
Lega rasanya urusan bagi-bagi harta warisan itu sudah selesai. Dengan semangat empat lima, aku pulang ke kotaku.
Sintia pesan, jangan sampai Hira tahu, soal bagi-bagi warisan ini. Kalau Hira sampai tahu, pasti bakal jadi masalah besar.
"Ya udah, aku pamit ya. Doakan selamat sampai tujuan." pintaku pada Sintia.
"Ya pasti Mas. Tiketnya jangan sampai hilang. Sampai di bandara, boarding pass dulu, biar aman ya. Jadwal penerbangan kamu, masih lama, jam 17.00 wib nanti sore." kata Sintia.
"Kalau mau jalan-jalan ya ayo, aku antarin," kata Sintia menawarkan diri.
"Iya, sebenarnya mau sih diantarin. Hira minta dibawain oleh-oleh gelang emas putih," jelasku.
"Hmmmmm. Matre banget sih dia," celetuk Sintia.
Aku menghela nafas panjang. Tak bisa berkata-kata lagi, saat Sintia memberi penilaian buruk terhadap Hira.
"Beliin yang murahan aja," saran Sintia.
Aku maunya memang membelikan Hira, emas putih yang murah. Lagian nanti kalau dijual lagi, juga nggak laku.
Tak lama, aku dan Sintia melaju ke pasar tradisional. Untung aku temukan penjual emas putih yang buka lapak di dalam pasar tradisional.
Aku senang karena tak harus susah-susah ke Mall. Lagi pula kalau emas 24 karat, pasti nanti digadai sama Hira.
Aku nggak lama-lama di pasar. Setelah mendapatkan emas putih yang diminta Hira, aku cepat-cepat minta diantar ke bandara. Maksud aku, nggak apa-apa tidur di ruang tunggu bandara.
Tanpa banyak tanya, Sintia pun mengantarkan aku ke bandara. Di sana, aku haus. Terpaksa nyari toko yang jual minuman. Sialan. Apa-apa mahal, kalau beli di bandara. Apa boleh buat. Haus, jadi harus beli minuman.
Belum juga menuju ke bandara, Hira sudah chat sama aku. Dia sekali lagi mengingatkan aku soal gelang emas putih buatan dari Pulau Jawa.
Chat dari Hira, sengaja tak mau aku balas. Soalnya kalau dibalas, pasti banyak cerita.
Tak aku balas chatnya. Dia meneleponku. Terpaksa aku angkat. Lagi-lagi dia sibuk menanyakan soal gelang emas putih pesanannya itu.
"Iya sudah aku beli." jawabku meyakinkan dia.
Karena nggak percaya. Hira minta video call. Ingin melihat langsung pesanannya itu.
__ADS_1
Setelah aku tunjukkan, dia bilang lega. Akhirnya aku putuskan untuk mengakhiri video callnya. Kubilang sama Hira, kalau aku harus buru-buru ke bandara. Nggak bisa telepon lama-lama. Hira pun paham dan kami berpisah, setelah video call itu.
***
Sampai di rumah, dia protes melihat barang pesanannya.
Kata dia, gelang yang aku beli, murah dan kualitasnya sangat buruk.
Kecewa berat rasanya dengan perlakuan dia. Seharusnya yang aku dengar adalah ucapan terimakasih. Namun, faktanya bukan terimakasih, malah gelangnya dibilang jelek dan murahan.
Menyesal banget aku rasanya membeli barang itu. Tahu begini, harusnya gelang itu aku buang ke laut. Selesai perkara. Ketimbang seperti ini, rasanya hanya sakit hati saja.
"Sinilah uangnya aku minta. Aku mau beli gelang emas putih, di Tanjungkota aja," katanya dengan setengah memaksa.
"Kamu bisa nggak mikir dikit. Aku uangnya dari mana? Bukankah aku sudah berusaha membawa oleh-oleh sesuai permintaan kamu?" kataku sedikit kutinggikan nada bicaraku.
Siapa yang nggak emosi kayak begitu. Sudah dibelikan. Tetapi, orang yang dikasih oleh-oleh, sama sekali tak menghargai pemberianku.
"Kamu lagi banyak duit, kan Mas ya?! Buktinya kamu bisa balik ke jawa PP, pakai pesawat terbang," kata Hira membuat aku sedikit tambah emosi.
"Itu tiketnya dibelikan sama Sintia. Aku nggak punya uang. Kalau kamu emang tahu aku punya uang banyak, ambil aja. Beres kan?!" bentakku pada Hira.
"Coba mana kunci lemari pakaian kamu. Pasti ada banyak uang di lemari baju kamu!" kata Hira to the point.
Kunci lemari yang awalnya di kantong celanaku, aku ambil lalu aku lempar ke arah lemari pakaian. Suaranya, lumayan, membuat jantung berdebar ketakutan.
"Baru juga sekali aku minta perhiasan. Itu pun gelang emas putih. Harganya tak seberapa. Tapi kamu sudah marah," celetuk Hira.
"Kamu ngasih uang belanja juga pas-pasan. Emang bisa ya. Hidup sebulan dengan uang Rp2 juta. Beli kebutuhan sehari-hari sama susu anak, kurang," ungkit Hira.
Baru kali ini, emosiku meledak-ledak. Rasanya, ini puncak tertinggi kemarahan aku.
"Jadi, mau kamu apa!" bentakku.
"Kasih uang belanjanya sesuai kebutuhan aku. Cukupi kebutuhan anak kamu!" bentak Hira.
"Nggak samggup. Jujur aku nggak sanggup lagi. Mulai sekarang, terserah apa mau kamu!" jawabku mulai memelankan suaraku yang dari tadi serasa meninggi.
__ADS_1
Hira diam aja. Tapi, lama-lama dia bilang, kalau ingin tinggal bersama orang tuanya.
Mendengar itu, aku pun langsung emosi.
"Silakan. Aku sudah nggak peduli lagi," kataku egois.
***
Setelah pertengkaran itu. Hira dan aku lebih banyak diam. Dia nggak ada minta maaf atau merasa menyesal. Aku juga demikian. Kami sama-sama egois.
Aku mencoba menenangkan diri, dengan cara lebih banyak tidur. Terkadang ada rasa menyesal. Mengapa harus ada pertengkaran. Padahal, semua hanya karena masalah sepele, pemicunya.
Namun, sekali lagi, sama-sama berusaha menahan diri. Tak bicara berhari-hari, kecuali terpaksa harus bicara.
Sakit rasanya, tak dihargai sama istri. Kata Hira, dia sudah belajar bagaimana caranya menghargai suami.
Tapi, prakteknya nol besar. Dia selalu tak sependapat dalam banyak hal. Padahal, status dia itu istri, sama dengan makmum. Aku adalah imamnya.
Sudahlah. Kalau dicari siapa yang salah, nggak bakal damai hati ini. Pertengkaran kemarin, semoga jadi pelajaran.
***
Lama-lama nggak teguran sama dia, aku nggak tahan. Akhirnya aku yang mengalah dan minta maaf duluan.
Kupeluk dia. Lalu, kucumbui semalaman. Hmmmm.....aku memang butuh dia. Ya aku butuh kehangatan darinya. Jadi aku nggak bisa lama-lama tanpa dia.
Di malam itu, kuungkapkan rasaku. Kubilang sama dia kalau aku sudah membuatnya terluka.
"Sayang. Maaf ya, aku nggak bisa memberimu perhiasan yang mahal. Itu pun gelang yang aku beli, harganya murahan. Kupikir kamu akan suka. Maafin aku ya ini memang salah aku.
Kalau ada uang lebih, aku juga pingin belikan kamu perhiasan yang mahal dan mewah. Tapi, aku belum bisa untuk saat ini. Saat ini, yang aku butuhkan dari kamu, hanya doa dan dukunganmu," kataku panjang lebar.
Kulihat Hira hanya diam. Pelan-pelan dia juga sadar, dan minta maaf atas permintaan dia yang terlalu memaksa.
Sejak malam itu, aku berjanji, suatu hari nanti aku akan membahagiakan dia. Ingin memberi dia perhiasan mewah.
"Doakan aku ya sayang, dapat rejeki dan aku bisa membelikan kamu gelang emas putih yang mahal dan mewah," pintaku.
__ADS_1
Kucoba memeluknya erat, mencium keningnya.(bersambung)