut Istri).
Mungkin, aku sekarang kena karmanya. Aku juga mendapat perlakuan yang menyedihkan, dari istri. Atm, disita. Nggak bisa bohong kalau lagi punya duit. Harus jadi suami siaga, siap dimintain uang sama istri. Berapapun jumlahnya. Kalau nggak ngasih, siap-siap bakal terjadi perang dunia ke tujuh. Hahahahah!
"Mas!" katanya lagi.
"Besok aku ke Spa ya, mau creambath, luluran dan sejenisnya." jelas Hira lagi menjelaskan ulang apa yang jadi permintaan dia.
"Eh iya iya nggak apa silahkan, aku malah senang. Biar kamu cantik sayang," kataku berusaha menutupi emosiku.
__ADS_1
"Ya Allah, beri aku kesabaran. Menghadapi cobaan demi cobaan ini." gumamku.
"Sayang, aku tidur dulu ya. Ngantuk," kataku untuk menghindarinya. Sebab, aku merasa letih memikirkan apa yang jadi keinginannya. Dia benar-benar membuatku sakit kepala.
"Untung dia sudah jadi istri. Kalau belum, aku dah kabur, karena permintaan dia yang cukup melelahkan isi dompetku. Bisa oleng kapten, kapalnya kalau seperti ini terus!" pekikku protes dalam hati.
"Mas, tapi besok jangan lupa ya, transfer ke rekeningku, untuk tambahannya. Tujuh ratus ribu," sebutnya.
***
Karena ngantuk berat, tadi malam aku tak begitu fokus, mendengarkan berapa uang yang dia minta.
Siangnya, dia minta aku segera mentransfer uang untuk ke Spa.
"Mas, aku mau naik gojek aja. Nggak usah dianterin ke Spa. Nanti lama, Mas bosan pula menunggu aku di Spa. Uangnya sudah ditransfer kan k rekening aku?!" tanyanya setengah mendesak.
"Oh iya lupa. Sebentar ya. Berapa? Seratus luma puluh ribu kan?" tanyaku.
"Perawatan apaan Mas, di Spa kalau cuma bayar seratus lima puluh ribu?" celetuk dia, langsung protes.
Padahal, aslinya aku nggak setuju akan rencana dia ke Spa.
"Tu....juh ratussssssss, limaaaaa puluh ribu rupiah?" sebutnya.
"Hah. Gila," pekikku.
"Hmm. Perawatannya mahal banget, sayang. Aku nggak punya uang sebanyak itu," sebutku sedikit pasang wajah memelas.
"Lah kan uang kamu banyak, Mas. Di rekeningmu satu lagi," sebutnya lagi.
"Kan sudah aku bilang, sayang. Uangnya aku masukkan ke tabungan deposito berjangka. Aku pilih yang lima tahun, waktunya. Jadi nggak bisa ambil seenaknya. Lima tahun kemudian baru bisa ambil," jelasku panjang lebar, berharap Hira percaya padaku.
Kulihat, ada rasa kekecewaan terpancar di wajahnya. Lalu dia buang muka, tak mau memandang ke arahku, saat bicara.
"Oalah makhluk perempuan ini kok ya sedikit-sedikit merajuk sih," gumamku.
__ADS_1
"Kenapa dia jadi gini sih sekarang. Jadi sebel rasanya. Tapi ingat.....bawa sabar ya Budiman, itu istri tercinta pilihanmu sendiri," kataku lagi masih membatin dalam hati.
"Ya sudah, aku minta lima ratus ribu aja. Ada kan, pasti ada ya. Masa iya suamiku nggak punya duit. Bohong pasti," katanya, bernegosiasi denganku, sembari menebak-nebak isi dompetku.
Tapi, sial! Kenapa tebakan dia bisa tepat. Memang isi dompetku sekarang ada lima ratus ribu.
Gantian aku yang bernegosiasi.
"Tiga ratus aja ya sayang. Di dompetku hanya ada tiga ratus ribu rupiah nih," kataku sembari kubuka isi dompetku, kutunjukkan padanya.
Tapi, dia nggak mau melihat dompet yang aku tunjukkan. Malah buang muka. Kan aku jadi bingung lihat sikap dia kayak gitu!
Terpaksa aku harus berbohong. Ngakunya cuma ada tiga ratus ribu, di dompet. Nanti kalau disita dia semua, bisa kacau hidupku. Masa sebagai suami, aku nggak punya pegangan uang.
Aslinya, ada lima lembar uang kertas seratus ribuan. Dua lembarnya lagi, aku selipkan di bagian dompetku yang tersembunyi.
"Ah bohong!" katanya, seolah tak percaya akan pengakuanku.
"Coba liat sini," kata Hira lagi.
*Deg!* jantungku berdebar, karena was-was.
"Nih, lihatlah kalau nggak percaya!" aku serahkan aja dompet itu.
Dia membukanya. Aku komat-kamit dalam hati, semoga dia tak menggeledah dua lembar uang yang aku selipkan di bagian lain dompetku.
"Untung, alhamdulillah, dia nggak meneliti semua bagian-bagian tersembunyi yang ada di dompetku. Dia percaya kalau isi dompetku hanya tiga ratus ribu." pekikku dengan hati gembira.
"Ya udah aku ambil dua ratus aja. Jadi aku cuma creambath. Minggu depan ya aku ke spa lagi, luluran," sebutnya.
Aku sedikit tenang waktu dia hanya mengambil uangku dua ratus ribu. Eh tapi ada buntutnya, minggu depan dia mau perawatan lain lagi, luluran.
Ah. Terserahlah. Kalau ada uangnya, aku kasih. Kalau nggak ada, aku diam aja. Pura-pura jadi suami begok! Hahahahahah! Soalnya aku udah capek kalau harus kelahi terus sama dia. Padahal, persoalannya cuma sepele. Tapi, ujung-ujungnya kalau berdebat, pasti jadi besar masalahnya.
Jadi, mulai sekarang aku harus lebih banyak belajar sabar, menghadapi makhluk yang bernama istri di hadapanku ini. Nasib! (bersambung)
__ADS_1